
Cintai Aku, Suamiku
Bab 2
Malam hari pun tiba. Meja makan yang terletak di lantai satu itu kini mulai berdatangan penghuni kursinya. Namun, ada juga sebagian yang masih berada di lantai atas tempat ruang-ruang kamar berada. Mungkin saja anggota keluarga yang belum turun ke lantai bawah masih bersiap untuk makan malam kali ini.
Ricko merupakan anak seorang konglomerat. Orang tua Ricko adalah orang paling kaya di kotanya. Ricko anak pertama dari tiga bersaudara, yang mana nama saudara perempuannya itu secara berurutan adalah Jeni dan Siska. Ya, Ricko adalah anak laki-laki tunggal di keluarganya. Maka dari itu kedua orang tua Ricko memilih menjodohkan Ricko dengan Suci sahabatnya sendiri. Karena, orang tua Ricko sudah mengenal baik siapa Suci dan orang tua Suci. Jadi, kedua orang tua Ricko seyakin itu untuk menjodohkan putra semata wayangnya dengan sahabat putranya itu sendiri.
Keluarga Ricko memanglah keluarga terpandang. Jadi, tidak heran bila keluarga Ricko adalah salah satu keluarga yang disegani oleh orang-orang terutama rekan-rekan kerja ayah Ricko.
Tapi, satu hal yang paling membuat keluarga Ricko tersorot, disegani dan dikagumi oleh orang-orang. Yaitu, kebiasaan anggota keluarga Ricko yang tidak pernah membeda-bedakan setiap orang hanya karena sisi ekonomi saja. Keluarga Ricko sangat ramah dengan tetangga-tetangga sekiranya tanpa memandang bulu. Dan juga keluar Ricko, selalu memberikan santunan ke anak-anak yatim piatu setiap tahunnya.
Namun, keluarga Ricko juga memiliki sifat yang kurang baik. Salah satunya adalah sifat keras dari ayah Ricko yang tiba-tiba muncul bila ada tetangga yang mengatakan kalau keluarganya itu adalah keluarga yang suka cari muka, keluarga yang sering melakukan pencitraan pada semua orang dan sebutan-sebutkan lain yang masih sejenisnya.
Berita tentang keluarga Ricko yang tidak membeda-bedakan orang dari sisi ekonomi diperkuat dengan hadirnya Suci dalam keluarga Ricko. Suci bukanlah anak dari keluarga konglomerat seperti Ricko. Tapi, Suci juga bukan anak dari keluarga kekurangan. Suci lahir di keluarga yang berkecukupan, namun masih jauh dari kemewahan seperti Ricko. Intinya hidup Suci itu lebih dari cukup, tapi tidak bergelimang harta seperti hidup Ricko.
Suci merupakan putri dari seorang tentara dan juga seorang guru. Ya, ayah dari Suci merupakan seorang tentara. Tepatnya tentara angkatan darat. Sedangkan ibu Suci merupakan guru yang sudah PNS (pegawai negeri sipil).
Suci merupakan anak tunggal di keluarganya. Maka dari itu, Suci merasa kesepian saat kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya. Dari sanalah Suci mencari sosok kakak yang diinginkannya. Dan ternyata sosok yang diinginkan oleh Suci itu ada pada Ricko teman sekolah yang kini sudah berstatus menjadi suami sah nya.
Pertemuan pertama Suci dengan Ricko itu pada saat Suci pindah sekolah ke sekolah tempat Ricko bersekolah. Pada waktu itu, Suci baru saja pindah kependudukan. Suci pindah kependudukan disebabkan oleh ayahnya yang berpindah tempat dinas, dan juga sang ibu yang kebetulan sama dipindahkan tugas seperti suaminya itu. Dan untungnya, ayah dan ibu dari Suci itu ditugaskan di satu kota yang sama. Namun bedanya, ayah Suci bertugas sedikit pelosok dari perkotaan sedangkan ibu Suci berada di pusat perkotaan. Itu menyebabkan ayah Suci tidak bisa sering pulang ke rumah. Tapi walaupun begitu, setidaknya mereka masih tinggal di satu kota yang sama.
Pada suatu saat, ayah Suci pulang dari tugas negaranya. Dan disaat pulang ayah suci langsung mengatakan kalau beliau akan menjodohkan Suci dengan Ricko. Suci sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. Tidak pernah terbesit di otak Suci untuk menikah pada saat masih kuliah. Tepatnya pada saat dia masih semester lima.
Suci sempat menolak satu kali untuk dijodohkan dengan Ricko. Walau, dalam hati sebenarnya dia sangat senang karena dijodohkan dengan orang yang sudah disukanya sedari masa SMA. Namun, Suci tak seegois itu dalam mengambil keputusan. Dia tahu hati Ricko milik siapa dan untuk siapa. Jadi, sepertinya sangat sulit baginya untuk mengalihkan hati Ricko dari gadis yang disukai Ricko itu.
Namun, penolakan Suci tak berarti apa-apa di mata ayahnya. Ayahnya yang tegas karena memang seorang tentara tetap bersikeras menjodohkan putrinya dengan alasan yang waktu itu terbilang cukup konyol menurut Suci.
"Belum tentu kedepannya ayah berjumpa dengan pemuda sebaik Ricko, Ci! Jadi, kamu harus menerima perjodohan ini. Toh kalian sudah saling mengenal kan? Jadi terima perjodohan ini. Ingat! Semua orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitupun dengan Ayah dan Bunda, Ci. Kamu anak tunggal Ayah. Seharusnya kamu tahu kalau tindakan ayah saat ini juga karena ayah sangat sayang sama kamu. Dan satu lagi, sampai kapan pun Ayah dan Bunda akan tetap sayang sama kamu. Walaupun toh suatu saat nanti kamu ikut suami kamu. Pintu rumah kami selaku orang tua selalu terbuka untuk kamu, sayang!"
Itulah yang dikatakan ayah Suci pada saat itu. Membuat Suci sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mau menjawab pun rasanya Suci sangat sulit. Latar belakang memiliki ayah seorang tentara dan ibu seorang guru rasanya sulit untuk diajak tanding bicara. Dia tahu kalau ujung-ujungnya pernikahan itu tetap terjadi. Jadi dia berpikir bila sekali berontak tidak berbuahkan hasil, maka cukup diam tunggu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, sesederhana itu cara berpikir Suci. Dia tidak mau bertengkar dengan kedua orang tuanya itu.
Itulah yang membuat dirinya kini terjebak dalam pernikahan dengan sahabatnya sendiri. Bukanya Ricko tak menolak perjodohan itu, tapi dia sama seperti Suci. Alasannya tidak diterima oleh papa dan mamanya. Orang tua Ricko sudah sangat senang mendapatkan calon menantu sebaik Suci, jadi mereka tidak akan melepaskan Suci semudah itu.
"Kakak Ipar, kok bengong? Dimakan makanan! " tegur Jeni adik perempuan dari Ricko. Berbicara dengan sedikit menyenggol lengan Suci.
"Eh, iya, Jen. Kakak cuma keduluan ngantuk aja ini. Kakak duluan naik ke atas ya. Udah nggak tahan ini mata. Mana besok Kakak mau ada presentasi tugas. Kadi kayaknya tidur lebih awal akan lebih baik supaya besok tidak mengantuk," kata Suci.
"Pa, Ma, Jen, Sis, Suci izin ke kamar duluan ya, Suci pun udah kenyang. Udah nggak muat nih perut," ujar Suci. Bangun dari tempat duduknya. Berbicara degan tangan kanan memegang perutnya.
"Iya. Jaga kesehatan Suci. Kamu harus tetap sehat. Apalagi kamu kan juga besok mau ada presentasi. Jangan lupa minum vitamin kamu," pesan papa mertua Suci. Dijawab angukan kecil oleh Suci.
Suci pun berjalan menaiki tangga, berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Sedangkan di meja makan.
"Ric, masih disini?" tanya Papa Ricko menatap putranya itu.
"Ricko masih makan, Pa!" kata Ricko dengan nada dan ekspresi bicara datar.
"Ke kamar sekarang! Susulin istri kamu. Dasar suami nggak pengertian kamu sama istri," ujar Papa Ricko.
"Hmmm" jawab Ricko dingin hanya dengan deheman. Lalu dia berjalan menaiki tangga untuk menyusul Suci ke kamar.
Bisa nggak sih Papa itu tahu sama posisi aku? Bukanya dari awal Papa itu tahu kalau aku nggak setuju sama perjodohan ini. Kalau begini aku yang jadi korbannya. Ricko terus mengerutu di dalam hatinya. Kesana dan malas, itulah yang dia rasakan saat ini.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





