Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris

Cinta Sang Pewaris

Nathaniel Albar, pewaris bisnis dingin yang terobsesi pada nama baik, bertemu Alya Nabila, gadis sederhana yang gigih. Awalnya, Nathan terus menguji dan mencoba menjatuhkan Alya setelah insiden wawancara kerja yang fatal. Namun, di balik sikap kerasnya, Nathan memiliki rencana terselubung saat merekrutnya. Ketika masa lalu kelam Nathan terkuak, Alya harus memilih antara cinta atau keselamatan diri. Mampukah ketulusan Alya mencairkan ambisi beku sang pewaris?
Bab
Bagikan

Bab 1

Alya Nabila berdiri di depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, menatap papan nama yang terpampang dengan huruf-huruf emas yang berkilauan: Albar Group.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum memasuki gedung megah tersebut. Ini adalah hari yang penting baginya, ya, hari di mana dia harus membuktikan dirinya dalam wawancara kerja di salah satu perusahaan paling bergengsi di Jakarta.

"Tenang kan dirimu Al! Berikan yang terbaik!"

Dengan jantung yang berdegup kencang, Alya memasuki lobby gedung yang luas dan modern. Lantainya terbuat dari marmer mengilap, sementara dinding-dindingnya dihiasi karya seni mahal. Para pegawai yang berjalan berlalu-lalang tampak berpenampilan rapi dengan setelan jas mahal.

Alya jujur sangat minder dengan hal itu, iya menatap dirinya dari atas hingga bawah, blus putih sederhana dan rok hitam yang ia kenakan terkesan sangat biasa saja, tapi dia segera menepis perasaan itu. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan pekerjaan setelah berbulan-bulan berjuang melamar di berbagai tempat.

"Huft!"

Melelahkan jika hanya membayangkan nya saja bukan?

Setelah iya memberitahukan keperluannya pada resepsionis, Alya diarahkan ke lantai atas untuk bertemu dengan kepala HRD. Namun, saat ia melangkah keluar dari lift, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tepat ketika pintu lift terbuka, seorang pria berjas hitam muncul dari arah berlawanan dengan langkah terburu-buru.

Brak!

Tubuh Alya terhuyung ke belakang, dan tanpa sengaja berkas lamaran yang dia bawa terjatuh berhamburan ke lantai. "Maafkan saya!" dia sedikit panik sambil buru-buru memunguti kertas-kertasnya. Namun, pria itu tidak merespons, hanya menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat darah Alya membeku seketika.

"Lihat jalanmu," kata pria itu dengan nada dingin.

Alya menegakkan tubuhnya, berusaha menahan rasa malu dan panik yang bercampur aduk. Pria itu terlihat sangat berwibawa, dengan setelan jas yang rapi dan wajah yang tampak sempurna, meski sorot matanya begitu menusuk.

"Saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja," Alya mencoba menjelaskan dengan nada gemetar.

Akan tetapi, pria itu tidak peduli. "Orang ceroboh tidak punya tempat di sini," katanya angkuh sambil melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Alya yang masih berdiam diri seperti patung.

Alya merasa wajahnya memanas, di hari pertama iya begitu sial, tapi dia tak punya waktu untuk meratapi kejadian itu. Dengan cepat, dia memunguti sisa berkas yang berserakan di lantai, mencoba merapikannya kembali. Hatinya berharap insiden tadi tidak akan mempengaruhi peluangnya dalam wawancara.

Setelah menyusun kembali berkasnya, Alya bergegas melangkah ke ruang wawancara yang sudah ditentukan. Ruangan itu tampak mewah dan formal, dengan dinding kaca yang memberikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di meja depan, seorang wanita paruh baya dengan tatapan tegas menunggunya.

"Kamu Alya Nabila?" tanya wanita itu dengan nada datar.

"Ya, Bu. Saya Alya," jawabnya sambil tersenyum tulus, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Wawancara akhirnya dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan standar, Alya berhasil menjawab nya dengan tepat. Akan tetapi, tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dengan keras. Alya menoleh dan matanya membulat ketika melihat siapa yang masuk. Pria yang tadi menabraknya di lorong, pria yang memandangnya dengan penuh keangkuhan, kini berdiri di ambang pintu dan menatap ke arahnya.

"Pak Nathan, saya tidak tahu jika Anda akan bergabung dalam wawancara ini," kata wanita HRD itu dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

Nathan Albar, CEO muda dan pewaris Albar Group, matanya tak lepas dari Alya dengan pandangan yang tak bersahabat. "Saya ingin melihat langsung kandidat yang katanya 'berpotensi' ini," katanya sambil duduk di kursi berhadapan dengan Alya.

Alya merasa tenggorokannya mengering. Ini buruk. Sangat buruk. Dia tidak pernah menyangka pria yang tadi ia tabrak adalah Nathan Albar, orang yang paling berpengaruh di perusahaan ini. Dia mengerutuki dirinya, sangat bodoh sekali.

"Jadi, Nona Alya," Nathan mulai berbicara sambil menyilangkan tangan di depan dada, "apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu cocok bekerja di perusahaan kami, setelah menunjukkan betapa cerobohnya kamu beberapa menit yang lalu?"

Deg!

Alya terdiam, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. Tapi tekanan dari tatapan tajam Nathan membuat pikirannya kacau.

"Saya... saya punya pengalaman di bidang administrasi, dan saya yakin bisa memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan ini," jawabnya dengan suara yang agak gemetar. Namun tetap percaya diri.

Nathan tersenyum sinis. "Pengalaman administrasi, ya? Tapi kamu bahkan tidak bisa menjaga dokumenmu tetap rapi. Bagaimana aku bisa mempercayaimu untuk menangani urusan perusahaan?"

Alya merasa malu dan marah sekaligus. Namun, dia mencoba menahan emosinya agar tidak kelepasan. "Itu adalah kesalahan yang tidak sengaja, dan saya berjanji hal seperti itu tidak akan terulang lagi."

"Janji?" Nathan mendengus, lalu beralih pada wanita HRD. "Bu Maya, apa benar kandidat ini yang memiliki skor tertinggi dalam tes tertulis?"

"Iya, Pak Nathan. Alya memiliki skor yang sangat baik di semua kategori tes," jawab Bu Maya dengan ragu.

Nathan memutar matanya, jelas tidak terkesan. "Baiklah, Nona Alya. Aku akan memberimu satu kesempatan untuk membuktikan bahwa kau bukan sekadar angka di atas kertas." Ia berdiri, lalu melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja.

"Di sini ada beberapa berkas penting yang harus diantarkan ke kantor cabang kami di Serpong. Jika kamu bisa menyelesaikan tugas ini dalam waktu dua jam, kamu bisa lanjut ke tahap berikutnya. Gagal, dan kau tak perlu kembali." katanya dengan senyum misterius.

Alya menatap amplop itu dengan bingung. "Tapi... sekarang sudah jam lima sore, dan jalanan pasti macet..."

"Itu bukan masalahku," potong Nathan dingin. "Kamu mau pekerjaan ini atau tidak?"

Alya menggigit bibirnya. Tawaran ini terdengar seperti misi mustahil, tapi dia tidak punya pilihan lain. "Baik, saya akan melakukannya," jawabnya tegas.

"Bagus," Nathan tersenyum sinis. "Kita lihat apakah kamu bisa memenuhi ekspektasi."

Tanpa membuang waktu, Alya mengambil amplop tersebut dan berlari keluar gedung. Dia tahu lalu lintas Jakarta di jam-jam sibuk adalah mimpi buruk, tapi dia tidak akan membiarkan kesombongan Nathan menghancurkan harapannya. Dengan napas terengah, dia memanggil taksi pertama yang lewat dan memberitahu tujuannya ke pengemudi.

Namun, seperti yang sudah ia duga, perjalanan itu menjadi penuh rintangan. Jalanan macet parah, dan detik-detik berlalu dengan cepat sementara jarak tempuh seakan tak berkurang. Alya menggigit kuku, mencoba mencari cara lain. Saat itulah dia melihat seorang pengendara ojek online sedang menepi di tepi jalan.

"Pak, saya harus sampai ke Serpong secepatnya! Tolong bantu saya!" Alya memohon dengan panik pada pengemudi ojek tersebut.

Setelah beberapa detik ragu, pengendara itu mengangguk. "Ayo, Nona, naik! Tenang saja, kita akan mengambil jalan tikus!"

Alya segera turun dari taksi dan berlari menuju motor ojek tersebut. Dengan kecepatan tinggi, mereka menerobos jalanan sempit dan gang-gang kecil, mencoba menghindari kemacetan. Jantung Alya berdetak kencang, bukan hanya karena adrenalin tetapi juga karena beban tugas yang diembannya.

Tepat ketika dia berpikir sudah hampir sampai, motor itu berhenti mendadak karena ada razia lalu lintas. Alya merasakan napasnya terhenti, dan dengan panik, dia melihat waktu di ponselnya. Hanya tersisa 15 menit.

"Pak, kita harus jalan!" desaknya.

"Maaf, Nona. Kalau saya lanjut, SIM saya bisa ditahan," jawab pengendara ojek itu sambil menggeleng.

Alya merasa putus asa. Namun, dia tidak bisa menyerah sekarang. Dengan cepat, dia turun dari motor dan mulai berlari, menembus keramaian jalanan dengan amplop cokelat yang masih tergenggam erat di tangannya.

Dengan napas tersengal dan keringat bercucuran, Alya akhirnya tiba di kantor cabang Albar Group di Serpong. Dia melihat jam dinding-waktunya tinggal 2 menit sebelum batas akhir yang ditentukan Nathan. Dengan sisa tenaganya, dia berlari masuk ke dalam gedung dan menyerahkan amplop itu ke resepsionis.

"Ini untuk Pak Nathan... saya diberi waktu dua jam..." ujarnya terengah-engah.

Resepsionis itu memeriksa amplop tersebut lalu tersenyum tipis. "Anda berhasil, Nona. Saya akan melaporkan bahwa Anda menyelesaikannya tepat waktu."

Alya hampir tak percaya. Dengan rasa lega yang membanjiri dirinya, dia menyadari bahwa dia baru saja memenangkan pertarungan pertamanya melawan Nathan Albar.

"Pekerjaan ini sangat membuat ku tak bisa bernafas!" Batin nya mencoba agar tetap berpikiran untuk tidak resign.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Delapan tahun menikah, Alya justru dikhianati suaminya sendiri karena dianggap mandul. Ia bahkan dijual kepada penguasa kota demi melepaskan beban tanggung jawab. Namun, takdir berkata lain saat Alya dinyatakan hamil setelah pertemuan malam itu. Kini ia terjebak di antara masa lalu yang menyakitkan atau memulai hidup baru dengan pria asing yang merupakan ayah biologis bayinya. Mampukah Alya menuntut keadilan atas segala penderitaan yang ia alami?
Sampul Novel GADIS PENARI TUAN MUDA
8.2
Benni Handoko, pria dari keluarga terpandang, rela menyamar jadi pelayan toko demi mencari cinta sejati. Hidupnya berubah saat ia menemukan seorang gadis penari di ranjangnya usai jamuan keluarga. Tak disangka, gadis bernama Mulan itu adalah cucu sahabat neneknya yang hilang. Meski ditakdirkan menjadi istri Benni, perjalanan asmara mereka penuh rintangan berat. Mampukah Mulan dan Benni mempertahankan perasaan mereka di tengah segala konflik yang menghadang?
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menjaga martabat keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon kepada putrinya untuk menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan besar ini sampai batal, reputasi leluhur mereka akan hancur seketika. Tak hanya itu, nasib perusahaan yang telah dibangun sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk. Sang putri pun dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan kehormatan serta masa depan bisnis keluarganya.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel My Bastard Boss
8.3
Hidup Nayra hancur saat sang mantan kekasih menyerahkannya kepada pria asing. Lima tahun berlalu, ia justru terjebak bekerja untuk Xabiru, atasan yang ternyata adalah sosok yang merusaknya di masa lalu. Kini, Xabiru menuntut hak atas putri mereka, sementara Chrisyan kembali memohon ampun. Terjepit di antara dendam dan luka lama, haruskah Nayra memaafkan mereka atau membalas sakit hatinya? Kebenaran kelam lima tahun silam kini mulai terungkap.