
Cinta Yang Kau Balas Dengan Surat Cerai!
Bab 3
Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi saat Amara keluar dari apartemennya. Ia membawa tas belanja kanvas, berniat mengisi kulkas yang hampir kosong. Udara pagi terasa segar, dan suara burung bercampur deru kendaraan menciptakan harmoni khas kota yang sudah lama tidak ia nikmati.
Saat ia menutup pintu, suara langkah dari sebelah membuatnya menoleh. Evan keluar dari unitnya, mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans, rambutnya masih sedikit basah seolah baru mandi.
"Pagi," sapanya sambil menyampirkan ransel di satu bahu.
"Pagi," balas Amara.
"Kau mau ke pasar?" tanyanya, matanya melirik tas belanja yang dibawa Amara.
"Ya. Stok makananku... menyedihkan," jawab Amara, senyum tipis terulas di bibirnya.
Evan tertawa pelan. "Kalau begitu, biar aku antar. Aku juga harus ke arah sana."
Amara sempat ingin menolak-ia terbiasa berjalan sendiri-tapi mengingat ia belum tahu lingkungan sekitar dengan baik, tawaran itu tidak terdengar buruk. "Baiklah."
Pasar pagi itu ramai. Pedagang sayur meneriakkan harga, aroma rempah bercampur dengan bau roti yang baru dipanggang. Amara membeli beberapa sayuran, roti gandum, telur, dan buah. Evan menemaninya, sesekali membantu menawar harga, membuat Amara tersenyum karena tidak terbiasa ada yang repot-repot melakukan itu untuknya.
"Kau pintar menawar," ujarnya saat mereka meninggalkan pasar.
Evan mengangkat bahu. "Kalau sering pindah tempat tinggal, kau belajar bertahan dengan berbagai cara."
"Sering pindah?" tanya Amara.
Pria itu mengangguk, tapi tidak menjelaskan lebih lanjut. "Nanti akan ada waktunya aku bercerita. Tapi untuk sekarang, bagaimana kalau aku yang masak makan siang? Anggap saja sambutan tetangga baru."
Amara ragu sejenak, tapi akhirnya setuju. "Baiklah. Tapi aku bantu."
Beberapa jam kemudian, aroma tumisan bawang putih dan lada memenuhi dapur Evan. Amara berdiri di sebelahnya, mengiris paprika sementara pria itu mengaduk pasta dalam panci. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker di sudut ruangan, membuat suasana terasa santai.
"Jadi, apa pekerjaanmu?" tanya Evan sambil menaburkan garam ke panci.
Amara menatap sebentar sebelum menjawab, "Dulu... aku bekerja di galeri seni. Setelah menikah, aku berhenti."
"Dan sekarang?"
Amara menghela napas. "Sekarang... aku belum tahu."
Evan mengangguk pelan, seolah memahami lebih dari yang ia katakan. "Kau tidak harus buru-buru. Kadang, menemukan jalan baru butuh waktu."
Makan siang mereka sederhana-pasta aglio e olio dengan salad segar-tapi Amara merasa itu adalah salah satu hidangan terenak yang ia makan dalam beberapa bulan terakhir. Mungkin bukan hanya karena rasanya, tapi karena suasananya. Tidak ada ketegangan, tidak ada percakapan yang dibungkus basa-basi dingin seperti bersama Damien.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia kembali ke apartemennya sore itu, sebuah amplop tergeletak di depan pintu. Tidak ada nama pengirim, hanya alamatnya yang tertulis dengan huruf cetak rapi.
Amara membawanya masuk, duduk di sofa, dan membukanya.
Di dalamnya ada foto-foto dirinya. Beberapa diambil saat ia masih tinggal di rumah keluarga Crowhurst, beberapa diambil di hari-hari terakhir sebelum ia pindah. Salah satunya bahkan menampilkan dirinya di balkon apartemen barunya dua malam lalu.
Jantungnya berdegup kencang. Tidak ada catatan, tidak ada pesan. Hanya foto-foto itu, sebagai bukti bahwa seseorang mengawasinya.
Ia menggenggam tepi amplop, mencoba berpikir jernih. Siapa yang akan melakukan ini? Damien? Tidak mungkin... atau mungkin?
Malamnya, ia duduk di balkon, tatapannya menerawang. Angin malam membawa aroma hujan yang tertinggal sejak sore. Pintu balkon sebelah terbuka, dan suara Evan memecah lamunannya.
"Kau terlihat gelisah," katanya, berdiri di pagar balkon dengan minuman di tangan.
Amara menimbang sejenak sebelum menjawab, "Aku mendapat sesuatu... aneh. Amplop berisi foto-foto aku. Ada yang baru diambil, dari dekat."
Wajah Evan langsung serius. "Kau melapor ke polisi?"
Amara menggeleng. "Aku... tidak tahu harus mulai dari mana. Aku bahkan tidak tahu siapa yang melakukannya."
Evan menatapnya lama, lalu berkata, "Kalau kau mau, aku bisa mengeceknya. Aku punya kenalan yang bisa melacak hal seperti itu."
Amara terkejut. "Kau... siapa sebenarnya, Evan?"
Pria itu tersenyum samar, tapi matanya tetap serius. "Tetangga yang kebetulan tahu cara menjaga orang lain tetap aman."
Ada nada yang membuat Amara ingin bertanya lebih jauh, tapi ia menahan diri. Untuk saat ini, ia hanya tahu satu hal-ketenangan yang ia pikir sudah ia temukan, mungkin hanya ilusi sementara.
Dan entah mengapa, ia merasa badai yang lebih besar sedang menuju ke arahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





