
Cinta Virtual
Bab 3
"Lehan?!" aku pura-pura tidur usai teleponan dengan Alma.
"Jan*u*, elo malah turu," suara Arif kek toa, anjir. Kedua telingaku amat sensitif oleh suara cemprengnya. Lama-lama aku bisa budeg ... eh, naudzubillahimindzalik, jangan sampe deh. Belum juga ketemu sama ayang Alma, masa budeg.
"Kecapean dia, habis kerja bakti bantuin Gus Zaenal," Widi emang the best.
"Halah, ora percaya," hardik Arif. Sedetik kemudian aku merasakan seluruh tubuhku di guncang hebat sama Arif.
"Wafa Lehandra, gue tau ya elo cuma pura-pura tidur?! Kuping gue juga gak salah denger, elo habis teleponan sama cewek HTS--siapa tuh ya namanya. Gue lupa,"
"Berisik woy," sahut Widi. Cowok itu membanting sendok logam ke atas lantai.
Terpaksa dah aku harus bangun.
"Kenapa lu?? Mau minjem motor?" anjir, pake lo-gue berasa anak Jakarta. Sok asik, batinku menertawakan diri sendiri.
Arif tersedak ludah, "Ora pantes sumpah," tuh 'kan, aku di ketawain.
"Awas, aku mau ke air," kebelet BAB. Pas teleponan dengan Alma, aku bela-belain gak ke air. Masih kangen suaranya. Apa sih yang enggak aku lakuin sama ayang Alma.
"Minjem sarung, Han. Punya gue masih basah,"
Aku menatap Arif sebentar. Iya lah, takutnya cowok itu naksir aku, astaghfirullah.
Menggetuk dahinya dua kali, aku pun berkata, "Kalau udah kotor, langsung di cuci makanya. Ribet sendiri 'kan?" ocehku kepadanya. Beranjak berdiri, aku berjalan menuju lemari pakaianku.
"Noh, ambil," ku lempar benda tersebut. Bukannya ditangkap dengan baik, sarung milikku melesat dan mendarat tidak aesthethic nya. Kena jidat lebarnya Arif. Kabur oy, sebelum kena amuk.
"Bang-- " masih ku dengar Widi mengomeli Arif karena mau berkata kasar.
***
"Astagfirullah, susah banget koh dapetin nomor whatsapp kamu, Ay," keluhku sambil meringis, menahan tangis. Ini beneran tau. Aku frustrasi karena ulah Alma.
Mau sebulan namun, kami berdua masih chattingan di aplikasi yaa ... kalian tau lah. Masih mandet ini. Padahal aku greget ingin beralih ke ke aplikasi hijau.
"Aku kasih nih, kosong delapan dua-- " ada jeda sebentar dari seberang sana. Aku menunggu penuh kesabaran, "yahh, tapi itu nomor telepon sedot WC," Alma tertawa puas, aku mengelus dada seraya memejamkan kedua mata. Beruntung kesabaranku setebal kamus bahasa Inggris. Kalau tidak, aku samperin dah ke rumahnya Alma. Modal nekat.
"Ay??" rengek ku kepadanya.
"Han?" ups, ada Mas Aiden. Aku emang lagi jongkok di halaman asrama. Mencabuti rumput liar di malam hari. Soalnya dalam kamar ada Arif--si cowok biang jahilnya minta ampun.
"Nggih, Mas, kenapa?"
Ku masukkan ponsel pada saku kemeja, lalu berdiri tegak di depan Mas Aiden.
"Lagi ngapain to? Malem-malem nyabutin rumput,"
"Ya Allah, Mas ngapain nyabutin rumput-- " aku gelagapan saat suara Alma terdengar. Gawat, apa aku tidak sengaja menekan tombol loudspeaker? Terburu-buru mengecek ponsel, dan benar saja.
Mas Aiden terkekeh pelan, "Lagi teleponan rupanya," matanya melirik sekilas pada ponsel yang aku kantongi lagi ke dalam saku kemeja.
Hanya cengiran polos sebagai jawabanku, "Ya begitu deh, Mas,"
Asli, malu sumpah.
"Ya udah, nanti kalian ke dapur pondok. Belum pada makan juga 'kan,"
"Nggih siap, Mas," semangatku membara ketika mendengar makanan.
Mas Aiden melenggang pergi, dan aku lanjut teleponan. Kali ini aku duduk di teras asrama. Belum siap masuk kamar. Gak enak hati sama Alma. Merasa bersalah pula, punya modelan temen kayak Arif. Takut Alma nya Lehan risih.
Fyi, kenapa di pondok aku dan temanku lainnya membawa ponsel, ya alasannya aku butuh informasi mengenai kampus. Makanya diperbolehkan membawa ponsel juga asrama anak kuliahan, SD, SMP serta SMA dipisah alias beda komplek.
"Hallo, Ay? Udah tidur apa?"
"Belum," alhamdulillah, kirain aku ditinggal tidur, "mau ke kamar mandi tapi, takut," cicitnya dibalas tawa pelanku.
"Takut kenapa sih? Wong gak ada apa-apa,"
"Han, skuy lah ke dapur pondok," ajak Bastara di ikuti lainnya.
"Ya udah makan gih, aku pun mau ke kamar mandi dan ngantuk,"
"Belum dapet nomor whatsapp kamu tau, Ay," idih, ini bukan Lehan yang aku kenal. Kenapa aku bisa semanja ... ah, tau lah.
"In Sya Allah besok aku kasih nomornya,"
Wajahku berbinar seperti menemukan harta karun di hamparan padang pasir.
"Janji, Ay?"
"Hem, iya," yes, akhirnya.
Anda Mungkin Juga Suka





