
CINTA YANG TERTUKAR
Bab 3
Sebuah tempat yang begitu indah, hamparannya luas nan hijau, bunga tumbuh di mana-mana, kupu-kupu terbang dengan bulunya yang indah, pepohonan berdiri kokoh, angin bersumilir menerpa wajah seorang gadis yang tengah berdiri dengan gaun putih menjuntai. Dia adalah Ainun Mahya. Gadis yang biasa di panggil Mahya.
"Di mana aku? Tempat apa ini?" ucapnya setengah bertanya dengan terus mengedarkan pandangan, matanya menyipit ketika seseorang berjalan menghampirinya.
"Siapa laki-laki itu?" Mahya memperhatikan sampai seseorang itu berhenti tepat di hadapannya.
"Pak Rafa!" Mata Mahya membulat seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ya," jawab Rafa. Laki-laki itu memandang Mahya dengan tersenyum.
"Rupanya kamu disini, Mahya!" Tangan Rafa terulur hendak megapai pundak sang gadis.
"Ah, apa yang akan Bapak lakukan?" tolak Mahya sopan.
Rafa tersenyum lembut dengan tetap memegang pundak Mahya. Gadis itu mundur selangkah. Namun, tangan Rafa segera menggapainya hingga membuat Mahya tidak mampu menolak lagi bahkan binar kebahagiaan mulai di tampakkan.
"Mahya! Aku ingin kita menjalin hubungan yang lebih, bukan hanya sekedar guru dengan murid," ungkap Rafa tulus.
"Apakah kamu berdsedia menjadi kekasihku?" tanya Rafa kembali.
Rafa mengangkat wajah Mahya pelan. Laki-laki itu tidak bosan-bosannya memandangi wajah gadis yang ada di hadapannya.
Mahya terpaksa mengikutinya, tanpa berani melawan. Sebagi seorang gadis, Mahya tentu malu jika harus berterus terang, gadis itu masih tetap diam.
"Menurut sebagian orang, diamnya seorang gadis adalah setuju." Rafa berucap sembari melepas pegangannya.
"Mahya? Bagaimana menurutmu? Apakah kamu juga setuju tentang pendapat itu?"
Mendengar pertanyaan dari Rafa, Mahya segera mengatur nafas lalu menjawabnya, "Ya, mungkin benar pendapat itu."
"Kalau begitu, artinya kamu menerima cintaku bukan?" dengan wajah berbinar Rafa berpendapat.
Terlihat gadis itu menjadi merah wajahnya karena malu dan juga senang diamengangguk tanpa berfikir ulang. Tangan Rafa seketika terulur dan keduanya berlari-lari mengitari taman.
Pukul 03:00.WIB.
"Oh. Rupanya aku hanya bermimpi," ucap Mahya saat dirinya terbangun dari tidur. Gadis itu tampak kecewa.
"Ya Alloh, benarkah aku sudah jatuh cinta pada Pria tampan tapi dingin itu?" tanya Mahya. Wajahnya mendongak menatap langit-langit asrama yang mulai memudar warnanya.
"Mahya! Apa yang kamu lakukan? Mengapa masih belum tidur?" tegur Aliyah
yang terbangun karena suara Mahya meski tidak jelas. Namum, cukup mengganggu.
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya bermimpi," jawab Mahya nyengir kuda.
"Maaf aku sudah membuatmu terbangun Aliyah," ujar Mahya dengan gugup. Tangannya meraih bantal yang sudah bergeser dari tempat semula.
"Tidurlah Aliyah! Aku tidak akan menggagumu lagi!" seru Mahya.
"O, begitu ya? Aku pukir kamu sedang tidak baik-baik saja," jawab Aliyah dengan mata belum terbuka sempurna.
"Mahya, aku masih ngantuk. Jika kamu ingin tidur, jangan lupa berdoa, agar kau tidak mimpi buruk lagi," pesan Aliyah kemudian. Tangan kanannya menarik selimut yang sudah ada di bawah.
Mahya membiarkan temannya tidur lagi.
Ingatannya kembali pada Rafa. Lelaki yang kini menjadikan hari-harinya penuh warna, Mahya kemudian bangkit hendak menunaikan sholat sunat.
"Di dalam doaku ini, hamba mohon ya Allah, berikanlah petunjuk apa yang terbaik di kemudian hari. Hamba tidak ingin sampai salah melangkah" Mahya mengangkat wajahnya, buliran air bening ikut menyertai kala doa terucap.
Sampai adzan subuh berkumandang.
Pukul 08:00.WIB
Semua santri mulai berkumpul dan siap menunggu pengumuman. Pada saat itulah tampak Mahya gelisah.
"Mahya, mengapa wajahmu tampak pucat?" tanya Aliyah. Tangan Aliyah bergerak mengusap wajahnya.
" Aku tidak apa-apa kok, mungkin karena kurang tidur," Mahya menjawab sekenanya.
"Benarkah? aku rasa kamu telah menyembunyikan sesuatu dariku Mahya!"
Alis Mahya bertaut menunjukan keheranan lalu berucap, "Apa maksudmu Aliyah? aku sungguh tidak mengerti."
"Aku tahu, kamu mencintai Pak Rafa bukan?!" tanaya Aliyah lirih, dengan wajah sesekali menengok kanan dan kekiri
"Entahlah, aku tidak yakin," jawab Mahya enteng.
"kamu harus berhati-hati Mahya! Mungkin dia baik di hadapanmu tapi, apa kau tahu bagaimana di luar?" Aliyah berusaha menghasut agar Mahya tidak mendekati Rafa.
"Aliyah! Apa yang kamu katakan! Meski aku tidak tahu bagaimana Pak Rafa di luar. Namun, aku yakin dia adalah orang baik," sanggah Mahya tidak terima.
Aliyah memejamkan mata, berfikir sejenak. Dia tidak ingin tujuannya gagal.
"Itu karena kamu telah di butakan oleh cinta Mahya! Aku hanya memperingatkan karena kamu temanku."
"Tidak. Aku sudah menyaksikan sendiri," tolaknya.
"Kapan?! Saat kamu bertemu kemarin!
Itu baru satu kali, bagaimana jika kamu sering bertemu dengannya! Apakah kamu masih mau mengatakan bahwa dia baik?"
"Terimakasih Aliyah, kamu telah peduli padaku. Tapi, maaf. Aku tidak sependapat denganmu," dengan tegas Mahya memungkiri apa yang di katakan teman dekatnya. Baginya Rafa adalah orang yang baik yang dia kenal saat ini.
Aliyah mendesah kesal lalu menepuk pundak Mahya, "Ya, baiklah. Tidak apa, aku mengerti perasaanmu." Aliyah melangkah dan berlalu dari Mahya.
"Aliyaaah! Kamu mau kemana?" tanya Mahya heran.
Sejenak Aliyah terhenti, dan menoleh pada Mahya. Gadis itu tersenyum miring lalu menjawab pertanyaan Mahya, "Aku mau keluar sebentar."
"Semua sudah berkumpul, mengapa justru kamu mau keluar, ayolah kita bicara di sini saja dulu!" ujar Mahya menjelaskan. Aliyah hanya menggeleng lalu pergi.
"Heeeh, ada apa sebenarnya? mengapa semua menjadi rumit," ucap Mahya, sambil mengusap jidatnya frustasi.
"Apa yang sedang Mahya, pikirkan? Mengapa gadis itu terlihat sangat gelisah?" Aku harus menghampirinya sekarang!" ucap Rafa, saat tidak sengaja melintas dan melihatnya. Rafa berjalan pelan, memasuki kelas Mahya.
Sementara itu Mahya masih mengusap-usap jidat yang sebenarnya tidak pusing. Hingga gadis itu tidak menyadari akan kehadiran Rafa.
"Mahya!" Panggil Burhan saat melihat Mahya masih mengusap-usap jidatnya.
Mahya tersentak lalu membuka mata.
Suara lirih Burhan membuat dia tersadar, jika di hadapannya sudah berdiri seseorang yang tidak asing baginya.
"Eeh, Pak Rafa?" dengan wajah memerah gadis itu berucap.
Rafa tersenyum melihat kegugupan Mahya, "Eem, apa yang sedang kamu fikirkan Mahya? Mengapa dari tadi aku perhatikan kamu tampak gelisah?"
Wajah Mahya menjadi pias, rasa gugup dan grogi tidak mampu dia tutupi dengan alasan apapun.
Mahya mengedarkan padangan ke sekeliling, debaran hatinya menjadikan mulut sulit untuk berbicara. Tangannya dengan sepontan menggaruk kepala yang tidak gatal. "E-e anu Pak."
Hal serupa juga ternyata di rasakan Rafa. Laki-laki dengan tubuh kekar dan terkenal dingin. Namun, dia berusaha biasa saja di hadapan yang lain.
"Mahya, apa kamu tidak mendengarku!"
Rafa pura-pura marah, untuk menutupi kegugupannya.
"Maaf, Pak. Saya mendengarnya, tapi saya tidak apa-apa, sungguh," jawabnya meyakinkan agar Rafa segera pergi dari hadapannya.
Pada saat itulah Aliyah masuk kelas. Aliyah tercengang melihat Mahya sedang bercakap-cakap dengan Rafa, gadis itu buru-buru mempercepat langkah.
"Mahya! Kesalahan apa yang kamu lakukan sehingga membuat pak Rafa datang kemari!" tanya Aliyah yang baru saja datang.
Mahya dan Rafa saling beradu Padang bahkan yang lain ikut bingung. Mereka sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hai Aliyah! kalau tidak tahu duduk perkaranya, jangan sok-sokan begitu deh," tegur Burhan kesal.
"Tahu tuh, padahal pak Rafa, kesini juga karena mau tanya tentang keadaan Mahya. Iya kan?" timpal teman yang lain, mereka saling tertawa.
"Oh, sudah-sudah. Apa yang kalian lakukan!" Bela Mahya mencoba menghentikan.
"Aliyah juga hanya menghawatirkan aku, kenapa kalian juga tidak mengerti," Mahya mencoba memberi pengertian pada semua teman-temannya agar tidak terjadi salah paham.
"Mahya, seharusnya kamu marahnya sama Aliyah! Bukan sama kami!" Protes Burhan.
"Burhan, trimakasih. Tapi, aku tidak apa-apa kok." Mahya mengedipkan mata, memberi isyarat agar Burhan tidak mempermasalahkan lagi.
"Sudah-sudah. Saya permisi. Maaf jika kedatanganku ke kelas ini justru membuat tidak nyaman," ucap Rafa.
Laki-laki itu merasa dongkol seoalah kedatangan dirinya hanya menjadi bahan tertawaan. Dengan kaki mulai melangkah lalu mendekati Mahya dan bersisik, "Mahya, aku tunggu kamu."
Mahya menoleh karena geli, dan mengangguk setuju dan pandangannya kembali pada teman-temannya.
"Maaf teman-teman jika kejadian ini telah mengganggu, khususnya untuk saya pribadi," ucap Mahya berusaha membuat suasana kembali normal.
Mahya terkenal baik, periang, dan mudah bergaul. Dari sikapnya inilah Mahya mempunyai banyak teman. Mahya memang tidak begitu cantik.
Namun, ketulusannya membuat nyaman orang yang berada di dekatnya. Kini semua kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Sepertinya kamu akan lebih dekat lagi dengan Pak Rafa," ucap Aliyah ketika sudah duduk di dekat Mahya.
"Kamu ini ngomong apa? Aku tidak mengerti," jawab Mahya dengan mulai mengeluarkan buku yang ada di dalam tas.
"Kamu tidak usah berpura-pura lagi Mahya!"
"Berpura-pura! Sejak kapan aku suka berpura-pura? Kamu itu adalah temanku sejak kita masuk asrama ini Aliyah," Mahya mengerutkan dahi.
"Aku tidak suka dengan sikapmu yang sekarang ini Mahya."
"Sikap yang mana?" tanya Mahya bingung.
"Aku tidak suka dengan caramu yang sekarang!" tegas Aliyah lagi.
Mahya menatap Aliyah lekat, rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di sampaikan.
"Waduh, ada yang lagi cemburu nih."
Suara ledekan burhan sekita mbuat Mahya dan Aliyah membalikan tubuh.
"Hai, Burhan! Aku sama Mahya sudah berteman sejak dulu. Bahkan kami mempunyai cita-cita yang sama, jadi untuk apa aku cemburu.
Bukankah seharusnya aku malah mendukung!" Aliyah menampik kenyaatan yang di kemukan oleh temennya dengan suara ketus.
"Ok, aku tahu sekarang." Burhan sengaja tidak meneruskan bicaranya. Dia berjalan kembali ke tempat duduknya.
Pukul 12:00.
"Selamat siang anak-anak,"
Sapa sang guru dengan suara yang khas, lengkap dengan senyumannya. Dia adalah Fajar. Wali kelas Mahya. Semua menjawab serentak.
"Hari ini, pengumuman kenaikan kelas," jelas Fajar.
"Ada salah satu di antara kalian yang memiliki kemampuan di atas rata-rata," ungkapnya lagi.
Semua terdiam mereka saling pandang, menerka-nerka.
Siapakah yang di maksud guru tersebut?
Ikuti terus kelanjutannya ...
Anda Mungkin Juga Suka





