Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Code Name Amaryllis

Code Name Amaryllis

Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Lilis, sudah jam delapan pagi! Mau sampai jam berapa kau tidur?! Sudah berkali-kali ibu katakan untuk tidak lembur, kenapa kau tidak menurut juga?!” teriak Salsa dari arah dapur, suaranya bergema di seluruh rumahnya.

Rambutnya yang hitam dan panjang, diikat ke belakang dengan gaya sederhana. Sementara celemek merah muda bermotif kelinci yang terlihat imut dipakainya.

Tangan kanannya memegang spatula dan tangan kirinya mengatur api kompor, Salsa tampak sangat sempurna bagi seorang ibu rumah tangga yang sibuk.

Meski dirinya agak kikuk. 

Dia menghela napas panjang sambil menggoreng telur dadar. “Kenapa putriku itu sering sekali pulang larut malam? Sebenarnya lembur atau apa?” gumamnya pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.

Tiba-tiba, spatula panas di tangan kanannya tak sengaja menempel pada dagunya saat sedang memikirkan Lilis.

Cess!

“Aduh, Panas! Panas!” teriaknya, melompat mundur sambil mengusap dagunya yang mulai memerah akibat tindakannya yang ceroboh.

Salsa memang terkenal dengan kekikukannya, bahkan Lilis, putri semata wayangnya sering menyamakan ibunya dengan kakak remaja yang lucu dan ceroboh.

Salsa menikah muda setelah lulus dari SMA. Dia dijual oleh keluarganya demi melunasi hutang-hutang ayahnya. Suaminya jarang sekali pulang ke rumah untuk hidup dengannya, pada akhirnya dia diceraikan sesaat setelah Lilis terlahir ke dunia.

Karena itu, Salsa harus belajar menjadi ibu, ayah dan sekaligus teman bagi putri semata wayangnya hingga dia tumbuh dewasa tanpa kehadiran sosok ayah.

“Haa!” teriak Salsa lagi, kali ini dengan ekspresi terkejut yang sangat berlebihan ketika dirinya menyadari sesuatu. “Tidak mungkin! Jangan-jangan Lilis sudah memiliki kekasih dan berkencan dengannya dengan alasan lembur!”

Pikiran Salsa mulai berkelana dan menciptakan skenario-skenario liar mengenai putrinya sendiri.

Sambil mengusap dagunya yang masih terasa perih, Salsa melanjutkan memasak. Telur dadar yang hampir gosong karena didiamkannya, kini dibaliknya dengan penuh semangat dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Sementara itu, di kamarnya yang masih gelap karena tirai masih tertutup rapat, Lilis masih meringkuk di bawah selimut yang melindungi dirinya dari nyamuk malam, mendengar kegaduhan dari arah dapur.

“Astaga, Ibu ... pagi-pagi sudah berisik sekali, pasti Ibu tengah beraksi lagi dengan skenario-skenario di otaknya,” gumam Lilis sambil mengusap matanya. Dia mengenal betul tingkah lucu dan berlebihan ibunya.

Dengan malas, Lilis bangkit dari tempat tidur dan mengenakan kacamata dan sandal rumahnya lalu berjalan menuruni tangga menuju ke dapur.

“Ibu, selamat pagi,” sapa Lilis sambil menguap dengan lebar.

“Lilis! Akhirnya bangun juga!” Salsa berbalik dengan ekspresi lega dan mematikan kompor, namun ketika berjalan ke arah Lilis kakinya tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh. “Aduh, dasar lantai licin!” keluhnya, mencoba menutupi kekikukannya dengan berpura-pura marah pada lantai.

Lilis tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangannya yang melihat ibunya masih memegang spatula dengan semangat berapi-api.

“Ibu, apa yang Ibu lakukan tadi? Terdengar seperti ada pertempuran di dapur ini?”

Salsa mendelik, mencoba terlihat serius tapi gagal karena ekspresinya yang terlalu lucu jika disebut dengan ekspresi marah.

“Ibu hanya sedang memasak sarapan pagi untukmu. Dan, Lilis ... jangan berpikir kalau ibu tidak tahu, ya!”

“Eh?”

“Ibu tahu kau sering pulang malam itu bukan karena lembur, apa kau sudah punya kekasih?”

Lilis tersentak kaget lalu tertawa dengan sangat keras, membuat Salsa keheranan.

“Astaga, Ibu. Aku benar-benar lembur, pimpinan di kantor pusat sangat menuntut dan aku harus menyelesaikan semua pekerjaan di cabang itu.”

Salsa menyipitkan matanya karena tidak sepenuhnya yakin pada penjelasan putrinya. “Jangan mencoba berbohong pada ibu, Lilis. Ibu juga dulu pernah muda, tahu! Ibu bisa mencium bau asmara dari jauh!”

Lilis menggelengkan kepalanya, dia masih tertawa. “Ibu, aku serius. Kenapa Ibu berpikir kalau aku memiliki kekasih? Jika aku memilikinya, Ibu pasti orang pertama yang akan tahu.”

Salsa mendengus lalu meletakkan spatulanya dan menatap Lilis dengan mata penuh kasih. “Baiklah, Ibu percaya. Tapi kalau ada sesuatu, jangan ragu untuk bertanya, ya.”

Lilis mengangguk lalu memeluk ibunya. “Terima kasih, Ibu. Sekarang, ayo kita makan sarapan yang telah Ibu buat dengan susah payah dan perjuangan.”

Salsa tertawa, dia merasakan kasih sayang dari pelukan putrinya. “Ya, mari kita makan. Dan kali ini, ibu janji tidak akan ada insiden spatula lagi.”

Keduanya tertawa bersama, menikmati momen hangat dan penuh tawa di pagi yang cerah itu meski diawali dengan kekacauan kecil. Di rumah itu, cinta dan keceriaan selalu menjadi bumbu utama bagi keluarga mereka, tak peduli seberapa kikuk atau cerobohnya Salsa.

“Eits!” Salsa secara tiba-tiba menahan tubuh Lilis yang hendak akan duduk di kursi meja makan, ekspresi wajahnya serius namun lucu. “Kau harus mandi dulu atau tak ada sarapan untukmu, Lilis!”

“Eh, Ibu serius?” keluh Lilis, merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi.

“Ya, sangat serius! Cepat mandi dulu sana, ibu tidak mengajarkanmu untuk menjadi seorang gadis yang jorok, ya!”

“Baiklah!” Lilis mendesah sambil berjalan gontai menuju kamar mandi.

Salsa menyiapkan sarapan yang tadi dimasaknya selagi menunggu putrinya selesai mandi, sesekali Salsa bergumam sendiri dengan nada ceria.

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali dengan rambut yang basah dan wajah yang segar.

“Sudah selesai mandi, Ibu,” ucap Lilis sambil memegangi kacamatanya.

Salsa tersenyum lebar. “Bagus! Sini, ibu tata rambutmu.”

“Eh? Apa itu harus?”

Salsa mulai menata rambut tanpa persetujuan dari Lilis dengan penuh cinta.

“Aku tidak percaya sama sekali, seorang bayi yang terlahir sebesar botol kecap, bayi yang kurawat sendirian kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, hahaha.”

“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi, berhenti menata rambutku dan berhenti juga menganggapku seperti anak kecil yang bau kencur!” protes Lilis sambil merengut saat ibunya terlanjur menata rambutnya.

Salsa tertawa keras. “Hahaha! Kau itu lucu sekali, Lilis!”

“Yang lucu itu kau, Ibu!” gumam Lilis dalam hatinya.

“Ya sudah, ayo makan.” Salsa menuntun Lilis ke meja makan setelah menata rambutnya.

Mereka mulai menyantap sarapan dengan diselingi canda tawa khas keluarga mereka.

“Jadi, apa ada hal yang menarik di minimarket tempatmu bekerja?” tanya Salsa dengan nada penasaran.

“Tidak ada. Hanya hari-hari biasa saja seperti menata barang di rak dan melayani berbagai macam pelanggan saja.”

“Hmm, apa benar kau tidak ingin melanjutkan pendidikan ke universitas? Mungkin saja kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekarang.”

Lilis menggeleng. “Aku tidak ingin membebani, Ibu lebih dari ini.”

Brak!

Salsa menggebrak meja makan. “Astaga, Lilis! Kau itu bukan beban dan tak membebani ibu sama sekali, ya! Kau adalah harta karun dan jiwa ibu, berhenti berkata seperti itu!”

Lilis tersenyum paham, karena dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki ibunya, setelah apa yang telah terjadi di masa lalunya yang kelam. Lilis tahu, kisah ibunya dijual oleh keluarga sendiri untuk melunasi hutang.

Lilis juga memahami betapa berharga dirinya bagi ibunya yang telah berjuang sendirian membesarkannya sejak ayahnya yang tak bertanggung jawab menceraikan dan meninggalkannya tanpa nafkah.

Usai sarapan, Lilis membantu ibunya membersihkan peralatan makan dan masaknya.

“Hari ini lembur lagi?” tanya Salsa.

“Entah, tidak tahu juga. Biasanya informasi lembur itu datangnya dadakan dan tak pernah terduga.”

“Mau bawa bekal?”

“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi.”

“Hehe,” tawa Salsa.

Setelah membersihkan peralatan makan, Lilis membiarkan ibunya untuk beristirahat sementara dirinya membersihkan rumah hingga pukul sepuluh nanti.

Selesai membersihkan rumah, Lilis pun kembali ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam minimarketnya.

Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 10:30, Lilis berpamitan dengan Salsa dengan mencium punggung tangannya yang halus.

“Aku berangkat bekerja dulu, Ibu. Dan pastikan, Ibu cukup beristirahat, jangan melakukan hal-hal yang membuatmu kelelahan!”

Salsa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, dia merasa bangga pada putri semata wayangnya yang tumbuh menjadi gadis yang baik.

“Hati-hati di jalan, Lilis!” serunya, tangannya melambai pada putrinya yang berjalan meninggalkan rumah mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calamity Of Love
9.4
Camilio Danielle Osvaldo adalah jenius ber-IQ 150 dengan prestasi militer gemilang. Namun, patah hati mendalam akibat ditinggal wanita tercinta mengubah hidupnya. Mike, petinggi Black Nostra, mengajaknya bergabung ke sindikat mafia global tersebut. Meski awalnya menolak karena nurani, Camilio akhirnya luluh setelah melihat solidaritas luar biasa di sana. Di balik aksi kriminal, ia menemukan kehangatan keluarga yang tak terduga dalam kelompok tersebut.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel Gairah Liar sang Mafia
8.0
Arnius Nagendra dihantui masa lalu kelam akibat ulah Janied Marques, sepupunya yang mengepalai sindikat perdagangan manusia. Demi membalas kematian istrinya, Arnius menyamar jadi guru dan melibatkan seorang guru TK cantik dalam misi berbahaya ini. Identitas aslinya pun tersembunyi di balik dunia abu-abu. Akankah kerja sama ini memicu benih cinta di tengah dendam yang membara, atau justru menyeret sang wanita ke dalam lingkaran hitam yang mematikan?
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia
8.0
Diculik dan dipaksa menjadi istri keempat mafia kejam Zuan Lee, hidup Aneisha penuh penderitaan. Setelah gagal mengakhiri hidup akibat siksaan suami dan tiga istri lainnya, ia berhasil kabur dan ditolong oleh Xavier, rival bisnis Zuan. Di bawah perlindungan Xavier, Aneisha bertransformasi menjadi wanita tangguh dan mempesona. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali bertemu Zuan yang terobsesi memilikinya lagi. Mampukah Zuan merebut hati wanita yang kini berani menolaknya?
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.