Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris

Cinta Sang Pewaris

Nathaniel Albar, pewaris bisnis dingin yang terobsesi pada nama baik, bertemu Alya Nabila, gadis sederhana yang gigih. Awalnya, Nathan terus menguji dan mencoba menjatuhkan Alya setelah insiden wawancara kerja yang fatal. Namun, di balik sikap kerasnya, Nathan memiliki rencana terselubung saat merekrutnya. Ketika masa lalu kelam Nathan terkuak, Alya harus memilih antara cinta atau keselamatan diri. Mampukah ketulusan Alya mencairkan ambisi beku sang pewaris?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, alarm berbunyi nyaring, membangunkan Alya dari tidur yang tak nyenyak. Ia mendesah lelah, meraih ponsel di samping tempat tidur dan melihat waktu.

Alya menatap cermin di kamar mandi kecil apartemennya. Wajahnya tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, bukti dari malam-malam tanpa tidur yang terus-menerus menghantuinya sejak bekerja di bawah tekanan Nathan. "Kau bisa melakukannya, Alya, semangat!" bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati hati yang mulai lelah. Setelah mencuci muka dengan air dingin, ia segera bersiap-siap, mengenakan blus putih dan rok pensil hitam-seragam yang mulai terasa seperti perisai yang rapuh untuk melawan serangan Nathan.

Tepat pukul 07.30, Alya sudah tiba di gedung Albar Group. Kali ini, dia memutuskan untuk datang lebih awal agar bisa mempersiapkan proposal yang dijanjikannya kepada Pak Gunawan semalam. Namun, sesampainya di kantor, dia langsung dikejutkan oleh pemandangan tak terduga. Ruang kerjanya yang biasanya sepi kini dipenuhi dengan beberapa rekan kerja yang berbisik-bisik.

"Ada apa?" bisik Alya pada Rina, teman sekantornya yang kebetulan lewat.

"Kamu tahu nggak Al?" Rina menatap Alya dengan tatapan kasihan. "Pak Nathan lagi ngamuk tau. Katanya ada masalah di divisi marketing, dan sekarang dia nyari-nyari orang buat disalahin. Ngeri banget sih tuh orang sumpah."

Jantung Alya seketika berdegup kencang. Ia tahu betul bagaimana Nathan bisa begitu kejam jika ada yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Tanpa menunggu lebih lama, Alya bergegas menuju ruangannya, berharap bisa menyelesaikan tugas sebelum Nathan memanggilnya.

"Tenang Al, tidak perlu cemas, kau akan baik-baik saja." Batin nya.

Namun, harapannya pupus seketika ketika suara berat dan dingin memanggilnya dari arah belakang.

"Nona Alya!" suara Nathan menggema di lorong kantor. Para karyawan yang lain segera menyingkir, seperti semut yang menghindari air. "Ikut saya sekarang juga!"

Alya menelan ludah dan mengikuti langkah cepat Nathan menuju ruang rapat di ujung koridor. Pintu ditutup dengan keras di belakang mereka, dan Nathan langsung melemparkan setumpuk kertas ke meja di depannya. Dokumen-dokumen itu berserakan, beberapa bahkan jatuh ke lantai.

"Apa-apaan ini?" bentak Nathan dengan wajah memerah. "Ini hasil laporan yang kau buat semalam? Data yang kau berikan salah semua! Kau ingin membuat perusahaan ini rugi miliaran rupiah? Hah! Rupanya kau tidak bisa diandalkan."

Alya terkejut, tapi dia mencoba tetap tenang. "Saya sudah memeriksa datanya dengan teliti, Pak. Mungkin ada kesalahan teknis..."

"Saya akan memperbaiki nya lagi." Alya belum siap untuk dipecat sekarang.

"Kesalahan teknis?" Nathan menyela dengan nada mengejek. "Kesalahan teknis hanya alasan bagi mereka yang tidak kompeten! Aku tidak peduli bagaimana caranya, kau harus memperbaiki semua ini sebelum rapat dengan direksi pukul 10.00. Jika tidak, anggap saja kau tidak perlu kembali bekerja di sini."

Alya merasakan darahnya mendidih. Betapa mudahnya bagi Nathan untuk mengancamnya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan. Namun, dia menahan diri, tahu bahwa melawan hanya akan memperburuk keadaan. "Baik, Pak. Saya akan memperbaikinya secepat mungkin," jawab Alya mencoba berusaha untuk tetap profesional meski tangannya gemetar.

Nathan tidak menjawab, hanya memberikan tatapan tajam yang seolah bisa membakar lubang di tubuh Alya. "Aku ingin hasilnya sempurna. Dan kau jangan sampai mengecewakanku lagi, bekerja lah yang baik!" katanya sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah yang cepat.

Alya menghela napas panjang, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tahu Nathan sengaja membuat segalanya menjadi sulit baginya. Mengingat kejadian di bar semalam, Alya merasa Nathan sengaja mencari-cari kesalahan hanya untuk menekannya.

Tanpa membuang waktu, Alya segera duduk di meja kerjanya dan mulai memeriksa data yang dituduhkan salah oleh Nathan. Ia membuka laptopnya dan memeriksa ulang semua angka dan laporan. Ternyata, data yang Nathan sebutkan salah, sebenarnya adalah laporan lama yang belum di-update oleh tim lain. Namun, dia tahu jika mencoba menjelaskan ini, Nathan hanya akan menyalahkannya lagi.

"Ini tidak adil," gumam Alya kesal sambil mengetik cepat. Jam menunjukkan pukul 09.00, hanya tersisa satu jam sebelum rapat dimulai. Ia harus berpacu dengan waktu.

***

Pukul 09.50, Alya akhirnya menyelesaikan laporan revisi dan berlari menuju ruang rapat. Ia tiba tepat pada waktunya, dengan napas terengah-engah dan wajah memerah. Semua eksekutif sudah duduk di tempatnya masing-masing, dan Nathan menatapnya dengan senyum sinis.

"Bagus, kau datang juga," katanya dengan nada menyindir. "Kita akan lihat apakah kali ini kau bisa melakukan sesuatu yang benar."

Rapat pun dimulai, dan Alya harus mempresentasikan laporannya di depan seluruh jajaran direksi. Ia mencoba menenangkan dirinya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Berikut adalah revisi laporan pengadaan yang saya susun."

Selama 30 menit berikutnya, Alya mempresentasikan data dengan hati-hati. Ia menunjukkan analisis pasar, rekomendasi vendor baru, dan strategi penghematan biaya. Meski merasa tertekan dengan tatapan tajam Nathan, ia berusaha untuk tetap fokus.

Ketika presentasi selesai, ada keheningan singkat di ruangan itu sebelum salah satu direksi mulai berbicara. "Ini adalah perbaikan yang sangat baik, Nona Alya. Dan saya sangat terkesan dengan analisis Anda."

Alya merasa lega, tapi kebahagiaannya hanya berlangsung singkat. "Tunggu dulu," Nathan menyela, membuat seluruh ruangan kembali tegang. "Meskipun laporan ini cukup baik, aku masih melihat ada beberapa data yang tidak sepenuhnya akurat. Bagaimana kita bisa mempercayai rekomendasi ini jika kau bahkan tidak bisa memastikan semua angkanya benar?"

Alya terperangah. Dia yakin data yang dia berikan sudah benar, tetapi Nathan seolah-olah sengaja mencari-cari kesalahan. "Pak Nathan, saya sudah memeriksa data ini berulang kali. Jika ada kesalahan, mungkin kita perlu memeriksa sumber datanya lagi..."

"Jangan beralasan!" potong Nathan. "Ini tanggung jawabmu. Aku tidak peduli bagaimana caranya, pastikan ini diperbaiki dalam dua jam."

Semua orang di ruangan itu tampak terkejut dengan permintaan Nathan yang sangat tidak masuk akal. Salah satu direksi lain mencoba menyela. "Pak Nathan, mungkin kita bisa memberi sedikit waktu lebih..."

"Tidak!" Nathan menegaskan dengan nada tegas. "Aku ingin melihat hasil yang sempurna tanpa alasan apa pun."

Alya merasa seolah-olah semua udara di paru-parunya dihisap habis. Namun, dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan tersebut. "Baik, saya akan segera memperbaikinya."

Setelah rapat selesai, Alya kembali ke meja kerjanya dengan hati yang berat. Dia tahu Nathan tidak benar-benar peduli dengan data yang salah atau benar. Ini semua adalah bagian dari permainannya untuk menekan Alya, dan dia menikmatinya. Namun, dia tidak akan membiarkan Nathan menang.

Ia segera memanggil timnya untuk melakukan verifikasi ulang data. Semua orang bekerja keras, tapi tekanan waktu membuat semuanya terasa semakin sulit. "Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat, tolong cek ulang semua angka dan pastikan tidak ada yang terlewat!" kata Alya dengan suara tegas.

"Ini gila, Alya," kata Rina sambil menggigit bibirnya. "Kau tahu dia hanya sengaja menjebakmu, kan?"

"Ya, aku tahu," jawab Alya dengan senyum pahit. "Tapi aku tidak bisa menyerah sekarang."

Hari ini Alya sudah mulai prustassi tapi gimana dengan hari esok lain nya?

Tepat pukul 12.00, Alya membawa hasil revisi baru ke kantor Nathan. Ia mengetuk pintu, berharap pria itu tidak akan menghabisinya lagi.

"Masuk!" suara Nathan terdengar dingin dari balik pintu. Alya masuk dengan langkah hati-hati, lalu meletakkan laporan di mejanya.

Nathan membaca sekilas, lalu menatap Alya tanpa ekspresi. "Kau pikir ini sudah cukup?"

Alya mengangguk dengan tegas. "Saya yakin ini adalah data yang akurat."

"Baiklah," Nathan bersandar di kursinya. "Tapi ingat, Nona Alya, satu kesalahan lagi, dan kau akan kehilangan pekerjaan ini. Jangan pernah berpikir kau aman di sini hanya karena berhasil satu kali. Aku akan selalu mencari celah untuk menjatuhkanmu."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HXT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HXT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta adalah wanita tangguh yang fokus pada karier meski sering diremehkan karena penampilannya yang bersahaja. Pernah dicampakkan akibat perbedaan kasta, ia bertekad membuktikan nilainya tanpa banyak bicara. Kehidupannya berubah saat bertemu Evan, seorang pengusaha duda sukses. Kini, mereka harus bersatu menyelidiki dalang di balik kekacauan perusahaan masing-masing, sembari berjuang mempertahankan cinta yang terus diterjang badai dan dendam masa lalu.
Sampul Novel Dulu Aku Bodoh, Sekarang Tidak Lagi
8.1
Saat hamil tiga bulan, Solene divonis mengalami kehamilan ektopik oleh suaminya yang seorang dokter. Sang suami mendesak aborsi demi keselamatannya dan menyarankan adopsi. Solene yang merasa bersalah kemudian tidak sengaja mendengar percakapan rahasia suaminya dengan wanita lain. Terungkap bahwa diagnosis itu palsu, dirancang agar Solene mau menandatangani surat adopsi untuk Leo, anak kandung suaminya dari hubungan gelap tersebut, demi mewariskan seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
9.4
Ella terjebak dalam dilema rasa terhadap William, sahabat masa kecilnya yang kini menjadi pewaris tunggal kaya raya. Meski William menganggap Ella sosok terpenting, ia justru jatuh hati pada Camelia. Posisi Ella kian sulit saat ia dituduh sebagai penghambat asmara mereka, sementara William tidak peka atas penderitaan batin sahabatnya itu. Akankah William tetap memprioritaskan Ella, atau justru Camelia akan memutus ikatan lama mereka selamanya?
Sampul Novel Kau Layak Menderita
8.1
Hidup Selina hancur setelah dijebak Rafael Donovan dalam pernikahan paksa. Saat Rafael lumpuh akibat kecelakaan, Selina menganggapnya karma dan memilih bertahan hanya untuk membalas dendam serta menguasai hartanya. Namun, di tengah kebencian itu, ia justru menemukan sisi rapuh dan penyesalan mendalam pada suaminya. Kini Selina terjebak dalam dilema antara misi balas dendam atau perasaan asing yang mulai tumbuh di hatinya bagi pria yang seharusnya ia benci.
Sampul Novel Kawin Kilat: Suami Misteriusku teryata Milyarder
8.7
Keputusan Grace Johnson melakukan kawin kilat setelah diselingkuhi menuai cemoohan. Dia dianggap bodoh karena meninggalkan calon pewaris Keluarga Hayes demi lelaki miskin. Namun, suami barunya ternyata konglomerat misterius sekaligus paman mantan tunangannya sendiri. Saat Grace merasa tertipu dan meminta cerai, sang suami berhasil meyakinkannya dengan alasan tak terduga. Kini, sang mantan justru terusir tanpa harta, sementara sang miliarder memilih menyembunyikan wajah tampannya di balik topeng.
Sampul Novel Malam Pertama dengan CEO
9.7
Kehidupan Kara hancur saat suaminya menjualnya kepada Angkasa, seorang CEO kaya, di malam pernikahan mereka. Wajib melayani Angkasa selama sebulan, Kara justru hamil. Namun, Angkasa menolak mengakui janin itu karena salah paham dan mengusirnya. Di tengah tekanan mantan suami dan mertua, Kara berjuang sendiri hingga sukses jadi desainer. Saat Angkasa kembali untuk memohon maaf, akankah Kara bersedia membuka pintu hatinya yang telah terluka?