
Cinta Disisa Serpihan Hati
Bab 2
Dania membeli beberapa peralatan medis dan obat-obatan. Dia kembali menuju keruko. Perlahan dia membuka pintu rolling, namun tak ada respon dari pria itu. Dia menghampiri pria itu yang mulai menggigil. Tubuhnya mulai terasa panas.
"Hai....Mas bangun, kamu masih bisa mendengarkan aku kan," ucap Dania.
Pria itu hanya mampu menatap Dania dan sedikit menganggukan kepalanya. Tubuhnya sudah terlihat lemas. Dania tak tega melihatnya.
Perlahan Dania mulai membersihkan lukanya. Dia mulai memasukkan cairan infus ke tangan pria itu. Dania melihat luka sobek dikepalanya dan mulai membersihkan lukanya.
"Ini akan sedikit sakit, kamu tahan ya Mas," ucap Dania.
Dania mulai menjahit luka dikepalanya dengan penuh hati-hati. Pria itu tersenyum dan menatap Dania.
"Jangan menatapku seperti itu. ingat yah Mas, besok kamu harus pergi dari sini. Aku tak mau ada maling di rukoku, atau ku telepon saja polisi biar mereka yang membawamu kerumah sakit," ucap Dania.
"Aku bukan maling. Jika kamu ingin telepon polisi silahkan saja, mungkin besok kamu akan mendengar berita orang meninggal dikoran. Namaku Ilham bukan maling," jawab pria itu.
Dania yang merasa kesal, akhirnya membersihkan lukanya dengan kasar.
Ahhhhhhhh....... pelan donk, teriak Ilham.
"Sudah selesai Mas Maling, istirahat saja disini. Jika nanti kamu demam, sebaiknya kamu kerumah sakit saja atau kekantor polisi menyerahkan diri. Itu kunci cadangan rukonya, Aku pulang dulu besok pagi aku akan kesini." ucap Dania sambil berjalan keluar dan mengunci rukonya dari luar.
Beruntung Dania masih bisa mendapatkan ojek online meskipun sudah hampir jam sepuluh malam. Sesampainya di panti Dania segera beristirahat dikamarnya.
Semalaman Dania tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Ilham, pria tak dikenalnya yang sekarang ada didalam ruko miliknya..
Hingga tak terasa kumandang adzan subuh terdengar begitu merdu. Dania segera mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai sholat Dia langsung berangkat menuju ke rukonya.
Kali ini Dania berangkat dengan menggunakan sepeda, karena ini masih terlalu pagi belum ada ojek dan angkot yang lewat.
Sesampainya diruko Dania segera mengecek kondisi Ilham yang sekarang tengah tertidur lelap.
Dania menyentuh dahi Ilham untuk memastikan kondisinya. Namun Ilham sungguh kaget dan spontan memegang tangan Dania dengan begitu erat.
Ilham menatap Dania dan mulai tersenyum. Ya Allah cantik sekali wanita ini, gumam Ilham.
"Lepaskan tanganku Mas Maling," ucap Dania.
"Berapa kali Aku bilang, Aku bukan maling," jawab Mas Ilham.
"Terserah kamu lah Mas,"
"Tunggu.... apa kamu dokter atau perawat. Mengapa kamu bisa merawatku dengan baik?"
"Aku hanya pedagang jus Mas."
"Mana mungkin? kamu terlihat sangat pandai."
"Dulu sempat, masuk di kedokteran namun karena kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan, akhirnya Aku memutuskan untuk berhenti kuliah karena aku tak mampu membayarnya. Ah sudahlah...... Kamu pergi saja dari sini Mas, Aku mau ke pasar."
Dania segera beranjak pergi meninggalkan Ilham.
Sepulangnya dari pasar Dania membeli beberapa makanan untuk sarapan. Dia juga mulai membuka kedainya. Ilham sudah terlihat sedikit baikan, Dania juga sudah melepaskan infus yang menempel ditangan Ilham.
Dania mulai mengecat dan melukis dibeberapa bagian rukonya. Sementara itu Ilham yang masih berada diruko terus menatap Dania. Dia merasa kagum dengan gadis cantik didepannya.
Kamu cantik, baik pula, gumam Ilham dalam hatinya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu Mas Maling. Sudah cepat habiskan makananmu lalu pergilah, orang yang mengejar kamu juga sudah tak ada," ucap Dania.
"Tubuhku masih belum pulih, bolehkah sehari lagi aku menginap disini. Ini Aku ada beberapa uang untuk biaya sewa," jawab Ilham.
"Aku tidak mau uang haram Mas. Ini kaos gantilah, bajumu sudah terlalu banyak terkena darah."
Ilham akhirnya memutuskan pergi dari sini. Dia mulai berpamitan kepada Dania.
"Terimakasih kamu sudah menolongku. Aku pergi Mbak.... siapa nama kamu??"
"Dania....."
Ilham mulai berjalan dengan sedikit terpincang-pincang, namun saat baru didepan pintu, Dia tiba-tiba kembali lagi masuk kedalam.
"Hai Mas..... kenapa kamu kembali lagi," teriak Dania.
Dania melihat beberapa Pria bertubuh kekar kemaren masih berkeliaran didepan rukonya.
Dia akhirnya memperbolehkan Ilham untuk beristirahat lagi dirukonya.
Beberapa pembeli sudah mulai rame membeli jus dan salad buahnya. Dania mulai kwalahan hingga membuat buah untuk salad habis.
Ilham tiba-tiba datang dan mulai menawarkan bantuan. Ilham mencoba menelpon seseorang. Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba ada seorang ojek online datang dan membawa beberapa buah.
Dania sungguh kaget karena dia tak merasa memesan buah-buah segar itu. Tiba-tiba Ilham berteriak sangat keras.
"Itu Aku yang pesan. Terimalah, buah kamu kan habis."
Dania tersenyum tersipu malu.
Alhamdulillah.... lumayan semoga belinya tidak pakai uang haram, ini bisa untuk stok besok, gumam Dania.
Sudah dua hari buka, kedai jus dan salad buah Dania memang selalu laris. Hari ini Dania berjualan hanya sampai sore karena hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Dania masih membuka kedainya karena dia takut jika harus berduaan dengan Ilham.
Ditengah lamunannya tiba-tiba beberapa polisi datang.
"Sore Mbak, Apa ada Mas Ilham disini," ucap Pak Polisi sambil menunjukan foto Ilham.
Dania terperangah melihat beberapa polisi didepannya. Hingga Pak polisi mengulang pertanyaannya.
"Saya tidak tahu apa-apa Pak, saya hanya menolongnya. Dia ada didalam. Silahkan bapak tangkap saja Dia," ucap Dania dengan tubuh yang mulai gemetar.
Beberapa Polisi itu tersenyum dan mulai masuk kedalam ruko menghampiri Ilham.
Ilham akhirnya keluar, Pak Polisi memeluknya dengan erat. Dania merasa mulai bingung dengan para pria didepannya.
"Mbak, terima kasih sudah menolong keponakan saya. Dia memang sedang berada dalam masalah keluarga tapi dia bukan buronan. Sebaiknya kamu disini dulu, hingga Om berhasil menemukan bukti kejahatan mereka. Bolehkan Mbak?," ucap Pak Polisi.
Dania tersenyum malu karena sudah menganggap Ilham seorang maling.
"Tapi Pak, saya takut jika warga tahu saya tinggal dengan seorang laki-laki yang bukan muhrimnya," ucap Dania.
"Jika begitu, besok pagi Om akan carikan kamu tempat tinggal. Bolehkan Nak, jika Ilham disini semalam saja karena setelah ini saya ada tugas lagi."
Dania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tak berani menolak keinginan Pak Polisi.
Setelah Pak Polisi Pulang Dania kembali duduk menatap hujan yang turun.
Perutnya mulai keroncongan karena seharian dia lupa makan, kedainya begitu ramai pembeli. Dania masih menikmati derasnya hujan yang turun, suhu udara yang dingin menyejukkan hatinya. Hujan kali ini membuat Dania tak bisa pulang, karena jalanan juga sudah menjadi sepi.
"Dania..... kenapa kamu tidak masuk saja, diluar begitu dingin," teriak Ilham.
"Tidak, Aku akan menunggu hingga hujan Redah," jawab Dania.
"Masuklah biar Aku saja yang diluar."
Ilham berjalan terpincang-pincang menghampiri Dania. Dia menyuruhnya untuk masuk namun Dania tetap menolaknya.
"Istirahatlah dikamar, dan kunci pintunya jika kamu takut denganku. Aku yang akan menutup pintu rukonya."
Dania menatap Ilham dengan sangat tajam, Dia memang sebal dengan Ilham karena seharusnya dia ikut saja pulang dengan Om nya.
Dania akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Mas, minumlah obat yang ku belikan kemarin agar lukamu lekas kering," ucap Dania.
Ilham Tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Kamu baik, sudah mau menolongku. beruntung sekali jika bisa memiliki kamu, terima kasih Dania, gumam Ilham dalam hatinya.
Hujan masih turun begitu derasnya, tak lama Ilham mulai menutup rukonya. Sudah dua hari ini Dia beristirahat dengan beralaskan tikar.
Ilham tersenyum sambil menatap langit-langit ruko yang masih penuh dengan Debu.
Ya Allah ini pertama kalinya, Aku tidur hanya dengan beralaskan tikar, namun Aku tetap merasa bahagia. Rasanya enggan sekali Aku pergi dari ruko ini. Jika orang suruhan Mama tiriku tak mengejar ku, mungkin aku tak akan pernah bertemu dengan Dania, gumam Ilham dalam hatinya.
Ilham mulai memejamkan matanya dengan perasaan bahagia, meskipun besok pagi Dia harus segera pergi dari ruko ini.
Sementara itu Dania yang sedang berada dikamarnya, masih sibuk menatap identitas milik Ilham. Dia tak bisa tidur karena ada Ilham yang berada satu atap dengannya.
Dania mulai mencari informasi mengenai Ilham dimedsos. Setelah mencari beberapa nama Ilham, Dania akhirnya menemukan Ilham yang saat ini tinggal bersamanya.
Dania melihat profilnya namun Dia sedikit tak percaya karena Ilham yang berada dimedsos lebih tampan dan begitu banyak pria tampan dan wanita cantik yang berada didekatnya. Dia juga sering memamerkan fotonya disebuah kantor.
Siapa sebenarnya kamu Mas?, gumam Dania.
Anda Mungkin Juga Suka





