
Cinta Kita Sudah Punah
Bab 4
“Ferry, kamu sudah menikah dengan Vania. Sekarang, kalian juga punya anak sendiri. Berpikirlah dengan jernih.”
“Bawa Vania kembali dan minta maaflah dengan tulus. Ibu yang akan mengurus adikmu di sini. Semua yang dikatakan Anggi, cuma omongan orang yang sedang nggak waras.” Ibu mertualah yang memberikan keputusan terakhir.
“Bagaimanapun, Vania itu istrimu. Dia nggak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Kamu nggak boleh tinggal di sini. Pergi dan suruh Vania kembali.” Ibu mertua menatap mereka berdua dengan raut wajah kesal.
Hatiku terasa dingin tak tertahankan. Ternyata, hanya aku saja yang dibohongi dan tidak tahu apa-apa. Tanpa diduga, hanya aku saja yang tidak mengetahui hubungan hina antara Ferry dan Anggi.
Selain itu, tanpa diduga mereka malah masih berusaha menyembunyikannya dariku. Aku menatap orang-orang yang tampak familier, tetapi sebenarnya asing bagiku ini. Aku merasa begitu muak.
Jika aku tidak mengalami kecelakaan itu, apakah aku akan tertipu seumur hidup?
“Ibu, aku akan minta maaf pada Vania. Tapi, sekarang kesehatan Anggi sangat penting. Vania sudah ditemukan dan dia baik-baik saja. Aku akan menjemputnya, saat kondisi Anggi sudah stabil. Sekarang ini, Vania sudah kembali ke rumah ibunya. Dia juga nggak ingin bertemu denganku.”
“Ferry, sikapmu ini benar-benar buruk. Cepat cari Vania sekarang juga.”
Ibu mertuaku jelas tidak tahu jika aku sudah meninggal. Mereka semua mengira aku masih hidup. Padahal, nyatanya aku sudah mati.
“Ibu, sudah kubilang. Sekarang ini aku mencemaskan Anggi. Kalau Ibu khawatir, aku akan menelepon Vania sekarang. Untuk saat ini, aku benar-benar nggak bisa meninggalkan Anggi.”
Ferry melakukan panggilan video padaku dengan ekspresi tidak sabar di wajahnya.
Selama tujuh tahun menikah, jarang sekali Ferry melakukan panggilan video padaku.
Seingatku, akulah yang selalu meneleponnya atau melakukan panggilan video padanya. Namun, tiap kali Ferry tidak akan menjawabnya atau buru-buru menutup teleponnya.
Aku tidak menyangka setelah aku mati, aku akan melihat Ferry berinisiatif meneleponku.
Ibu mertua mengerutkan kening dan berkata dengan cemas, “Dia sedang hamil. Apa sesuatu terjadi padanya ketika gempa bumi?”
Panggilan itu pun terhubung. Wanita yang muncul di layar memang diriku, setidaknya wajahnya sama persis denganku.
Aku menatap wanita dalam video itu dengan mata terbelalak. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari jika wanita itu bukanlah aku. Wanita ini terlihat sangat mirip denganku, tetapi bukan aku.
“Vania, ibu sangat mengkhawatirkanmu. Membuat ulah juga harus ada batasnya. Cepat kembali. Aku anggap, kamu nggak pernah mengatakan apa-apa.”
Ferry dengan tidak sabar menunjukkan layar ponselnya kepada ibu mertua. Kemudian, dia langsung menutup telepon tanpa menunggu wanita dalam video itu angkat bicara.
“Dia begitu beruntung dalam hidup ini dan nggak terjadi apa-apa padanya. Cuma penyakit lamanya saja yang kambuh. Biarkan saja selama beberapa hari. Nanti dia juga akan sadar sendiri.”
Hatiku terasa begitu sakit dan bergetar saat mendengar kata-kata yang teramat dingin dan hampir tidak manusiawi, yang terucap dari mulut suamiku.
Pria yang berbagi ranjang denganku itu bahkan tidak tahu apakah orang yang ada di layar itu benar-benar diriku atau bukan.
Ferry tanpa malu-malu menunjukkan jika dirinya lebih menyukai Anggi, tetapi enggan menunjukkan sedikit saja kepeduliannya kepadaku.
Meski Anggi hanya mengerutkan kening atau terbatuk-batuk saja, Ferry akan langsung merasa sangat cemas.
Suatu hari, saat hujan deras disertai guntur di malam hari, Anggi menelepon Ferry sambil menangis dan mengatakan jika dia takut. Tanpa ragu, Ferry meninggalkanku meskipun aku sedang demam tinggi dan menemani Anggi semalaman.
Keesokan harinya, demamku agak mereda. Aku sempat bertengkar hebat dengan Ferry. Akan tetapi, Ferry hanya berkata dengan wajah dingin jika aku sengaja mencari masalah tanpa alasan.
Anda Mungkin Juga Suka





