
Cinta Yang Kau Balas Dengan Surat Cerai!
Bab 2
Hujan turun deras di luar jendela, membasahi jalanan kota Ravenshore yang tampak berkilau di bawah lampu jalan. Amara duduk di lantai ruang tamu apartemen barunya, punggungnya bersandar pada sofa abu-abu sederhana yang baru saja diantar pagi tadi.
Apartemen itu kecil, hanya satu kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan dapur mungil, dan balkon sempit yang menghadap ke deretan bangunan tua. Tapi baginya, ruangan ini terasa jauh lebih luas daripada rumah keluarga Crowhurst yang megah.
Tidak ada pelayan yang mengawasinya. Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada langkah kaki Damien yang dingin menyusuri lorong.
Hanya ada dirinya, suara hujan, dan aroma teh chamomile yang mengepul dari cangkir di tangannya.
Ia mengembuskan napas panjang, mencoba meresapi rasa lega itu. Namun, di sela-sela ketenangan, ada ruang kosong yang menganga di dadanya. Bukan hanya karena ia kehilangan suami-kalau bisa disebut suami, mengingat jarak di antara mereka-tetapi karena ia kini benar-benar sendirian di dunia.
Ia mengangkat cangkirnya, menyesap sedikit, lalu menatap ke luar. Di jalan seberang, sebuah kedai kopi kecil masih buka, lampunya hangat, bayangan orang-orang terlihat bergerak di balik kaca. Amara hampir lupa rasanya duduk di kafe tanpa takut diperhatikan media atau dihakimi sebagai "istri Damien Crowhurst yang tidak pantas."
Pikirannya melayang kembali ke hari ia menandatangani surat cerai. Tidak ada air mata saat itu. Tidak ada drama seperti di film. Tapi di dalam hati, ia merasakan sesuatu yang pecah, yang mungkin tidak akan pernah utuh lagi.
Keesokan paginya, Amara bangun lebih awal. Bukan karena alarm, tapi karena sinar matahari menerobos dari celah tirai yang belum sempat ia pasang dengan benar. Ia memutuskan untuk keluar, membeli kebutuhan dapur, dan mungkin... mencoba kopi di kedai seberang.
Ia mengenakan sweater putih longgar dan celana jeans sederhana, mengikat rambutnya setengah. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia memilih pakaian tanpa memikirkan apakah itu cukup "mewah" untuk keluarga Crowhurst.
Ketika ia membuka pintu apartemen, ia hampir menabrak seorang pria yang sedang membungkuk menaruh kotak kardus di depan unit sebelah.
"Oh, maaf," ujar Amara sambil mundur selangkah.
Pria itu menoleh. Ia tinggi, berkulit sawo matang dengan garis rahang tegas, rambut hitamnya sedikit berantakan seperti baru saja terkena angin. Kaos hitam yang dikenakannya menonjolkan bahu bidangnya.
"Tidak apa-apa," jawabnya dengan suara berat tapi ramah. "Kau baru pindah ke sini?"
Amara mengangguk. "Ya. Kemarin."
Ia mengulurkan tangan. "Evan Ryswell. Unit 12B."
"Amara," balasnya sambil menjabat. Tangan pria itu hangat, genggamannya mantap.
Evan menatap sekilas ke dalam apartemen Amara yang pintunya terbuka. "Masih kosong ya? Kalau butuh bantuan angkat barang atau pasang rak, aku biasanya ada di rumah sore hari."
Amara tersenyum tipis. "Terima kasih. Aku akan ingat."
Setelah pertemuan singkat itu, Amara menyeberang ke kedai kopi. Bel pintu berdenting ketika ia masuk, aroma kopi segar langsung menyambutnya. Musik jazz lembut mengalun di latar, dan beberapa meja ditempati orang yang sibuk dengan laptop atau buku.
Ia memesan cappuccino dan croissant, lalu memilih duduk di dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat apartemennya. Rasanya aneh, tapi juga menenangkan, bisa melihat "rumah" dari luar, tanpa ada gerbang tinggi atau kamera CCTV yang mengawasi setiap gerakannya.
Saat sedang menikmati sarapan, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang dulu ia hapal di luar kepala: Damien.
"Aku akan mengirim seseorang untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Pastikan kau ada di apartemen sore ini."
Amara menatap layar itu lama. Tidak ada basa-basi, tidak ada tanya kabar. Hanya perintah, seperti biasa. Ia menaruh ponsel di meja tanpa membalas.
Sore hari, tepat pukul empat, bel apartemen berbunyi. Amara membuka pintu, dan bukan kurir atau staf kantor hukum yang berdiri di sana, melainkan Selene Marquette.
Wanita itu tampak lebih anggun dari terakhir kali mereka bertemu-blazer krem di atas dress hitam, rambutnya tergerai sempurna, sepatu haknya berkilau.
"Aku datang mengambil dokumen Damien," katanya tanpa senyum.
Amara mengangkat alis. "Dia tidak bilang kau yang akan datang."
"Apakah itu masalah?" tanya Selene, tatapannya menantang.
Amara menggeleng pelan, lalu mengambil map berisi dokumen dari meja. "Ini."
Selene menerimanya, namun tidak segera pergi. "Tempat ini... kecil sekali," ujarnya sambil melirik ke sekeliling apartemen. "Tidak sebanding dengan penthouse di Ravenshore, tentu saja."
Amara menahan diri untuk tidak menghela napas. "Ya. Tapi ini milikku. Itu perbedaannya."
Ucapan itu membuat Selene terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkung sinis. "Kau pikir kebebasan ini akan bertahan lama? Dunia di luar sana tidak ramah pada orang seperti kita-terutama tanpa nama besar yang melindungimu."
Amara menatapnya lurus. "Mungkin. Tapi aku lebih memilih menghadapi dunia itu sendirian daripada hidup di bawah bayang-bayang seseorang."
Selene mengerucutkan bibir, lalu berbalik meninggalkan apartemen tanpa kata lagi.
Malamnya, Amara duduk di balkon dengan secangkir teh. Suara hujan sudah berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang samar. Lampu kota berkelip di kejauhan.
Ia berpikir tentang kata-kata Selene. Mungkin wanita itu benar-dunia memang tidak ramah. Tapi, bukankah itu justru alasan untuk belajar bertahan sendiri?
Pintu balkon sebelah terbuka, dan suara berat memecah kesunyian. "Kau belum tidur?"
Amara menoleh. Evan berdiri di balkon unit sebelah, bersandar di pagar dengan kaleng minuman di tangannya.
"Belum mengantuk," jawab Amara.
Evan menatapnya beberapa saat sebelum berkata, "Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja menutup satu bab besar dalam hidupnya."
Amara terdiam. "Kau suka membuat tebakan seperti itu pada orang yang baru kau kenal?"
Pria itu tersenyum tipis. "Hanya jika aku merasa mereka akan punya cerita menarik."
Entah kenapa, Amara tidak merasa terganggu. Malah, ada sesuatu pada tatapan pria itu-tajam, tapi tidak menghakimi-yang membuatnya merasa aman.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya, apakah pertemuan singkat di depan pintu kemarin hanyalah kebetulan... atau awal dari sesuatu yang lebih besar.
Anda Mungkin Juga Suka





