Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Code Name Amaryllis

Code Name Amaryllis

Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Selamat pagi, Nina!” sapa Lilis. Gadis cantik berkacamata itu, rambutnya hitam panjang, dia biarkan tergerai.

Lilis masuk ke dalam minimarket tempatnya bekerja dengan langkah ringan.

“Ya, Lilis. Selamat pagi juga,” balas Nina, temannya. Gadis cantik dengan rambut perak pendek yang poninya menutupi wajah sebelah kanannya.

Pagi hari, Nina datang lebih dulu dan dia sibuk menghitung uang di meja kasir. Raut wajahnya dingin tapi dia sangat fokus dengan yang dikerjakannya.

Sesaat kemudian, seorang gadis keluar dari ruangan karyawan minimarket. Ia terlihat dewasa dengan wajah cantiknya, rambut panjang warna biru model curtain bangs miliknya, membuatnya terlihat anggun.

Gadis itu pemimpin di minimarket mereka, seragamnya sedikit berbeda dengan Lilis dan Nina.

“Lilis, semalam kerjamu mendapatkan apresiasi dari atasan. Mereka berkata kamu telah mendapatkan rekor ‘pembersihan’ tercepat dari semua orang, yaitu kurang dari tujuh menit,” puji gadis itu.

“Hoo!” Nina bertepuk tangan. “Kau memang panutan bagi lembaga, Lilis!”

Lilis tersipu malu. “Ayolah kawan-kawan, aku hanya menjalankan tugas dari lembaga saja, tidak lebih.”

“Tidak, Lilis!” tegas gadis itu. “Kau sekarang adalah panutan dan salah satu yang terbaik di lembaga!”

“Astaga, Kapten Lisa! Tolong jangan berkata seperti itu!” Pipi Lilis memerah mendengar pujian dari gadis yang dipanggilnya kapten.

“Benarkan, Nina?” tanya Lisa pada Nina yang sedang menghitung uang di mesin kasirnya.

Nina mengangguk. “Benar itu, Lilis! Dan lagi, kata Direktur, kau akan mendapatkan bonus karena ‘membersihkan’ tikus berdasi dari dinas pariwisata semalam tadi dengan waktu yang kurang dari tujuh menit saja. Jadi, nanti malam kau harus mentraktir kami makan ayam geprek, ya!”

“Hah?” Lilis terkejut, matanya melebar. “Ayam geprek?”

Lisa dan Nina seketika tertawa melihat ekspresi Lilis yang bingung.

“Ya, kau tidak salah dengar, Lilis. Ayam geprek!” Lisa membenarkan dengan senyum lebar.

“Ah, astaga. Kalian benar-benar, ya?” Lilis tertawa kecil. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian, tapi jangan terlalu banyak, ya!”

Ketiganya tertawa bersama, suasana di minimarket pagi hari itu kian hangat dan ceria.

Mereka memang anggota agen rahasia yang ditugaskan untuk ‘membersihkan’ tikus berdasi. Namun, disisi lain, mereka adalah gadis biasa yang juga senang menikmati kebersamaan dan persahabatan.

Lisa, pemimpin kelompok itu berpenampilan tegas dan rapi. Dia berhasil memimpin timnya dengan baik. Gadis yang terkadang terlihat serius, namun juga memiliki sisi humor sehingga mampu mencairkan suasana.

Dia selalu memastikan setiap anggota timnya merasa dihargai dan termotivasi.

Nina, gadis dingin ini memiliki warna rambut perak yang mencolok. Meskipun begitu, dia sangat fokus dengan apa yang dikerjakannya.

Nina lebih sering berperan dibalik mesin kasir, dia mampu menganalisa dengan baik. Kemampuannya diandalkan dalam situasi yang sangat krisis.

Lilis, gadis sederhana ini akan selalu menjadi yang paling diandalkan. Kecantikan alaminya terpancar dari wajahnya. Gadis berkacamata bundar, hal ini membuatnya terlihat cerdas dan tangguh. Dia sering merendah, tetapi hasil kerja dan prestasinya tak bisa dipungkiri. 

Mereka sudah menjadi tim yang kompak dan saling melengkapi dalam setiap tugas. Pekerjaan mereka di minimarket hanyalah kedok, karena dibalik semua itu mereka adalah pahlawan yang berjuang untuk keadilan rakyat.

Mentari cerah di pagi hari, tak luput dari canda tawa. Hal yang menjadi sebuah tambahan semangat untuk mereka menghadapi hari yang penuh tantangan.

Sambil menyantap camilan ringan yang disiapkan oleh Lisa, mereka merencanakan strategi untuk tugas selanjutnya. Setiap detail dibahas dengan serius.

“Ayo, cepat selesaikan memakan camilanmu, Lilis, kita harus segera membuka toko hari ini,” kata Lisa sambil tersenyum.

“Benar itu, Lilis. Tapi nanti malam, jangan lupa ... ayam geprek, ya!” Nina menambahkan, wajahnya yang dingin menatap ke arah Lilis.

Lilis menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Iya, iya. Ayam geprek untuk semuanya!”

Beberapa menit kemudian, ketika Lilis baru saja mengeluarkan papan pajangan serta papan iklan harga diskon beberapa barang untuk membuka toko, suasana mendadak sepi dan mencekam.

Pintu minimarket yang biasanya ramai dengan pelanggan pagi yang berbelanja kebutuhan pokok dan sayuran tiba-tiba sepi.

Seketika, dari gang kecil muncul tiga pemuda bertato yang mengerikan. Wajah mereka tersembunyi di balik masker hitam dan topi di kepala.

Mereka bergerak dengan cepat, mengelilingi Lilis lalu menariknya ke dalam minimarket.

Lilis terkejut, matanya membesar saat dua dari pemuda itu mendorongnya dengan kasar hingga tersandar di depan lemari pendingin yang berisi minuman dan makanan beku.

Lisa dan Nina yang sibuk di area kasir terpaku di tempat mereka, tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka hanya bisa memandang dengan cemas saja saat pemuda yang tampaknya menjadi pemimpin kelompoknya yang mengenakan jaket kulit hitam dengan tato naga yang menjalar di lengannya, mendekati Lilis dengan tatapan tajam.

Wajah pemuda itu semakin mendekat ke wajah Lilis, menambah ketegangan yang terasa di udara.

Tiba-tiba, tangan pemuda yang bertampang berandalan itu mulai merogoh sesuatu dari kantong jaketnya.

Glek!

Lilis menelan ludah, rasa takut segera menjalar menyelimutinya, detak jantungnya berdetak cukup kencang, dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutannya dihadapan tiga pemuda.

Namun, suasana mendadak berubah drastis ketika para pemuda itu mengeluarkan sebuah benda dari kantong jaketnya.

Dar!

Suara ledakan party popper memecah keheningan di minimarket itu. Confetti berwarna-warni berhamburan ke udara dan suara tawa riuh langsung memenuhi minimarket.

Lilis, yang awalnya tegang dan gemetar kini merasa bingung juga kesal. Dia melihat ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak sambil merayakan sesuatu yang tidak jelas.

“Selamat, Lilis!” teriak pemuda dengan tato naga itu yang bernama Orlan sambil memegang party popper yang berkilauan.

Lisa dan Nina saling tatap, merasa bingung dan kesal karena para pemuda itu.

“Bisakah kalian merayakan ini dengan biasa saja?” tanya Lisa dengan nada frustasi.

“Gila memang kelompok Orlan ini!” timpal Nina, yang juga merasa kesal dan heran.

Lilis memejamkan matanya sejenak, dia mencoba untuk menenangkan diri.

Kelompok Orlan memang terkenal dengan caranya yang aneh dalam merayakan sesuatu. Mereka selalu tampil heboh dan tak pernah gagal dalam mengejutkan orang.

“Yah, pasalnya tak kusangka, bahwa junior kami ini dapat memecahkan rekor tercepat dalam ‘pembersihan’ semalam.” Orlan berkata sambil melepas masker dan topinya, dia juga melepas tato palsu di tangannya.

Di balik tatapan menakutkan dengan tato palsu yang menutupi tubuhnya, ada wajah tampan dengan rambut pirang yang sengaja dia panjangkan.

“Dan satu lagi.” Dinan, salah satu anggota kelompok yang tak kalah seram dengan penyamaranya menambahkan. “Kau adalah gadis yang mengerikan di balik wajah cantik khas gadis berkacamata, Lilis!”

Zack, anggota ketiga kelompok tertawa keras di hadapan Lisa dan Nina. Dia berjalan ke arah Lilis lalu memberikan sebuah amplop tebal warna hitam pada Lilis.

“Ini hadiah dari Direktur yang dititipkan pada kami untukmu, Lilis. Bersenang-senanglah sebelum semua dilarang!”

Setelah memberikan amplop tersebut, ketiganya mulai meninggalkan minimarket dengan cepat dan meninggalkan kekacauan di belakang mereka.

Lilis yang masih terkejut dan bingung membuka amplop yang diberikan oleh ketiga pemuda itu.

“Astaga, ini sangat banyak sekali!” Lilis sangat terkejut melihat isi di dalam amplop itu yang berisi uang tunai yang cukup banyak.

“Mereka ini sangat gila!” Lisa menggelengkan kepalanya, merasa campur aduk antara kesal dan heran. “Dalam satu hari bisa membuat perayaan dadakan seperti ini hanya karena rekor ‘pembersihan’!”

Lisa dan Nina akhirnya bisa bernapas lega. Mereka berdua menatap Lilis yang masih berdiri dengan Confetti yang masih berserakan di sekelilingnya.

“Ya ampun, Lilis. Ternyata kau bukan hanya ahli dalam ‘pembersihan’ saja, tapi juga kau ahli dalam mengundang pesta dadakan yang paling gila,” kata Lisa sambil tertawa.

Nina juga ikut tertawa, namun terlihat kaku dengan wajahnya yang dingin. “Kita juga harus merayakannya dengan gaya kita sendiri. Ayam geprek nanti malam jadi, ‘kan?”

Lilis tersenyum lelah namun bahagia. “Yah, sudah pasti itu. Tapi kali ini, aku rasa aku akan meminta para senior itu untuk tidak membuat pesta dadakan lagi.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MZX" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MZX
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero adalah pemuda ambisius yang sedang menempuh pendidikan demi menjadi pengacara profesional. Namun, langkahnya di sekolah hukum langsung diuji saat ia harus menangani kasus perdana melawan perusahaan asuransi raksasa. Edward kini terjebak dalam dilema moral yang berbahaya. Ia wajib memenangkan gugatan itu dengan segala cara, termasuk menempuh jalur kriminal, atau ia akan menghadapi konsekuensi pahit berupa pengusiran dari kampusnya.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel Intuition
9.4
Hanna dituduh menghabisi nyawa orang tuanya sendiri saat berusia sembilan tahun hingga harus mendekam di penjara anak. Setelah sepuluh tahun berlalu, ia berhasil melarikan diri dan bertahan hidup di jalanan yang keras. Pertemuan tak terduga dengan teman lama membawanya masuk ke dalam sebuah komplotan demi menuntaskan dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna justru jatuh cinta pada putra dari sosok yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Sampul Novel Mahkota Pewaris yang Dikhianati
9.0
Emilia, pewaris sah Keluarga Hewitt, nyaris tewas akibat pengkhianatan orang tua dan keempat kakaknya demi seorang penipu. Kini, dia bangkit tanpa rasa takut untuk melawan siapa pun yang menindasnya. Sebagai dokter ternama dan penilai harta karun, ia membungkam setiap ejekan dengan kemampuannya. Saat dikucilkan karena tidak dicintai keluarganya, klan paling terpandang di kota justru muncul melindunginya dan menganggap Emilia sebagai permata yang sangat berharga.
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Kejam
8.4
Tragedi tabrak maut yang menewaskan orang tua Yulia berujung petaka mengerikan. Alih-alih mendapatkan keadilan, Yulia justru disekap oleh suaminya sendiri di ruang bawah tanah yang gelap gulita demi melindungi sang pelaku yang merupakan teman masa kecil suaminya. Selama tiga tahun penuh siksaan fisik dan mental, dia terus dipaksa untuk memaafkan pelaku. Setelah akhirnya menyerah dan berpura-pura tidak lagi menaruh dendam, Yulia dibebaskan. Namun, saat dia menolak pelukan dan menuntut perceraian, suaminya justru kehilangan kendali.
Sampul Novel Pengantin Mafia: Terlahir Kembali dalam Penghinaan
9.2
Diana Dixson tewas secara tragis akibat kekejaman Sophia Visconti dalam dunia kriminal. Alih-alih membela, suamiku, Vincent Rossi, justru memanipulasi bukti dan menyebut Diana gila demi melindungi Sophia. Aku dipaksa menandatangani surat permohonan maaf yang menghancurkan harga diri demi menjaga kenangan terakhir kakakku. Di balik paksaan ini, api kebencian membara dalam diriku. Aku bersumpah akan menuntut balas atas nyawa Diana yang telah dirampas.