Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi ini Zero berniat untuk memuaskan diri tidur sebelum latihan sepak bolanya dimulai. Dia ingin menghemat tenaganya sebab dia tahu pelatih timnas memiliki metode pelatihan yang keras.

Sampai tiba-tiba dari luar kamar dia mendengar tangisan anak kecil sembari pintunya digedor-gedor.

“Kak Zero! Buka pintunya!”

Mau tak mau Zero memaksakan diri membuka matanya, dia berjalan malas-malasan dan membukakan pintu lalu menundukkan kepalanya untuk menatap siapa yang sudah mengusiknya pagi-pagi ini.

“Evelyn Emma … ada apa?” tanya Zero pada gadis cilik berusia 4,5 tahun itu.

“Kak Vicenzo  menghabiskan  donat aku yang rasa strawberry!” adu Evelyn sambil nangis.

“Jangan nangis, tinggal suruh Kak Vicenzo membelikan yang baru,” bujuk Zero.

“Nggak mau, pengennya sama Kak Zero saja,” rengek Evelyn.

Dulu ada Aurora—adik pertamanya yang begitu manja dan suka merecokinya. Setelah Aurora menikah dan ikut suaminya muncul satu lagi versi kemasan sachet yang tak kalah manjanya.

Tak lama kemudian Vicenzo muncul, tertawa lirih seolah tidak berdosa.

“Lo yang bikin ulah, kenapa jadinya gue yang harus tanggung jawab?” sengit Zero menatap tajam pada adik lelakinya.

“Gue udah nawarin, tapi dianya nggak mau. Pengennya sama Kak Zero katanya,” jawab Vicenzo dengan santainya.

“Yasudah, Kak Zero mandi dan siap-siap dulu. Evelyn tunggu di luar ya?” bujuk Zero mengalah.

“Hore!” teriak gadis cilik itu sangat bahagia. Lalu saat bertatapan dengan Vicenzo langsung menjulurkan lidahnya. “Kak Vicenzo jelek!”

“Nyenyenyenyenye,” balas Vicenzo tak mau kalah.

Zero hanya menarik napas melihat tingkah kedua adiknya. Apalagi Vicenzo yang saat ini sudah kelas 3 SMA tapi setiap dekat dengan Evelyn tidak ada sikap dewasa sama sekali.

Zero pun bergegas untuk mandi, setelah siap diapun segera keluar dari kamar dan menemui keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan.

“Pagi semua,” sapa Zero.

“Pagi."

“Kok sudah rapi, mau kemana?” sela Syadeva.

“Nganterin Evelyn beli donat, Dad,” jawab Zero datar.

Sontak Syadeva langsung melirik ke putra ketiganya, memberikan lirikan yang tajam.” Kamu pasti isengin adik kamu lagi ya? Udah besar beli sendiri kalau pengen, kaya nggak punya duit aja!” tegur Syadeva, pasalnya hal seperti ini terjadi hampir tiap hari.

“Hehe … maaf,” cicit Vicenzo terkekeh gemas menatap adik perempuannya.

“Nggak mau maafin, Kak Vicenzo jahat!” sergah Evelyn memalingkan wajahnya.

“Cih, yakin ngatain Kak Vicenzo jahat? Padahal siang ini rencananya mau ngajakin ke Timezone. Tapi kayaknya nggak jadi deh,” goda Vicenzo.

“Ah mau—sama Kak Aurora juga kan?” pekik Evelyn langsung berubah drastis sikapnya.

“Hm.”

“Kok Hem? Iya tidak?”sela Evelyn manja.

“Iya, Cantik,” balas Vicenzo gemas sekali.

“Kak Zero ikut, ya?” bujuk Evelyn pada Zero.

“Tidak, Kak Zero nggak suka ke tempat begituan. Nanti beli donatnya sekalian sama Kak Aurora dan Kak Vicenzo saja ya?” sela Zero.

Evelyn nampak berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Dan Zero tersenyum lega, saat ini lelaki itu memang tengah malas untuk kemana-mana dan lebih ingin memilih istirahat total.

“Zero, bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?” sapa Zeta.

“Lumayan, Mom,” jawab Zero.

“Oh iya, kamu ingat dengan teman masa kecil kamu? Pamela—katanya mamanya sakit. Mama belum jenguk dia, apa kamu mau ikut?” tanya Zeta.

Deg!

Pamela …

Setelah 5 tahun berlalu, akhirnya dia mendengar satu nama keramat itu disebut. Yang mendengar adalah telinga, tapi yang bereaksi adalah dadanya—bergemuruh hebat.

“Zero, ditanya kok malah bengong?” sela Zeta.

“Iya, Mom. Emh, tapi kenapa tidak berangkat bareng Aurora saja?” tanya Zero balik.

“Kemarin dia sudah bersama suaminya.”

“Oh oke”

Bagaimanapun juga dia memiliki hutang budi pada  Hasna. Tetangga baik yang pernah memberinya makan kala kelaparan. Jika mengingat semua itu, ada perasaan sesal juga, akan kesalahannya di masa lalu.

Usai sarapan pagi, nampak Evelyn Emma yang sudah menarik-narik Vicenzo untuk segera berangkat ke Timezone. Sementara Syadeva yang terburu-buru mau ada rapat pagi. Sekalipun Zero selama ini kuliah di Belanda, tapi setiap hari orang rumah selalu video call dan enam bulan sekali liburan ke sana. Itulah kenapa, Zero tidak merasa asing dan tetap dekat dengan adik-adiknya.

***

Zero merasa sedikit enggan untuk bertemu dengan Pamela, tapi dia juga merasa rindu dan penasaran kira-kira bagaimana kabar sahabat kecilnya itu.

Tetapi sesampainya di sana, Zero malah syok dengan adanya Tirta yang nampak begitu dekat Hasna.

“Selamat pagi, bagaimana kabarnya, apakah sudah baikan?” sapa Zeta ramah sambil meletakkan bingkisan oleh-oleh ke meja.

“Selamat pagi, wah mommy nya Aurora ya? Sudah mulai baikan, sore ini sudah diizinkan untuk pulang,” balas Hasna, tapi beberapa saat kemudian mata Hasna melirik ke arah Zero.

“Pagi, Tante. Semoga lekas sembuh,” timpal Zero canggung.

“Iya, terima kasih. Kamu—Nak Zero?”

“Iya, Tante,” jawab Zero yang masih ngelag, apalagi dengan adanya Tirta di sini. Karena setahu dia Pamela tidak punya saudara lain.

“Zero, gue nggak nyangka Lo bisa kenal dengan Tante Hasna,” sapa Tirta ramah.

“I—iya, gue dulu saat kecil tetangga sebelah rumah dengan Tante Hasna,” jawab Zero.

“Wah, jadi Lo kenal dengan calon istri gue dong? Dunia ini sempit sekali!” pekik Tirta yang seperti petir yang menyambar ke telinga Zero.

Tiba-tiba Pamela yang baru membelikan makanan sangat syok dengan kehadiran Zero, saking kagetnya sampai bungkusan yang dipegangnya jatuh.

“Sayang, kamu tidak apa-apa?” ucap Tirta langsung melesat menunduk, mengecek kaki Pamela lalu mengambil bungkusan makanan tersebut.

“Ti—tidak apa-apa,” jawab Pamela gemetar ketakutan.

Zero hanya menatap pemandangan itu, gadis mungil yang dulu lugu dan polos kini nampak semakin dewasa dan tambah cantik.

“Pamela, mari sini sapa Mommy nya Aurora dan Zero—teman kecil kamu,” timpal Hasna.

“Hallo, Tante Zeta. Terima kasih sudah repot-repot kemari menjenguk Mama,” sapa Pamela.

“Tidak repot, sebenarnya kemarin mau ke sini bareng Aurora tapi ada urusan mendadak jadi tertunda,” jawab Zeta yang memang sudah mengenal baik Pamela.

“Kak Zero—apa kabar?” sapa Pamela tak berani menatap mata elang lelaki itu.

“Baik,” jawab Zero yang jauh lebih bisa mengontrol ekspresinya, bersikap tenang.

Pamela … rupanya calon istri Tirta ya.

Seharusnya Zero bahagia dengan kabar ini, bukankah itu yang dulu dia inginkan? Melihat Pamela bahagia dengan lelaki lain? Tetapi—melihat fakta itu justru membuat perasannya memburuk.

Zero mengira dirinya sudah sembuh dari penyakit mentalnya, karena selama di Belanda dia sudah tidak bersikap impulsif. Tapi saat ini, begitu melihat tangan Tirta yang merangkul pinggang Pamela pikiran untuk mengukung dan membuat Pamela menangis di bawah kendalinya muncul kembali.

“Sayang, kamu kok nggak pernah bilang kalau kenal dengan Zero? Dia ini teman aku saat SMA loh,” sela Tirta memecah keheningan.

“Aku tidak tahu kalau kalian berteman, apalagi Kak Zero lulus SMA langsung ke Belanda dan kami tidak pernah berkomunikasi lagi,” jawab Pamela memaksakan diri untuk tersenyum.

“Oalah, tadinya niat aku mau ngenalin kamu ke teman aku saat acara reunian di SMA aku. Eh, ternyata kamu sudah kenal duluan malahan,” balas Tirta terkekeh.

Pamela menundukkan kepalanya, sementara Zero memasang wajah datarnya.

Situasi macam apa ini?

Pagi ini Zero berniat untuk memuaskan diri tidur sebelum latihan sepak bolanya dimulai. Dia ingin menghemat tenaganya sebab dia tahu pelatih timnas memiliki metode pelatihan yang keras.

Sampai tiba-tiba dari luar kamar dia mendengar tangisan anak kecil sembari pintunya digedor-gedor.

“Kak Zero! Buka pintunya!”

Mau tak mau Zero memaksakan diri membuka matanya, dia berjalan malas-malasan dan membukakan pintu lalu menundukkan kepalanya untuk menatap siapa yang sudah mengusiknya pagi-pagi ini.

“Evelyn Emma … ada apa?” tanya Zero pada gadis cilik berusia 4,5 tahun itu.

“Kak Vicenzo menghabiskan donat aku yang rasa strawberry!” adu Evelyn sambil nangis.

“Jangan nangis, tinggal suruh Kak Vicenzo membelikan yang baru,” bujuk Zero.

“Nggak mau, pengennya sama Kak Zero saja,” rengek Evelyn.

Dulu ada Aurora—adik pertamanya yang begitu manja dan suka merecokinya. Setelah Aurora menikah dan ikut suaminya muncul satu lagi versi kemasan sachet yang tak kalah manjanya.

Tak lama kemudian Vicenzo muncul, tertawa lirih seolah tidak berdosa.

“Lo yang bikin ulah, kenapa jadinya gue yang harus tanggung jawab?” sengit Zero menatap tajam pada adik lelakinya.

“Gue udah nawarin, tapi dianya nggak mau. Pengennya sama Kak Zero katanya,” jawab Vicenzo dengan santainya.

“Yasudah, Kak Zero mandi dan siap-siap dulu. Evelyn tunggu di luar ya?” bujuk Zero mengalah.

“Hore!” teriak gadis cilik itu sangat bahagia. Lalu saat bertatapan dengan Vicenzo langsung menjulurkan lidahnya. “Kak Vicenzo jelek!”

“Nyenyenyenyenye,” balas Vicenzo tak mau kalah.

Zero hanya menarik napas melihat tingkah kedua adiknya. Apalagi Vicenzo yang saat ini sudah kelas 3 SMA tapi setiap dekat dengan Evelyn tidak ada sikap dewasa sama sekali.

Zero pun bergegas untuk mandi, setelah siap diapun segera keluar dari kamar dan menemui keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan.

“Pagi semua,” sapa Zero.

“Pagi."

“Kok sudah rapi, mau kemana?” sela Syadeva.

“Nganterin Evelyn beli donat, Dad,” jawab Zero datar.

Sontak Syadeva langsung melirik ke putra ketiganya, memberikan lirikan yang tajam.” Kamu pasti isengin adik kamu lagi ya? Udah besar beli sendiri kalau pengen, kaya nggak punya duit aja!” tegur Syadeva, pasalnya hal seperti ini terjadi hampir tiap hari.

“Hehe … maaf,” cicit Vicenzo terkekeh gemas menatap adik perempuannya.

“Nggak mau maafin, Kak Vicenzo jahat!” sergah Evelyn memalingkan wajahnya.

“Cih, yakin ngatain Kak Vicenzo jahat? Padahal siang ini rencananya mau ngajakin ke Timezone. Tapi kayaknya nggak jadi deh,” goda Vicenzo.

“Ah mau—sama Kak Aurora juga kan?” pekik Evelyn langsung berubah drastis sikapnya.

“Hm.”

“Kok Hem? Iya tidak?”sela Evelyn manja.

“Iya, Cantik,” balas Vicenzo gemas sekali.

“Kak Zero ikut, ya?” bujuk Evelyn pada Zero.

“Tidak, Kak Zero nggak suka ke tempat begituan. Nanti beli donatnya sekalian sama Kak Aurora dan Kak Vicenzo saja ya?” sela Zero.

Evelyn nampak berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Dan Zero tersenyum lega, saat ini lelaki itu memang tengah malas untuk kemana-mana dan lebih ingin memilih istirahat total.

“Zero, bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?” sapa Zeta.

“Lumayan, Mom,” jawab Zero.

“Oh iya, kamu ingat dengan teman masa kecil kamu? Pamela—katanya mamanya sakit. Mama belum jenguk dia, apa kamu mau ikut?” tanya Zeta.

Deg!

Pamela …

Setelah 5 tahun berlalu, akhirnya dia mendengar satu nama keramat itu disebut. Yang mendengar adalah telinga, tapi yang bereaksi adalah dadanya—bergemuruh hebat.

“Zero, ditanya kok malah bengong?” sela Zeta.

“Iya, Mom. Emh, tapi kenapa tidak berangkat bareng Aurora saja?” tanya Zero balik.

“Kemarin dia sudah bersama suaminya.”

“Oh oke”

Bagaimanapun juga dia memiliki hutang budi pada Hasna. Tetangga baik yang pernah memberinya makan kala kelaparan. Jika mengingat semua itu, ada perasaan sesal juga, akan kesalahannya di masa lalu.

Usai sarapan pagi, nampak Evelyn Emma yang sudah menarik-narik Vicenzo untuk segera berangkat ke Timezone. Sementara Syadeva yang terburu-buru mau ada rapat pagi. Sekalipun Zero selama ini kuliah di Belanda, tapi setiap hari orang rumah selalu video call dan enam bulan sekali liburan ke sana. Itulah kenapa, Zero tidak merasa asing dan tetap dekat dengan adik-adiknya.

***

Zero merasa sedikit enggan untuk bertemu dengan Pamela, tapi dia juga merasa rindu dan penasaran kira-kira bagaimana kabar sahabat kecilnya itu.

Tetapi sesampainya di sana, Zero malah syok dengan adanya Tirta yang nampak begitu dekat Hasna.

“Selamat pagi, bagaimana kabarnya, apakah sudah baikan?” sapa Zeta ramah sambil meletakkan bingkisan oleh-oleh ke meja.

“Selamat pagi, wah mommy nya Aurora ya? Sudah mulai baikan, sore ini sudah diizinkan untuk pulang,” balas Hasna, tapi beberapa saat kemudian mata Hasna melirik ke arah Zero.

“Pagi, Tante. Semoga lekas sembuh,” timpal Zero canggung.

“Iya, terima kasih. Kamu—Nak Zero?”

“Iya, Tante,” jawab Zero yang masih ngelag, apalagi dengan adanya Tirta di sini. Karena setahu dia Pamela tidak punya saudara lain.

“Zero, gue nggak nyangka Lo bisa kenal dengan Tante Hasna,” sapa Tirta ramah.

“I—iya, gue dulu saat kecil tetangga sebelah rumah dengan Tante Hasna,” jawab Zero.

“Wah, jadi Lo kenal dengan calon istri gue dong? Dunia ini sempit sekali!” pekik Tirta yang seperti petir yang menyambar ke telinga Zero.

Tiba-tiba Pamela yang baru membelikan makanan sangat syok dengan kehadiran Zero, saking kagetnya sampai bungkusan yang dipegangnya jatuh.

“Sayang, kamu tidak apa-apa?” ucap Tirta langsung melesat menunduk, mengecek kaki Pamela lalu mengambil bungkusan makanan tersebut.

“Ti—tidak apa-apa,” jawab Pamela gemetar ketakutan.

Zero hanya menatap pemandangan itu, gadis mungil yang dulu lugu dan polos kini nampak semakin dewasa dan tambah cantik.

“Pamela, mari sini sapa Mommy nya Aurora dan Zero—teman kecil kamu,” timpal Hasna.

“Hallo, Tante Zeta. Terima kasih sudah repot-repot kemari menjenguk Mama,” sapa Pamela.

“Tidak repot, sebenarnya kemarin mau ke sini bareng Aurora tapi ada urusan mendadak jadi tertunda,” jawab Zeta yang memang sudah mengenal baik Pamela.

“Kak Zero—apa kabar?” sapa Pamela tak berani menatap mata elang lelaki itu.

“Baik,” jawab Zero yang jauh lebih bisa mengontrol ekspresinya, bersikap tenang.

Pamela … rupanya calon istri Tirta ya.

Seharusnya Zero bahagia dengan kabar ini, bukankah itu yang dulu dia inginkan? Melihat Pamela bahagia dengan lelaki lain? Tetapi—melihat fakta itu justru membuat perasannya memburuk.

Zero mengira dirinya sudah sembuh dari penyakit mentalnya, karena selama di Belanda dia sudah tidak bersikap impulsif. Tapi saat ini, begitu melihat tangan Tirta yang merangkul pinggang Pamela pikiran untuk mengukung dan membuat Pamela menangis di bawah kendalinya muncul kembali.

“Sayang, kamu kok nggak pernah bilang kalau kenal dengan Zero? Dia ini teman aku saat SMA loh,” sela Tirta memecah keheningan.

“Aku tidak tahu kalau kalian berteman, apalagi Kak Zero lulus SMA langsung ke Belanda dan kami tidak pernah berkomunikasi lagi,” jawab Pamela memaksakan diri untuk tersenyum.

“Oalah, tadinya niat aku mau ngenalin kamu ke teman aku saat acara reunian di SMA aku. Eh, ternyata kamu sudah kenal duluan malahan,” balas Tirta terkekeh.

Pamela menundukkan kepalanya, sementara Zero memasang wajah datarnya.

Situasi macam apa ini?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FFV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FFV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Mencari nafkah tak semudah kisah fiksi. Nesta, gadis lulusan SMA bertubuh mungil, harus berjuang keras demi menyambung hidup. Keajaiban datang saat PT Taruna menerimanya sebagai office girl. Namun, nasib sial menimpa ketika bos angkuh memecatnya di hari pertama kerja. Nesta tak menyerah begitu saja karena ia sangat membutuhkan uang halal. Strategi gila apa yang akan ia lancarkan agar bisa bertahan di sana dan menghadapi sang atasan yang sombong?
Sampul Novel BAYAR dengan Tubuhmu
9.6
Celina terpuruk dalam kehancuran setelah dikhianati oleh tunangannya sendiri. Tak hanya difitnah, ia bahkan dijadikan jaminan hutang demi melindungi saudara laki-lakinya. Kini, ia terpaksa menyerahkan dirinya kepada Mikhael, seorang pria berkuasa yang dingin. Namun, saat Celina datang dengan wajah sembab penuh duka, Mikhael justru mencemooh kondisinya yang menyedihkan. Di tengah tekanan keji ini, Celina harus bertahan melayani pria yang terang-terangan menghinanya.
Sampul Novel Belenggu Mantan
9.6
Kehidupan Diandra berubah drastis saat ia terpaksa terikat dalam pernikahan dengan Dave Airlangga, sang pewaris tunggal Aerles Corporation. Sayangnya, hubungan mereka hancur akibat kesalahpahaman fatal yang berujung pada perceraian. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ego yang terluka, mampukah keduanya memperbaiki keretakan tersebut? Simak perjuangan mereka untuk membangun kembali puing-puing rumah tangga yang sempat runtuh dalam kisah penuh emosi ini.
Sampul Novel Cinta yang Telah Kandas
7.8
Setelah lima tahun pernikahan yang hancur, Fira harus menghadapi kenyataan pahit. Demi melindungi anak dari wanita simpanannya, Lucia, Nathan tega memaksa Fira menggugurkan kandungannya. Tak cukup sampai di situ, Nathan bersekongkol dengan dewan direksi untuk melengserkan Fira dari jabatan wakil direktur. Di tengah kesombongan Nathan yang ingin menggantikannya dengan Lucia, Fira tidak tinggal diam. Dengan penuh keberanian, Fira membalikkan keadaan dan memaksa Lucia mengungkap sekutu aslinya.
Sampul Novel Habis Manis Sepah Dibuang
8.8
Setelah dipermalukan oleh seorang klien yang menyiramnya dengan air, Jocelyn tidak mendapatkan pembelaan dari Michael. Pria itu justru memeluk asistennya dengan mesra dan mencaci ketidakmampuan Jocelyn di depan umum, bahkan mengancam akan memecatnya. Merasa muak dengan perlakuan tidak adil tersebut, Jocelyn menyeka wajahnya, menenggak segelas alkohol, lalu membalas dengan menyiramkan minuman keras itu tepat ke wajah Michael sebelum akhirnya menyatakan mundur dari perusahaan.
Sampul Novel Hati Yang Tersakiti
8.6
Linda selalu diabaikan oleh ayah dan abangnya demi kakak perempuannya, Sanny. Saat pemimpin mafia Fendi Sucipto hadir melindunginya dan menikahinya dalam pesta megah, Linda mengira telah menemukan cinta sejati. Namun, rahasia kelam terungkap saat Linda yang hamil tujuh bulan hampir tewas dalam kebakaran di pesta ulang tahun ayahnya. Di rumah sakit, Linda mendengar Fendi mengakui bahwa pernikahan mereka hanyalah rencana demi mendapatkan sumsum tulang belakang bayinya untuk menyembuhkan leukemia Sanny. Menyadari dirinya hanya dimanfaatkan oleh semua orang, Linda memilih pergi.