
Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan
Bab 2
Aluna POV:
"Lihat ini!"
Raisa tidak menunggu jawabanku. Dia mengirimkan serangkaian foto dan video ke ponselku. Mataku menyipit, menatap layar yang bercahaya. Dalam foto-foto itu, Rangga dan Zahira berdiri di atas panggung, berpegangan tangan, senyum mereka lebar dan penuh kemenangan. Video menampilkan mereka berdansa, sangat dekat, Rangga memeluk Zahira dengan kelembutan yang belum pernah kutemukan dalam pelukannya.
Aku melihat bagaimana dia menatap Zahira, tatapan memuja dan penuh gairah. Rangga membelai rambut Zahira, tersenyum padanya, berbisik sesuatu di telinganya.
Aku mengingat bagaimana dia menghindariku, menghindari sentuhan lembut, menghindari tatapan mataku ketika kami bersama. Dia selalu beralasan sibuk, lelah, atau tidak ingin terlalu terbuka di depan umum.
Palsu. Semuanya palsu.
Dia pernah bilang, "Aluna, kau adalah duniaku. Tapi mari kita jaga hubungan ini tetap privat. Aku tidak ingin media mengganggu kebahagiaan kita."
Aku percaya. Aku bodoh.
Melihat Rangga sebegitu totalitasnya dengan Zahira, seolah tanpa ragu, tanpa beban, membuat perutku mual. Dadaku terasa sesak. Aku merasa seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku, menghancurkannya berkeping-keping.
Air mata kembali mengalir, membasahi wajahku. Aku terisak, sesak napas.
"Dia sudah mengejar Zahira selama berbulan-bulan, Aluna," kata Raisa, suaranya kini lebih tenang, tapi masih menyimpan kemarahan. "Sejak sebelum kau menyerahkan desainmu padanya. Dia hanya memanfaatkanmu, dia menggunakanmu sebagai batu loncatan."
Rangga adalah seorang manipulator ulung.
Aku selalu tahu Rangga memiliki sisi posesif. Dia tidak suka jika aku dekat dengan pria lain. Dia akan marah, cemburu, dan membuatku merasa bersalah. Aku selalu menganggap itu sebagai tanda cintanya. Tapi sekarang, aku melihatnya sebagai bentuk kontrol, caranya untuk memastikan aku tetap dalam genggamannya, sebagai "alat yang berguna".
Suara musik dansa masih terdengar sayup-sayup dari aula utama. Aku membayangkan Rangga dan Zahira berputar di lantai dansa, dikelilingi oleh tatapan kagum. Aku, di sisi lain, meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin, hatiku hancur berkeping-keping.
Air mataku terus mengalir, hingga mataku terasa perih dan bengkak. Aku terisak hingga seluruh tubuhku terasa lemas, tidak ada lagi tenaga.
"Aluna, dengarkan aku," Raisa berkata, suaranya tegas. "Ini bukan salahmu. Dia bajingan. Tapi kau harus bangkit. Kau jauh lebih baik dari ini. Tinggalkan dia. Tinggalkan semua ini."
Kata-kata Raisa menembus kegelapan yang menyelimutiku. Meninggalkan dia? Meninggalkan semuanya? Bisakah aku?
Aku mengingat semua pengorbananku, semua yang kuberikan untuk Rangga. Waktuku, energiku, bakatku. Aku mengesampingkan impianku sendiri demi impiannya. Aku membiarkan dia menginjak-injak harga diriku, karena aku percaya itu adalah bagian dari cinta.
Aku adalah orang bodoh yang paling bodoh di dunia ini.
"Aku akan meninggalkan dia, Raisa," kataku, suaraku bergetar, tapi ada tekad baru yang menyala di dalamnya. "Aku akan memulainya dari nol. Aku akan membangun kembali hidupku."
"Itu baru Aluna!" Raisa bersorak. "Sudah saatnya kau melakukan ini. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."
Aku memejamkan mata, membiarkan air mata terakhir mengering di pipiku. Aku harus berhenti menangis. Tangisan tidak akan mengubah apa-apa. Aku harus bertindak.
Aku tidak bisa lagi menjadi Aluna yang naif, yang dibutakan cinta. Aku harus menjadi wanita yang lebih kuat, mandiri, dan bertekad.
"Aku akan mengubah semua rencanaku, Raisa," kataku, kini suaraku lebih stabil. "Aku tidak akan bekerja di Suhardi Group. Aku akan pindah ke kota lain. Aku akan bergabung dengan firma arsitektur kecil, dan membangun karierku sendiri."
"Aluna, itu keputusan terbaik! Aku akan mendukungmu sepenuhnya!" Raisa terdengar sangat senang.
Aku tahu dia benar. Aku telah menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang Rangga, mengorbankan impianku sendiri. Aku selalu memandang dunia dari perspektifnya, membiarkan dia menentukan langkahku. Seolah aku tidak memiliki identitasku sendiri.
Aku memang bodoh.
Aku telah menjadi bayangan Rangga, sebuah tambahan dalam hidupnya. Semua orang di sekitar kami, bahkan teman-teman kami, selalu melihatku sebagai "gadisnya Rangga", bukan sebagai Aluna Nurhidayat.
"Aku akan menutup semua akun media sosial yang terkait dengannya, Raisa," kataku. "Aku tidak ingin melihat apapun tentang dia lagi. Aku ingin melupakannya."
"Itu ide yang bagus, Aluna. Jangan biarkan dia mengganggumu lagi."
Aku menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit itu masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa lega. Lega karena akhirnya aku bisa melepaskan diri dari racun ini.
Aku tidak lagi mencintai Rangga. Yang kurasakan sekarang hanyalah kehampaan, kekecewaan mendalam, dan sedikit rasa jijik. Aku telah mendedikasikan hidupku untuk orang yang salah, untuk cinta yang tidak pernah ada.
Aku hanya ingin lenyap dari kehidupannya. Aku ingin dia menghilang dari kehidupanku.
Aku akan mengejar impianku sendiri. Impian yang telah lama terkubur di bawah tumpukan janji palsu dan harapan kosong. Aku akan membuktikan nilaiku, bukan untuk Rangga, tapi untuk diriku sendiri.
Perjalanan ini akan sulit, aku tahu itu. Tapi aku akan menghadapinya. Aku akan menjadi Aluna yang baru. Aluna yang kuat, mandiri, dan bebas.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Malam ini adalah titik baliknya. Malam ini, Aluna yang lama mati, dan Aluna yang baru akan lahir.
Aku akan pergi dari sini. Aku akan memulai hidup baru. Dan aku tidak akan pernah menoleh ke belakang.
Anda Mungkin Juga Suka





