
Cinta Dibalik Dusta
Bab 2
Bab 2
Nia baru saja sampai di rumah. Dilihat keadaan rumah masih sepi, sepertinya Arvan—suaminya belum pulang. Nia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya itu. Sudah jam lima sore, kok tumben sekali suaminya itu belum pulang?
“Apa Mas Arvan terjebak macet ya?” gumam Nia.
Nia pun segera masuk ke dalam rumah. Ia langsung berlalu menuju kamar. Badannya terasa sangat lengket, Nia pun memutuskan untuk memberikan tubuhnya terlebih dahulu.
Setengah jam kemudian, Nia sudah selesai. Ia sudah berganti pakaian. Nia duduk di tepi ranjangnya itu, lalu mengambil ponselnya.
“Sayang maaf aku pulang telat, ada perkejaan mendadak, aku lembur dan kemungkinan pulang malam.”
Nia membaca pesan dari suaminya itu.
“Pantas saja belum pulang, ternyata ada lembur. Tumben sekali?” gumam Nia.
Nia pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur tersebut. Hari ini cukup lelah rasanya.
Tapi tiba-tiba saja Nia teringat dengan kejadian tadi siang, dimana wanita yang bernama Ayu itu tidak sengaja menabraknya.
Nia sempat melihat layar ponsel Ayu, memang Ayu saat itu tengah menelepon seseorang sepertinya. Dan yang membuat Nia penasaran adalah, kenapa Poto profil orang yang Ayu telepon itu seperti tidak asing bagi Nia.
“Kenapa Poto profilnya mirip sekali dengan Mas Arvan? Apa aku salah lihat? Atau hanya mirip saja?” gumam Ayu bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Tadi juga Mbak Ayu bilang dia lagi telepon suaminya. Ah tidak mungkin itu Mas Arvan! Aku pasti salah liat saja!” Nia mencoba menepis semua pikiran buruknya itu. Nia juga tidak mau bersu'udzon. Mungkin hanya mirip saja, dan tidak mungkin suaminya Ayu itu Arvan—suaminya.
Tidak mungkin! Nia kenal siapa Arvan. Selama menjalin rumah tangga dengan suaminya itu, Nia sama sekali tidak pernah mencium sikap Arvan yang mencurigakan atau bagaimana. Arvan laki-laki yang setia, tidak mungkin dia punya wanita lain di luar sana. Lagian Ayu sudah mempunyai anak pula, sudah besar pula anaknya, Nia tidak sempat melihat data anaknya Ayu itu sekilas, usianya saja sudah 10 tahun.
Nia menghelai napasnya, entah mengapa perasaan kini menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang tidak bisa Nia jelaskan.
Lalu sebuah pesan masuk kembali ke ponselnya itu.
Nomer baru, tidak ada Poto profilnya juga pula.
“Mbak Nia, ini aku Ayu. Mbak uangnya sudah saya ganti, saya sudah transfer sesuai nominal yang Mbak pinjamkan pada saya tadi. Terima kasih banyak ya Mbak, Alhamdulillah, operasi anak saya berjalan dengan lancar dan itu semua berkata Mbak, semoga kebaikan Mbak dibalas oleh yang maha kuasa.”
Nia membaca pesan tersebut. Teryata pesan tersebut dari Ayu, beberapa detik kemudian Nia mendapat notifikasi dari M-banking ada uang masuk, itu pasti dari Ayu.
“Terima kasih Mbak Ayu. Alhamdulillah kalau operasinya lancar, semoga anaknya cepat sembuh ya Mbak. Insyaallah besok kalau tidak sibuk saya akan berkunjung, saya mau lihat kondisi anak Mbak.”
“Saya benar-benar berterima kasih sekali sama Mbak Nia. Saya tunggu kedatangan Mbak Nia. Anak saya pasti senang.”
“Hehe, iya Mbak. Eh bagaimana suaminya sudah bisa dihubungi?”
“Alhamdulilah Mbak sudah. Suami saya juga sudah datang.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Mbak Nia save nomer saya ya. Saya mau berteman sama Mbak Nia, bolehkan?”
“Tentu saja Mbak, saya akan save nomer Mbak Ayu.”
“Terima kasih ya Mbak, kalau begitu saya mau nemenin anak saya lagi ya Mbak Nia. Karna suami saya gak bisa nemenin, dia masih ada kerjaan katanya.”
“Oh iya Mbak.”
Percakapan lewat pesan antara Nia dan Ayu pun terputus.
“Aneh banget suami Mbak Ayu itu! Masa anak lagi sakit habis dioperasi masih aja ngurusin kerjaan!” gumam Nia. Entah mengapa dia merasa kesal dengan suami teman barunya itu. Sepertinya menyia-nyiakan seorang anak, sikapnya sangat keterlaluan menurut Nia.
Nia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya pikiran buruk tadi yang memenuhi isi kepalanya itu, semua salah. Jika Arvan benar suaminya Ayu, Arvan tidak akan mungkin setega itu. Nia kenal siapa Arvan, tidak mungkin Arvan bersikap seperti itu.
Lagian tidak mungkin juga suaminya itu, suami Ayu juga!
Nia pun menyimpan nomer ponsel Ayu tersebut. Memberi nama kontak dengan nama wanita itu.
Namun usai menyimpannya, seketika Poto profil nomer kontak Ayu muncul. Nia membulat matanya, antar shock, tak percaya. Nia memandangi Poto tersebut dengan lekat, mengamati gambar di sana, dimana seorang laki-laki dan wanita di tengah-tengahnya ada seorang anak balita, mungkin anak balita itu anaknya ayu. Di Poto tersebut Ayu terlihat tersenyum bahagia, begitu juga laki-laki yang ada di samping Ayu.
“Mas Arvan? Apa benar ini Mas Arvan?” Nia seakan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Bagaimana bisa suaminya itu bersanding bersama Ayu dan anaknya di Poto itu?
Dan seperti Poto itu diambil sudah lama, karna anak Ayu masih bayi, seperti sedang syukur aqiqah anak tersebut. Tapi wajah laki-laki itu, suaminya Ayu itu, kenapa mirip sekali dengan Arvan—suaminya? Semuanya begitu mirip, tepatnya sama. Matanya, hidungnya bahkan senyumnya dan postur tubuhnya juga.
‘Ya Tuhan, apa maksudnya semuanya ini?’ batin Ayu.
Ayu yang merasa penasaran pun, ia mengirim pesan kembali pada Ayu.
“Mbak maaf, boleh saya tau siapa nama suami Mbak Ayu?”
Nia merasakan ada keraguan saat akan mengirim pesan tersebut pada Ayu. Tapi, Nia sangat ingin tahu. Mungkin nanti di sana Ayu akan bertanya-tanya kenapa dirinya menanyakan nama suaminya. Tapi ya sudahlah, Nia tidak bisa menahan keinginan tahuannya itu, dia juga ingin tahu kebenaran. Apa benar suaminya, suami Ayu juga.
Nia pun memutuskan untuk mengirimkan pesan tersebut pada wanita itu.
Beberapa saat kemudian Nia mendapat balasan pesan dari Ayu. Terlihat balasan pesan dari wanita itu dituliskan banyak tanda tanya.
“Ada apa ya Mbak? Kenapa emangnya?”
“Tidak apa-apa Mbak, saya cuman merasa tidak asing saja sama wajah suami Mbak Ayu itu. Maaf ya Mbak kalau saya lancang.”
Dusta Nia, membalas kembali pesan dari Ayu.
“Oh begitu. Nama suami saya Arvan, Mbak Nia. Kami sudah menikah selama sepuluh tahun.”
Deg!
Seketika detak jantung Nia teras berhenti berdetak, tangannya bergetar sampai ponselnya terjatuh. Tenggorokannya terasa tercekat. Nia tidak percaya bahwa suaminya ternyata mempunyai wanita lain.
Tiada angin tiada hujan, kenapa tiba-tiba badai menerpa rumah tangganya. Tidak ada sikap Arvan yang mencurigakan di mata Nia. Delapan tahun ini semuanya berjalan baik-baik saja, Nia tidak pernah mencium tingkah aneh dari suaminya itu.
Tapi kini, kanyataaannya harus Nia terima.
Bahwa ternyata dirinya adalah istri kedua.
Menghitung usai pernikahannya dengan Arvan, mereka baru delapan tahun membahtra rumah tangga, sedangkan Ayu berkata jika wanita itu sudah membahtra rumah tangga dengan suaminya selama sepuluhan tahun. Beda dua tahun dengan pernikahannya Nia.
“Kenapa kamu tega membohongiku selama itu Mas, bahkan sudah delapan tahun Mas. Apa aku memang sebodoh itu,” lirih Nia
Air mata kini sudah mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Apakah ini yang dinamakan Cinta dibalik Dusta?
Arvan memberikan cintanya pada Nia, seolah benar jika Nia adalah wanita satu-satunya. Tapi kenyataan? Semuanya hanya dusta, cintanya pada Nia hanya untuk menyembunyikan semua dusta yang sudah dilakukannya selama ini.
Harusakah Nia bertahan? Nia sangat mencintai Arvan, lantas bagaimana dia yang sudah lebih dahulu hidup bersama suaminya?
Anda Mungkin Juga Suka





