Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris

Cinta Sang Pewaris

Nathaniel Albar, pewaris bisnis dingin yang terobsesi pada nama baik, bertemu Alya Nabila, gadis sederhana yang gigih. Awalnya, Nathan terus menguji dan mencoba menjatuhkan Alya setelah insiden wawancara kerja yang fatal. Namun, di balik sikap kerasnya, Nathan memiliki rencana terselubung saat merekrutnya. Ketika masa lalu kelam Nathan terkuak, Alya harus memilih antara cinta atau keselamatan diri. Mampukah ketulusan Alya mencairkan ambisi beku sang pewaris?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta, namun suasana hati Alya Nabila dan pikiran nya masih dipenuhi kecemasan. Semalam, setelah berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Nathan Albar, ia berharap bisa sedikit bernapas lega. Namun, telepon dari kantor pusat pagi ini membuat perutnya kembali terasa mual.

"Kau diharapkan hadir di ruang rapat lantai 25 pukul 09.00," suara dari seberang telepon terdengar datar, tanpa basa-basi. Alya tidak tahu apakah itu kabar baik atau buruk, tapi dia sadar satu hal-Nathan Albar belum selesai menguji dirinya.

Alya tiba di gedung Albar Group dengan waktu yang cukup untuk menenangkan diri. Ia berdiri di depan cermin toilet wanita, merapikan blus putihnya yang sudah mulai pudar warnanya. Ia menghirup napas dalam-dalam, berusaha memompa semangat dalam dirinya.

"Kau bisa melakukannya, Alya," bisiknya pada bayangannya sendiri.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.00, Alya sudah berdiri di depan ruang rapat yang besar dengan pintu kaca yang memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak kecil dan rapuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka pintu dan melangkah masuk.

Di dalam ruangan itu, sudah ada beberapa eksekutif senior yang duduk mengelilingi meja besar, serta Nathan Albar yang duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin seperti biasa. Pandangan tajam pria itu segera menyambut kedatangan Alya, membuatnya merasa seperti rusa kecil yang dikepung oleh kawanan serigala.

"Selamat datang, Nona Alya," sapa Nathan dengan nada yang sulit ditebak. "Silakan duduk."

Alya menelan ludah, berusaha mengusir rasa gugup yang kembali menjalar. Ia mengambil tempat duduk di ujung meja, jauh dari Nathan. Suasana ruangan begitu tegang dan sunyi, hanya terdengar bunyi jarum jam yang berdetak perlahan.

"Jadi," Nathan mulai berbicara sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kau berhasil menyelesaikan tugas pertamamu. Namun, seperti yang kau tahu, perusahaan ini tidak membutuhkan orang yang hanya bisa bekerja di bawah tekanan. Kami butuh seseorang yang bisa berpikir cepat dan efektif, tanpa mengorbankan kualitas."

Alya hanya mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa setiap kata yang diucapkannya bisa menjadi bumerang.

Nathan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Oleh karena itu, kami akan memberikanmu satu ujian lagi. Dan kali ini, lebih menantang."

Alya tertegun. "Ujian lagi?"

"Benar," jawab Nathan sambil melemparkan sebuah map ke arah Alya. Map itu meluncur di atas meja dan berhenti tepat di depannya. Alya membukanya dengan tangan gemetar, dan alisnya langsung berkerut saat membaca isinya.

"Kami punya proyek besar yang sudah berjalan setengah jalan, tapi ada masalah di bagian pengadaan barang," jelas Nathan. "Vendor utama kami tiba-tiba membatalkan kontrak, dan sekarang kami dihadapkan pada tenggat waktu yang ketat."

Alya menatap Nathan dengan bingung. "Apa yang Anda harapkan dari saya?"

"Kami ingin kau mencari pengganti vendor tersebut dalam waktu kurang dari 48 jam," kata Nathan dengan nada yang jelas-jelas menantangnya. "Dan bukan sembarang pengganti. Kami butuh kualitas yang setara dengan harga yang kompetitif. Kau bisa melakukan itu, bukan?"

Alya hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mencari vendor pengganti dalam waktu 48 jam adalah tugas yang sangat mustahil, terutama untuk proyek sebesar itu. Namun, di bawah tatapan tajam Nathan dan para eksekutif lainnya, ia merasa tak punya pilihan selain menerima tantangan tersebut.

"Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Alya dengan suara mantap, meskipun dalam hatinya, dia merasa sangat cemas.

Betapa menyebalkan bos baru nya itu!

Nathan mengangguk, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan Alya. "Baiklah, kami akan melihat hasilnya lusa. Jika kau gagal, maka anggap saja ini adalah akhir dari kesempatanmu di Albar Group. Kau mengerti?"

Alya mengangguk cepat keluar dari ruang rapat dengan kepala penuh kecemasan. Baru saja ia merasa berhasil menaklukkan satu tantangan, kini ia dihadapkan dengan rintangan yang lebih besar lagi. Namun, ia tahu ia tidak bisa menyerah begitu saja. Dia sudah terlalu jauh untuk mundur.

***

Waktu terus berjalan, dan Alya menghabiskan siang harinya dengan menghubungi berbagai vendor yang ada di kontak lamanya. Namun, setiap telepon yang diangkat selalu berakhir dengan jawaban yang sama: "Mohon maaf, kami tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut dalam waktu sesingkat itu."

Frustrasi mulai menyelimuti Alya, tetapi dia tidak membiarkan dirinya larut dalam keputusasaan. Pikirannya terus berputar mencari solusi, hingga akhirnya dia teringat akan seorang teman lama yang pernah bekerja sebagai pemasok barang proyek. Dengan segera, Alya menghubunginya.

"Halo, Rio? Ini Alya. Aku butuh bantuan besar darimu," ujarnya dengan nada memohon.

Di seberang telepon, suara Rio terdengar kaget tapi juga penuh rasa ingin tahu. "Alya? Sudah lama sekali tidak bertemu . Hmm, baiklah bantuan apa yang kau butuhkan?"

Alya menjelaskan situasi yang dihadapinya dengan cepat, berharap Rio bisa memberikan solusi. Setelah beberapa detik hening, Rio akhirnya menjawab, "Aku punya kontak dengan pemasok besar yang mungkin bisa memenuhi kebutuhanmu. Tapi mereka sangat selektif dan tidak mudah didekati jadi kau harus berjuang keras untuk hal ini."

"Aku bersedia mencoba," kata Alya dengan penuh semangat. "Tolong, Rio. Ini sangat penting bagiku."

Rio setuju untuk memperkenalkan Alya kepada pemasok tersebut, tapi ada satu masalah: mereka hanya bisa bertemu malam ini di sebuah bar di daerah SCBD, tempat di mana para pengusaha dan eksekutif sering berkumpul.

Alya tidak punya pilihan selain menyetujui pertemuan itu, meski ia merasa canggung harus memasuki lingkungan yang begitu asing baginya.

***

Malam harinya, Alya tiba di bar yang dimaksud. Tempat itu penuh dengan suara musik jazz dan tawa para tamu yang menikmati malam mereka. Alya merasa tidak nyaman, namun dia menepis rasa itu demi kesempatan ini.

Dia melihat Rio melambaikan tangan dari sudut ruangan, duduk bersama seorang pria paruh baya dengan wajah tegas dan karismatik. "Alya, ini Pak Gunawan, pemasok yang kuceritakan tadi," Rio memperkenalkan mereka.

Alya segera mengulurkan tangan, berusaha tampak percaya diri meski jantungnya berdebar kencang. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Gunawan. Saya berharap kita bisa mendiskusikan peluang kerja sama."

Namun, belum sempat mereka memulai pembicaraan lebih lanjut, sebuah suara dingin yang sangat dikenal Alya terdengar dari belakangnya. "Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini, Nona Alya."

Alya membalikkan badan dan melihat Nathan berdiri di sana dengan senyum sinis di wajahnya. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sama elegannya seperti pagi tadi, namun kini tatapannya lebih tajam, seolah menuduh Alya melakukan sesuatu yang salah.

"Pak Nathan," Alya berusaha tersenyum meski jelas dia merasa terpojok. "Saya sedang mencoba mencari solusi untuk masalah yang kita hadapi."

"Dengan cara ini?" Nathan memandang Alya dan Pak Gunawan bergantian, lalu melirik Rio dengan pandangan curiga. "Kau yakin tidak sedang bernegosiasi di belakangku?"

Alya tercekat. Tuduhan itu membuat darahnya mendidih. "Tidak, Pak Nathan. Saya hanya berusaha memenuhi tugas yang Anda berikan."

Namun, Nathan tidak langsung percaya. Dia melangkah lebih dekat, membuat jarak mereka begitu dekat hingga Alya bisa merasakan aroma maskulin cologne yang dipakainya. "Kita lihat saja hasilnya," katanya dingin, sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Pak Gunawan, yang sejak tadi hanya menjadi penonton, tertawa kecil. "Bosmu cukup keras, ya? Kau bisa pindah bekerja di tempat ku, kalau kau mau."

Alya tersenyum pahit. "Dia hanya memastikan saya melakukan pekerjaan saya."

Pak Gunawan mengangguk dan menghela napas. "Baiklah, aku suka orang yang bekerja keras. Kirimkan proposal lengkapmu besok pagi, dan aku akan lihat apa yang bisa kulakukan."

Alya merasa lega, setidaknya ada secercah harapan. Namun, kejadian malam ini membuatnya semakin sadar bahwa bekerja di bawah Nathan Albar bukanlah hal yang mudah. Pria itu tidak hanya cerdas, tapi juga sangat curiga dan tidak mudah percaya pada siapa pun.

***

Ketika Alya kembali ke apartemennya malam itu, tubuhnya terasa begitu lelah. Namun, sebelum ia bisa benar-benar beristirahat, teleponnya berbunyi. Nama yang tertera di layar membuat hatinya mencelos-Nathan Albar.

"Apa kau pikir aku tidak tahu permainanmu, Nona Alya?" suara Nathan terdengar dingin di seberang telepon. "Kau mungkin berhasil kali ini, tapi aku akan terus mengawasi setiap langkahmu."

Klik. Telepon diputus sebelum Alya sempat membalas.

Alya membanting ponsel nya, tak peduli dengan kondisi ponsel nya dia sangat emosi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Delapan tahun menikah, Alya justru dikhianati suaminya sendiri karena dianggap mandul. Ia bahkan dijual kepada penguasa kota demi melepaskan beban tanggung jawab. Namun, takdir berkata lain saat Alya dinyatakan hamil setelah pertemuan malam itu. Kini ia terjebak di antara masa lalu yang menyakitkan atau memulai hidup baru dengan pria asing yang merupakan ayah biologis bayinya. Mampukah Alya menuntut keadilan atas segala penderitaan yang ia alami?
Sampul Novel GADIS PENARI TUAN MUDA
8.2
Benni Handoko, pria dari keluarga terpandang, rela menyamar jadi pelayan toko demi mencari cinta sejati. Hidupnya berubah saat ia menemukan seorang gadis penari di ranjangnya usai jamuan keluarga. Tak disangka, gadis bernama Mulan itu adalah cucu sahabat neneknya yang hilang. Meski ditakdirkan menjadi istri Benni, perjalanan asmara mereka penuh rintangan berat. Mampukah Mulan dan Benni mempertahankan perasaan mereka di tengah segala konflik yang menghadang?
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menjaga martabat keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon kepada putrinya untuk menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan besar ini sampai batal, reputasi leluhur mereka akan hancur seketika. Tak hanya itu, nasib perusahaan yang telah dibangun sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk. Sang putri pun dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan kehormatan serta masa depan bisnis keluarganya.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel My Bastard Boss
8.3
Hidup Nayra hancur saat sang mantan kekasih menyerahkannya kepada pria asing. Lima tahun berlalu, ia justru terjebak bekerja untuk Xabiru, atasan yang ternyata adalah sosok yang merusaknya di masa lalu. Kini, Xabiru menuntut hak atas putri mereka, sementara Chrisyan kembali memohon ampun. Terjepit di antara dendam dan luka lama, haruskah Nayra memaafkan mereka atau membalas sakit hatinya? Kebenaran kelam lima tahun silam kini mulai terungkap.