
Cinta Dibalik Dusta
Bab 3
Cukup lama Nia termenung di temani dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir membasahi wajah cantiknya itu. Rasanya ia masih tidak percaya. Tapi semua kenyataan, Nia tidak bisa menyangkal itu semua.
Hingga akhirnya Nia pun terlelap dengan sisa-sisa air mata yang masih membasihi pelupuk matanya serta wajahnya.
***
“Mas, apa tidak bisa kamu menginap saja di Rumah sakit temani aku dan anak kita? Nadin baru saja selesai operasi Mas, dari tadi dia terus nanyain kamu!” pinta Ayu memohon pada suaminya itu.
“Aku tidak bisa! Aku masih banyak kerjaan. Besok aku akan kembali lagi ke sini.” tolaknya sambil bergegas dari ruangan rawat tersebut.
Ayu hanya menatap nanar punggung suaminya itu, laki-laki yang sudah membangun rumah tangga bersamanya selama 10 tahun. Namun waktu yang cukup lama tidak membuat suaminya kembali bersikap seperti sejak dulu kala.
Rumah tangga yang selama ini mereka jalankan terasa hambar, bahkan sangat menyakitkan bagi Ayu.
Sikap suaminya sangat dingin, seolah tidak pernah menganggap Ayu dan Nadin—putri mereka di kehidupan suaminya itu, sering kali membuat Ayu tersiksa. Ingin rasanya ia mengakhiri pernikahannya itu, namun rasa cintanya pada sang suami, teramat dalam.
Selama 10 tahun ini, Ayu terus berusaha membuat suaminya bersikap hangat seperti dulu, tapi nyatanya sampai detik ini tidak ada hasilnya. Bahkan segala cara sudah Ayu lakukan.
‘Andai saja aku bisa mengulang waktu, mungkin kamu tidak akan seperti ini Mas, andai saja kamu katakan, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus semua kesalahanku dan kamu bersikap seperti dulu lagi, di saat kita masih menjalankan ikatan cinta, masa-masa pacaran kita. Aku rindu kamu yang dulu Mas, kamu yang selalu ada untukku, kamu yang selalu mencintaiku, kamu yang menyayangiku. Aku memang bodoh Mas, aku bodoh, sudah membuat kesalahan besar yang membuat kamu kecewa padaku,’ batin Ayu menjerit.
Sakit? Tentu saja! Perih? Jangan di tanya!
10 tahun bukan waktu yang singkat, Ayu berharap suatu hari nanti ada secercah harapan untuknya, kembali menjadi orang yang sangat berarti dalam hidup suaminya itu. Walau pun entah sampai kapan Ayu harus menunggu waktu itu.
***
Arvan baru saja sampai di rumah, jarum jam sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam. Arvan bergegas memasuki rumahnya bersama Nia—istri tercintanya itu.
Keadaan rumah sudah terlihat sepi, bahkan lampu-lampu pun sudah di matikan.
Arvan memang selalu membawa kunci cadangan rumah, jadi jika ia pulang larut seperti ini, tidak akan menganggu sang penghuni rumah.
Arvan pun bergegas menaiki anak tangga ke lantai dua. Dimana kamar ia dan istrinya berasa.
Ceklek...
Arvan membuka pintu kamar tersebut, di lihatnya Nia sudah tertidur lelap di atas ranjang mereka.
Arvan langsung berjalan menghampiri istri tercintanya itu, ia membelai rambut Nia dengan penuh cinta, lalu mendaratkan kecupan di kening wanita itu.
Tidak ada pergerakan dari Nia, seperti ia memang sudah sangat terlelap.
Arvan pun langsung bergegas ke kamar mandi, untuk memberikan tubuhnya. Sebelum ia menyusul sang istrinya tidur.
Lima belas menit berlalu, Arvan terlihat sudah menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya itu, berganti pakaian. Lalu naik ke atas ranjang berbaring di samping istrinya itu.
Melingkarkan tangannya di pinggang Nia, yang membelakanginya itu, Arvan merasakan bau harum semerbak dari rambut Nia, harum yang begitu menyegerakan dan menenangkan. Membuat Arvan selalu nyaman di berada di dekat istrinya itu.
Perlahan Arvan pun mulai memejamkan matanya, tak lama kemudian Arvan pun menyusul istrinya, masuk ke dunia mimpi mereka masing-masing.
***
Pagi harinya...
Nia terbangun, ia melihat suaminya masih terlelap di sampingnya, dengan tangan yang melingkar di pinggang Nia.
Perlahan Nia menggeser tangan suaminya itu, lali berajak bangun.
Beberapa saat Nia menatap wajah teduh suaminya yang tengah terlelap itu. Rasanya Nia tak percaya jika Arvan selama ini berdusta. Apa memang karena Nia yang terlalu mencintai Arvan sehingga ia begitu percaya sepenuhnya pada suaminya itu?
Gak sadar air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya, Nia segara menyerkanya. Setalah itu ia pun berajak menuju kamar mandi.
‘Aku harus cari tau kebenarannya, benar atau tidaknya! Mungkin saja hanya mirip. Aku harus temui Mbak Ayu nanti, sekalian jenguk anaknya juga di Rumah sakit,’ batin Nia.
Setalah selesai dengan ritual mandinya, Nia pun segara berganti pakaian.
Sebelum Nia turun kebawah, untuk menyiapkan sarapan. Ia terlebih dahulu mempersiapkan semua perlengkapan Arvan ke kantor, seperti pakaian dan yang lainnya.
Arvan memang sangat tergantung pada Nia.
Bahkan dia tidak tahu letak celana dalamnya sendiri di dalam lemari. Karna selama ini Nia selalu melayaninya dengan baik.
Arvan tidak pernah memikirkan ia akan memakai baju apa, setiap hari Nia selalu menyiapkan semuanya. Arvan hanya tinggal memakai saja. Dan tentu saja apa pun pilihan Nia Arvan pasti akan menyukainya.
Setalah semua keperluan Arvan selesai di siapkan, ia pun bergegas keluar dari kamarnya itu menuju dapur.
Di sana terlihat sudah ada Bi Tati Asisten rumah tangganya, sudah lama Bi Tati kerja bersama Nia dan juga Arvan. Sehingga mereka sudah seperti keluarga.
“Eh Non, udah bangun,” sapanya saat melihat Nia sudah berada di sana.
Nia hanya mengangguk, lalu tersenyum. Ia mulai berkutat di sana, membuat sarapan untuk dirinya dan Arvan—suaminya.
“Non, habis nangis ya? Kok matanya sembab begitu?” lanjut Bi Tati, ia yang sedari tadi memperhatikan majikannya itu.
“Ah enggak kok Bi, masa sih? Emang mataku sembab ya?” kilah Nia, malah bertanya.
“Iya Non, keliatan banget itu. Si Non kaya habis nangis berat!” jawab Bu Tati. Mereka memang sangat akrab, jadi baik Bi Tati dan Nia mereka tidak pernah sungkan.
“Ah, ketahuan deh. Iya Bi, semalam aku nangis.” ucap Nia sambil terkekeh.
“Ya ampun Non, ada masalah apa? Sini cerita sama Bibi?”
“Aku gak apa-apa kok, Bi. Aku hanya sedang sedih aja, meratapi nasib.” Nia mencoba melebarkan senyumnya. Memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
“Sabar ya Non. Mungkin belum waktunya Gusti Allah ngasih si Non sama Tuan kepercayaan. Tetep berdoa dan ikhtiar Non, insaallah, usaha tidak akan menghianati hasil,” ujar Bibi. Nia hanya mengangguk, namun ia tidak bisa menahan tangisnya.
Bibi langsung merangkul Nia, membawa ke dalam pelukannya. Nia menumpahkan segala kerisauan hatinya, menangis di pelukan Bu Tati, pelukan wanita parubaya itu terasa sangat nyaman, pelukan Bi Tati lah yang selama ini menjadi gantinya ketika Nia sedang rindu kepada Ibunya yang ada di kampung.
Bi Tati yang mendengar isakkan tangis Nia, ia tak kuasa menahan air matanya. Bi Tati menyangka jika Nia bersedih dan menangis itu karna selama ini Nia memang sangat merindukan kehadiran malaikat kecil di dalam rahimnya. Karna biasanya Nia jika bersedih dan mengeluhkan karna hal itu.
Padahal tidak! Bukan itu. Yang membuat Nia sedih dan menangis saat ini bukan hal itu. Tapi, hal lain. Tidak mungkin Nia menceritakannya pada Bi Tati. Karna Nia sendiri pun belum tahu dengan jelas, benar atau tidaknya. Bahwa Nia selama ini adalah istri kedua Arvan—suaminya.
‘Ya Tuhan, apa memang selama ini engkau belum mempercayai memiliki malaikat kecil itu, karna hal ini. Apa artinya pernikahan ini sudah di ujung tanduk?’ batin Nia.
Anda Mungkin Juga Suka





