Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong

Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong

Aldric dan Keira terikat pernikahan kontrak demi kepentingan finansial keluarga. Setelah dua tahun penuh kepura-puraan, Aldric memilih bercerai demi mantan kekasihnya, tanpa tahu Keira pergi dalam keadaan mengandung. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah kota kecil. Aldric terkejut melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, ia harus memilih antara menebus kesalahan masa lalu atau kehilangan keluarga kecilnya selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hujan tipis turun saat pagi pertama Aldric memutuskan untuk benar-benar berada di dekat Liam tanpa menimbulkan kecurigaan. Kota Aurora Bay, yang biasanya tenang, terasa berbeda saat ia melangkah melewati jalanan sempit menuju taman di tepi laut. Sepanjang perjalanan, pikirannya berkecamuk: apakah Keira akan memaafkannya? Apakah Liam akan menerimanya? Atau apakah semua ini hanya akan menjadi bencana yang menghancurkan lagi sedikit demi sedikit?

Ia mengenakan jaket biru tua dan topi baseball, pakaian sederhana agar tidak terlalu mencolok. Aldric tahu, jika ia langsung mengaku sebagai ayah Liam, Keira pasti menolak. Jadi ia harus bersabar, mulai dari kecil-mendekat tanpa menakut-nakuti, menunjukkan dirinya hadir tanpa maksud manipulatif.

Sesampainya di taman, ia melihat Liam sedang bermain bola dengan beberapa anak lain. Keira duduk di bangku kayu dekat pohon besar, matanya sesekali mengikuti gerak Liam sambil mencatat sesuatu di buku catatan. Aldric tersenyum tipis. Cara Keira memandang Liam membuat hatinya berdetak lebih cepat. Ada cinta yang tulus, lembut, dan tidak menuntut. Sesuatu yang dulu ia kira tidak ada padanya-dan sekarang ia tahu, cinta itu nyata, nyata sekali.

Ia menahan langkahnya, memperhatikan dari jauh, berusaha seolah-olah ia hanyalah pengunjung biasa. Namun setiap kali Liam tertawa dan menatap sekeliling, jantung Aldric seperti ditarik. Anak itu mirip sekali dengannya. Satu senyum saja membuatnya ingin menggendong, ingin memeluk, ingin menjadi ayah yang selama ini ia abaikan.

"Tunggu sebentar," gumam Aldric. "Aku harus sabar."

Hari demi hari, Aldric kembali ke taman itu dengan alasan sederhana: menjadi sukarelawan untuk kegiatan anak-anak. Ia mengatur jadwalnya sedemikian rupa sehingga selalu berada di dekat Liam tanpa membuat Keira curiga. Kadang ia membantu anak-anak mewarnai, kadang membaca buku di sudut taman, kadang ikut bermain bola dari jarak aman. Ia menyadari setiap gerak Liam-cara anak itu menendang bola, cara ia tertawa, cara ia memiringkan kepala saat mendengar cerita. Setiap detail kecil membuatnya terpesona dan sekaligus menyesal.

Sementara itu, Keira mulai merasakan sesuatu yang tidak ia sangka: kehadiran pria itu di dekat Liam membuatnya gelisah. Ia menolak untuk mengakui perasaannya, tapi hatinya mulai terguncang setiap kali melihat Aldric tersenyum pada anaknya.

"Keira, kau kenapa?" tanya Dira lewat telepon saat mendengar suara Keira yang agak serak.

"Aku... aku nggak tahu," jawab Keira singkat. "Hanya... cemas. Tidak jelas."

"Cemas? Maksudmu, karena Aldric?"

Keira menghela napas panjang. "Aku nggak mau akui... tapi setiap kali dia ada di dekat Liam... entah kenapa aku merasa... terancam? Atau... rindu?"

Dira tertawa kecil. "Itu bukan cemas, itu cinta lama yang datang kembali, Kei. Kau nggak bisa menolaknya selamanya."

Keira menutup telepon, menatap luar jendela. Diri kecilnya dalam hati berteriak: jangan jatuh lagi. Jangan biarkan hati ini tersakiti untuk kedua kalinya.

Hari itu, Aldric sengaja membawa kotak cat warna dan beberapa kertas gambar. Ia duduk di dekat Liam, pura-pura membantu anak-anak lain mewarnai. Liam tampak penasaran pada kotak cat itu.

"Om, boleh aku lihat?" tanya Liam polos.

Aldric tersenyum, menatap mata anak itu. "Tentu, sayang. Pilih warnanya."

Keira yang melihat dari kejauhan menegang. Ia menahan napas. Aldric sedang dekat dengan anaknya, dan Liam tampak nyaman. Tapi Keira tidak bisa menolak kenyataan bahwa ia merasa... lega. Bahwa Aldric tidak menunjukkan sikap arogan, tidak memaksa, hanya hadir di sisi Liam dengan lembut.

"Kenapa Om nggak pernah main sama aku sebelumnya?" tanya Liam, masih menatap Aldric.

Aldric tersentak, namun segera tersenyum hangat. "Karena... Om belum diberi kesempatan, Nak. Tapi sekarang Om ada di sini, ya?"

Liam tersenyum, lalu melanjutkan mewarnai. Aldric memerhatikan setiap gerakan anak itu, memperhatikan garis-garis yang dibuat tangan mungilnya, memperhatikan tawa kecil yang mengalir bebas. Aldric tahu, ia harus sabar. Ia harus mulai dari sini, dari dekat Liam, sebelum ia bisa menembus hati Keira lagi.

Keira berdiri di dekat pohon, menyandarkan punggungnya, matanya tak bisa lepas dari Aldric dan Liam. Sebuah rasa hangat muncul di dadanya, campuran antara perasaan marah dan rindu. Ia menepis tangan yang ingin menutupi mulutnya. "Tidak, Keira. Jangan biarkan hatimu jatuh lagi. Jangan."

Namun sesekali, ia menoleh pada Aldric, melihat pria itu tersenyum hangat pada anaknya, dan hatinya perlahan-lahan melembut.

Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang sama. Aldric datang setiap pagi atau sore, pura-pura menjadi sukarelawan, pura-pura tidak peduli, tapi sesungguhnya hatinya setiap saat tertuju pada Liam. Ia mencatat kebiasaan anak itu, setiap reaksi, setiap senyuman. Ia ingin menjadi bagian dari hidupnya, meski Keira belum mempercayainya.

Sementara itu, Keira merasakan gelombang emosi yang tidak pernah ia duga. Ia benci diri sendiri karena hatinya terusik, benci Aldric karena memunculkan perasaan lama yang seharusnya sudah terkubur, dan sekaligus... rindu. Rindu pada pria itu, pada masa lalu yang hangat, pada sosok yang dulu ia tinggalkan begitu saja.

Suatu sore, setelah Liam tidur siang, Keira duduk di teras sambil menatap laut. Teleponnya bergetar-pesan dari Aldric.

"Aku beli buku cerita baru untuk Liam. Aku akan kirimkan ke rumahmu. Hanya untuknya."

Keira menatap pesan itu lama, tangan gemetar. Ia tahu pesan itu sederhana, tapi hatinya terasa sesak. Aldric tidak meminta apapun, tidak menuntut, hanya peduli. Dan itu menyakitkan. Karena Keira sadar-mereka berdua tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ikatan di antara mereka lebih dari sekadar masa lalu.

Ia menutup ponsel dan menatap langit yang mulai gelap. "Kenapa aku merasa... takut dan lega sekaligus?" gumamnya. "Kenapa kehadirannya masih bisa bikin jantungku berdebar?"

Suatu pagi, Aldric sengaja datang lebih awal ke taman. Ia ingin memastikan Liam bisa bermain tanpa gangguan, tapi juga ingin memberi Keira kesempatan melihat bahwa ia tulus. Saat itu, Liam sedang menggambar di pasir. Aldric duduk beberapa meter dari mereka, pura-pura membaca koran, tapi matanya tak lepas dari Liam.

"Om, lihat ini!" teriak Liam sambil menunjuk gambar rumah kecil yang ia buat di pasir.

Aldric tersenyum, menunduk. "Wow, bagus sekali! Aku suka warnanya, Nak."

Keira berdiri di kejauhan, memandangi adegan itu. Ia tak tahu kenapa hatinya mencelos. Aldric tampak begitu lembut, sabar, hangat. Tidak ada egonya, tidak ada sikap sombong, hanya kehadiran yang tulus.

Mata Keira berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air mata. "Tidak, Keira. Jangan jatuh lagi."

Namun perasaan itu terus tumbuh, seperti api yang perlahan-lahan menyala di tengah hujan.

Hari-hari berikutnya, interaksi Aldric dengan Liam semakin dekat, tapi selalu sopan dan penuh jarak. Ia mulai mengenal kebiasaan anak itu, hal-hal yang disukai, hal-hal yang membuatnya senang. Ia mulai meninggalkan hadiah kecil-buku, mainan, bahkan kue buatan sendiri-tanpa menunggu pengakuan Keira.

Keira, di sisi lain, mulai goyah. Hatinya bimbang antara membenci Aldric karena menyakiti mereka lima tahun lalu dan merindukan kehadiran pria itu yang ternyata begitu peduli pada Liam.

Suatu sore, saat Liam sedang menggambar di halaman, Keira akhirnya berani berjalan ke Aldric. "Kenapa kau melakukan semua ini?" tanyanya pelan, matanya menatap pria itu tanpa menutupinya.

Aldric menatapnya lembut. "Karena aku ingin... menebus semuanya. Untuk Liam. Dan juga... untukku sendiri."

Keira tersenyum pahit. "Terlalu lambat, Aldric. Terlalu lama."

"Tidak ada kata terlambat," jawab Aldric mantap. "Kalau kau mau, aku akan menunggu. Aku bisa sabar. Aku tidak akan memaksa, tapi aku ingin ada untuk Liam, dan... mungkin, untukmu juga."

Keira menunduk, menahan perasaan yang ingin ia ungkapkan tapi takut. Ia tahu hatinya mulai terguncang. Ia tahu-bahwa cinta lama tidak pernah benar-benar mati, hanya tertidur, menunggu waktu untuk bangun lagi.

Dan malam itu, saat Liam tertidur di pangkuan Keira, ia menatap langit gelap di luar jendela.

"Kenapa harus Aldric?" gumamnya lirih. "Kenapa dia masih bisa membuat hatiku bergetar setelah semua ini?"

Namun di dalam hatinya, ia sadar satu hal: badai yang datang bersamaan dengan Aldric tidak akan bisa dihindari. Dan badai itu akan menguji cinta, kesabaran, dan keputusan mereka semua-antara kemarahan, penyesalan, dan gkemunkinan cinta yang tumbuh kembali.

Matahari pagi menembus celah jendela, menyinari ruangan kecil di rumah Keira. Suara tawa Liam terdengar dari luar, saat ia berlari mengejar burung merpati yang beterbangan di halaman. Keira duduk di kursi makan, menyeruput teh hangat yang mulai dingin. Tapi pikirannya jauh melayang ke satu sosok-Aldric Delvane.

Kehadiran pria itu di kota ini bukan hanya membuat Liam penasaran, tetapi juga menimbulkan ketegangan yang tak bisa Keira jelaskan. Beberapa hari terakhir, Aldric tampak lebih sabar, lebih lembut, dan yang paling penting-tidak mengintimidasi. Setiap kali ia berada di dekat Liam, pria itu hanya tersenyum, menunggu dari jauh, memberi ruang tapi tetap hadir.

Keira menghela napas panjang. "Kenapa aku masih peduli?" gumamnya. "Dia sudah pergi lima tahun, dan sekarang kembali... membuat segalanya kacau lagi."

Sementara itu, Aldric berdiri di balik pohon dekat taman, mengamati Liam bermain bola dengan teman-temannya. Ia membawa tas kecil berisi buku dan mainan, berniat memberikannya sebagai hadiah untuk Liam.

"Semoga ini bisa jadi awal," gumamnya. "Aku harus sabar. Aku harus mulai dari sini, pelan-pelan."

Ia memperhatikan anak itu melompat-lompat, tertawa, tanpa sadar matanya sering melirik ke arah Keira. Aldric merasakan sakit di dadanya-lima tahun lalu, ia meninggalkan Keira dan Liam tanpa alasan yang jelas bagi mereka. Kini, semua penyesalan itu menumpuk seperti gelombang yang siap menghantamnya.

Ia mengeluarkan buku bergambar dari tas, menatap halaman pertama. "Besok aku akan memberikan ini kepadamu, Liam. Tanpa memaksa. Hanya untukmu," bisiknya.

Hari berikutnya, Aldric memutuskan untuk mendekati Keira secara tidak langsung. Ia menaruh buku di halaman rumah mereka, di dekat kotak surat. Saat Keira keluar, ia melihat buku itu dan sejenak terdiam.

"Siapa yang meletakkan ini?" gumamnya, matanya menatap halaman buku dengan ilustrasi warna-warni. Tidak ada catatan, tidak ada nama, hanya buku bergambar dengan sampul cerah.

Liam yang muncul dari belakang langsung melompat. "Buku baru! Buat aku, kan, Ma?"

Keira menatap anaknya dan tersenyum tipis. "Sepertinya begitu, Nak." Ia merasa hatinya tak sengaja berdebar. Ia tahu buku itu dari siapa, tapi ia tidak ingin mengaku.

Hari demi hari, Aldric mulai masuk ke dalam kehidupan mereka secara perlahan. Ia menjadi sosok bayangan yang hadir tanpa terlihat, membantu Liam dari jauh, selalu memastikan anak itu aman, selalu memastikan Keira tidak terganggu.

Namun, satu malam, Keira menemukan sesuatu yang mengejutkan. Saat membersihkan lemari tua, ia menemukan surat lama dari Aldric yang tak pernah ia baca. Surat itu ditulis lima tahun lalu, sebelum ia pergi dari hidupnya.

"Keira, aku tahu aku tidak pantas berharap kau mengerti, tapi aku ingin kau tahu... aku benar-benar mencintaimu. Setiap keputusan bodohku, setiap kepergianku, bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku takut gagal menjadi pria yang layak untukmu. Aku berharap suatu hari, kau bisa melihatku bukan hanya sebagai pria yang meninggalkanmu, tapi sebagai pria yang selalu ingin memperbaiki segalanya."

Keira terdiam. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Lima tahun lalu, ia mengira Aldric pergi karena dingin dan egois. Ternyata, ia salah. Ia menyimpan luka karena salah paham. Dan kini, ketika Aldric kembali dengan sikap lembut, Keira merasa dunia di sekitarnya mulai berbalik.

Keesokan harinya, Aldric mengajak Liam bermain di pantai, tanpa sepengetahuan Keira. Anak itu begitu senang, melompat-lompat, mengejar ombak, dan tertawa lepas. Aldric duduk di pasir, menatap Liam dengan mata berkaca.

"Om... Om tahu aku suka ini, kan?" tanya Liam sambil menunjuk ombak yang pecah di kaki mereka.

"Tahu, Nak. Om tahu," jawab Aldric pelan. Ia menatap Liam lebih lama, mencoba menyerap setiap momen. "Kau hebat."

Namun, Keira yang diam-diam mengawasi dari jarak jauh merasa campur aduk. Ia marah karena Aldric berani mendekati Liam tanpa izinnya, tapi hatinya juga tersentuh melihat bagaimana pria itu bersikap lembut pada anaknya.

"Kenapa hatiku terusik?" gumamnya. "Kenapa aku masih peduli padanya?"

Seiring waktu, Aldric mulai mengajarkan Liam hal-hal sederhana: membaca huruf, menggambar rumah dan pohon, bahkan belajar menghitung. Ia sabar, lembut, dan tidak pernah memaksa. Setiap kali Liam berhasil, Aldric tersenyum lebar, dan hati Keira terasa panas-karena ia sadar, pria itu menunjukkan sisi yang selama ini ia rindukan.

Suatu sore, saat Liam tertidur, Keira duduk di teras sambil menatap Aldric yang baru saja membantu Liam naik sepeda. Pria itu terhenti, menatapnya sebentar, lalu tersenyum. Senyum itu membuat jantung Keira berdegup lebih cepat.

"Kenapa aku masih bisa merasa... jatuh lagi?" gumam Keira, menunduk. "Dia sudah membuatku terluka lima tahun lalu. Kenapa hatiku masih terguncang?"

Di sisi lain, Aldric pun menghadapi pergulatan batin sendiri. Ia tahu ia salah di masa lalu, tapi kini ia memiliki kesempatan kedua. Namun kesempatan itu rapuh, karena Keira masih penuh dendam dan curiga. Ia harus membuktikan kesungguhannya, tapi ia juga takut terlalu cepat mendekati Liam dan membuat Keira menolak.

Suatu malam, Aldric menulis di jurnalnya:

"Aku tidak bisa memaksa cinta Keira. Aku hanya bisa hadir, menjadi bagian dari hidup Liam, dan berharap suatu hari ia bisa menerima aku kembali. Aku siap menunggu. Aku siap menerima penolakan. Tapi aku tidak akan menyerah."

Kata-kata itu membuatnya merasa sedikit tenang, meski hatinya tetap bergejolak.

Keira, di sisi lain, menemukan rahasia lain yang mengejutkan. Saat menyortir dokumen lama, ia menemukan bukti bahwa Aldric pernah menyiapkan warisan yang sebenarnya ditujukan untuknya-bukan untuk pihak lain. Ia menyadari bahwa lima tahun lalu, Aldric sebenarnya sudah berencana memberikan kehidupan yang layak untuknya dan Liam, tapi entah kenapa, ia pergi sebelum sempat menerima semua itu.

Rasa bersalah dan marah campur aduk dalam hatinya. Ia menyadari bahwa kesalahan selama ini bukan sepenuhnya dari Aldric. Dan rasa benci yang selama ini ia simpan mulai memudar, digantikan oleh rasa ingin memahami dan bahkan... rindu.

Hari demi hari, hubungan mereka semakin rumit. Aldric semakin dekat dengan Liam, tetapi tetap memberi ruang untuk Keira. Keira, di sisi lain, semakin sulit menolak perasaan lamanya yang muncul lagi, tapi ia takut terluka untuk kedua kalinya.

Suatu sore, Liam berlari ke arah Aldric dengan wajah berseri-seri. "Om, lihat aku bisa naik sepeda sendiri!"

Aldric tersenyum lebar. "Hebat sekali, Nak! Aku bangga padamu."

Keira yang berdiri di kejauhan menatap adegan itu dengan hati campur aduk. Ia ingin berlari menghampiri Aldric, memeluknya, dan menangis karena rindu. Tapi ia juga menahan diri, karena takut akan sakit yang sama seperti lima tahun lalu.

Dan di saat itu, Liam berbalik, menatap Keira, lalu menatap Aldric bergantian. "Mama... Om ini teman baru aku, kan?"

Keira menelan ludah. Senyum Aldric lembut, penuh arti, seakan menjawab bahwa ia lebih dari sekadar teman. Keira merasa dunia berputar di sekelilingnya, hatinya berdebar, dan ia tahu satu hal: badai yang datang dengan Aldric tidak bisa ia hindari lagi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku gundik
8.0
Ragazza Perfetto dikenal sebagai sosok pria kaya raya yang memiliki kepribadian hampir tanpa celah. Namun, kesempurnaan hidupnya seketika hancur saat wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati justru tega mengkhianatinya. Tanpa belas kasihan, belahan jiwanya tersebut menginjak-injak harga diri Ragazza dan menyerahkan kehormatannya kepada seorang gundik. Kini, sang miliarder harus menghadapi kenyataan pahit saat martabatnya dilemparkan begitu saja dalam konflik romansa ini.
Sampul Novel Gairah Liar Tuan Xavier
8.5
Bella terjebak dalam situasi yang sangat mencekam saat ia berusaha keras menolak klaim sepihak dari Tuan Xavier. Meski Bella berteriak menentang takdir yang dipaksakan kepadanya, pria berkuasa itu dengan tegas menyatakan bahwa Bella kini menjadi miliknya sepenuhnya. Xavier tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Bella untuk melarikan diri atau memberikan bantahan. Kini, Bella harus menghadapi obsesi liar sang tuan yang tidak mengenal kata penolakan.
Sampul Novel HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE
8.0
Geby terjebak dalam pernikahan paksa dengan Jeremy Loghan, miliarder kejam yang menyimpan dendam mendalam. Meski Geby masih mencintai kakak Jeremy, kebencian suaminya justru berujung pada perlakuan kasar di ranjang. Di tengah konspirasi licik keluarga bangsawan di Yorkshire, rahasia besar mulai terungkap. Jeremy pun bimbang saat rasa cinta mulai tumbuh untuk wanita yang seharusnya ia benci. Akankah ia memilih balas dendam atau perasaannya pada Geby?
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Yasmin yang baru berusia 20 tahun terjebak dalam pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Namun, konflik memuncak saat Galih memberikan pilihan sulit antara Vira, anak sambungnya, atau Anggara. Meski Yasmin sangat mencintai Vira, keraguan hatinya memicu amarah Galih. Pria itu akhirnya menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan sisa harapan dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel My Perfect Hero
8.6
Raline terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan demi menjaga martabat keluarga. Ia harus menikahi Liam Bernardus Nelson, pria kaya raya yang ternyata berwatak dingin dan kejam. Meski awalnya menderita, Raline terkejut karena Liam selalu melindunginya di saat sulit. Namun, keharmonisan mereka terancam ketika Bora kembali untuk merebut Liam. Kini Raline harus berjuang mempertahankan posisinya sebagai istri sah di tengah konflik tersebut.
Sampul Novel Pengkhianatannya Membangkitkan Kekuatan Sejatinya
8.9
Lima tahun aku menjadi sosok anonim 'Aura' demi kesuksesan Revan. Namun, saat menyusulnya, aku memergoki dia bermesraan dengan asistennya, Kyra. Alih-alih merasa bersalah, Revan justru menyalahkan aku atas kelalaian Kyra dan mengusirku di depan para eksekutif. Pria itu lupa siapa yang membangun kariernya. Saat kehancuran melanda, CTO kami muncul dan membongkar identitas asliku sebagai pemilik perusahaan yang sesungguhnya di hadapan Revan yang terkejut.