Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai

Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai

Vano, tunanganku, tega mendorongku ke kolam meski tahu aku trauma air. Saat aku sekarat, ia justru bermesraan dengan selingkuhannya, Melodi. Setelah selamat, ia berbohong bahwa aku terpeleset demi reputasinya. Kebencianku memuncak; aku memutuskan berpura-pura amnesia untuk menghancurkannya. Aku mengaku sebagai kekasih Bahar Adijaya, musuh bebuyutannya. Melihat wajah Vano yang pucat pasi, aku tahu misi balas dendamku yang mematikan baru saja dimulai.
Bab
Bagikan

Bab 3

Vano Adisasmita POV:

Dunia di sekitarku runtuh. Aku melihat Sekar memeluk Bahar Adijaya. Bukan pelukan biasa. Itu adalah pelukan yang penuh keintiman, seolah mereka sudah saling mengenal seumur hidup. Kata-kata "Aku merindukanmu" bergema di telingaku, menusuk hatiku seperti belati es.

"Van... Vano?" Rio memanggil, suaranya penuh kebingungan.

Aku tidak bisa menjawab. Mataku terpaku pada Sekar. Dia menoleh ke arahku. Tidak ada senyum. Tidak ada emosi. Hanya tatapan dingin, seolah aku adalah debu di lantai. Dia melepaskan pelukan Bahar, tapi tangannya masih menggenggam erat lengan pria itu.

"Apa-apaan ini?" desisku, berdiri, membuat kursi di belakangku jatuh.

Sekar tidak bereaksi. Dia hanya menatapku. Tatapan itu. Itu adalah tatapan yang sama sekali tidak kukenal. Sekar yang kucintai tidak pernah menatapku seperti itu. Dia selalu menatapku dengan cinta, dengan kekaguman.

Bahar. Dia berdiri di sana, tinggi dan tenang, tangannya melingkari punggung Sekar, seolah dia pelindungnya. Dia menatapku dengan seringai tipis, penuh kemenangan, seolah berkata, Dia adalah milikku sekarang.

Darahku mendidih. "Sekar! Apa yang kau lakukan? Ini sandiwara, kan? Kau tidak bisa bersama pria itu!"

Sekar akhirnya membuka mulut, suaranya tenang, terlalu tenang. "Maaf, Tuan. Siapa Anda?"

Tuan? Dia memanggilku Tuan? Dia benar-benar gila!

"Ini aku, Vano! Kekasihmu!" Aku mencoba melangkah mendekat, tapi Bahar melangkah maju, menghalangiku.

"Dia bukan kekasihmu," kata Bahar, suaranya rendah dan mengancam. "Dia kekasihku."

"Omong kosong! Sekar, jangan dengarkan dia! Dia hanya memanfaatkan kondisimu!" Aku mencoba meraih tangan Sekar, tapi Bahar dengan cepat mendorong tanganku.

"Jangan sentuh dia," kata Bahar, matanya menyala.

Sekar menyusup di balik Bahar, bertingkah seperti seorang gadis yang ketakutan. Aktingnya sempurna. Dia memang seorang aktris hebat.

Tapi kemudian, Bahar menoleh ke arahku. "Aku sudah muak dengan permainanmu, Vano. Kau mendorongnya ke kolam. Kau beruntung dia selamat. Dan sekarang kau masih berani menemuinya?"

Wajahku memucat. Bagaimana dia tahu?

"Itu... itu tidak disengaja!" kataku, mencoba berbohong.

Bahar tertawa sinis. "Tidak disengaja? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu segalanya, Vano. Aku tahu semua kekejamanmu padanya."

"Kau... kau tidak punya hak!" kataku, merasa terpojok.

"Aku punya hak," kata Bahar, memeluk Sekar lebih erat. "Karena aku suaminya."

Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Suaminya? Tidak, tidak mungkin!

"Kau bohong! Sekar! Katakan padanya dia bohong!" Aku menatap Sekar, memohon padanya.

Sekar menatap Bahar, lalu tersenyum manis. "Dia tidak berbohong, sayang. Dia memang suamiku."

Dunia berhenti berputar. Sekar... dan Bahar? Mereka... menikah?

Rio dan teman-temanku menatapku dengan tatapan kasihan. Aku merasa semua mata di bar tertuju padaku. Aku merasa seperti orang tolol.

"Ini tidak mungkin," bisikku, mundur selangkah. "Ini tidak mungkin..."

Melodi. Dia tiba-tiba muncul di sampingku, tangannya meraih lenganku. "Vano, ayo kita pergi. Biarkan saja mereka."

Tapi aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa membiarkan Sekar bersama Bahar. Dia milikku. Dia selalu milikku.

"Apa yang kau lakukan dengan pria itu, Sekar? Kau lupa siapa aku? Aku Vano! Kekasihmu!" Aku berteriak lagi, suaraku pecah.

Bahar menatapku dengan tatapan menghina. "Dia tidak pernah melupakanmu, Vano," katanya. "Dia hanya tidak ingin mengingatmu."

Air mataku mulai mengalir. Vano Adisasmita, pewaris Adisasmita Group. Aku menangis di depan semua orang.

"Vano, ayo kita pergi," kata Melodi, menarikku. Dia terdengar tulus, tapi aku melihat kilatan kegembiraan di matanya. Dia senang. Dia senang melihatku hancur.

Aku menepis tangan Melodi. "Tidak! Aku tidak akan pergi! Sekar! Katakan padaku kau mencintaiku!"

Sekar tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatapku, matanya dingin seperti es.

"Oke, cukup sudah," kata Bahar, matanya menyala. "Kau sudah cukup membuat keributan. Pergi dari sini, Vano. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali."

Aku melihat sekeliling. Beberapa pengunjung bar sudah mengeluarkan ponsel mereka, merekam. Aku harus pergi. Tapi aku tidak bisa.

"Aku tidak akan menyerah, Sekar!" teriakku. "Kau akan kembali padaku! Kau akan melihat!"

Aku berbalik dan berlari keluar dari bar, meninggalkan Melodi dan teman-temanku yang terpana. Aku tidak tahu ke mana aku pergi, tapi aku harus menemukan cara untuk mendapatkan Sekar kembali. Dia adalah milikku.

Sekar Yuli POV:

Aku melihat Vano berlari keluar dari bar, wajahnya merah padam dan air mata membasahi pipinya. Rasa puas yang dingin menjalari hatiku. Ini baru permulaan.

Aku menoleh ke Bahar, yang masih memelukku. Dia menatapku dengan tatapan yang dalam, ada sedikit kebingungan di sana.

"Apakah itu terlalu jauh?" tanyaku pelan, hanya untuk Bahar yang bisa mendengar.

Bahar tersenyum tipis. "Mungkin. Tapi itu berhasil, kan?"

Aku melihat sekeliling. Beberapa pasang mata masih menatap kami, berbisik-bisik. Tentu saja. Pewaris Adisasmita Group baru saja dipermalukan di depan umum oleh mantan kekasihnya yang "amnesia" yang kini bersama musuh bebuyutannya. Ini akan menjadi berita utama besok pagi.

Aku melepaskan pelukan Bahar. Dia menatapku, ada sesuatu yang tidak bisa kuartikan di matanya. Aku tahu dia masih terkejut dengan semua ini.

"Terima kasih, Bahar," kataku, mencoba terdengar tulus. "Kau banyak membantuku."

"Tidak masalah, Sekar," jawabnya, suaranya tenang. "Kau tahu aku akan selalu membantumu."

Aku tahu. Dia memang selalu ada. Bahkan ketika aku terlalu dibutakan oleh cintaku pada Vano yang brengsek itu.

"Jadi... kita akan melanjutkan sandiwara ini?" tanyanya, ada sedikit nada ragu di suaranya.

Aku menatapnya, lalu tersenyum. Senyum yang sebenarnya kali ini. "Tentu saja. Ini baru permulaan."

Aku melihat ke arah pintu bar tempat Vano menghilang. Dia pantas mendapatkan lebih dari ini. Dia pantas kehilangan segalanya.

Vano Adisasmita POV:

Aku mengemudi tanpa tujuan, mesin mobil meraung, mencerminkan kemarahan di dadaku. Sekar... bersama Bahar? Menikah? Itu tidak mungkin! Dia mengenalku sejak lama. Bagaimana dia bisa begitu cepat melupakan aku dan menikahi pria itu?

Aku meraih ponselku, mencoba menelepon Sekar, tapi dia tidak menjawab. Aku mencoba menelepon Rio, Rio juga tidak menjawab. Semua orang pasti menertawakanku sekarang.

Aku melihat ke kaca spion, wajahku sendiri terlihat kacau. Rambutku berantakan, mataku merah. Aku tidak pernah terlihat seburuk ini.

Aku harus menemukan Sekar. Aku harus membuatnya ingat. Ini semua pasti akting. Dia hanya ingin membalasku. Tapi Bahar? Kenapa dia melibatkan Bahar?

Aku berhenti di pinggir jalan, memukul setir dengan frustrasi. Aku tidak bisa menerima ini. Sekar adalah milikku. Dia tidak bisa bersama Bahar.

Aku tahu Bahar selalu punya mata pada Sekar. Aku melihatnya setiap kali kami bertemu di acara perusahaan. Tatapan penuh hormat yang dia berikan pada Sekar, berbeda dengan tatapan mengejek yang dia berikan padaku. Aku selalu merasa inferior di depannya. Dan sekarang, dia mengambil Sekar dariku.

Ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya terjadi.

Aku kembali ke apartemenku, berharap Melodi ada di sana. Dia adalah satu-satunya yang bisa menenangkanku sekarang. Aku membutuhkan hiburan.

Pintu apartemenku terbuka. Melodi duduk di sofa, menonton televisi. Dia menoleh saat aku masuk, ekspresi khawatir yang sempurna di wajahnya.

"Vano? Kau baik-baik saja?" tanyanya, bergegas menghampiriku. "Kau terlihat... kacau."

Aku memeluknya erat, mencari kenyamanan. "Dia... dia bersama Bahar. Dia bilang dia menikah dengan Bahar."

Melodi membelai rambutku. "Aku tahu, sayang. Aku melihatnya. Itu pasti sangat menyakitkan."

"Dia berbohong, kan?" tanyaku, menatapnya. "Dia pasti berbohong."

Melodi tidak menjawab langsung. Dia hanya menatapku dengan mata lebar, seolah tidak tahu harus berkata apa.

"Vano, kau harus tenang," katanya. "Mungkin dia hanya mencoba membuatmu cemburu."

"Cemburu?" Aku mendengus. "Dia berhasil. Tapi aku tidak akan membiarkannya menang."

Aku menepis tangan Melodi. "Aku akan mendapatkan Sekar kembali. Tidak peduli apa pun."

Melodi menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada sedikit kekecewaan di sana, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap.

"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu, Vano," katanya.

Aku mengangguk. Setidaknya ada satu orang yang masih peduli padaku. Atau begitulah yang kupikir.

Sekar Yuli POV:

Beberapa hari berikutnya, media sosial meledak. Foto-fotoku bersama Bahar di bar, Vano yang terlihat kacau, semua berita tentang "amnesia selektif"ku dan pernikahanku dengan Bahar. Semuanya viral.

Aku membaca semua komentar. Beberapa orang bersimpati padaku, beberapa orang mengecam Vano, dan beberapa orang lain bertanya-tanya tentang Bahar.

"Kau sangat pandai berakting," kata Bahar, saat kami makan siang di restorannya. "Seluruh dunia percaya kau amnesia."

Aku tersenyum tipis. "Itu tujuannya, kan? Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan."

"Dan apa yang kau rasakan?" tanyanya, menatapku dengan serius.

Aku menatapnya. "Pengkhianatan. Sakit hati. Dan... keinginan untuk membalas dendam."

Bahar mengangguk. "Aku mengerti."

Aku melihat ke ponselku. Ada notifikasi dari Ayah. Dia mengirimkan pesan singkat. "Kerja bagus, Nak. Vano menghubungi Ayah. Dia terlihat sangat tertekan."

Sebuah senyum kecil muncul di bibirku. Ini baru akan seru.

"Vano tidak akan menyerah begitu saja," kata Bahar, seolah membaca pikiranku.

"Aku tahu," kataku. "Tapi aku juga tidak akan menyerah. Aku akan memastikan dia kehilangan segalanya. Seperti dia membuatku hampir kehilangan nyawaku."

Bahar meraih tanganku di atas meja. "Aku akan melindungimu, Sekar. Kau tidak sendirian."

Sentuhan tangannya terasa hangat dan menenangkan. Aku menatapnya. Dia memang tidak seperti Vano. Dia tulus. Dia peduli.

"Terima kasih," bisikku.

Kami menghabiskan makan siang dengan membahas strategi selanjutnya. Aku tahu Bahar adalah pria yang cerdas dan kuat. Dengan dia di sisiku, aku merasa tak terkalahkan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BRIDE OF THE MAFIA
8.1
Milan dikuasai Vicenzo, bos mafia kejam yang mendadak hilang usai misi gagal. Bertahun-tahun kemudian, ia muncul demi menemukan Jill, seniman tunanetra yang buta akibat peluru nyasarnya. Di kota kecil, takdir mempertemukan mereka dalam pusaran cinta dan dendam. Vicenzo harus melindungi Jill dari ancaman musuh lama, sementara Jill berjuang memaafkan pria yang merenggut penglihatannya. Di tengah bahaya, mereka menghadapi masa lalu demi sebuah penebusan.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Sampul Novel Immortal and The Beast
9.1
Pasca perang berdarah 100.000 tahun silam, Theodore bangkit melalui mantra kuno. Namun, alih-alih pulih dalam 10.000 tahun, roh sang Immortal justru terbangun di masa depan dalam tubuh pemuda lemah yang sering dirundung. Di dunia yang kini terancam monster, ia bertekad menjadi Hunter, pahlawan pembasmi makhluk buas. Meski raga barunya rapuh, pengalaman tempur dari masa lalu akan membantunya menaklukkan tantangan demi mengubah nasib malang sang pemilik tubuh.
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Nona keempat keluarga Lu selalu dianggap sampah karena lemah dan bodoh di antara saudara-saudaranya yang berbakat. Kematian tragisnya menjadi awal perubahan besar saat jiwa seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21 merasuki tubuhnya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus berjuang bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya, dimulailah sebuah kisah romansa yang sangat unik.
Sampul Novel KETUA GENG MOTOR VS BADGIRL
7.9
Qiandra Putri menjalani kehidupan ganda sebagai badgirl sekaligus Ketua OSIS yang tegas. Meski sudah lama putus, ia sulit mendapatkan kekasih baru karena ulah mantan pacarnya, Exal Jevon Danendra. Sebagai pemimpin geng motor EXALTO yang ditakuti, Exal secara rahasia mengintimidasi setiap pria yang berani mendekati Qiandra. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan obsesi sang mantan, mampukah mereka kembali bersatu atau justru semakin menjauh?