
CINTA YANG TERTUKAR
Bab 2
CINTA YANG
Hati Mahya semakin berdebar saat Rafa justru menaikkan nada bicaranya. Ya Pria itu adalah Rafa, laki-laki yang sudah membuat hati Mahya terhipnotis. Harapan gadis itu untuk mendapatkan penyemangat lenyap seketika karena Aliyah justru ikut-ikutan.
"Iya, Pak." Kata-kata yang mampu keluar dari bibir Mahya. Tanpa banyak tanya gadis itu memulai melakukan apa yang di perintahkannya.
"Hari ini adalah penentuan kenaikan kelas," terang Rafa di depan Mahya dan yang lain. Matanya bahkan mulai berani menatap Mahya.
Mahya mengangguk mengerti. Pandangannya tidak sekalipun berani mengarah pada Rafa. Gadis itu menunduk, hingga suara Rafa membuat kepalanya mendongak.
"Mahya, ambilkan saya kapur!" printahnya. Gadis itupun tidak berani menolak, dengan segera dia berjalan.
"Maaf, saya permisi," ucap Mahya saat tepat di depannya.
"Heeem, ingat tidak pakai lama!" Ancamnya, Rafa pura-pura cuek seolah tidak peduli.
"Apakah mungkin gadis itu suka denganku?" Rafa bertanya-tanya dalam hati. Namun, Rafa yakin. Hal itu terbukti saat Mahya tidak sekalipun berani mengangkat wajah.
Sementara Mahya berjalan dengan hati berdebar-debar tidak sengaja menabrak Rafa sampai hampir jatuh. "Aduh maaf, Pak. Sungguh saya tidak sengaja," ucapnya dengan wajah memerah.
"Heeh, bagaimana bisa kamu tidak sengaja! Bukankah kamu sudah tahu aku disini! Dasar cewek kurang akhlak!" Rafa mendengus dan berkata-kata kasar, lain dengan hatinya dia justru senang dengan kejadian yang sedang menimpa.
"Sungguh Pak. Saya tidak sengaja," terlihat Mahya hampir menangis karena malu dan juga takut. Tanpa sadar Mahya membukuk tepat di lututnya.
"Hai, apa yang kamu lakukan? Bangunlah!" Bentak Rafa, yang tersentak oleh perlakuan Mahya. Rafa ikut membungkuk karena malu dan menarik tangannya.
Mahya mengangkat wajah dan hampir mengenai dagu Rafa. Gadis itu berusaha melepas tangan Rafa dan buru-buru keluar dari ruangan.
Kejadian demi kejadian yang menimpa hari ini membuat keduanya semakin terus memikirkan. Termasuk Rafa menjadi tidak konsentrasi di kelas.
"Ini, Pak. Kapurnya." Mahya meletakan kapur di atas meja yang di tempati Rafa. Tanpa menunggu perintah, Mahya kembali ke tempat duduk semula.
"Trimakasih," ucap Rafa tanpa menoleh ke arah Mahya. Rafa kemudian berdiri lalu menatap semua santri yang fokus. Rafa tersenyum manis yang membuat para santri wati salah tingkah.
"Hari ini, kita tidak lagi membahas tentang pelajaran, karena kita akan membahas tentang kenaikan kelas. Semua bisa lihat nanti di papan pengumuman"
lalu laki-laki dengan kulit sawo matang itu menoleh ke arah Mahya. "Dan kamu harus ikut saya ke kantor!"
Tidak hanya Mahya yang kaget, tapi juga temen-temennya, mereka saling pandang meski tidak berani berkomentar. Salah seorang teman dari belakang melontarkan protes.
"Apa tidak ada yang lain, Pak? Ya misal saya atau teman-teman yang lain yang mungkin juga di butuhkan!"
"Maaf, ini tidak ada hubungannya dengan kalian!" dengan tegas Rafa menjelaskan. Laki-laki itu sepertinya tidak peduli dengan protesan muridnya yang bernama Burhan.
"Maaf, Pak," Burhan berhenti sejenak lalu kembali berbicara,"Kenapa dari kemaren hanya Mahya yang terus di panggil? Bukankah kami juga bisa!" Burhan berdiri lalu duduk kembali.
"Heeh, rupanya kamu tidak suka dengan sikapku! Aku pikir ini semua hanya sebuah kebetulan saja. Bukankah memang sudah sewajarnya seorang guru memerintahkan pada muridnya?" Rafa menampik kenyataan.
Sebagai murid Burhan pun berusaha mengalah, dia duduk kembali meski dengan prasaan dongkol.
"Baiklah, saya pikir cukup. Sekian pertemuan kita kali ini saya akhiri wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh." Rafa mengakhiri pertemuan di kelas.
Saat semua santri dengan tertib kembali ke asrama, Mahya justru tidak langsung pulang, gadis itu masih menunggu di kelas sesuai perintah Rafa.
Sementara Aliyah di luar kelas justru terus menunggu Mahya cemas. Gadis itu berdiri di bawah pohon rambutan yang rindang dia menoleh saat seseorang menegurnya.
"Aliyah! Mengapa kamu masih di sini?" Tegur Rafa setengah bertanya.
"Maaf, Pak. Saya sedang menunggu Mahya," jawab Aliyah sopan.
Alis Rafa bertaut tidak mengerti.
"Kembalilah! Mahya adalah urusanku, kamu tidak usah menghawatirkannya."
"O, tidak," jawabnya dengan senyum mengembang. "Baiklah, Pak. Maaf jika justru kecemasanku sudah mengganggu Pak Rafa." Aliyah segera pergi dari hadapan Rafa dengan hati kecewa.
Pukul 12.20.WIB.Suara adzan berkumandang.
Terlihat Mahya masih menunggu kedatangan Rafa. Gadis itu duduk dengan pantat tergeser-geser karena cemas, sesekali pandangannya terarah pada pintu masuk kelas.
"Apa yang sesungguhnya dia inginkan! Mengapa aku justru seperti tawanan. Bahkan waktu sholat sudah tiba tapi, Pak Rafa belum juga datang," ucapnya.
Dia bangkit dan mondar-mandir menghawatirkan kemungkinan yang akan terjadi. Dari jauh terdengar suara langkah kaki mendekat. Gadis itu menjadi gugup, dan berkeringat.
"Siapakah dia? Benarkah itu pak Rafa?"
Mahya berlari mendekati pintu.
"Haaah, kok tidak ada siapa-siapa? Apakah pak Rafa hanya ingin mempermainkanku? Kalau begitu aku harus pulang sekarang!"
Mahya tampak kecewa dan kembali ke tempat duduk untuk mengambil tas.
Namun, suara ketukan pintu membuat Mahya segera meletakan tas, melangkah menuju pintu lagi.
"Pak Rafa!" ucap Mahya menggila, ada binar kebahagiaan di sana.
"Kenapa? Sepertinya kamu tidak suka dengan kehadiranku?" jawab Rafa seperti sengaja membuat Mahya menunggu.
"Bu-bukan seperti itu. Saya hanya kaget," Mahya menunduk. Tangannya meremas-remas ujung jilbabnya yang di kenakan.
"Kaget?! Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di sini?" tanya Rafa heran.
"Benar Pak. Maafkan saya," Mahya mengusap-usap tangannya yang tiba-tiba dingin dan wajah menjadi pucat.
Rafa mulai melangkah menuju kursi terdekat dia duduk, "Mahya, duduklah!"
Rafa berkata dengan lembut, bibirnya yang tipis mengukir senyum.
Dengan ragu Mahya berjalan mendekat dan duduk tidak jauh dari Rafa. Tangannya terus meremas ujung jilbab dan kadang meremas tangannya sendiri.
"Kenapa wajahmu pucat Mahya? Apa kamu takut?" tanya Rafa pelan. Mahya menggeleng. Gadis itu tidak mampu mengutarakan sepatah katapun.
"Lalu kenapa? Bicaralah! Aku tidak suka kamu terus diam seperti ini."
Rafa terus berbicara lembut pada Mahya, sehingga membuat Mahya menjadi tambah gugup dan salah tingkah. Rafa menyadari akan perubahan sikap dirinya terhadap Mahya.
"Mahya, benarkah namamu Mahya?" tanya Rafa dia sengaja mengalihkan topik seolah kurang puas dengan pengakuannya tempo hari.
Rafa memang belum mengenal Mahya, bahkan bisa di bilang baru mengenalnya saat acara pengetesan beberapa hari lalu. Sementara Mahya gadis itu sudah mengenal namanya. Namun tidak dengan orangnya.
"Benar, Pak. Namaku Mahya," jawab Mahya dengan mengangkat wajahnya pelan.
"Dari mana asalmu?" tanya Rafa kembali.
"Saya asli orang Jawa, Pak."
Rafa bangkit dan mulai memperhatikan Mahya dalam. Matanya bergulir kekanan dan ke kiri seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Siapa nama lengkapmu?"
"Ainun Mahya."
"Nama yang bagus," ucapnya kemudian
Rafa berjalan dan lebih mendekati Mahya.
Mahya mulai ketakutan, bahkan hampir bangkit dan lari.
"Tenanglah, aku tidak bermaksud buruk padamu," ucap Rafa yang kemudian menyadari akan ketakutan Mahya.
"Mahya, aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Kamu berbeda dari yang lain," ucap Rafa mulai berani memberi kode.
Rafa tersenyum ramah, pandangan matanya teduh membuat hati Mahya menjadi tambah gusar. Rafa menjadi senang di buatnya.
"Mahya, kamu tampak gusar! Ada apa? Sungguh aku tidak bermaksud buruk padamu," ucapnya menegaskan.
Tangan Rafa hampir menyentuh pundak Mahya. Namun, urung karena malu. Dia sadar akan posisi yang sedang dia sandang saat ini.
"Maaf, apakah masih ada yang mau di bicarakan? Saya belum shalat," ujarnya. Mahya berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menghindari rasa grogi yang berlebih, mengambil tas dan berdiri.
"Mahya, tenanglah! Aku juga belum shalat, kita bisa melakukan berjamaah di Mushola."
Mendengar kata-katanya seketika matanya membulat, "Maaf, sepertinya hal itu sangat tidak mungkin untuk kita!"
"Mengapa tidak mungkin!" Rafa hampir memegang tangannya, jika Mahya tidak segera bergeser. Seoalah Rafa tidak ingat lagi jika dirinya adalah seorang guru bagi Mahya.
"Saya hanyalah seorang murid. Dan kita bukan mahrom," jawabnya tegas.
"Apa bedanya jika begitu?" Rafa benar-benar lupa posisinya.
"Tentu kita sangat berbeda. Maaf kalau begitu, ijinkan saya untuk keluar lebih dulu."
"Heee," jawab Rafa kesal.
"Sial!" Tangannya membanting pintu keras.
Sementara Mahya, tidak mau menoleh lagi dia ketakutan dan berjalan dengan cepat.
Pukul 00:00.WIB.
Saat para Santri sedang menikmati malamnya dengan tidur. Namum, tidak dengan Rafa yang sejak tadi belum mampu memejamkan matanya, pikirannya terus berjelajah jauh.
"Mahya, sejak pertemuan kita beberapa hari yang lalu, aku juga mulai menaruh simpati padamu," ucapnya lirih.
"Andai saja kamu mengerti, aku tidak perlu mengungkapkan lewat lisanku!" Tanganya mengambil bantal dan merebahkan tubuh, mata menatap langit-langit atap asrama.
"Aku harus menemui Mahya lagi, rasanya rindu ini begitu berat, jiwaku menjadi kosong. Oh Mahya, apakah kau juga merasakan hal yang sama," ujar Rafa terus berbicara hingga tidur.
Sementara itu di Asrama putri terlihat dua santri tengah berbincang-bincang di antara teman-temannya yang sudah tidur mereka adalah Mahya dan Aliyah.
"Mahya, apa yang kamu lakukan dengan Pak Rafa tadi?" tanya Aliyah penasaran.
"Aliyah, kamu tahu? Ternyata dia sangat menyebalkan. Bahkan tadi aku di perlakukan seperti tawanan, dia membuatku menunggu terlalu lama. Bukankah itu hal yang sangat membosankan!"
"lalu apa yang kalian lakukan Mahya?" tanya Aliyah lagi.
"Kami hanya bercakap-cakap.
Pak Rafa mengintrogasi layaknya seorang wartawan terkenal yang ingin menjadikan bahan berita," jawabnya acuh.
"Oh. Rupanya benar. Pak Rafa, menyukaimu Mahya?"
Mahya terjingkat karena kaget atas apa yang di sampaikan temennya.
"Kamu kenapa Mahya?" tanya Aliyah yang tampak heran.
"Jaga bicaramu Aliyah! Aku takut yang lain mendengar percakapan kita. Sementara Pak Rafa sama sekali tidak tahu menahu tentang itu semua."
"Tenanglah, mereka semua sudah tidur. Kita bisa membicarakan dengan baik." Tangan Aliyah terulur hendak meraih tangan Mahya.
"Sudahlah, Aliyah. Aku ngantuk kita tidur sekarang!" Dengan tangan menepis uluran Aliyah.
"Mahya, aku tahu. Kamu juga mencintainya bukan!"
"Tidurlah, Aliyah. Ini sudah malam."
Aliyah merasa kesal dan kecewa pada Mahya. Gadis itu terpaksa tidur meski dengan prasaan dongkol.
"Heeeh. Awas saja kamu Mahya," ucap Aliyah yang telah membelakanginya dengan suara lirih.
Tetaplah ikuti episode selanjutnya
Akankah Rafa berterus terang tentang perasaannya pada Mahya? Atau Aliyah justru mempunyai rencana lain..
Anda Mungkin Juga Suka





