Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan

Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan

Demi Rangga, aku merelakan desain terbaikku agar ia menang. Namun, di malam perayaan, pengkhianatannya terungkap. Ia menyebutku alat bisnis dan mengumumkan pertunangan dengan Zahira. Setelah malam intim kami, ia justru menyuruhku meminum pil pencegah kehamilan. Sepuluh tahun cintaku hancur seketika. Aku pun pergi menjauh untuk menata hidup baru. Saat aku mulai bahagia, Rangga tiba-tiba muncul kembali dan terobsesi mengejarku meski dulu telah membuangku.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aluna POV:

Aku mengakhiri panggilan dengan Raisa, ponsel masih menempel di telinga. Tanganku bergetar. Meskipun aku sudah mengambil keputusan, rasa sakit itu masih mencengkeram. Mataku terpejam, dan tanpa sadar, bayangan Rangga muncul.

Aku melihat kembali adegan demi adegan dari malam perayaan kami. Sentuhannya yang lembut, ciumannya yang memabukkan, bisikannya yang manis di telingaku.

Semua kebohongan itu.

Aku menghela napas berat, mencoba mengusir bayangan itu. Aku menggelengkan kepala keras-keras, seolah bisa mengguncang kenangan-kenangan itu keluar dari benakku. Tapi kenangan itu seperti lem, menempel kuat.

Aku meringkuk di atas lantai kamar mandi yang dingin. Memeluk lututku, berusaha membuat diriku sekecil mungkin, seolah ingin menghilang.

Di benakku, dua Rangga muncul secara bergantian. Rangga yang kucintai, yang tampan dan karismatik, yang selalu membuatku merasa spesial. Dan Rangga yang sesungguhnya-manipulatif, kejam, dan arogan.

Aku membenci Rangga yang kedua. Tapi aku masih merindukan Rangga yang pertama.

Aku tidak tahu pukul berapa aku akhirnya tertidur, tapi saat aku terbangun, matahari sudah bersinar terang di jendela. Kepalaku terasa berat, dan mataku terasa perih. Aku menyadari satu hal: ponselku tidak berdering semalam. Tidak ada pesan dari Rangga.

Biasanya, setiap pagi, dia akan mengirimiku pesan selamat pagi, atau bahkan meneleponku. Dia akan bertanya apakah aku tidur nyenyak, atau apakah aku sudah sarapan. Dia akan melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa dicintai.

Semua itu hanya topeng.

Dulu, aku akan khawatir jika dia tidak menghubungiku. Aku akan meneleponnya, mengiriminya pesan, mencari tahu apa yang terjadi. Tapi sekarang, aku merasa kosong. Kebiasaan itu sudah mati, seperti hubungan kami.

Aku menatap ponselku yang sunyi. Sebuah kelegaan yang pahit menyelimutiku. Kebiasaan kami, rutinitas kami, semua itu sudah berakhir. Aku tidak perlu lagi khawatir, atau berharap, atau berpura-pura.

Selesai. Semuanya selesai.

Rasa marah membuncah di dalam diriku. Aku ingin berteriak, menghancurkan segalanya. Aku ingin membalas dendam. Aku ingin dia merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan.

Tapi kemudian aku teringat. Keluargaku. Keluarga Suhardi. Mereka memiliki hubungan bisnis yang rumit. Ayahku adalah kontraktor setia untuk Suhardi Group. Jika aku melakukan sesuatu yang gegabah, itu bisa merugikan keluargaku.

Aku tidak bisa egois. Aku harus memikirkan mereka.

Aku memutuskan untuk pergi, diam-diam. Tanpa konfrontasi, tanpa drama. Aku akan menghilang dari hidupnya, dan dia tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi.

Aku terlelap lagi, dalam tidur yang terasa aneh, tidak nyenyak namun juga tidak sepenuhnya terjaga. Aku merasa ada seseorang memelukku, hangat dan familiar. Wangi Rangga. Aku membuka mataku.

Rangga telah berada di sampingku, menatapku dengan mata yang redup. Matanya yang dulu kuanggap indah, kini terasa dingin dan menakutkan.

"Kenapa kau di sini?" tanyaku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

"Aku masuk. Pintunya tidak dikunci," dia menjawab, seolah itu adalah hal yang paling normal di dunia.

Dia masih punya kunci cadangan apartemenku.

Dia membelai rambutku, sentuhannya terasa hampa. "Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Kenapa kau tidak datang ke pesta?"

Aku menepis tangannya, tubuhku menegang. Aku tidak ingin dia menyentuhku lagi. "Aku bilang aku tidak enak badan."

"Tidak enak badan? Atau kau cemburu?" Dia tersenyum merendahkan. "Kau pikir aku tidak tahu kau menguping pembicaraanku dengan Daniel semalam?"

Mataku terbelalak. Dia tahu. Dia tahu aku mendengar semuanya. Dan dia tidak peduli.

"Kau... kau tahu?" tanyaku, suaraku bergetar.

"Tentu saja. Tapi apa yang kau harapkan, Aluna? Kau tahu aku harus melakukan ini demi bisnis. Lagipula, kau tidak pernah bisa memberiku apa yang bisa diberikan Zahira."

Kata-kata itu menghantamku seperti tombak. Dia begitu jujur, begitu kejam. Dia tidak peduli dengan perasaanku.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, air mata mendesak keluar lagi.

"Aku ingin kau mengerti," dia berkata, suaranya melembut, tapi matanya tetap dingin. "Aku bertunangan dengan Zahira, tapi itu hanya demi bisnis. Kau... kau tetap di sini untukku."

Aku menatapnya dengan jijik. Dia ingin aku menjadi simpanannya? Setelah semua ini?

"Kau pikir aku murahan seperti itu?" tanyaku, suaraku dipenuhi kemarahan.

"Jangan bodoh, Aluna. Kau tahu aku mencintaimu," ujarnya dengan nada meremehkan.

"Begitu? Lalu mengapa kau menghinaku, memanfaatkan karya dan cintaku sebagai batu loncatan? Mengapa kau memintaku minum pil pencegah kehamilan?" Suaraku bergetar, tapi aku berusaha keras untuk tidak menangis di hadapannya.

Dia terdiam, matanya sedikit melebar. Ekspresinya tampak seperti seseorang yang terkejut karena kedoknya telah terbongkar. Dia mungkin tidak menyangka aku akan tahu tentang pesan itu.

Aku bangkit dari tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan menuju pintu. Aku harus keluar dari sini. Sekarang.

"Kau mau ke mana?" Rangga mengikuti, suaranya kini terdengar lebih marah.

"Aku akan menyiapkan sarapan," kataku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang. Aku tidak ingin ada drama. Aku tidak ingin dia melihatku hancur.

Aku berjalan menuju dapur, Rangga mengikutiku. Dia menarik kursi di meja makan, menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Aku mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas, tanganku gemetar.

"Aku akan memasakkanmu pancake kesukaanmu," kataku, berusaha fokus pada masakanku.

"Aluna, aku tidak butuh pancake," dia berkata, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Aku ingin kau bicara denganku."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," kataku, tanpa menoleh. "Semuanya sudah jelas."

"Jelas? Apa yang jelas? Kau pikir aku akan hidup bahagia dengan Zahira?" Dia tertawa, tawa yang sinis. "Kau tahu itu tidak mungkin. Yang aku butuhkan hanyalah kau, Aluna. Hanya kau."

Aku menghentikan gerakanku, menatapnya. Matanya dipenuhi dengan kemarahan, tapi ada juga sesuatu yang lain. Keterkejutanku bercampur dengan rasa muak yang mendalam.

"Mengapa kau begitu egois, Rangga?" tanyaku, suaraku berbisik.

"Egois? Aku? Kau yang egois, Aluna! Kau yang tidak mau mengerti posisiku! Kau yang membuatku harus melakukan ini!" Dia membanting tangannya ke meja, membuat piring-piring di atasnya bergetar.

"Aku yang membuatmu melakukan ini?" tanyaku, suaraku kini lebih keras. Kemarahan akhirnya meledak. "Aku yang memintamu untuk mengkhianatiku? Aku yang memintamu untuk mencuri karyaku? Aku yang memintamu untuk mempermainkan perasaanku?"

Rangga bangkit dari kursinya, wajahnya memerah. "Kau... kau keterlaluan, Aluna!"

Dia meraih piring yang ada di dekatnya dan membantingnya ke lantai. Pecahan kaca berserakan, bersinar-sinar di bawah cahaya lampu dapur.

Aku terlonjak, ketakutan mencengkeramku. Aku mundur selangkah, air mata mengalir deras. Tubuhku gemetar hebat.

"Aluna, aku... aku tidak bermaksud..." Rangga mendekat, tangannya terulur.

Aku menepis tangannya, meringkuk di sudut dapur. Isak tangisku terdengar memilukan. Aku tidak bisa lagi menahan semua emosi ini.

Tiba-tiba, ponsel Rangga berdering. Dia mengangkatnya, wajahnya kembali tegang. "Ya, Mah," katanya. "Aku... aku akan segera ke sana."

Dia menatapku, matanya dipenuhi kemarahan yang bercampur dengan rasa bersalah yang samar. "Ini semua salahmu, Aluna! Kau membuatku terlambat!"

Dia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan aku sendirian di dapur yang berantakan, dikelilingi oleh pecahan kaca dan air mataku sendiri.

Bajingan. Dia benar-benar bajingan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GMH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GMH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Sajadah#bukuke-2
9.2
Dalam buku kedua trilogi Women Power Series, Jihan Khairiyah menghadapi kehancuran rumah tangga di tengah kehamilan tua. Reuni membawa petaka saat suaminya, Tommy Wiranata, terjerat CLBK dengan Diana, tetangga yang dianggap saudara sendiri. Meski Tommy berdalih hanya khilaf, Jihan menyadari pengkhianatan emosional tetaplah perselingkuhan. Kini Jihan harus memilih antara bertahan demi nafkah atau pergi demi harga diri dari lingkaran dusta yang menyakitkan.
Sampul Novel Cinta yang Tak Mungkin Kembali
8.8
Kepergian sang ayah mendorongnya bercerai dari Declan, suaminya yang seorang komandan batalion. Setelah mengelabui Declan agar menandatangani surat cerai dan mengundurkan diri dari pekerjaan, ia menyajikan hidangan perpisahan. Namun, Declan malah mencelanya demi membela cinta pertamanya. Ia pun memutuskan hubungan dan pergi ke desa pegunungan. Setengah bulan kemudian, mereka bertemu kembali di desa tersebut saat Declan baru pulang bertugas dengan mata yang memerah.
Sampul Novel Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya
8.8
Lima tahun menikah, identitas asliku terungkap sebagai pengganti Clara, kekasih Baskara. Setelah melahirkan pewaris Adhitama, aku justru disiksa dan dikurung. Puncaknya, Baskara membiarkan putra kami, Banyu, tewas demi menyelamatkan Clara yang bersandiwara. Kini, duka itu berubah jadi dendam dingin. Baskara tak sadar telah menandatangani surat kuasa fatal di balik dokumen arsitekturku. Keangkuhannya akan kuhancurkan lewat hak yang dia remehkan.
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Kakakku
8.3
Emily dikenal sebagai gadis polos yang penuh keceriaan, sementara kakaknya, Evan, merupakan sosok pria dewasa berkarisma maskulin yang sangat menawan. Meski tumbuh bersama dalam ikatan persaudaraan yang erat, sebuah kejadian mengejutkan tiba-tiba mengubah segalanya. Emily sangat terpukul saat terbangun dan mendapati dirinya berada di samping Evan dalam keadaan tanpa busana. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi di balik hubungan kakak beradik ini?
Sampul Novel Kontrak Eksklusif untuk Kanaya
8.7
Keserakahan sering kali membutakan nurani, seperti nasib malang yang menimpa Kanaya. Akibat ketamakan ibu tirinya, masa depan gadis ini terancam hancur dalam sekejap. Tanpa izin, ia dijadikan jaminan utang kepada rentenir paling kejam di kota. Kini Kanaya terjebak dalam situasi pelik yang mempertaruhkan hidupnya. Apakah ia mampu bangkit melawan takdir pahit tersebut, atau justru terpaksa menyerah pada keadaan yang merenggut kebebasannya?
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita terjebak dalam romansa indah bersama Raka, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hubungan mereka awalnya terasa sempurna dan penuh kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit mulai muncul saat Sita menyadari jurang status sosial di antara mereka. Sebagai gadis dari keluarga sederhana, ia merasa terancam oleh posisi Raka sebagai putra pengusaha ternama. Akankah restu berpihak pada mereka, ataukah perbedaan kasta ini mengakhiri segalanya?