
Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai
Bab 2
Sekar Yuli POV:
Ayahku berdiri tegak, memblokir pandanganku dari Vano yang masih di ambang pintu. Suasana di ruangan itu tegang, dipenuhi dengan amarah yang membara dari Ayah, kekhawatiran Ibu, dan tentu saja, pura-pura ketakutanku.
"Kekasih?" Vano mendengus, suaranya terdengar seperti geraman. "Omong kosong apa ini, Sekar? Kau tahu siapa kekasihmu!"
Aku menggelengkan kepala, air mata menggenang lagi. Aku harus terlihat meyakinkan. "Aku... aku tidak tahu siapa pria ini, Ayah. Dia menakutkan!"
Ayahku berbalik ke arah Vano, wajahnya merah padam. "Kau dengar itu, Vano? Putriku takut padamu! Sekarang pergi! Atau kau akan berurusan denganku!"
Vano menatapku dengan mata menyala. Sebuah kilatan kebencian dan kebingungan melintas di sana. Dia tidak bisa mencerna bahwa aku, Sekar yang selalu patuh, bisa menolaknya seperti ini. Apalagi menyebut nama Bahar.
"Ini semua sandiwara, Paman!" Vano mencoba membela diri. "Dia hanya mencoba membalas dendam padaku! Dia tidak mungkin melupakan aku dan mengingat Bahar!"
"Keluar!" teriak Ayahku, menunjuk ke luar pintu. "Sekarang!"
Vano akhirnya mundur, tatapan terakhirnya dipenuhi ancaman yang tersembunyi. Dia membanting pintu begitu keras hingga dinding bergetar.
Ibuku masih memelukku erat. "Kita harus percaya pada dokter, Nak. Mungkin ini hanya sementara."
Aku mengangguk, menyandarkan kepalaku di bahunya. "Aku hanya ingat Bahar, Bu. Dia... dia yang selalu ada untukku, kan?"
Ayahku menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia tahu kedekatanku dengan Bahar adalah hal yang tabu, mengingat persaingan bisnis mereka. Tapi sekarang, dengan kondisiku yang "amnesia", dia tidak punya pilihan selain mengikuti permainanku.
Vano Adisasmita POV:
"Bahar Adijaya!" Aku menggeram, membanting tinjuku ke dinding koridor. Suara itu bergema, tapi tidak ada yang peduli. Semua orang di rumah sakit ini melihatku seperti orang gila.
Suster yang memperingatkanku tadi muncul lagi. "Tuan Vano, jika Anda terus membuat keributan, kami akan memanggil polisi. Pasien butuh ketenangan."
"Ketenangan?" desisku. "Dia menyebut nama musuh bebuyutanku dan kau ingin aku tenang?"
"Itu adalah gejala trauma kepala yang menyebabkan amnesia selektif," jawabnya datar. "Pasien melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan baginya, atau yang berhubungan dengan insiden traumatis. Dan saya ingatkan, jika Anda terus mengganggu, dia bisa saja melupakan Anda selamanya."
"Omong kosong!" Aku berbalik, berjalan menjauh. "Dia tidak akan pernah melupakan aku!"
Tapi kata-kata suster itu terus terngiang di kepalaku. Melupakanku selamanya. Itu tidak mungkin. Sekar mencintaiku. Dia selalu mencintaiku. Mungkin dia hanya shock. Atau mungkin dia memang... berpura-pura.
Aku mengeluarkan ponselku, mencari kontak Bahar Adijaya. Pria sombong itu. Dia pasti sudah tahu tentang ini dan menikmati penderitaanku. Aku akan menghajarnya jika dia berani mendekati Sekar.
Aku kembali ke rumah sakit beberapa jam kemudian, mencoba masuk ke kamar Sekar, tapi dihentikan oleh satpam. Orang tua Sekar pasti sudah memberitahu mereka untuk tidak mengizinkanku masuk.
Sial! Ini semua salah Sekar. Dia yang memulai permainan ini. Aku tidak akan membiarkannya menang.
Sekar Yuli POV:
Orang tuaku memutuskan untuk membiarkanku tinggal di rumah sakit selama beberapa hari untuk observasi. Dokter menjelaskan kepada mereka tentang "amnesia selektif"ku. Aku mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail yang bisa kugunakan untuk memperkuat sandiwaraku.
"Sekar, Nak," kata Ibuku suatu sore, saat kami berdua di kamar. "Apakah kau benar-benar tidak ingat Vano sama sekali?"
Aku menatapnya dengan mata kosong. "Aku tidak tahu siapa dia, Bu. Aku hanya merasa takut setiap kali melihatnya. Aku... aku hanya ingat Bahar Adijaya. Dia... dia pacarku, kan?"
Ibuku menghela napas. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto lama. Foto-fotoku bersama Vano. Aku melihatnya, wajahku di sana, tersenyum paksa di sampingnya. Aku harus menahan diri untuk tidak bereaksi.
"Ini Vano," kata Ibuku lembut. "Kalian sudah tiga tahun pacaran."
Aku menggelengkan kepala. "Tidak... ini bukan dia. Aku... aku tidak ingat." Aku menunjuk pada foto-fotoku bersama teman-teman, bersama orang tuaku. "Aku ingat mereka semua. Tapi pria itu... aku tidak ingat."
Ayahku masuk, wajahnya tampak lelah. "Baiklah, kita tidak akan memaksanya. Dokter bilang tekanan hanya akan memperburuk."
Aku tahu Ayahku sedang memikirkan hal lain. Perusahaan kami memiliki banyak proyek besar yang bergantung pada kerja sama dengan grup properti Vano. Jika aku "melupakan" Vano, kerja sama itu bisa terancam. Tapi dia tidak akan mengorbankan putrinya. Aku tahu itu.
Vano Adisasmita POV:
Aku merasa seperti orang bodoh. Sekar tidak mengingatku. Dan yang lebih buruk, dia mengingat Bahar.
Aku memutuskan untuk tidak memedulikan Sekar untuk sementara waktu. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku bisa bahagia tanpanya. Dan aku punya Melodi.
Aku menjemput Melodi dari kampusnya dengan mobil sport terbaruku. Mahasiswa-mahasiswa di sana menatap kami dengan iri. Melodi, seperti biasa, tampak anggun dan sederhana, tapi ada kilatan di matanya yang tidak bisa kulewatkan.
"Vano, apa kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya lembut. "Aku dengar tentang Sekar. Aku turut prihatin."
"Aku baik-baik saja," kataku, melambaikan tangan. "Dia hanya mencari perhatian. Amnesia? Omong kosong. Dia hanya ingin membalas dendam padaku."
Melodi mengangguk pelan, tapi aku melihat senyum tipis di bibirnya. Dia senang. Dia ingin Sekar menghilang dari hidupku.
"Apa kau tidak khawatir kalau dia benar-benar melupakanmu?" tanyanya, terdengar polos.
Aku tertawa. "Tidak akan. Sekar tidak akan pernah bisa melupakanku. Dia terlalu mencintaiku."
Aku membawanya ke pusat perbelanjaan paling mewah, membelikannya tas desainer, perhiasan, apa pun yang dia inginkan. Dia menolak beberapa barang, berkata, "Ini terlalu mahal, Vano. Aku tidak pantas mendapatkannya."
Tapi aku melihat matanya yang berbinar. Dia suka membuatku mengejarnya. Dia sangat pandai. Aku jadi semakin tertarik padanya. Dia tidak seperti Sekar, yang terlalu mudah didapatkan.
Malam itu, aku pergi ke bar dengan teman-temanku. Aku ingin melupakan semua masalah.
"Vano, kau terlalu cepat melupakan Sekar," kata salah satu temanku, Rio. "Kalian sudah lama bersama. Dan kondisi Sekar..."
"Cukup!" bentakku. "Dia yang memulainya! Dia yang berpura-pura amnesia dan menyebut nama si brengsek Bahar itu!"
"Tapi dia amnesia, Van. Dokter bilang begitu," kata Rio, mencoba menenangkanku.
"Bodoh!" Aku tertawa sinis. "Dia tidak akan pernah melupakan aku. Dia tidak akan pernah bisa hidup tanpaku. Dia hanya ingin menarik perhatianku, membuatku memohon padanya."
"Vano, hati-hati dengan ucapanmu," kata Rio, ekspresinya serius. "Sekar mungkin tidak selembut yang kau kira."
"Apa maksudmu?" desisku, merasa terhina. "Dia hanya wanita lemah yang terlalu mencintaiku. Dia tidak punya apa-apa tanpaku."
"Kau salah," kata Rio, menggelengkan kepala. "Kau tahu, Sekar itu memiliki koneksi bisnis yang kuat. Ayahnya..."
"Cukup!" Aku membentak lagi, memotongnya. "Aku tidak ingin mendengar nama Sekar lagi! Mari kita bersulang untuk Melodi! Kekasihku yang baru!"
Aku mengangkat gelasku, tapi saat itu, pintu bar terbuka. Dan di sana, berdiri di ambang pintu, adalah Sekar.
Dia tidak mengenakan gaun rumah sakit. Dia mengenakan gaun hitam sederhana yang pas di tubuhnya, rambutnya digerai, dan wajahnya dipulas riasan tipis. Dia tampak... berbeda. Lebih dingin. Lebih kuat.
Mataku membelalak. Apa yang dia lakukan di sini? Dia seharusnya di rumah sakit! Dia seharusnya amnesia!
Rio dan teman-temanku yang lain menatap Sekar dengan tak percaya.
"Sekar?" bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan.
Dia menatapku. Matanya tidak lagi kosong atau takut. Matanya dingin, tajam, dan penuh perhitungan. Tidak ada jejak ketakutan di sana. Sama sekali tidak.
Dia tidak datang untukku. Dia tidak datang untuk memohon padaku kembali.
Dia melangkah maju, melewati meja kami, melewati aku yang terpaku. Dia tidak melirikku sama sekali. Seolah aku tidak ada di sana.
Dia berjalan lurus ke arah... Bahar Adijaya, yang duduk di sudut bar, sendirian, dengan segelas wiski di tangannya.
Sekar tersenyum pada Bahar. Itu bukan senyum manis yang biasa dia berikan padaku. Itu adalah senyum yang penuh rahasia, penuh pemahaman.
Dia mendekati Bahar, tangannya terulur. Bahar berdiri, dan Sekar memeluknya erat.
"Bahar," bisiknya, suaranya cukup keras untuk kudengar. "Aku merindukanmu."
Dunia di sekitarku runtuh.
Anda Mungkin Juga Suka





