
Cinta Disisa Serpihan Hati
Bab 3
Setelah sholat subuh Dania segera berangkat kepasar, sementara Ilham sedang tertidur pulas. Dania berjalan keluar dan membuka penuh pintu rollingnya namun dia sungguh kaget ketika sudah ada beberapa orang diluar.
Beberapa warga mencoba mengusir Dania dan membuka penuh pintu rollingnya. Namun sebagian lainnya menunggu penjelasan darinya. Dania masih bertanya-tanya dengan perlakuan Beberapa warga yang tiba-tiba datang ke ruko miliknya.
Beberapa warga masuk dan akhirnya menemukan Mas Ilham. Mereka akhirnya membawa Mas Ilham keluar.
"Sudah nikahkan saja mereka," celetuk salah satu warga.
"Mbak, Mas ini siapa?" tanya Pak RT
"Saya juga tidak tahu Pak, saya hanya menolongnya karena kemaren ditubuhnya penuh luka," jawab Dania.
"Kan bisa dibawa kerumah sakit, daripada harus berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya."
"Sudah Pak RT, nikahkan saja. Itu hanya alasan saja."
"Tidak..... saya tidak mau menikah dengan Dia." ucap Dania sambil menangis.
"Kita tidak berbuat zina disini Pak, Dania menolong saya," Ucap Ilham.
"Sudah Pak nikahkan saja daripada meresahkan warga disini."
"Sudahlah Pak, Dania tidak salah. Saya yang salah. Saya bersedia menikah dengan Dania."
"Hai Mas, kamu sudah gila yah. Tidak saya tidak mau Pak."
Warga dan Pak RT akhirnya tetap membawa Dania ke Masjid untuk bertemu dengan Pak Haji, imam Masjid. Warga benar-benar akan menikahkan mereka.
Dania sudah menjelaskan kebenaran didepan Pak Haji namun Mas Ilham yang menyetujui pernikahan ini akhirnya Pak Haji dan warga tetap menikahkan mereka. Dania masih tak terima, Dia mencoba menelpon Bu dehnya agar beliau bisa membantunya. Tak lama Bu deh datang, Dania mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Bu dehnya. Bu deh percaya dengan Dania namun warga yang kesal menuntut mereka untuk dinikahkan.
"Sudahlah.... Aku akan menikahimu. Anggaplah ini hanya berpura-pura. Kita kan hanya menikah secara agama jadi kapanpun kita bisa berpisah," Ucap Mas Ilham didepan Dania dan Bu dehnya.
"Astaghfirullah sudah gila kamu Mas, menyesal aku menolongmu," jawab Dania.
Bu deh, akhirnya mengiyahkan pendapat Mas Ilham. Kini Ilham dan Dania duduk bersebelahan. Dan Pak Haji sudah duduk didepan mereka dan siap menikahkan mereka.
Pak Haji sebagai wali Dania karena dia sudah yatim piatu. Sementara Pak Dehnya juga sudah meninggal dunia.
Ilham terlihat menghafal nama panjang Dania dan nama almarhum ayahnya. Setelah sepuluh menit berlatih, kini Ilham sudah siap.
Pak haji mulai membaca ijab Qabul nya. sementara wajah Dania tak terlihat begitu bahagia dengan pernikahan paksa ini. Air matanya menetes dengan sendirinya.
"Saya terima nikahnya Dania Ramadhani binti Bapak Muzaki dengan Mas kawin uang Satu juta rupiah dibayar tunai," ucap Ilham dengan lantang.
"Bagaimana Sah.....? sah......, amin."
Pak Haji dan beberapa warga lainnya mulai membacakan doa. Setelah akad nikah selesai, Pak Haji mulai memberikan beberapa wejangan kepada mempelai berdua agar mereka segera mengesahkan pernikahannya di KUA.
Dania masih tak percaya dengan pernikahan dadakan yang harus dia lakukan.
Astaghfirullah kenapa aku bisa menikah dengan cara seperti ini, gumam Dania.
Air matanya menetes, dia sudah tak sanggup menahan air matanya lagi. Ilham mulai menc*** kening Dania. Ilham mengabadikan pernikahan ini dengan handphonenya.
Beberapa saat setelah acara selesai Pak Polisi datang. Beliau mulai mempertanyakan kejadian ini.
Pak RT menjelaskan kejadian sebenarnya namun Om Heru mulai emosi karena memang Ilham tinggal diruko atas permintaannya.
Ilham mulai meredam emosi Om Heru. Beliau akhirnya bisa menerima kenyataan ini. Dania berlari kembali keruko, Ilham yang mengetahui Dania berlari akhirnya mulai mengejarnya. Sementara itu Bu deh dan Om Heru sedang mengobrol bersama. Mereka sedang membahas pernikahan ini dan membuat beberapa kesepakatan yang akan disampaikan kepada kedua keponakannya.
Dania masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.
"Tok... tok.... Dania keluarlah, Maafkan Aku. Jika kamu tidak menerima pernikahan ini tidak apa-apa, kita kan hanya menikah secara agama, tidak ada surat yang mengikat kita", ucap Ilham.
"Tapi Mas, secara agama pernikahan kita sah sebagai suami istri. Kita baru kenal dan akuoun tak tahu siapa kamu. Entah kamu maling, buronan atau pengedar," jawab Dania sambil menangis.
"Percayalah Aku bukan laki-laki seperti itu. Bukalah, akan aku jelaskan siapa aku kepadamu."
"Pergilah Mas, biarkan aku sendirian."
Tak lama Om Heru dan Bu deh datang menghampiri mereka. Bu deh meminta kepada Ilham agar membiarkan Dania sendiri sementara. Om Heru juga mulai mengajak Ilham untuk ikut bersamanya. Ilham sempat menolaknya, Dia tidak mau meninggalkan Dania sendirian. Namun setelah Bu deh menjelaskannya, akhirnya Ilham menyetujuinya.
Hari ini Ilham benar-benar keluar dari ruko Dania. Om Heru membawa Ilham pulang kerumahnya. Sementara Bu Deh mencoba menenangkan Dania. Sepanjang perjalanan Ilham masih memikirkan Dania. Pertemuan beberapa hari saja mampu merubah kehidupannya.
"Sudahlah Ham, kalian kan hanya menikah secara agama, tidak resmi dimata hukum. Jika kamu tinggalkan wanita itu, tak akan ada yang menuntut," Ucap Om Heru.
"Tapi Om, dihadapan Allah, Dania itu tanggung jawabku. Dia sudah menolongku, jika Dania tak merawatku mungkin Aku sudah mati," jawab Ilham.
"Apa kamu mencintai wanita itu Ham?"
Ilham terdiam dia tak tahu dengan hatinya saat ini.
Om Heru mengajak Ilham untuk tinggal dirumahnya agar Ilham bisa tetap aman. Ilham sempat menolaknya namun Om Heru menyuruh tinggal disana hingga sampai keputusan sidang ahli waris selesai.
Sesampainya dirumah Om Heru, Ilham langsung beristirahat dikamar. Pikirannya tak karuan, tubuhnya mulai terasa meriang. Dia merasa sangat bersalah dengan Dania. Dia mencoba tidur namun sangat susah sekali.
Kring.... kring..... kring.....
Dering handphone Ilham berbunyi begitu keras. Dia melihatnya, ternyata Ibu tiri Ilham yang menghubunginya.
"Assalamualaikum Nak, kamu dimana?" ucap Mama tirinya.
"Waalaikumsalam, tidak usah basa-basi Ma. Aku sudah tahu semuanya. Mama kan yang menyuruh orang untuk mencelakai Aku. Ingat Ma..... Mama tidak akan mendapatkan sedikitpun harta warisan dari Papaku."
"Ham, kamu ngomong apa Nak. Mama bukan orang yang sejahat itu."
"Sudahlah Ma, Aku sudah tahu semuanya. Aku mendengar semuanya dari orang suruhan Mama. Mas Indra dan Mama tidak akan mendapatkan apa-apa, Dia hanya saudara tiriku."
Ilham menghela nafas panjang dan menutup teleponnya. Dia membaringkan tubuhnya kembali diatas kasur. Namun tak lama dering handphonenya berbunyi lagi. Ilham langsung mengangkatnya dengan suara lantang.
"Sudahlah Ma, jangan ganggu aku lagi," ucap Ilham.
"Sayang, kamu dimana. Sudah beberapa hari Aku mencari kamu dirumah tapi tidak ada," ucap Viona mantan pacar Ilham.
"Sudah gila kamu, kemaren kamu putusin Aku tanpa sebab. sekarang bilang sayang."
"Maafkan Aku Mas, Aku menyesal. Kamu mau kan balikan sama aku?"
"Rasaku sudah mati, maaf Vi aku ingin istirahat dulu."
Ilham menutup teleponnya dan mencoba untuk beristirahat. Dia menatap langit-langit kamarnya dan mulai teringat saat dia pertama kali menginap diruko Dania yang masih penuh debu.
Ilham mulai tersenyum. Tidak, Aku tidak mungkin mencintai wanita secepat ini, gumam Ilham.
Anda Mungkin Juga Suka





