
Cinta Rahasia Dibalik Identitas Tersembunyi
Bab 2
Di bawah langit senja yang mulai memerah, museum seni yang baru diresmikan terasa seperti mimpi yang memudar, dengan kerumunan pejabat dan tamu kerajaan yang mulai berpencar.
Udara musim semi masih hangat, membawa aroma bunga sakura yang mekar di taman sekitar, tapi hati Putri Daniella sudah gelisah, campuran antara kelelahan acara formal dan kegembiraan pesan dari Pangeran Felix.
Dia melangkah keluar dari gedung museum, rok lipitnya menari lembut ditiup angin, heels hitamnya mengetuk lantai marmer dengan irama tegas.
Erik sudah menunggu di samping Rolls-Royce beige, pintu belakang terbuka, wajahnya tetap tenang meski tahu hari pertama kerjanya ini penuh ujian.
"Kita pulang lewat katedral tadi ya," perintah Daniella saat masuk ke mobil, suaranya penuh otoritas tapi ada nada antusias yang tak bisa disembunyikan.
"Aku mau lihat mural di dinding sepanjang lorong itu."
Matanya berbinar mengingat lukisan-lukisan kuno yang tadi sekilas dilihatnya, seperti portal ke dunia dongeng yang jarang dia sentuh di balik tembok istana.
Erik menutup pintu dengan hati-hati, lalu duduk di kursi pengemudi. Melalui kaca spion, dia melihat wajah Daniella yang masih jutek tapi penuh rasa ingin tahu.
"Maaf, Tuan Putri," jawabnya pelan, suaranya lembut tapi tegas, seperti angin yang tak ingin menyakiti.
"Kita gak bisa pulang melewati jalan itu lagi. Khusus untuk berangkat saja. Karena nanti akan tembus ke arah jalan yang salah."
Putri Daniella mengerutkan dahi, matanya menyipit penuh kemarahan yang mendadak membara.
"Aku perintahkan kamu lewat situ, ya harus nurut!" geramnya, suaranya naik oktav, membuat udara di dalam mobil terasa lebih pengap.
Hatinya panas, bagaimana bisa sopir baru ini berani menentang? Dia terbiasa dengan ketaatan mutlak, bukan perdebatan.
"Tuan Putri, saya ini harus mengikuti aturan," jelas Erik, tangannya memegang kemudi dengan mantap, tapi hatinya mulai berdegup lebih kencang.
Dia tahu resikonya, tapi pelatihan dari Pangeran Gustav mengajarkannya untuk prioritaskan keselamatan dan aturan.
"Itu jalan darurat. Kita kan bisa pulang melewati jalan biasa, dengan waktu normal. Bukan sesuatu yang mendesak, tidak memburu waktu."
"Eh, berani kamu menentang perintahku?" bentak Daniella, wajahnya memerah seperti daun musim gugur yang jatuh.
"Kamu itu cuma sopir, pekerja rendahan, yang harus nurutin semua yang diperintahkan!"
Kata-katanya seperti cambuk, penuh rasa superioritas yang dia pelihara sejak kecil, tapi di balik itu ada sedikit ketakutan, takut kehilangan kendali atas dunia kecilnya.
"Maaf, Tuan Putri, tapi prosedur..." Erik belum selesai bicara, suaranya tetap tenang, tapi Daniella sudah menyela dengan tajam.
"Masa bodoh dengan prosedur! Hentikan mobil sekarang, aku mau turun saja!" teriaknya, melempar sarung tangan hitamnya ke arah Erik, mengenai bahu pria itu dengan lembut tapi penuh kemarahan.
Sarung tangan itu jatuh ke lantai mobil, simbol dari amarahnya yang meluap.
Erik menghela napas pelan, hatinya terasa berat, dia tak ingin memulai hari pertama dengan konflik, tapi dia juga tak bisa melanggar aturan yang bisa membahayakan mereka.
Dengan hati-hati, dia menepi di pinggir jalan yang ramai dengan lalu lintas sore hari, suara klakson kendaraan lain seperti latar belakang kekacauan hati mereka.
"Aku turun di sini atau kamu antar aku pulang lewat jalan tadi. Kamu pilih mana?" tantang Daniella, matanya menyala penuh tekad.
Erik menatapnya melalui kaca spion, melihat campuran antara kemarahan dan kerapuhan di mata gadis itu. Akhirnya, dengan suara yang lelah tapi patuh, dia mengalah.
"Baik, Tuan Putri, kita pulang lewat jalan tadi."
Hatinya berat, ini pelanggaran pertama, tapi dia tak ingin gadis itu benar-benar turun dan membahayakan diri.
"Heran, baru kali ini aku berdebat panjang sama sopir yang gak tahu diri, gak tahu posisinya siapa, membantah saja kerjanya," gerutu Daniella, suaranya masih meradang saat mobil kembali melaju.
"Benar-benar bikin dongkol. Awas aja nanti aku akan pertimbangkan posisimu sebagai sopirku. Tau!"
Dia menyandar di jok, tangannya memegang clutch dengan erat, hati campur antara kesal dan sedikit kemenangan kecil.
Erik hanya diam, fokus pada jalan, tapi pikirannya berputar, dia tahu ini ujian, dan dia harus sabar.
Mobil berhenti di gerbang rahasia di samping katedral tua, dinding batu kuno yang basah oleh hujan pagi masih mengkilap di bawah sinar senja.
Erik turun, membuka gembok dengan kunci khusus, angin sejuk menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan sejarah.
Setelah gerbang terbuka, dia kembali masuk dan melajukan mobil ke lorong sempit, mengunci gerbang dari dalam.
Cahaya redup dari lampu mobil menerangi mural-mural indah di dinding, kupu-kupu yang menari, bunga dahlia mekar, putri duyung yang misterius, dan taman bunga dengan warna-warni estetik yang seperti lukisan hidup.
Putri Daniella tiba-tiba berseru, "Berhenti di tengah jalan ini!" Matanya berbinar melihat mural itu lebih dekat, hati yang tadi panas mulai meleleh oleh keindahan.
Erik menepi, dan Daniella keluar, heelsnya mengetuk lantai lorong yang lembab. Dia mengambil ponsel, memotret gambar tembok itu, lalu selfie dengan senyum lebar yang jarang dia tunjukkan.
"Ini bagus kalau aku posting ke Instagramku," katanya pada diri sendiri, jarinya gesit mengedit foto.
Erik berdiri bersandar di mobil, mengawasinya dengan mata penuh perhatian, khawatir tapi juga kagum pada semangat gadis itu.
"Maaf, Tuan Putri," katanya pelan, mendekat sedikit. "Tolong jangan memposting lorong ini ke medsos. Ini lorong rahasia. Saya mohon kali ini, tolong saya. Jangan lakukan itu."
Daniella berbalik, wajahnya kembali memerah.
"Kamu gak berhak ngatur-ngatur aku! Aku lakukan apapun yang kusuka. Ngerti!" katanya berang, suaranya bergema di lorong sempit, membuat suasana terasa lebih tegang.
"Putri tahu ini tempat rahasia, harus tetap dijaga kerahasiaannya," jelas Erik dengan suara lembut, mencoba memberi pemahaman tanpa memaksa.
"Memposting ini ke Instagram akan membuat publik tahu. Bayangkan apa yang akan terjadi nantinya."
Hatinyaberdegup kencang, dia tak ingin kehilangan kepercayaan Pangeran Gustav, tapi lebih dari itu, dia khawatir keselamatan Putri Daniella.
Gadis itu diam sejenak, memandang foto di ponselnya, hati kecilnya mengakui kebenaran kata-kata itu. Akhirnya, dengan menghela napas kesal, dia menghapus postingan yang hampir dikirim.
"Baiklah," gumamnya dalam hati, menyimpan foto sebagai koleksi pribadi. Tapi semangatnya belum pudar; dia melihat undakan tangga di pinggir tembok, setinggi lima meter, yang menuju pembatas dinding.
"Aku mau naik ke sana, lihat apa di baliknya!"
Erik mendekat, suaranya penuh kekhawatiran.
"Tuan Putri, maaf. Saya mohon untuk tidak naik ke sana. Itu tangganya basah dan licin abis diguyur hujan tadi pagi. Sudah cukup untuk kali ini. Kita pulang saja."
Dia memegang tangan Daniella pelan, tapi gadis itu menepisnya dengan kasar, matanya menyala marah.
"Buka jasmu, bersihkan sisa air di tangga itu! Aku mau naik ke atas," perintahnya sewot, suaranya tinggi seperti perintah ratu kecil.
"Tapi, Tuan Putri..." Erik mencoba protes, hatinya berat melihat gadis itu nekat.
"Gak ada tapi-tapian! Segera laksanakan. Lap anak tangga itu sampai kering. Sekarang!" bentak Daniella, suaranya bergema lagi.
Erik menarik napas panjang, hatinya bergejolak antara kewajiban dan kekhawatiran.
Dia membuka jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang menempel di tubuh atletisnya, lalu mengelap tangga basah itu dengan teliti.
Setelah selesai, dia berdiri di atas, mengulurkan tangan.
"Turun kamu, aku bisa naik sendiri. Gak perlu dibantu," ketus Daniella.
"Tuan Putri, ini lumayan tinggi. Saya khawatir, jadi harus membantu untuk naik ke sana," katanya, suaranya penuh kepedulian tulus.
"Gak perlu, aku bisa sendiri! Cepat turun," bentaknya lagi.
Erik terpaksa turun, tapi masih was-was.
"Maaf, Tuan Putri, sebaiknya lepas high heelsnya dulu."
"Biarin saja, aku sudah terbiasa naik tangga pakai heels. Gak usah ngatur-ngatur. Minggir kamu!" katanya, mendorong Erik menjauh.
Putri Daniella naik pelan, langkahnya percaya diri, sampai ke atas.
Dari sana, dia melihat perumahan dan bangunan di balik dinding, angin sejuk menyapu rambutnya, membuatnya tersenyum gembira.
Dia memotret beberapa foto, hati berbunga seperti gadis biasa yang bebas. Erik di bawah terus mengawasi, jantungnya berdegup kencang, siap menangkap jika sesuatu terjadi.
Setelah puas, Putri Daniella turun perlahan. Erik mendekat, naik tangga untuk memegang tangannya.
"Gak perlu bantuin aku turun dan pegangin tanganku. Aku bisa sendiri. Minggir gak?" katanya kesal.
Erik turun lagi, tapi saat Daniella di anak tangga ketiga terakhir, kakinya terpeleset di permukaan licin.
"Aaa!" jeritnya, tubuhnya hampir jatuh. Erik sigap melompat, menangkapnya dalam pelukan kuatnya, tangannya merangkul pinggang gadis itu, menahan agar tak terjatuh ke tanah keras.
Jantung Erik berdegup kencang seperti genderang perang, nafasnya tersengal, aroma parfum Putri Daniella yang manis menyentuh hidungnya. Sesaat, mata mereka bertatapan, mata hijau Daniella penuh kejutan dan malu, mata Erik penuh kekhawatiran dan sesuatu yang lebih dalam.
"Lepasin! Aku bisa jalan sendiri," teriak Daniella, mendorong tubuh Erik dengan kasar, wajahnya memerah karena malu dan marah.
Tapi saat melangkah, kakinya nyeri hebat.
"Aduh, sakit!" jeritnya, hampir jatuh lagi.
Erik langsung merangkul pundaknya, memapahnya pelan ke mobil.
"Maaf, Tuan Putri," katanya, suaranya lembut penuh penyesalan. Dia membuka pintu belakang, membiarkan Daniella duduk menghadap keluar, kakinya di luar.
Dari kotak P3K di dashboard, Erik jongkok di depannya, mengangkat kaki kiri gadis itu pelan, melepas heelsnya, dan meletakkan di lutut pahanya.
Dia mengoles olive oil dengan lembut, jarinya menyentuh kulit halus Daniella, hati berdegup antara tugas dan perasaan aneh yang mulai tumbuh.
Daniella tak protes, membiarkan saja, meski hatinya campur antara sakit dan malu.
"Sakit banget tau, kakiku pasti terkilir. Ini semua gara-gara kamu. Dasar tolol, gak becus," katanya meringis, suaranya bergetar menahan nyeri.
"Maaf, Tuan Putri, bisa ditahan sedikit? Kakinya memang keseleo," kata Erik, suaranya penuh empati.
"Saya pernah belajar medis darurat serta terapi tulang, jadi tahu bagaimana mengatasi kondisi ini. Putri tak perlu khawatir. Tahan sedikit, agak sakit memang."
Dia memijat pergelangan kaki itu, menekan otot dengan ibu jari, membuat gerakan memutar kecil.
"Auu... aduh... sakit bodoh! Kamu mau nyakitin aku ya?" jerit Daniella, menahan sakit, kukunya mencengkram bahu Erik kuat-kuat, meninggalkan goresan merah di kulit pria itu.
Setelah selesai, Daniella menarik kakinya, menggeser tubuh ke jok. Erik menutup pintu, duduk di belakang kemudi, dan melajukan mobil kembali ke istana.
Putri Daniella masih merintih sepanjang jalan, mengeluh tanpa henti.
"Nanti setelah sampai di istana, Tuan Putri istirahat saja. Saya jamin, besok pagi sudah tidak sakit lagi. Pasti sembuh," sebut Erik, mencoba menenangkan.
"Seenaknya aja kamu ngomong gitu! Kakiku yang sakit. Kalau sampai minggu depan belum sembuh, bukan hanya aku pecat kamu jadi sopir, tapi kamu siap-siap mendekam di penjara karena telah membuatku terluka. Paham!" teriak Daniella, suaranya tinggi, hati panik memikirkan pertemuan dengan Pangeran Felix.
Erik melirik melalui kaca dashboard, matanya penuh kekhawatiran tulus.
"Gak usah lihat-lihat kamu! Dengar, ini hari pertamamu kerja, sekaligus hari terakhir. Aku pastikan kamu dipecat setelah ini, dan keluar dari istana. Aku gak mau lihat wajah kamu lagi," kesalnya, suaranya bergetar antara marah dan sakit.
Erik diam saja, hatinya berat tapi sabar.
"Bisa-bisanya Paman bilang sopir profesional, lulusan terbaik. Tapi baru tiga jam kerja sudah membuat aku celaka seperti ini. Tak bertanggung jawab banget," gerutu Daniella lagi.
Mereka tiba di istana saat matahari hampir terbenam, cahaya oranye menyinari gerbang megah. Daniella turun tanpa heels, nyeker, dipapah Erik yang hati-hati.
Beberapa staf perempuan berlari tergopoh-gopoh, mengambil alih, membawa Daniella ke kamarnya.
"Dengar semuanya, jangan sampai ada berita tersebar kakiku keseleo. Awas aja kalau sampai informasi ini keluar istana!" ancamnya, suaranya tegas meski wajahnya pucat.
Di kamarnya, Daniella berbaring, kakinya masih nyeri, tapi dia tolak tim medis. Dia langsung hubungi Pangeran Gustav, meminta pemecatan Erik.
Sementara itu, Erik kembali ke asrama staf di sayap istana, ruangan sederhana dengan aroma kayu dan mesin mobil.
Dia melepas kemeja dan dasi, mandi sore dengan air hangat yang tak bisa hilangkan lelah hatinya. Berdiri di depan cermin, tubuh tingginya 188 cm yang atletis terpantul, dia melihat goresan merah di bahu, bekas kuku Daniella.
Erik meraba goresan itu, lalu tersenyum penuh arti, mata teduhnya memancarkan ketenangan aneh.
Entah mengapa, meski terancam pemecatan atau penjara, hatinya tak gundah. Mungkin karena sentuhan itu, jeritan itu, membuatnya merasa lebih dekat dengan gadis keras kepala yang mulai menyentuh hatinya.
Di luar jendela, malam mulai turun, salju tipis mulai jatuh seperti harapan yang rapuh, tapi Erik tetap santai, siap menghadapi badai yang datang.
*******
Anda Mungkin Juga Suka





