Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Tara, gadis berhati mulia, terkejut saat tanda lahir di tubuhnya mengungkap asal-usul yang kelam. Ternyata, wanita yang pernah menghina dan melabraknya adalah ibu kandungnya sendiri. Konflik semakin rumit karena Tara menjalin hubungan terlarang dengan suami wanita itu, yang tak lain adalah ayah sambungnya. Kini, Tara terjebak dalam dilema besar: haruskah ia memaafkan ibu yang membuangnya, atau meninggalkan pria yang ia cintai meski status mereka tabu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah kelulusan dengan nilai terbaik, Tara tidak berpikir untuk mencari Universitas Negeri ataupun Swasta. Saat ini dirinya sangat menikmati pekerjaannya setelah dilakoni selama satu tahun ini. Tara sangat menikmati dan mencintai pekerjaan sebagai sales dari perusahaan ini. Selain gaji yang diterima cukup untuk dirinya dan mamanya. Bonusnya yang terbilang sangat lumayan dapat membuat dirinya mengumpulkan pundi-pundi penghasilannya yang kelak akan ia gunakan untuk mencari sebuah rumah kecil untuk mamanya.

“Tara... Apa kabar?” tegur seseorang dari belakang. Seseorang lelaki tampan menyapa dirinya pada acara pameran mobil keluaran terbaru saat itu.

Sambil membalikkan tubuhnya, Tara berusaha mengingat seseorang yang saat ini tepat di hadapannya. Seorang lelaki dewasa dengan usia berkisar empat puluh lima tahun dengan wajah tampan dan kulitnya yang terlihat bersih.

“Pak Donny ya? Baik Pak.. Bapak sendiri gimana kabarnya?” tanya Tara dengan menjabat tangan lelaki yang ada di hadapannya.

“Kabar bapak baik. Apa kamu melanjutkan kuliah?” tanya pak Donny setelah menyalami Tara.

“Belum ada minat Pak. Lagi senang cari duit ini,’’ sambil berkelakar Tara menjawab atas pertanyaan yang ditanyakan oleh pak Donny.

Sebagai seorang sales, jelas saja kesempatan ini digunakan untuk menawarkan mobil keluaran baru. Waktu yang tepat tidak disia-siakan sama sekali. Maka ia pun merayu pak Donny untuk membeli satu dari beberapa jenis mobil yang saat itu sedang dipasarkan. Dengan kepiawaiannya sebagai seorang sales yang sudah bekerja selama satu tahun ini, membuat ia bertambah mahir dalam merayu calon pembeli. Banyak pembelajaran yang telah ia ambil dari senior-seniornya dalam melakukan penawaran pada customer yang datang. Dan memang dari beberapa seniornya ada yang mengajari cara kotor dengan mau kencan dengan customer tersebut. Tapi selama ini Tara tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu. Ia cukup berkata-kata manis dengan paras wajahnya yang cantik telah membuat beberapa customer yang memang sedang membutuhkan mobil terpikat untuk membelinya.

“Gimana pak Donny? Jadi membeli satu unit?’’ rayu Tara setelah mengajak pak Donny mencoba beberapa mobil keluaran baru saat itu.

‘’Hm, Gimana yaa... Bingung milihnya. Coba kamu yang pilihkan Bapak ya,’’ ucap pak Donny meminta Tara memilih satu dari beberapa mobil keluaran baru saat itu.

Sebagai seorang sales, Ia akan memilihkan satu unit mobil yang memang menurut ia bagus dalam interior, sesuai dengan budget dan yang utama bagi Tara mobil itu mempunyai suspensi yang handal tentunya.

“Serius ya Pak. Saya yang memilihkannya. Tapi nanti sesuai selera saya pak,’’ ucap Tara untuk meyakinkan pak Donny atas pilihan mobil untuk Pak Donny.

“Iya serius Tara... Pokoknya bapak percaya dengan pilihan kamu,’’ jawab pak Donny atas pertanyaan Tara sambil tersenyum.

Tara hanya mengangguk sambil tersenyum kepada pak Donny. Terlihat kecantikan Tara terpancar lewat lesung pipinya ketika ia tersenyum pada pak Donny. Seketika membuat pak Donny yang melihat diri Tara semakin terpikat dengan kecantikan dan keluguan diri Tara. Pertemuan pak Donny dengan Tara satu tahun lalu jelas terasa beda dengan penampilan Tara yang sudah semakin dewasa dengan usia yang hampir menginjak dua puluh tahun. Dimana Tara terlihat bertambah cantik, karena dirinya telah pandai dalam menghias dirinya.

Setelah menyetujui pilihan Tara, akhirnya pak Donny pun melakukan transaksi di depan kasir penjualan dengan di dampingi Tara sebagai salesnya. Sesekali pak Donny mencuri pandang pada Tara. Dan sempat pula pandangan mereka beradu, Tara hanya tersenyum manis saja melihat pak Donny melihat ke arahnya.

“Baik pak Donny... Satu unit mobil ini akan segera dikirimkan ke rumah bapak sekitar dua hari lagi. Dan untuk penyerahannya akan diserahkan ke Tara selaku sales. Karena kami akan mendokumentasikan penyerahan tersebut,” ucap senior Tara menjelaskan tentang SOP penyerahan unit baru bagi customer saat ini.

“Baiklah kalau begitu... Saya akan tunggu dua hari lagi,” ucap pak Donny sambil menuliskan alamat pengiriman atas satu unit mobil tersebut.

“Terima kasih banyak pak Donny,” ucap Tara menjabat tangan dari Pak Donny sambil membungkukkan tubuhnya.

Saat ini Tara sangat bahagia dengan pencapaian penjualannya saat ini, karena mobil yang dibeli oleh pak Donny adalah mobil kelas satu dengan harga yang cukup lumayan besar. Hingga Tara pun telah menghitung-hitung komisi yang akan diterima dengan tersenyum bahagia. Dalam hatinya saat ini, mamanya pasti akan bahagia dengan pencapaiannya saat ini. Untuk bulan ini baru dua unit mobil yang dijual oleh Tara, itu pun belum mencapai target yang telah di tetapkan oleh perusahaan untuknya. Dengan adanya penjualan satu unit lagi dari pembelian yang dilakukan pak Donny saat ini membuat targetnya terpenuhi bahkan lebih.

***

Dua hari kemudian tiba saatnya team dari perusahaan untuk menyerahkan satu unit mobil yang telah dibeli oleh Pak Donny. Tara bersama seniornya tiba di rumah pak Donny sekitar pukul tiga sore. Sesuai dengan keinginan pak Donny via hubungan telepon ketika pagi hari di hubungi oleh bagian customer service. Tara sangat takjub dengan rumah yang ditempati oleh pak Donny. Karena rumah tersebut lebih tinggi sekitar satu setengah meter dari jalan. Jadi ketika mereka memasuki rumah tersebut seperti berada dalam jalan yang menuju ke sebuah bukit. Pada bagian depan sebelum mereka masuk ke rumah pak Donny, pintu gerbang yang mereka masuki telah dijaga oleh dua orang satpam dengan pos penjagaan yang ketat.

“Mari silakan masuk,” ucap pak Donny mengajak kedua orang tamunya memasuki rumahnya.

Mereka memasuki ruang tamu yang cukup besar dengan bangku-bangku ukiran sehingga membuat lebih megah dan terkesan lebih mewah. Mereka pun duduk dan bersalaman dengan pak Donny yang kala itu memakai setelan kaos dan celana dari kesebelasan sepak bola terkenal. Terlihat lebih muda dari usianya. Pada rumah itu terlihat ada dua orang asisten rumah tangga, satu sopir yang menunggu di luar teras dan seorang tukang kebun yang saat mereka memasuki rumah pak Donny sedang menyiram tanaman yang tertata rapi di bagian kanan kiri rumah besar tersebut.

“Silakan di minum dulu,’’ucap Pak Donny.

Mempersilakan mereka minum setelah asisten rumah tangganya menyuguhi minuman di ruangan tamunya. Mereka pun berbincang-bincang pada pak Donny. Satu jam kemudian mereka meminta pak Donny untuk melakukan serah terima kunci yang akan dilakukan oleh Tara sebagai seorang sales dengan melakukan foto bersama pak Donny di hadapan mobil yang akan diserahkan sambil memberikan kunci mobil tersebut sebagai dokumentasi perusahaan. Selesai acara penyerahan, mereka pun pamit pada pak Donny untuk bisa kembali ke kantor. Tetapi tiba-tiba pak Donny berkata, “Maaf, kira-kira apa bisa saya mengajak kalian berdua untuk makan malam?’’ tanya pak Donny sambil mengatakan pada Tara dan seniornya.

Karena seniornya ada acara keluarga, maka seniornya pun meminta maaf tidak bisa menemani pak Donny makan malam saat ini. Tara yang tidak memiliki kepentingan keluarga akhirnya menemani pak Donny untuk makan malam. Tara pun meminta izin pada pak Donny agar dirinya bisa menghubungi mamanya, kalau dirinya pulang terlambat. Setelah itu Tara menuju ruangan lain yang telah ditunjukan oleh pak Donny. Sebuah ruangan besar dan terlihat seperti ruangan menonton film. Sebuah layar lebar ada di dinding ruangan tersebut dengan peralatan menonton berserta beberapa DVD yang tertata rapi. Dengan sofa-sofa besar di sisi kiri, kanan dan sebuah permadani yang terhampar di tengah sofa-sofa tersebut.

Tara merasakan kelembutan dari permadani yang terhampar di sana ketika kakinya menyentuh hamparan permadani tersebut. Tara duduk di sofa sisi kanan sambil menunggu meja makan yang sedang disiapkan oleh asisten rumah tangga pak Donny. Bunyi denting jam mengejutkan Tara, dilihat pada sisi pojok dari pintu menuju ruangan menonton itu ada sebuah jam besar. Dilihat jam telah menunjukkan pukul tujuh malam.

“Mari Tara... Kita menuju meja makan,’’ ucap pak Donny.

Tiba-tiba pak Donny telah sampai pada ruangan itu, lalu mengajak Tara mengikutinya menuju ruang makan. Sesampai di ruang makan, Tara di persilakan duduk oleh pak Donny. Dilihat oleh Tara sekeliling ruangan makan tersebut. Hanya ada satu meja berbentuk kotak dengan empat buah kursi. Di sisi kanan ada sebuah lemari es berukuran sedang dan sebuah mini bar yang terletak di depan meja makan ini. Pada sisi pintu ruang makan ini terlihat sebuah dapur cukup besar.

Seorang asisten rumah tangga masuk ke ruang makan sambil membawakan satu buah kue ulang tahun. Sebuah kue ulang tahun yang berwarna cokelat dengan hiasan buah ceri merah dan di sana ada dua buah lilin. Dilihat dari lilin yang ada di kue ulang tahun yang berwarna cokelat tersebut itu ada angka empat puluh lima. Terpikir oleh Tara kalau hari itu adalah hari ulang tahun pak Donny.

“Selamat ulang Tahun pak Donny,” ucap Tara sambil menyalami pak Donny dan mencium kedua pipi pak Donny.

“Terima kasih, Tara,” jawab pak Donny ketika menerima ucapan Tara yang telah mencium pipi kanan dan kirinya.

“Maaf yaa pak... Saya tidak tahu kalau hari ini bapak berulang tahun,” ucap Tara bersungguh-sungguh meminta maaf pada pak Donny.

“Tidak apa-apa kok Tara....” jawab pak Donny atas permohonan maafnya.

Lalu, pak Donny pun mengatakan pada Tara, kalau dirinya sangat berterima kasih karena saat ini Tara mau menemani perayaan ulang tahunnya. Lalu, mereka pun makan malam bersama dan bercerita tentang banyak hal dari masalah politik serta masalah yang sedang terjadi saat itu. Tapi tidak sekali pun Tara atau pun pak Donny bercerita tentang keluarga mereka. Mereka masing-masing menjaga privasi. Setelah mereka makan malam dan makan sepotong kue ulang tahun, pak Donny mengajak ke ruang lain.

Pak Donny mengajak Tara pergi ke ruangan menonton yang tadi sempat Tara sambangi sebelum menuju ruang makan. Pak Donny menjelaskan pada Tara kalau dirinya senang menonton film romance, tetapi karena kesibukannya maka tidak ada waktu untuk menonton di bioskop jadi diputuskan oleh pak Donny untuk membuat ruangan sendiri walaupun kecil yang terpenting dirinya bisa menonton film tanpa harus ke bioskop.

“Tara ingin nonton film apa?” tanya pak Donny pada Tara.

“Apa saja boleh pak, “ jawab Tara ketika dilihatnya pak Donny memilih beberapa DVD yang tertata rapi di sana.

Tidak lama kemudian, seorang asisten datang ke ruangan menonton kami sambil membawa minuman softdrink dan camilan atas perintah dari pak Donny. Asisten rumah tangga itupun berlalu dari hadapan Tara setelah menaruh beberapa minuman softdrink dan camilan di meja bundar di samping sofa yang ada di sana.

Pak Donny kemudian menutup pintu ruangan menonton itu dan meredupkan lampu yang ada di ruangan tersebut agar terlihat seperti bioskop pada umumnya. Setelah menyalakan video yang berisikan film romance, terlihat pak Donny duduk di bagian tengah dari sofa itu yang diikuti oleh Tara yang waktu itu duduk di sofa. Mereka pun duduk bersama di permadani yang terasa lembut pada saat pertama kali Tara ke ruangan tersebut. Terlihat pak Donny mengambilkan minuman softdrink untuk Tara. Mereka menonton film romance itu dengan sesekali menghela nafas bersama karena ada beberapa adegan dewasa yang dipertontonkan di sana. Tanpa disadari pak Donny tiba-tiba telah memegang tangan Tara. Karena suasana romance dari film tersebut ditambah ada beberapa adegan dewasa pada film tersebut membuat Tara yang belum satu kalipun melihat film dengan adegan dewasa itu terbawa suasana.

Tara membiarkan pak Donny memegang tangan dan mencium tangannya. Dibiarkan hal itu terjadi karena suasana yang ada di dalam ruangan itu membuat mereka terhanyut dalam nuansa ruangan dan film yang mereka tonton. Sampai akhirnya sebuah ciuman mendarat di bibir Tara yang ketika itu tidak bisa menolak ciuman lembut dari pak Donny. Lalu oleh Tara, ciuman itu pun dibalasnya. Ketika adegan yang ada di film itu semakin menjadi dengan adegan dewasa membuat Tara sudah tidak bisa lagi menahan gejolaknya.

Selama ini Tara hanya mendengar dari cerita teman-temannya yang sudah menikah. Dan, ia tidak pernah sekalipun melakukan hal itu. hanya sesekali membayangkannya. Maka ketika Pak Donny berusaha meraba bagian atasnya, Tara pun hanya terdiam mencoba merasakan apa yang bisa dirasakan. Sampai akhirnya pak Donny memberikan sentuhan hangat dari bibirnya pada bagian atas tubuh Tara. Ia hanya dapat menahan napasnya. Dan, menahan gejolaknya yang selama ini tidak pernah dirasakan. Akhirnya, Tara merasakan area sensitifnya telah basah.

Tetapi saat ini Tara masih malu-malu untuk mengungkapkan gejolak yang dirasakan. Maka ketika pak Donny semakin berhasrat atas dirinya. Ia pun pasrah ketika tangan dari pak Donny menjalar ke bagian sensitifnya.

“Jangan lakukan itu Pak... Saya takut, saya tidak pernah sekali pun melakukannya. Cukup sampai di sini aja Pak,” ucap Tara mengingatkan pak Donny atas hasratnya yang semakin menjadi-jadi.

Lalu, Tara pun segera menarik dirinya dari pelukan pak Donny dan berusaha merapikan bajunya yang telah terbuka bagian atasnya. Tara mencoba menghalau hasrat itu. Ditambah usianya yang telah memasuki dua puluh tahun membuat hormon yang ada dalam dirinya bergejolak keras ketika menonton film adegan dewasa seperti itu.

“Tara aku tidak akan merusak kehormatan dirimu, hanya saja aku ingin dirimu melepaskan gejolak itu, aku bisa membuat dirimu melayang jauh tanpa harus kehilangan kehormatanmu,” ucap pak Donny pada Tara yang berusaha melepas pelukan pak Donny.

Tara akhirnya hanya terdiam ketika pak Donny dengan kelembutannya meraba area sensitifnya dan melepaskan pakaian dalamnya. Lalu dengan posisi Tara yang masih terduduk di hadapan pak Donny. Tara hanya bisa pasrah dan ingin tahu dengan apa yang akan dilakukan pak Donny. Masih dalam posisi terduduk dan tanpa pakaian dalamnya, pak Donny membuka kedua kaki Tara. Saat ini kedua kakinya telah terbuka dengan posisi masih terduduk persis di hadapan pak Donny.

Tara hanya terdiam ketika pak Donny berusaha menyentuh bagian sensitifnya. Pak Donny melihat bagian senstif dari Tara yang agak basah. Pak Donny tahu hal itu dikarenakan sentuhannya tadi. Dengan pengalamannya, pak Donny mendekati area sensitif Tara. Pak Donny pun menghisapnya. Ketika hal itu dilakukan oleh Pak Donny, tubuh Tara serasa bergetar serta terasa hangat dirasakan seluruh tubuhnya. Tanpa disadari Tara menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri hingga tanpa disadarinya ia mengangkat tubuhnya lebih tinggi dan lebih menekan ke arah bibir dari pak Donny yang terus menghisap area sensitifnya.

“Mmmh, Pak..” gumam Tara mencoba menahan hasratnya.

Pak Donny menghentikan permainan itu. Sesekali dilihatnya kedua mata Tara masih terpejam seperti sedang mencari kenikmatan yang tiba-tiba menghilang.

“Tara... Sudah jam sebelas malam, sudah seharusnya kamu pulang,” ucap pak Donny.

Dengan malu-malu Tara membuka kedua matanya. Lalu merapikan penampilannya yang sedikit acak-acakan. Setelah lampu di ruangan itu dinyalakan Tara merasakan rasa malu yang teramat sangat. Tetapi dengan sikap kedewasaan dan pengalaman yang dimiliki oleh pak Donny, suasana yang terasa kaku pun menghilang. Rasa malu Tara akhirnya mencair.

“Tara... Sekarang ini panggil aku dengan panggilan Mas ya...” ucap pak Donny saat itu sambil mencium kening Tara.

Tara saat itu hanya bisa mengangguk. Lalu, pak Donny mengatakan pada Tara kalau hal itu adalah hal yang wajar ketika kita mempunyai hasrat. Dan itu yang membuat Tara merasa lebih baik. Dari awalnya sangat malu sekali dengan yang terjadi sampai akhirnya bisa merasa lega ketika pak Donny menyatakan hal itu.

“Terima kasih ya Mas. Telah menjaga kehormatanku,” ucap Tara pada pak Donny yang saat ini telah dipanggil dengan panggilan Mas.

Saat itu pak Donny hanya tersenyum dan kembali memeluk tubuh Tara sambil mengatakan untuk tetap menjadi kehormatan tersebut sampai pada pilihan yang tepat untuk hatinya. Lalu dengan rasa tanggung jawab yang tinggi pak Donny pun memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantarkan Tara ke rumahnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby CEO: Kehamilan yang Tak Diinginkan
8.4
Evalia terjebak dalam kehamilan tak terduga setelah menolak cinta Hanson Dirgantara. Meski Hans bersikeras ingin bertanggung jawab demi calon bayinya, Eva yang membenci kelicikan pria itu tetap menolak menikah. Di tengah ambisi Hans yang menggunakan kekayaan keluarganya untuk menaklukkan Eva, gadis yatim piatu ini justru berusaha menggugurkan kandungannya. Mampukah Eva lepas dari obsesi Hans dan meraih mimpinya menjadi dokter, atau ia akan selamanya terkendali?
Sampul Novel Cinta di Musim Semi
9.6
Kehidupan kota Amara terusik saat sebuah surat lama memaksanya kembali ke kampung halaman demi mengungkap rahasia kelam. Di sana, ia terjebak di antara Rendra, sosok dari masa lalunya, dan Daffa, fotografer misterius yang tiba-tiba hadir. Di tengah tumpukan memori dan misteri, Amara harus berjuang menghadapi luka lama serta pengkhianatan. Apakah kebenaran yang terungkap akan membawa kesembuhan bagi hatinya atau justru menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Elegi of Rosr
9.1
Pasca gagal menikah, hidup Ayu Suwarjo hancur hingga ayahnya terpaksa menjaminkan dirinya pada Roy Punda demi menyelamatkan bisnis keluarga. Lewat kontrak enam bulan, Ayu terikat pernikahan paksa dengan pria sombong tersebut demi kebahagiaan ibunya. Meski awalnya menolak, Ayu harus berjuang menjaga sikap di depan suami barunya. Di tengah rahasia dan petualangan yang menguji kesetiaan, akankah sandiwara pernikahan sementara ini berubah menjadi ikatan cinta yang abadi?
Sampul Novel Hakikat cinta yang kau nodai
9.1
Hana lelah menghadapi perselingkuhan Devan yang terus berulang meski telah berkali-kali dimaafkan. Setelah delapan tahun bersabar, ia akhirnya memilih bercerai. Di tengah luka, hadir Rama, pewaris Abimana Group yang saleh, sebagai oase ketenangan. Namun, cinta mereka terhalang status Hana sebagai janda dua anak dan hierarki bisnis keluarga Rama. Akankah Rama diterima oleh anak-anak Hana, atau justru Devan kembali mengejar mantan istrinya yang dulu ia khianati?
Sampul Novel Jeli cinta
8.2
Aitana adalah manikuris populer di Spa Luna yang kariernya hancur setelah dituduh merebut kekasih kliennya. Skandal ini melibatkan Iker, pemilik Glow Agency yang manipulatif. Saat mencoba memulihkan reputasi, Aitana menemukan fakta bahwa banyak kliennya memiliki hubungan gelap dengan Iker. Di tengah persaingan agensi dan rahasia yang mengancam pekerjaannya, ia terjebak dalam dilema cinta segitiga. Kini Aitana harus memilih antara martabat atau perasaan yang kian rumit.
Sampul Novel Kita Tidak Akan Pernah Berpisah Lagi
9.6
Pasca tewas tragis akibat cinta buta, Maeve terlahir kembali dengan tekad menjalani hidup baru yang bebas. Ia pun menghancurkan ambisi rival lamanya di dunia musik melalui bakat yang tak tertandingi. Sambil meniti puncak karier, Maeve tetap menunjukkan sisi lembut pada pria yang dicintainya. Di balik ketegasannya, ia tak ragu menggoda sang kekasih hingga pria itu membalasnya dengan bisikan penuh gairah yang menjanjikan malam tak terlupakan.