
Cintai Aku, Suamiku
Bab 3
Ceklek
Suara knop pintu yang dibuka oleh Ricko. Ricko melangkahkan kakinya memasuki kamar. Hal pertama yang dilihatnya adalah Suci yang sedang duduk di atas tempat tidur sembari memangku laptop di atas pahanya. Dia berjalan melewati Suci, tanpa menyapa satu patah kata pun. Seolah menganggap kalau tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ricko melangkahkan kakinya memasuki ruang ganti untuk berganti baju.
Suci sempat menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu dibuka dari arah luar. Lalu kembali menatap laptop setelah tahu Ricko suaminyalah yang membuka pintu kamarnya itu. Suci tak ambil pusing dengan kehadiran Ricko yang memasuki kamar. Toh, sudah dua bulan lamanya dia satu kamar dengan suaminya itu. Walau bisa dikatakan selama dua bulan ini tidak ada interaksi antara suami istri pada umumnya pada hubungan suami istri antara Suci dan Ricko.
Harus gimana lagi menghadapi Ricko? Hatinya sudah beku dengan mama Lona di dalamnya. Mau nyerah? Gimana caranya ngomong sama Ayah dan Bunda? Mana Ayah sibuk sama tugasnya terus, sampai nggak bisa pulang ke kota. Kasian juga kan kalau aku cuma ngomong sama Bunda, bisa-bisa bunda shock saat aku bilang kalau aku ingin pisah dari Ricko. Apalagi umur pernikahan aku ini belum genap seumur jagung. Batin Suci terus berpikir. Sembari jemari tangan lentiknya itu memainkan laptop yang ada di atas pahanya.
Di saat Suci tengah mencari solusi untuk masalah pernikahan yang menurutnya sangat sulit itu, lain hal nya dengan Ricko. Ricko yang kala itu sudah selesai berganti pakaian malah berdiri di pintu ruang ganti pakaian. Menatap Suci dari kejauhan. Entah apa arti dari tatapan mata itu tidak ada yang tahu.
Misal nih, kalau aku pisah. Terus aku jadi janda gitu? Aku nggak mau jadi janda! Inget umur dong Ci? Umur aku aja belum genap 21 tahun. Apa kata temen-temen aku nanti? Dan, status janda itu bukan keinginan aku. Aku cuma ingin menikah sekali dalam seumur hidup aku. Tapi apakah mungkin untuk saat ini keinginan aku itu terwujud? Apalagi suami aku Ricko. Apa bisa bertahan? Batin Suci terus melamun.
Saat Suci sedang sibuk melamun, ada suara yang memecah konsentrasi Suci. Suara yang terdengar sedikit keras di telinga Suci.
"Selesaikan tugas dulu. Baru lanjut ngelamun. Gue nggak mau ya kelompok kita itu hancur karena bab jatah yang lo garap itu belum selesai." Yang ternyata itu adalah suara Ricko mengingatkan Suci agar tidak melamun saat sedang mengerjakan tugas kuliah.
"Iya!" jawab Suci dengan acuh tak acuh.
Ricko yang dulu kemana sih perginya? Dia kan tahu kalau bagian yang kayak begini itu aku nggak tahu dan nggak bisa. Jangankan nawarin bantuan, negur aja wajahnya kaku banget gitu. Suci membatin lagi. Menatap wajah sahabat yang sudah jadi suami itu dengan tatapan mata datar.
Suci yang sedang dilanda rasa kesal pun melanjutkan mengerjakan tugasnya. Dia kini terlihat sedang sangat serius mengerjakan tugasnya. Sedangkan Ricko, terlihat Ricko sedang bermain handphone sembari duduk di atas sofa yang ada di kamar itu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ricko pun menoleh ke arah Suci yang sedang fokus mengerjakan tugasnya. Walaupun dari pendengaran Ricko sudah beberapa kali dia mendengar Suci yang menguap, namun istrinya itu masih tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
Ricko pun meletakan handphone nya di atas nakas. Setelah itu beralih berjalan ke arah tempat tidur, mengambil satu buah bantal dan berjalan lagi ke arah lemari untuk mengambil selimut. Lalu, Ricko kembali ke sofa mengambil posisi merebahkan tubuhnya di atas sofa itu. Dan tidak lama setelah itu, Ricko sudah pergi ke alam bawah sadarnya.
Aku rasa aku sudah benar-benar kehilangan sahabat dan juga seorang kakak laki-laki. Batin Suci. Menatap Ricko yang sudah tertidur lelap di atas sofa.
Dua bulan lamanya Ricko dan Suci sudah menikah. Dan dua bulan juga lamanya Ricko memilih tidur di sofa. Bukan karena apa Ricko memilih untuk tidur di sofa, dia hanya berjaga-jaga takut terjadi sesuatu diantaranya dan juga Suci. Sebenarnya bila dia hanya memikirkan diri sendiri, dia berhak atas Suci, karena dia berstatus suami sah dari Suci. Mau bagaimanapun Ricko adalah laki-laki normal maka dari itu dia memilih pisah tidur dengan Suci. Dia tidak mau bila keinginannya terkabul nanti, dia merasa merugikan seseorang. Dia ingin terbebas dari tuntutan apapun nantinya. Keinginan terbesarnya adalah bisa terlepas dari pernikahan yang mengikatnya dengan Suci, dan bisa mencari Lona untuk kembali dengan wanita yang bertahta di hatinya itu.
"Bila memang dia bukan jodohku, tunjukan jalan terbaik-Mu untukku dan dirinya, Tuhan. Aku tidak mau menjadi orang yang mengemis cinta dari seseorang. Walaupun seseorang itu adalah suamiku sendiri," ucap Suci lirih.
Suci menutup laptopnya, namun masih dibiarkannya di atas tempat tidur. Dia benar-benar mengantuk untuk saat ini. Padahal hanya tinggal sedikit lagi tugasnya itu sudah selesai. Tapi, karena kantuk yang melandanya dia memutuskan untuk tidur dan akan dilanjutkan saat tiba subuh nanti.
"Persetan sama tugas ini. Mataku sudah mengantuk. Bisa dilanjut besok subuh saja," kata Suci pada dirinya sendiri, lalu dia mengambil posisi untuk tidur.
***
Grabbb
Mata Ricko secara tiba-tiba terbuka. Matanya menyisir ruang kamarnya itu, matanya mendapati Suci yang sudah tertidur dengan laptop yang masih berada di samping tempat dia tidur.
Matanya menelisik dinding kamar, menatap jam dinding. Yang ternyata jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari.
Tugas Suci udah selesai? Kok dia udah enak-enak tidur begitu? Mana bagian punya dia itu kan pas bagian kelemahan dia. Kalau belum selesai harus dikerjain nih, takutnya dia belum selesai ngerjain dan imbasnya kelompok dapet nilai C. Gak lucu kan kalau semua anggota kelompok dapat nilai rendah cuma gara-gara satu anak yang tugas bagiannya nggak beres? Ricko membatin dalam hatinya.
Lalu dia berjalan ke arah tempat tidur, tempat Suci berada. Diambilnya laptop milik Suci dan mulai mengecek tugas yang dikerjakan oleh Suci tadi
Huft...
Ricko hanya bisa menghela napas setelah melihat hasil kerja Suci.
"Selalu saja begini kalau sudah dapat bagian yang ini." Ricko berkata lirih saat melihat hasil kerja istrinya itu.
Ricko pun mengerjakan ulang tugas kelompok bagian milik Suci. Dari wajahnya terlihat sedang sangat serius. Jari-jemarinya terlihat sangat lincah memainkan laptop milik istrinya itu.
Sekitar satu jam lamanya Ricko pun sudah selesai mengerjakan tugas milik Suci. Merasa matanya sudah tidak mengantuk, Ricko pun beralih membuka-buka apa saja yang bisa dibuka dari laptop milik Suci itu.
Ricko membuka galeri. Ada satu album yang mencuri perhatiannya. Nama album itu adalah Kenangan Masa SMA. Sudut bibirnya sempat terangkat saat membaca nama album itu. Mungkin kenangannya bersama Suci saat SMA terlintas di pikirannya. Tanpa ragu, Ricko pun membuka album itu.
Dan tiba-tiba,
"Loe ngapain mainin laptop gue, Ric?"
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





