
Cinta Kusut yang Ditakdirkan
Bab 2
Sudut pandang Fransiska:
Dalam perjalanan menuju restoran, aku hanya diam, begitu juga dengan William, dia juga tidak mengatakan apa pun. Kami telah menikah selama tiga tahun, tapi kami bertingkah layaknya orang asing.
Dan sekarang, aku harus menemani suamiku untuk bertemu dengan tunangannya.
Sang sopir menepi di Rainbow Dream, sebuah restoran Michelin bintang tiga. Itu adalah restoran paling mewah di kota ini.
"Tuan Lusman, Nona Suryadi sudah menunggu Anda di lantai dua," ucap sang pelayan pada William. Tampaknya William adalah pelanggan tetap di sini.
Aku pun mengikutinya masuk ke dalam lift.
"Cobalah untuk terlihat bahagia saat bertemu Fera, oke? Jangan menampilkan ekspresi yang murung," ucap William dingin.
"Baiklah," jawabku yang langsung membuat sebuah senyum dan memasangnya di wajahku.
Segera, kami pun masuk ke sebuah ruang privat.
"Fransiska, lama tidak berjumpa."
Aku mengarahkan pandanganku pada Fera dan berusaha mati-matian menjaga wajahku agar tetap terlihat netral. Wanita itu masih terlihat sangat muda dan cantik. Wajah dan kulitnya sehalus porselen. Dia pasti menghabiskan banyak uang untuk merawat penampilan dan tubuhnya ini.
William pernah memberitahuku bahwa dia sebenarnya sedang sekarat, tapi aku jadi meragukan hal itu mengingat penampilannya saat ini yang terlihat lebih baik dibanding diriku.
"Ya, lama tidak berjumpa," balasku sambil memberinya sebuah senyuman yang setengah hati.
"Sudah tidak jet lag lagi? Bagaimana tidurmu semalam?" Senyum di wajahnya tampak tulus, seolah-olah dia bukan wanita yang sama yang memprovokasiku tadi malam.
"Aku tidur nyenyak, terima kasih sudah bertanya," jawabku.
Hidangan utama di pertemuan ini adalah steik. William sedang memotongkan steik Fera untuknya.
Kurasa aku tidak pernah melihat William bersikap begitu perhatian pada seseorang.
"William memberitahuku tadi malam bahwa kamu memiliki seorang kekasih."
"Ya. Dia seorang pelukis," jawabku yang langsung mengarang cerita.
Saat aku menjawab, aku sempat melihat tangan William sedikit gemetar.
"Apa kamu punya fotonya?"
Keingintahuan Fera membuatku tersadar dari tatapanku pada William. Aku meliriknya, tapi dia tidak menatapku.
"Tidak. Kami belum resmi berpacaran. Jadi, kurasa kurang pantas untuk memiliki fotonya di ponselku jika dia belum menjadi pacarku," jelasku sambil menundukkan kepala dan kembali fokus untuk memotong steik milikku.
"Kalau begitu, apa ada foto dirinya di akun Facebook-nya?" Fera tetap bersikeras.
"Mungkin. Sebentar aku carikan dulu." Sambil mengatakan hal itu, aku mengeluarkan ponsel dan memikirkan teman sekelas mana yang harus kupilih untuk dijadikan sebagai pria pengagum palsuku.
Fredi Tambuna adalah orang pertama yang muncul di kepalaku. Dia adalah salah satu teman baikku.
Aku membuka halaman Facebook-nya dan menemukan satu foto dirinya yang sedang berdiri di depan Menara Eiffel. Fredi memiliki rambut panjang dan wajah muda yang tampan. Dia tampak seperti seorang seniman, benar-benar berbeda dari William.
Kemudian, aku menyerahkan ponselku pada Fera.
"Dia terlihat seperti pria romantis dari Paris. Aku benar-benar bahagia untukmu. William, ternyata tipe Fransiska sangat berbanding terbalik darimu." Setelah mengatakan itu, Fera menunjukkan foto Fredi pada William.
William hanya melirik ke layar dan bergumam datar, "Yah, mereka serasi."
"Apa dia akan datang ke Amerika?" tanya Fera sambil mengembalikan ponselku.
"Saat ini dia masih di Eropa. Dia sedang mengadakan pameran seni di Lyons. Sebenarnya, dia memang mempertimbangkan untuk mengembangkan karir seninya di Amerika, jadi kemungkinan besar dia akan pindah ke sini," ucapku, membuat lebih banyak kebohongan.
"Apa kamu mencintainya?" desak Fera lebih lanjut.
Pertanyaan itu membuatku tertegun sejenak.
Setelah menenangkan diri, aku lalu menjawab, "Tentu saja." Aku mencoba yang terbaik untuk tetap tenang agar tidak mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
"Baguslah! William, sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkan Fransiska. Mari kita doakan agar Fransiska dan pria spesialnya itu bahagia," kicau Fera sambil mengangkat gelasnya.
William juga mengangkat gelasnya, tapi wajahnya masih tampak datar tanpa emosi.
"Fransiska, kuharap kamu dan kekasihmu memiliki kehidupan yang indah," ucap Fera sambil tersenyum padaku, wajahnya penuh dengan ketulusan. Meski aku tidak menemukan celah dari kepura-puraannya itu, aku tahu bahwa di balik wajah malaikatnya itu terdapat sesosok monster jelek.
"Terima kasih. Aku juga berharap kamu dan William memiliki kehidupan yang indah."
Kemudian, kami semua menenggak isi gelas kami.
Ketika aku meletakkan gelas, tanganku gemetar. Perasaan mual langsung bergulir di perutku. Aku menelan perasaan mual itu dan berharap agar pertemuan ini segera selesai.
Aku tidak ingin menghabiskan satu menit pun di ruangan yang sama dengan Fera Suryadi yang penuh dengan kepura-puraan.
"Maaf, aku harus ke kamar kecil," gumamku, lalu aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi.
Sebenarnya, aku tidak benar-benar perlu ke kamar kecil. Aku hanya ingin keluar untuk mencari udara segar.
Ketika aku kembali, kulihat William sudah membantu Fera mengenakan mantel beludrunya.
"Fera sedang tidak enak badan. Aku akan mengantarnya pulang, setelah itu aku akan kembali untukmu ..."
"Tidak, tidak perlu. Tidak masalah. Aku bisa pulang sendiri."
Akhirnya, aku menyaksikan William dan Fera berjalan keluar dari restoran dengan lengannya yang merangkul bahu wanita itu. Tiba-tiba, otot-otot tegang di sekujur tubuhku langsung mengendur.
Anda Mungkin Juga Suka





