
Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong
Bab 2
Pagi di Aurora Bay selalu dimulai dengan suara burung camar dan aroma laut yang menusuk hidung. Tapi pagi itu, bagi Aldric Delvane, dunia terasa tak sama lagi. Ia terbangun dengan dada berat, matanya masih memandangi siluet kota kecil dari jendela kamar hotel.
Kopi di tangannya sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia tak mampu meneguknya. Pikiran tentang Keira dan anak kecil bernama Liam terus berputar tanpa henti.
Anak itu.
Anaknya.
Aldric memijat pelipisnya, mencoba menenangkan diri. Lima tahun lalu, ia meninggalkan Keira dengan dingin, menganggap semuanya sudah selesai. Tapi kini, kenyataan menamparnya dengan keras: di balik keputusannya, ada nyawa kecil yang tumbuh tanpa kehadirannya.
Ia ingin marah. Pada Keira, pada dirinya sendiri, pada takdir. Tapi di balik kemarahan itu, ada rasa bersalah yang begitu dalam-rasa yang membuat dadanya sesak setiap kali ia mengingat mata Liam.
Sementara itu, di rumah kecil di pinggir pantai, Keira sedang menyiapkan sarapan sederhana. Liam duduk di meja makan, memainkan sendoknya sambil bersenandung pelan.
"Liam, jangan mainkan sendoknya, sayang. Nanti jatuh," ucap Keira lembut sambil menaruh roti panggang di piring.
Anak kecil itu tertawa kecil. "Mama, aku mimpi semalam. Ada orang tinggi sekali, pakai jas, dia liatin aku terus. Terus dia bilang... aku mirip dia."
Tangan Keira berhenti sejenak di udara. Dadanya mencubit perih.
"Orang tinggi itu siapa?" tanyanya, berusaha terdengar santai.
"Enggak tahu," jawab Liam polos. "Tapi mama kenal dia, ya?"
Keira tersenyum tipis, lalu mengacak rambut anaknya. "Mungkin cuma mimpi, Nak. Jangan dipikirin."
Tapi pikirannya sendiri tak bisa berhenti. Ia tahu, cepat atau lambat, Aldric akan datang lagi. Ia melihat tatapan pria itu kemarin-tatapan yang penuh keterkejutan, penyesalan, dan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.
Dan Keira tidak siap untuk semua itu.
Selama lima tahun ini, ia membangun hidup dari awal. Ia bekerja di yayasan sosial, membesarkan Liam sendirian tanpa bantuan siapa pun. Ia ingin anaknya tumbuh tanpa bayangan masa lalu yang kelam.
Tapi kini, masa lalu itu datang mengetuk pintu lagi.
Siang harinya, Keira sedang menata dokumen di ruang administrasi sekolah ketika suara langkah kaki berat terdengar di luar. Ia tahu suara itu bahkan tanpa perlu menoleh.
"Aku bisa bicara denganmu?" suara Aldric dalam dan berat, tapi kali ini terdengar ragu.
Keira mengangkat kepala perlahan. Tatapan mereka bertemu lagi, dan udara di ruangan itu seketika terasa padat.
"Aku sedang bekerja," jawab Keira datar, tanpa berhenti menulis. "Kalau kau ingin menyumbang, pintu yayasan ada di sebelah barat."
"Aku tidak datang untuk itu."
Keira berhenti menulis. "Kalau begitu, kau salah tempat."
Aldric menghela napas panjang. "Keira, tolong... hanya lima menit."
Keira menatapnya lama sebelum akhirnya berdiri. "Baik. Lima menit. Setelah itu, aku tak ingin ada pembicaraan lagi tentang masa lalu."
Mereka berjalan keluar menuju taman kecil di belakang sekolah. Angin laut bertiup pelan, membawa aroma garam dan suara anak-anak bermain dari kejauhan.
Aldric memandang Keira dengan mata yang tak lagi setajam dulu. Sekarang ada kelembutan yang samar, tapi juga rasa bersalah yang menyesakkan.
"Dia anakku, bukan?"
Keira menatap lurus ke laut, tidak menjawab.
"Keira," suara Aldric bergetar. "Kau tidak perlu menjawab. Aku tahu jawabannya."
"Kalau kau sudah tahu," Keira berbalik, suaranya tajam, "mengapa masih menanyakan hal itu?"
Aldric terdiam.
"Kau pikir aku akan berlutut dan menangis di hadapanmu, mengakui semuanya, agar kau bisa merasa menjadi ayah yang hebat?" lanjut Keira dengan nada getir. "Tidak, Aldric. Dunia tidak berputar untuk menebus kesalahanmu."
"Aku tidak mencari pengampunan," Aldric membalas pelan. "Aku hanya ingin tahu... mengapa kau tidak pernah memberitahuku? Aku berhak tahu bahwa aku punya anak."
Keira tertawa pahit. "Berhak? Setelah kau pergi tanpa menoleh? Setelah kau mengirimkan surat cerai dengan tangan sekretarismu? Kau menyebut itu 'hak'?"
Aldric memejamkan mata. Setiap kata Keira seperti cambuk yang menyayat kulitnya.
"Aku tahu aku salah," katanya perlahan. "Aku tahu aku pengecut. Tapi Keira... tolong, jangan hukum aku dengan membuatku seolah tak pernah ada."
Keira menatapnya lama. "Kau ingin tahu kenapa aku tidak memberitahumu? Karena aku tahu apa yang akan kau lakukan. Kau akan datang, menulis cek, dan menganggap semuanya selesai. Tapi anak ini bukan proyek amal, Aldric. Dia manusia. Dan aku tidak ingin Liam tumbuh mengenalmu hanya sebagai nama di rekening bank."
Aldric menelan ludah, matanya mulai memanas. "Aku tidak ingin uang menjadi alasan. Aku ingin... memperbaiki semuanya. Aku ingin mengenal dia."
Keira tertawa, kali ini lebih lembut tapi menyakitkan. "Kau tidak bisa memperbaiki sesuatu yang sudah hancur menjadi debu, Aldric. Lima tahun... terlalu lama."
Hening.
Angin laut berhembus membawa keheningan yang berat di antara mereka.
"Setidaknya biarkan aku melihatnya," kata Aldric akhirnya. "Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya... ingin ada di dekatnya."
Keira menunduk lama sebelum akhirnya berucap lirih, "Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi."
"Aku akan membuktikan, Keira," jawab Aldric mantap. "Bukan dengan janji, tapi dengan waktu."
Keira tidak menjawab. Ia hanya berjalan pergi meninggalkannya di taman, sementara Aldric berdiri diam memandangi laut yang berkilau di kejauhan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari semua kekayaan yang pernah ia miliki.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan aneh.
Aldric memperpanjang masa tinggalnya di Aurora Bay dengan alasan urusan proyek yayasan, padahal alasannya hanya satu: Liam.
Setiap sore, dari kejauhan, ia memperhatikan anak itu bermain di pantai bersama anak-anak lain. Terkadang Keira ikut duduk di bawah pohon, menonton sambil membaca buku.
Ada rasa yang sulit dijelaskan di dada Aldric setiap kali melihat pemandangan itu-perasaan yang hangat sekaligus menyakitkan.
Ia membayangkan bagaimana hidup Liam tanpa dirinya. Siapa yang menemaninya saat demam pertama kali? Siapa yang mengajarinya berjalan? Siapa yang memeluknya ketika mimpi buruk datang?
Bukan dia.
Dan itu membuat Aldric ingin menebus semuanya, meski ia tahu mungkin sudah terlambat.
Suatu sore, Liam berlari ke arah air laut, menendang ombak kecil sambil tertawa. Tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh.
Aldric yang kebetulan berada tak jauh langsung berlari menghampiri tanpa berpikir.
"Liam!"
Anak itu menoleh, terkejut, tapi sebelum sempat bangkit, Aldric sudah mengangkatnya ke pelukan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Liam mengangguk, matanya menatap wajah pria itu dengan rasa ingin tahu. "Om... kenapa Om tahu namaku?"
Aldric tertegun. Ia lupa bahwa Keira belum memberitahukan siapa dirinya.
"Aku... temannya mamamu," jawabnya cepat, tersenyum canggung.
Liam menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. "Om mirip aku."
Jantung Aldric bergetar. Ia menatap wajah polos itu, dan untuk sesaat, dunia terasa begitu damai.
Dari kejauhan, Keira melihat semuanya. Ia berdiri diam, napasnya tercekat antara marah dan haru.
Bagaimana mungkin ia bisa membenci pemandangan itu? Tapi di sisi lain, ia juga takut-takut kehilangan lagi apa yang sudah ia perjuangkan sendirian selama ini.
Ketika Aldric menurunkan Liam dan hendak pergi, Keira memanggilnya pelan.
"Aldric."
Pria itu menoleh.
"Terima kasih sudah menolongnya," katanya singkat, berusaha menahan emosi. "Tapi mulai sekarang, jangan terlalu dekat dengannya."
"Keira-"
"Aku serius," potong Keira. "Kau datang, membuat Liam bingung, lalu pergi lagi seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Aldric menatapnya dalam. "Aku tidak akan pergi kali ini."
Keira ingin membalas, tapi tak sanggup. Tatapan mata Aldric terlalu dalam, terlalu jujur. Ia memilih berbalik dan berjalan cepat meninggalkan pantai, sementara hatinya berdegup tak karuan.
Malamnya, Keira duduk di beranda rumahnya sambil menatap laut. Angin berhembus lembut, membawa aroma asin yang menenangkan, tapi pikirannya justru kacau.
Ia tahu Aldric bukan lagi pria yang sama seperti dulu. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia menatap Liam-ada ketulusan yang dulu tidak pernah ia lihat.
Tapi bisakah orang benar-benar berubah? Atau Aldric hanya datang karena rasa bersalah?
Sementara itu, Liam keluar dari kamar, mengucek matanya. "Mama belum tidur?"
Keira tersenyum, mengangkat anak itu ke pangkuannya. "Belum, sayang."
"Mama," kata Liam pelan. "Om tadi baik banget. Aku suka sama dia."
Keira terdiam.
Liam melanjutkan, "Om itu kayak aku, Ma. Matanya sama."
Keira menatap mata anak itu yang berkilau polos di bawah sinar lampu. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Di sisi lain kota, Aldric duduk di balkon hotelnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Ia memegang foto lama yang selama ini ia simpan di dompet-foto pernikahannya dengan Keira.
Ia ingat betapa dinginnya mereka berdua saat itu. Tak ada senyum, tak ada cinta, hanya tanda tangan dan janji untuk berpisah setelah dua tahun.
Namun kini, setiap kali mengingat Keira, dadanya terasa sesak.
Ia menyesal karena tidak pernah mencoba mengenalnya dulu. Tidak pernah menanyakan apa yang membuatnya tersenyum atau menangis.
Ia menyesal karena butuh waktu lima tahun untuk menyadari bahwa perasaan yang dulu ia anggap 'ketidaknyamanan' ternyata adalah cinta yang terpendam.
Dan sekarang, semua sudah terlambat.
Atau mungkin... belum?
Aldric menggenggam foto itu kuat-kuat. Ia berjanji pada dirinya sendiri-ia tidak akan pergi dari kota ini sebelum Keira percaya padanya lagi.
Sebelum Liam memanggilnya dengan satu kata yang paling ia rindukan seumur hidupnya.
"Ayah."
Pagi berikutnya, Keira berangkat ke sekolah seperti biasa. Tapi kali ini, sesuatu yang tak biasa terjadi-Aldric sudah menunggunya di depan gerbang dengan senyum kaku.
"Aku sudah mendaftar sebagai relawan di yayasan ini," katanya cepat. "Mulai hari ini, aku akan membantu program pembangunan ruang baca anak-anak."
Keira menatapnya tak percaya. "Apa?"
"Aku tidak bercanda." Aldric mengangkat map pendaftaran. "Aku ingin melakukan sesuatu yang berarti. Dan kalau itu berarti aku bisa dekat dengan Liam tanpa membuatmu curiga, maka aku akan melakukannya."
Keira memijit pelipisnya, frustasi. "Kau tidak harus melakukan ini, Aldric."
"Tapi aku ingin."
Tatapan mata pria itu membuat Keira kehabisan kata. Ada sesuatu yang berbeda kali ini-bukan ambisi, bukan ego, tapi tekad yang tulus.
Dan di saat itu juga, entah mengapa, Keira merasa pertahanannya mulai retak.
Namun di balik semua itu, ia tak tahu bahwa kehadiran Aldric di kota kecil itu tidak hanya akan mengubah hidup mereka bertiga, tapi juga membuka rahasia lain yang selama ini ia sembunyikan-rahasia tentang masa lalu yang bahkan Aldric belum tahu sepenuhnya.
Sebuah rahasia yang, jika terungkap, mungkin akan menghancurkan kesempatan kedua yang baru saja muncul.
Langit sore tampak kelabu saat Keira berdiri di tepi balkon apartemennya. Angin membawa aroma hujan yang tertahan, menggantung di udara, seolah ikut menahan segala perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Ia menatap kota yang ramai di bawah sana, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu-ke wajah seseorang yang berulang kali ia coba lupakan, tapi justru makin jelas setiap kali ia berusaha menghapusnya.
Aldric.
Nama itu seperti duri kecil yang menancap dalam, tak pernah benar-benar hilang. Ia sudah berusaha hidup tanpa kehadiran pria itu. Bertahun-tahun. Namun sejak pertemuan tak terduga di kantor klien minggu lalu, semua yang ia bangun dengan susah payah terasa runtuh begitu saja. Tatapan Aldric waktu itu-tajam, menyesal, tapi juga hangat-masih terus menghantui.
Keira menggenggam pagar balkon, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba ingin jatuh. "Kamu udah cukup kuat, Keira," gumamnya pelan. "Dia cuma masa lalu. Hanya masa lalu."
Namun suara kecil di dalam hatinya berbisik sebaliknya.
Dan entah kenapa, sejak hari itu, Aldric selalu muncul dalam pikirannya-dalam setiap kopi yang ia minum, setiap langkah menuju kantor, bahkan dalam mimpi-mimpinya yang seharusnya kosong.
Sementara itu, di tempat lain, Aldric sedang berdiri di depan taman kecil di pinggir kota. Di tangannya ada sekotak kecil mainan robot yang ia beli di toko mainan. Pandangannya terarah pada anak laki-laki berusia empat tahun yang sedang bermain bola bersama pengasuhnya-Liam.
"Dia mirip banget sama aku waktu kecil," gumam Aldric, suaranya nyaris tak terdengar. Bibirnya menegang saat ia melihat senyum anak itu, lesung pipi di sisi kanan, dan cara anak itu tertawa lepas saat bola kecilnya melambung ke arah semak.
Aldric menarik napas panjang, menahan dorongan untuk menghampiri.
Ia tidak boleh gegabah. Tidak sekarang.
Lima tahun lalu, Keira meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Ia sempat mencarinya-ke rumah orang tuanya, ke kampus lamanya, bahkan ke luar negeri. Tapi hasilnya nihil. Hingga ia mendengar kabar bahwa Keira kini tinggal di kota ini, bekerja di perusahaan arsitektur, dan... punya seorang anak laki-laki.
Anak itu bernama Liam.
Dan semakin Aldric memperhatikan, semakin ia yakin bahwa Liam adalah darah dagingnya sendiri.
Namun Keira tak tahu ia sudah mengetahui semuanya. Ia tak tahu bahwa Aldric telah diam-diam mengamati dari jauh selama beberapa minggu terakhir. Setiap pagi Aldric melihat Keira mengantar Liam ke taman, lalu pergi ke kantor. Setiap sore, ia menunggu dari mobil, hanya untuk melihat senyum bahagia yang dulu selalu ia rindukan.
Rasa bersalah menghantam keras. Dulu, ketika mereka menikah, pernikahan itu bukan karena cinta. Itu hanya perjanjian. Tapi seiring waktu, Aldric sadar-ia benar-benar jatuh cinta pada Keira. Sayangnya, saat perasaan itu tumbuh, Keira sudah pergi, menghilang dari hidupnya.
Di kantor, Keira menatap layar komputernya kosong. Angka-angka di tabel spreadsheet menari tanpa makna. Ia memijat pelipis, mencoba fokus, tapi gagal.
"Keira, kamu baik-baik aja?" suara sahabatnya, Dira, terdengar dari balik meja sebelah.
Keira mengangkat wajah dan tersenyum kecil. "Aku cuma... kurang tidur."
Dira mengerling. "Kurang tidur? Atau kebanyakan mikirin mantan suami?"
Keira terdiam, jemarinya berhenti di atas keyboard. "Dira, aku udah bilang-dia cuma masa lalu."
"Tapi masa lalu yang bikin kamu nggak bisa maju." Dira meletakkan setumpuk berkas di meja Keira. "Aku tahu kamu masih sayang. Kamu cuma takut ngaku."
Keira menghela napas. "Aku nggak sayang. Aku cuma... kecewa. Aku udah capek berharap sama seseorang yang dulu bahkan nggak berusaha mempertahankan aku."
Dira duduk di kursi seberang, menatap serius. "Tapi kamu tahu nggak, kadang orang nggak bisa memperjuangkan yang dia sayang karena dia nggak tahu caranya."
Ucapan itu menusuk Keira lebih dalam daripada yang ia mau akui. Ia mencoba menepis pikiran tentang Aldric, tapi ingatan itu datang lagi-malam terakhir sebelum ia pergi.
Malam itu hujan deras. Aldric baru pulang dari rapat, mabuk, dan mengatakan sesuatu yang menghancurkan hatinya.
"Kita menikah cuma karena kesepakatan, Keira. Jangan berharap aku akan jatuh cinta."
Kata-kata itu terus terngiang, menjadi alasan utama mengapa ia pergi tanpa pamit.
Sore itu, setelah menjemput Liam dari taman, Keira menggandeng tangan kecil itu menuju mobil.
"Mommy, besok kita ke taman lagi, ya? Aku mau kasih makan burung-burungnya," kata Liam riang.
Keira tersenyum lembut. "Tentu, sayang. Tapi kamu harus janji, kalau Mommy bilang pulang, kamu nggak boleh ngambek."
"Oke!" Liam mengangguk antusias.
Namun tiba-tiba suara seseorang dari belakang membuat langkah Keira terhenti.
"Liam?"
Keira menoleh spontan. Dunia seolah berhenti berputar saat ia melihat siapa yang berdiri di sana.
Aldric.
Dengan jas hitam elegan, rambut sedikit berantakan diterpa angin, dan tatapan yang penuh sesuatu-rindu, penyesalan, dan harapan yang tak terucap.
Keira menelan ludah, berusaha tenang. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aldric menatapnya lama, lalu menunduk menatap Liam. "Aku cuma... lewat. Aku lihat anak ini-"
"-dan kamu sengaja menghampiri kami?" potong Keira tajam.
Aldric terdiam. "Aku... aku cuma pengin lihat kamu."
Liam menatap bergantian antara mereka berdua. "Mommy, kenal, ya?" tanyanya polos.
Keira berjongkok, membelai rambut anaknya. "Ayo, sayang. Kita pulang."
"Keira, tunggu," panggil Aldric, melangkah mendekat. "Aku tahu aku salah. Tapi tolong, jangan halangi aku buat-"
"-buat apa, Aldric?" Keira menatapnya tajam, matanya berkaca. "Buat ngerusak hidup aku lagi? Buat bikin Liam bingung?"
Aldric menahan napas, menatap anak itu lagi. "Dia anakku, ya?"
Pertanyaan itu mengguncang Keira. Suaranya bergetar saat menjawab, "Itu bukan urusanmu lagi."
Ia menarik tangan Liam dan melangkah cepat menuju mobil, meninggalkan Aldric berdiri sendirian dengan pandangan yang hancur.
Malamnya, Keira tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Liam yang sudah terlelap di kasurnya.
Air matanya mengalir pelan.
"Maaf, Nak..." bisiknya lirih. "Mommy cuma pengin kamu hidup tenang. Tanpa luka dari masa lalu Mommy."
Namun di sisi lain kota, Aldric juga belum bisa tidur. Ia menatap foto Keira dan Liam yang diam-diam ia ambil dari kejauhan. Ia tahu Keira marah, kecewa, dan mungkin membencinya. Tapi sekarang, setelah melihat anak itu langsung, ia tak akan tinggal diam.
Ia harus menemukan cara untuk mendekati Liam. Pelan-pelan, tanpa menakut-nakuti Keira.
Mungkin ia tak akan pernah bisa menebus semua kesalahan masa lalu, tapi setidaknya ia bisa mencoba jadi ayah-walau dari jauh.
Namun satu hal yang Aldric tak tahu:
Keira mulai goyah.
Di balik kemarahan dan dendam yang ia simpan, ada rindu yang tak pernah padam. Tatapan Aldric tadi sore-lembut dan menyesal-terus menghantui pikirannya.
Malam semakin larut. Di langit, bulan separuh menggantung, seolah menjadi saksi dua hati yang dulu pernah bersatu, kini terpisah tapi masih saling mencari.
Dan di antara rasa benci yang tumbuh karena luka, ada sesuatu yang perlahan hidup kembali-
sesuatu yang Keira berusaha mati-matian untuk bunuh: cinta.
Namun cinta yang lahir dari masa lalu yang retak, selalu datang bersama badai yang lebih besar.
Dan Keira tahu, badai itu sedang menuju hidupnya sekali lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





