
Cinta Wanita Malam
Bab 3
Pagi harinya, Sania kembali mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karna jika bukan dirinya yang mencari nafkah siapa lagi?
Sania terus berjalan, saat melintas di depan mini market, dia melihat di kaca tertempel membuka lowongan. Tanpa menyia-nyikan kesempatan, Sania bergegas menghampiri mini market tersebut, dan menaruh berkas-berkas yang di butuhkan.
Sania berdo'a semoga saja kali ini surat lamarannya berhasil, dan dia bisa bekerja walau hanya di mini market. Setidaknya Sania bisa mengumpulkan pundi rupiah untuk menutupi kebutuhan keluarganya.
Seminggu sudah berlalu, dan benar saja tadi malam ada pesan masuk di ponsel sania. Sania merasa senang, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan untuk membiayai kehidupan keluarganya dan membayar sekolah adiknya. Pekerjaan untuk yang pertama kalinya.
"Bu, Sania di terima kerja," ujar Sania memberitahu ibunya.
"Alhamdulillah Nak kalau begitu."
"Tapi kenapa ibu sedih?" tanya Sania berlutut di depan kursi roda ibunya.
"Ibu hanya kesal pada Ibu sendiri, harusnya kamu masih kuliah, dan Ibulah yang harus bekerja," ujar ibunya menyesali perbuatannya itu.
"Sudahlah Bu, lagian ini keinginan Sania sendiri." Sania pun memeluk ibunya dan berusaha menenangkan ibunya.
*****
Setelah selesai sarapan di pagi hari, Sania bergegas memesan angkot menuju tempat kerja barunya dengan senyum yang mengembang. Penumpang angkot yang lain memperhatikan Sania yang sedang senang itu.
"Lagi senang ya Neng?" tanya ibu-ibu yang sedang duduk di sebelah Sania. Dengan semangat Sania menganggukkan kepalanya.
"Biasanya kalau pertama masuk kerja memang begitu Neng, entar lama-lama juga bosan. Apalagi kalau gajinya tidak sesuai," ujar ibu tersebut. Ibu itu sudah bisa menebak kenapa wanita yang di sampingnya sedang senang, apalagi dengan penampilan yang sangat rapi. Bisa di pastikan baru pertama masuk kerja.
"Iya Bu," ujar Sania menanggapi ibu tersebut. Sania pun mengalihkan perhatiannya pada pojok angkot, ternyata di sana ada dua pria yang sedari tadi memperhatikannya. Sania hanya acuh tak acuh, walau ini pertamakalinya Sania naik anggkot, Sania tidak akan takut hanya karna di perhatikan daritadi.
"Apa yang bisa mereka lakukan di tempat seramai ini?" pikir Sania.
Beberapa saat kemudian, angkot pun menyalakan sen ke kiri. Menuju tempat yang telah di beritahu oleh Sania. Sania pun bergegas turun dari angkot, dan membayar angkot tersebut dengan menggunakan uang lima puluh ribuan. Namun saat dia mengeluarkan dompetnya, dua pria yang dari tadi memperhatikannya dengan cepat merampas dompet Sania beserta tasnya.
Sania merasa kaget, dia pun berteriak berharap ada yang akan menolongnya," tolong,, tolong,,ada jambret." Sania terus mengejar jambret tersebut, hingga sampailah di gang yang sepi dan buntu.
Dengan nafas tersenggal, Sania mencoba meminta tas dan dompetnya kembali.
"Tolong kembali tasku," ujar Sania melihat kedua pria tersebut berharap tasnya di kembalikan. Sedangkan kedua pria tersebut terus melihat gerak gerik Sania, mereka terlihat takjub saat Sania menghapus keringat dari dahinya, dan membenarkan anak rambutnya yang berantakan.
Dua pria tersebut saling pandang dengan senyum menyeringai, dan memberi kode antara satu dengan yang lain.
Sania yang mengerti dirinya sedang terancam, segera membalikkan badan dan berlari. Namun na'as baginya, salah satu dari mereka terlebih dulu mencekal pergelangan tangan Sania.
"Mau kemana Manis," ujar pria tersebut memperlihatkan senyum yang menjijikkan menurut Sania.
"Tolong lepaskan saya Bang,, " ujar Sania mengiba. Pria yang memegang tangannya hanya tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya sendri. Sania merasa takut melihatnya. Pria yang satunya pun ikut mendekati Sania.
"Memangnya kenapa cantik? bukannya kamu sendiri yang mengejar kami?" ujarnya mengejek Sania.
Sania hanya bisa menelan ludah, harusnya dia tidak sendiri mengejar jambret tersebut. Dia benar-benar menyesal telah ceroboh. Dia tidak pernah berfikir akan mengalami hal seperti ini setelah mengejar jambret tersebut.
"Ku mohon, lepaskan saya, ambil saja tas dan isinya," ujarnya mengiba lagi, berharap dua pria tersebut mengasihaninya.
"Hahaha,,, mana mungkin kita melepas kelinci begitu saja." pria yang mencekal pergelangan tangan Sania mendorong Sania pada dinding di sampingnya.
Bruk,,,
Kepala dan tubuh Sania langsung menabrak dinding dengan keras. Sania langsung luruh ke bawah. Kepalanya benar-benar terasa sakit dan pusing secara bersamaan, sampai Sania memeganginya sembari meringis. Akibat benturan tersebut, kepala Sania mengeluarkan darah. Dua pria itu hanya tersenyum melihat Sania kesakitan dan berdarah. Mereka mendekati Sania dengan senyum menyeringai.
Sania yang melihatnya berusaha mundur, dan berusaha pergi. Namun dia tidak bisa karna terhalang dinding, apalagi kepalanya yang begitu pusing dan sakit membuatnya tak bisa berdiri.
Salah satu pria tersebut menarik baju Sania dengan kasar, hingga baju tersebut robek di bagian pinggang, dan memperlihatkan tubuh Sania yang putih. Sania hanya bisa menangis dan meminta untuk di lepaskan. Namun dua pria itu tak mengindahkan permohonan Sania.
Pria yang menarik baju Sania kembali mencoba menariknya lagi. Namun belum sampai tangannya menyentuh Sania, tiba-tiba dari arah samping seorang pemuda menendangnya hingga membuatnya terjungkal. Mereka pun berkelahi satu lawan dua. Perkelahian yang tidak seimbang.
Sania hanya melihat perkelahian itu, beberapa saat kemudian dia pun pingsan tak sadarkan diri.
"Aku ada di mana?" Gumamnya pada dirinya sendiri, sembari memegang kepalanya yang masih terasa pusing, dia pun duduk. Di lihatnya di sekeliling, ternyata dia sedang berada di ruangan yang sangat mewah.
"Kamu sudah sadar?" ujar suara dari balik pintu kamar mandi. Dan keluarlah seorang pria dengan hanya memakai handuk di bagian bawah. Sania yang melihatnya buru-buru menutup wajahnya dengan selimut.
"Ahhhh... " teriaknya kemudian.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Sania ketika dia tahu jika pakaiannya sudah berganti. Pria itu hanya menatap Sania sebentar tanpa menjawab pertanyaan Sania, dia pun berlalu menuju lemari pakaiannya. Mengganti handuk yang melekat pada tubuhnya dengan celana jeans.
Sania yang melihatnya memalingkan wajahnya, dia baru pertamakali melihat pria ganti pakaian di depannya.
"Dasar tak tahu malu," gumamnya. Namun pria tersebut mendengarnya dan tak memperdulikan perkataan Sania, dia terus melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai, pria tersebut mendekatai Sania.
"Apa kau masih ingin terus di situ?" Sania pun langsung menoleh mendengar suara pria tersebut.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Sania lagi. Pria tersebut hanya mengangkat bahunya.
"Dasar kau!!!" Sania berdiri hendak memukul pria tersebut. Namun dengan cepat pria tersebut menangkap pergelangan tangan Sania yang ingin memukulnya.
Sania berusaha menarik tangannya dengan sangat kuat, hingga akhirnya mereka jatuh di atas ranjang bersama. Mereka pun saling terdiam untuk sesaat dengan pemikiran masing-masing.
Anda Mungkin Juga Suka





