
Code Name Amaryllis
Bab 2
“Lilis, sudah jam delapan pagi! Mau sampai jam berapa kau tidur?! Sudah berkali-kali ibu katakan untuk tidak lembur, kenapa kau tidak menurut juga?!” teriak Salsa dari arah dapur, suaranya bergema di seluruh rumahnya.
Rambutnya yang hitam dan panjang, diikat ke belakang dengan gaya sederhana. Sementara celemek merah muda bermotif kelinci yang terlihat imut dipakainya.
Tangan kanannya memegang spatula dan tangan kirinya mengatur api kompor, Salsa tampak sangat sempurna bagi seorang ibu rumah tangga yang sibuk.
Meski dirinya agak kikuk.
Dia menghela napas panjang sambil menggoreng telur dadar. “Kenapa putriku itu sering sekali pulang larut malam? Sebenarnya lembur atau apa?” gumamnya pelan, seolah berbicara pada diri sendiri.
Tiba-tiba, spatula panas di tangan kanannya tak sengaja menempel pada dagunya saat sedang memikirkan Lilis.
Cess!
“Aduh, Panas! Panas!” teriaknya, melompat mundur sambil mengusap dagunya yang mulai memerah akibat tindakannya yang ceroboh.
Salsa memang terkenal dengan kekikukannya, bahkan Lilis, putri semata wayangnya sering menyamakan ibunya dengan kakak remaja yang lucu dan ceroboh.
Salsa menikah muda setelah lulus dari SMA. Dia dijual oleh keluarganya demi melunasi hutang-hutang ayahnya. Suaminya jarang sekali pulang ke rumah untuk hidup dengannya, pada akhirnya dia diceraikan sesaat setelah Lilis terlahir ke dunia.
Karena itu, Salsa harus belajar menjadi ibu, ayah dan sekaligus teman bagi putri semata wayangnya hingga dia tumbuh dewasa tanpa kehadiran sosok ayah.
“Haa!” teriak Salsa lagi, kali ini dengan ekspresi terkejut yang sangat berlebihan ketika dirinya menyadari sesuatu. “Tidak mungkin! Jangan-jangan Lilis sudah memiliki kekasih dan berkencan dengannya dengan alasan lembur!”
Pikiran Salsa mulai berkelana dan menciptakan skenario-skenario liar mengenai putrinya sendiri.
Sambil mengusap dagunya yang masih terasa perih, Salsa melanjutkan memasak. Telur dadar yang hampir gosong karena didiamkannya, kini dibaliknya dengan penuh semangat dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Sementara itu, di kamarnya yang masih gelap karena tirai masih tertutup rapat, Lilis masih meringkuk di bawah selimut yang melindungi dirinya dari nyamuk malam, mendengar kegaduhan dari arah dapur.
“Astaga, Ibu ... pagi-pagi sudah berisik sekali, pasti Ibu tengah beraksi lagi dengan skenario-skenario di otaknya,” gumam Lilis sambil mengusap matanya. Dia mengenal betul tingkah lucu dan berlebihan ibunya.
Dengan malas, Lilis bangkit dari tempat tidur dan mengenakan kacamata dan sandal rumahnya lalu berjalan menuruni tangga menuju ke dapur.
“Ibu, selamat pagi,” sapa Lilis sambil menguap dengan lebar.
“Lilis! Akhirnya bangun juga!” Salsa berbalik dengan ekspresi lega dan mematikan kompor, namun ketika berjalan ke arah Lilis kakinya tanpa sengaja tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh. “Aduh, dasar lantai licin!” keluhnya, mencoba menutupi kekikukannya dengan berpura-pura marah pada lantai.
Lilis tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangannya yang melihat ibunya masih memegang spatula dengan semangat berapi-api.
“Ibu, apa yang Ibu lakukan tadi? Terdengar seperti ada pertempuran di dapur ini?”
Salsa mendelik, mencoba terlihat serius tapi gagal karena ekspresinya yang terlalu lucu jika disebut dengan ekspresi marah.
“Ibu hanya sedang memasak sarapan pagi untukmu. Dan, Lilis ... jangan berpikir kalau ibu tidak tahu, ya!”
“Eh?”
“Ibu tahu kau sering pulang malam itu bukan karena lembur, apa kau sudah punya kekasih?”
Lilis tersentak kaget lalu tertawa dengan sangat keras, membuat Salsa keheranan.
“Astaga, Ibu. Aku benar-benar lembur, pimpinan di kantor pusat sangat menuntut dan aku harus menyelesaikan semua pekerjaan di cabang itu.”
Salsa menyipitkan matanya karena tidak sepenuhnya yakin pada penjelasan putrinya. “Jangan mencoba berbohong pada ibu, Lilis. Ibu juga dulu pernah muda, tahu! Ibu bisa mencium bau asmara dari jauh!”
Lilis menggelengkan kepalanya, dia masih tertawa. “Ibu, aku serius. Kenapa Ibu berpikir kalau aku memiliki kekasih? Jika aku memilikinya, Ibu pasti orang pertama yang akan tahu.”
Salsa mendengus lalu meletakkan spatulanya dan menatap Lilis dengan mata penuh kasih. “Baiklah, Ibu percaya. Tapi kalau ada sesuatu, jangan ragu untuk bertanya, ya.”
Lilis mengangguk lalu memeluk ibunya. “Terima kasih, Ibu. Sekarang, ayo kita makan sarapan yang telah Ibu buat dengan susah payah dan perjuangan.”
Salsa tertawa, dia merasakan kasih sayang dari pelukan putrinya. “Ya, mari kita makan. Dan kali ini, ibu janji tidak akan ada insiden spatula lagi.”
Keduanya tertawa bersama, menikmati momen hangat dan penuh tawa di pagi yang cerah itu meski diawali dengan kekacauan kecil. Di rumah itu, cinta dan keceriaan selalu menjadi bumbu utama bagi keluarga mereka, tak peduli seberapa kikuk atau cerobohnya Salsa.
“Eits!” Salsa secara tiba-tiba menahan tubuh Lilis yang hendak akan duduk di kursi meja makan, ekspresi wajahnya serius namun lucu. “Kau harus mandi dulu atau tak ada sarapan untukmu, Lilis!”
“Eh, Ibu serius?” keluh Lilis, merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi.
“Ya, sangat serius! Cepat mandi dulu sana, ibu tidak mengajarkanmu untuk menjadi seorang gadis yang jorok, ya!”
“Baiklah!” Lilis mendesah sambil berjalan gontai menuju kamar mandi.
Salsa menyiapkan sarapan yang tadi dimasaknya selagi menunggu putrinya selesai mandi, sesekali Salsa bergumam sendiri dengan nada ceria.
Beberapa menit kemudian, Lilis kembali dengan rambut yang basah dan wajah yang segar.
“Sudah selesai mandi, Ibu,” ucap Lilis sambil memegangi kacamatanya.
Salsa tersenyum lebar. “Bagus! Sini, ibu tata rambutmu.”
“Eh? Apa itu harus?”
Salsa mulai menata rambut tanpa persetujuan dari Lilis dengan penuh cinta.
“Aku tidak percaya sama sekali, seorang bayi yang terlahir sebesar botol kecap, bayi yang kurawat sendirian kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, hahaha.”
“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi, berhenti menata rambutku dan berhenti juga menganggapku seperti anak kecil yang bau kencur!” protes Lilis sambil merengut saat ibunya terlanjur menata rambutnya.
Salsa tertawa keras. “Hahaha! Kau itu lucu sekali, Lilis!”
“Yang lucu itu kau, Ibu!” gumam Lilis dalam hatinya.
“Ya sudah, ayo makan.” Salsa menuntun Lilis ke meja makan setelah menata rambutnya.
Mereka mulai menyantap sarapan dengan diselingi canda tawa khas keluarga mereka.
“Jadi, apa ada hal yang menarik di minimarket tempatmu bekerja?” tanya Salsa dengan nada penasaran.
“Tidak ada. Hanya hari-hari biasa saja seperti menata barang di rak dan melayani berbagai macam pelanggan saja.”
“Hmm, apa benar kau tidak ingin melanjutkan pendidikan ke universitas? Mungkin saja kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekarang.”
Lilis menggeleng. “Aku tidak ingin membebani, Ibu lebih dari ini.”
Brak!
Salsa menggebrak meja makan. “Astaga, Lilis! Kau itu bukan beban dan tak membebani ibu sama sekali, ya! Kau adalah harta karun dan jiwa ibu, berhenti berkata seperti itu!”
Lilis tersenyum paham, karena dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki ibunya, setelah apa yang telah terjadi di masa lalunya yang kelam. Lilis tahu, kisah ibunya dijual oleh keluarga sendiri untuk melunasi hutang.
Lilis juga memahami betapa berharga dirinya bagi ibunya yang telah berjuang sendirian membesarkannya sejak ayahnya yang tak bertanggung jawab menceraikan dan meninggalkannya tanpa nafkah.
Usai sarapan, Lilis membantu ibunya membersihkan peralatan makan dan masaknya.
“Hari ini lembur lagi?” tanya Salsa.
“Entah, tidak tahu juga. Biasanya informasi lembur itu datangnya dadakan dan tak pernah terduga.”
“Mau bawa bekal?”
“Astaga, Ibu! Aku sudah bukan anak kecil lagi.”
“Hehe,” tawa Salsa.
Setelah membersihkan peralatan makan, Lilis membiarkan ibunya untuk beristirahat sementara dirinya membersihkan rumah hingga pukul sepuluh nanti.
Selesai membersihkan rumah, Lilis pun kembali ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam minimarketnya.
Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 10:30, Lilis berpamitan dengan Salsa dengan mencium punggung tangannya yang halus.
“Aku berangkat bekerja dulu, Ibu. Dan pastikan, Ibu cukup beristirahat, jangan melakukan hal-hal yang membuatmu kelelahan!”
Salsa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, dia merasa bangga pada putri semata wayangnya yang tumbuh menjadi gadis yang baik.
“Hati-hati di jalan, Lilis!” serunya, tangannya melambai pada putrinya yang berjalan meninggalkan rumah mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





