Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku

Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku

Lima tahun di Milan, desainer Kinan akhirnya kembali ke Jakarta untuk mengunjungi kakaknya, Airin. Namun, suasana hangat di rumah itu terusik saat ia bertemu Liam, suami kakaknya yang maskulin. Sebuah insiden membuat Liam menangkap Kinan dan berakhir dengan ciuman tak terduga yang membakar gairah. Kini, Kinan terjebak dalam dilema antara godaan terlarang dan loyalitas pada keluarga. Akankah perasaan berbahaya ini menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kinan menyesap es lemon buatan Airin. Rasa asam segar itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa terbakar di bibirnya atau kekacauan yang mendera benak. Liam telah menghilang ke ruang kerjanya setelah memastikan Airin benar-benar tidak curiga, meninggalkan Kinan dan kakaknya di ruang makan yang kini terasa terlalu terbuka dan cerah.

Airin, seperti biasa, terlalu sibuk mengurusinya untuk memperhatikan bahwa adiknya baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan dengan suaminya.

"Bagaimana, enak? Sudah lama kan tidak merasakan masakan atau minuman buatan Mama," kata Airin, duduk di seberang Kinan sambil menggenggam tangan adiknya erat-erat.

"Sangat enak, Kak," jawab Kinan, berusaha membuat suaranya terdengar normal. "Hanya Kakak yang bisa membuat rasa lemon seperti ini. Segar sekali."

Mereka berbincang ringan tentang masa lalu, tentang orang tua mereka yang telah tiada, dan tentang kehidupan Airin sebagai ibu rumah tangga. Airin bertanya banyak tentang Milan, Kinan menjawab dengan singkat, hanya menceritakan bagian-bagian yang berkilauan dan menyenangkan, menyembunyikan sisi gelap dan kesepiannya.

Setelah beberapa saat, Kinan tahu ia harus mengangkat topik tempat tinggal. Ini penting untuk menjaga jarak, terutama dari Liam. Jarak fisik mungkin bisa membantu Kinan mengembalikan batas-batas moral yang baru saja ia robohkan.

Kinan meletakkan gelasnya, menatap Airin serius. "Kak, soal kepulanganku..."

"Kenapa? Ada masalah? Kamu tidak jadi cuti panjang?" Airin langsung cemas.

"Tidak, bukan. Aku akan tinggal lama, beberapa bulan. Karena itu, aku harus mencari tempat. Aku sudah mencari beberapa opsi kostan di sekitar sini. Atau mungkin sewa apartemen kecil yang dekat pusat kota."

Airin terdiam, menatap Kinan dengan mata membulat tak percaya. "Kostan? Kinan! Kamu waras? Kamu baru pulang setelah lima tahun, dan kamu mau tinggal di kostan?"

"Kak, aku tidak mau merepotkan kalian. Aku bawa banyak barang. Lagipula, aku... pekerjaanku menuntut aku untuk sering pulang larut malam, atau pergi tiba-tiba. Aku tidak mau mengganggu rutinitas keluarga kecilmu. Rumah ini adalah kuil untuk keluarga Airin, Liam, dan Luna," Kinan menjelaskan, kata-katanya penuh alasan logis yang sesungguhnya hanyalah dalih. Dalih untuk menjauh dari pria yang baru saja menciumnya.

Airin menggeleng keras, seolah Kinan baru saja mengusulkan ide paling gila di dunia. "Kinan, dengarkan Kakak baik-baik. Ini bukan rumah kontrakan. Ini rumah kita. Sampai kapan pun, ini adalah rumahmu juga. Ada kamar kosong, kamar tamu di lantai atas yang bahkan belum pernah dipakai. Siapa bilang kamu merepotkan? Kamu adik Kakak satu-satunya. Kakak tidak akan membiarkanmu tinggal di tempat asing sendirian. Titik."

Airin begitu keras kepala, begitu penuh cinta, hingga Kinan merasa hatinya mencelos karena rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia bisa membalas ketulusan ini dengan hasrat terlarang pada suami kakaknya?

"Tapi, Kak..."

"Tidak ada tapi-tapian. Kinan, jangan buat Kakak sedih. Kamu tinggal di sini. Masalah koper? Biar Kakak minta Liam panggil orang untuk mengangkatnya. Kamar itu besar, ada lemari empat pintu yang kosong. Kamu tidak mengganggu siapa pun."

Airin bangkit berdiri, matanya berbinar penuh tekad. "Ayo, kita tanyakan pada tuan rumah. Walaupun aku tahu jawabannya."

Airin melangkah cepat menuju ruang kerja Liam, yang pintunya tertutup rapat. Kinan hanya bisa menghela napas pasrah, mengikuti langkah kakaknya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Airin tidak akan menerima penolakan.

Airin mengetuk pintu tiga kali, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Liam sedang duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop besar yang menampilkan deretan angka dan grafik yang rumit. Ia terlihat sangat profesional, seolah-olah momen di ruang keluarga tadi hanyalah mimpi buruk yang cepat berlalu.

Airin menghampiri Liam, sementara Kinan berdiri di ambang pintu, menghindari kontak mata.

"Sayang, maaf mengganggu. Aku mau tanya sebentar. Kinan ingin mencari kostan atau apartemen untuk tinggal selama di sini. Tentu saja aku melarangnya," kata Airin, nadanya menuntut persetujuan. "Dia harus tinggal di sini, kan? Kamar tamu di atas kosong. Bagaimana menurutmu?"

Liam mengangkat wajahnya dari layar. Matanya yang cokelat keemasan itu-mata yang beberapa menit lalu dipenuhi gairah gelap-kini tenang, kembali menjadi mata seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab. Ia menatap Kinan sekilas, tatapan yang singkat dan dingin, seolah menampik semua yang pernah terjadi.

"Ya, tentu saja," jawab Liam, suaranya kembali dalam dan normal. "Kinan adalah keluarga. Kamar tamu itu memang sudah disiapkan untuk tamu yang menginap lama. Silakan pakai, Kinan. Kamu tidak merepotkan sama sekali. Justru kami senang ada teman di rumah."

Nada persetujuan Liam begitu mudah, begitu santai, seolah ia benar-benar tidak terpengaruh oleh kehadiran Kinan, apalagi insiden ciuman yang memusingkan itu. Kinan merasa sedikit diremehkan. Apakah ciuman itu tidak berarti apa-apa baginya?

"Terima kasih, Liam," Kinan membalas, memastikan ia terdengar tulus, meskipun amarah kecil mulai timbul. "Aku benar-benar merasa tidak enak. Jadi merepotkan kalian."

"Tidak masalah. Anggap saja rumah sendiri," ujar Liam, tersenyum sopan. Ia kembali menatap layar laptopnya, memberikan sinyal bahwa percakapan telah berakhir.

Airin berseri-seri. Ia memeluk Liam di meja kerjanya. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang suami terbaik!"

Airin menarik Kinan keluar dari ruang kerja itu sebelum Kinan sempat membalas tatapan Liam.

"Nah, sudah dengar sendiri, kan? Tuan rumah sudah setuju," kata Airin riang. "Ayo, kita lihat kamarmu!"

Mereka kembali ke ruang tamu. Airin dengan gesit meminta bantuan seorang pekerja untuk mengangkut semua koper Kinan. Lalu, ia memandu Kinan menaiki tangga.

Kamar tamu itu memang luas, dengan jendela besar menghadap taman belakang. Cat dinding berwarna mint lembut, dan perabotan kayu jati yang sederhana namun terawat. Jauh dari kemewahan minimalis modern yang biasa Kinan tinggali di Milan, tetapi terasa damai. Airin menunjukkan kamar mandi dalam, lemari pakaian empat pintu, dan laci meja rias.

"Airin harus kembali ke bawah. Luna harus tidur siang, dan aku harus menyiapkan makan malam. Kamu istirahat saja dulu. Buka koper, susun bajumu. Setelah itu, kamu mandi air hangat dan tidur, ya? Jangan sungkan, kalau perlu apa-apa, kamar Kakak di seberang," Airin berkata, lalu mencium pipi Kinan dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Kak. Aku akan beristirahat," balas Kinan.

Begitu Airin meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan lembut, Kinan berdiri di tengah kamar yang asing namun kini menjadi miliknya.

Keheningan melingkupinya. Keheningan yang menakutkan.

Kinan berjalan ke arah koper-kopernya yang berjejer. Ia membuka koper terbesarnya, isinya didominasi gaun-gaun malam, sepatu hak tinggi, lingerie sutra, dan pakaian-pakaian couture yang harganya bisa membeli seluruh perabotan di kamar ini. Kinan mulai menyusun pakaian-pakaian itu ke dalam lemari kayu yang polos. Sebuah kontras yang ironis. Pakaian untuk hidupnya yang serba glamor dan nakal, kini tersimpan di lemari rumah tangga yang tenang dan suci.

Saat tangannya memegang gaun backless hitam, kenangan itu menerjangnya tanpa peringatan.

Wajah Liam yang begitu dekat.

Kinan membiarkan gaun itu jatuh ke lantai. Ia menyentuh bibirnya lagi, seperti yang ia lakukan di ruang makan tadi. Sensasi ciuman Liam masih terasa jelas. Kekuatan tangannya di punggung Kinan, desakan bibirnya, dan yang paling mengerikan-respon liar Kinan sendiri.

Airin, kakaknya, menyambutnya dengan cinta dan kepercayaan penuh, dan ia hampir saja merusak semua itu demi beberapa detik gairah yang tidak terduga.

Aku harus pindah. Aku tidak bisa tinggal di sini.

Kinannya berpikir, namun ia tahu Airin tidak akan mengizinkannya pergi. Ia terjebak dalam perangkap cinta sang kakak, dan kini, dalam jerat rahasia dengan suaminya.

Saat Kinan menarik napas panjang, mencoba memaksakan logika kembali ke dalam kepalanya, ponselnya berdering nyaring di atas meja nakas. Notifikasi pesan masuk dari nomor asing. Kinan segera meraihnya.

Pengirimnya adalah Dion, manajer lamanya di Indonesia yang sempat ia hubungi beberapa minggu lalu.

Dion: Kinan, welcome back! You're the hottest thing in Milan right now. Ada projek besar di sini. Sesuai level kamu. Exclusive cover shoot.

Kinan: (Mengetik) Apa ini, Dion? Aku masih jet lag.

Dion: Majalah 'Noir'. Edisi khusus ulang tahun. Pemotretan konsep 'Forbidden Desire'. Kita butuh kamu. Kamu satu-satunya model di negara ini yang punya aura itu.

Kinan berhenti. Forbidden Desire. Judul yang ironis, mencerminkan persis apa yang baru saja ia alami di rumah ini.

Dion: Syutingnya besok pagi jam 10. Di studio lama. Kau mau? Bayarannya sangat besar, Kinan. Proyek 'coming home' yang sempurna.

Kinan menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Rambut berantakan, make-up sedikit luntur, tapi mata yang tajam dan bibir yang memerah. Di dunia fesyen, terutama di segmen majalah dewasa, Kinan adalah ikon. Ia adalah dewi keseksian yang berani, yang menjual mimpi-mimpi gelap.

Ia menarik napas, menegakkan bahu, mengambil gaun backless yang jatuh tadi, dan kembali memasukkannya ke lemari.

Kinan: Aku ambil.

Kinan: Kirim detailnya. Jam 10 pagi, kan? Aku akan datang.

Ia mematikan layar ponselnya. Kepalanya berdenyut.

Di satu sisi, ia adalah Kinan, model sexy terkenal, bintang majalah dewasa internasional yang akan memulai proyek rahasia besar di negara ini besok. Di sisi lain, ia adalah Adik Airin, tinggal di rumah keluarga yang damai, tempat ia harus berhati-hati agar tidak menabrak Liam di lorong.

Dua kehidupan yang sangat kontras, kini terikat dalam satu atap yang sama. Dan Kinan tahu, api kecil hasrat yang ia rasakan pada Liam akan menjadi ujian terbesar untuk kepulangannya kali ini.

Ia hanya harus memastikan bahwa api itu tidak membakar seluruh rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda, seorang istri berparas jelita, harus menelan pil pahit saat dikhianati oleh suaminya, Hendra, dan adik sepupunya sendiri, Tia. Tak tinggal diam, Anisa bertekad membalas dendam atas sakit hatinya. Di tengah rencananya, ia tak sengaja bertemu Fras Ramadhan, seorang tukang parkir tampan. Siapa sangka, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang menyamar. Pertemuan itu memicu konflik baru sekaligus menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Dijebak Dipelaminan
8.2
Adeline Vyantara tak menyangka kehadirannya sebagai tamu justru berakhir di pelaminan. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Alaric Mahendra, pewaris yang merasa dijebak oleh intrik keluarganya sendiri. Meski awalnya ingin membatalkan pernikahan, Alaric tertahan oleh aksi berani Adeline demi menjaga martabat keluarga. Kini mereka terjebak dalam pernikahan dingin penuh aturan ketat. Di tengah kebencian dan rahasia masa lalu, benih cinta mulai tumbuh tanpa kendali.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Istri Pengganti
9.5
Liburan semester yang seharusnya tenang berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang gadis muda. Ia dipaksa oleh orang tuanya, Sabda Ahmad dan istri, untuk menjadi pengantin pengganti bagi kakaknya, Asma, yang kabur secara misterius menjelang hari pernikahan. Meski penuh keraguan, ia terpaksa menikahi Adam Kusuma Wardana, cucu tunggal Juragan Zein. Mampukah pernikahan yang didasari keterpaksaan ini bertahan di tengah tanda tanya besar tentang alasan kepergian sang kakak?
Sampul Novel Hasrat Terlarang Suamiku
8.5
Cinta tulus Selin hancur seketika saat memergoki Edward, suaminya, bermesraan dengan wanita lain di sebuah mal. Meski hatinya remuk oleh pengkhianatan setelah lima tahun menikah, ia masih bimbang dalam menentukan sikap. Haruskah ia bertransformasi menjadi sosok yang lebih memikat demi menyaingi sang pelakor dan mempertahankan rumah tangganya? Ataukah Selin memilih untuk pergi demi menjaga harga diri yang telah diinjak-injak oleh suaminya sendiri?
Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar
8.7
Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto tepat setelah akad karena skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga martabat, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang penuh misteri. Meski awalnya menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang terasa asing. Keadaan berbalik saat Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah Selena bertahan?