Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku

Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku

Demi melindungi wanita pilihannya, Regan terpaksa menikahi Ella dua tahun lalu. Di mata Regan, Ella adalah sosok licik yang menjeratnya dalam pernikahan, sehingga ia bersikap dingin dan mengabaikan pengabdian tulus Ella selama sedekade. Namun, saat Ella mulai lelah dan berniat menyerah, ketakutan melanda hati Regan. Ketika nyawa Ella terancam saat mengandung anaknya, barulah Regan tersadar bahwa cinta sejatinya selama ini hanyalah untuk sang istri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dulu, hasil tes darah Ella menunjukkan hasilnya bersih dan tidak ada tanda-tanda penolakan pada penerima, sehingga dia layak menjadi donor dan bisa menyelamatkan Niken.

Sebenarnya, Ella tidak akan ragu untuk mendonorkan sumsum tulangnya pada orang asing, apa lagi adik sendiri.

Namun, sebelum dia sempat menyuarakan keputusannya, Regan telah menarik kesimpulan sendiri bahwa dia adalah wanita yang dingin dan kejam sehingga dia tidak akan sudi menyelamatkan Niken. Saking putus asanya, pria itu bahkan sampai berlutut di hadapannya dan memohon pertolongannya, sebuah pemandangan yang menghancurkan hati Ella.

Tidak pernah dalam hidupnya dia melihat Regan merendahkan diri di hadapan orang lain seperti ini.

Dia telah mengenal Regan sejak mereka masih anak-anak. Dari SD sampai SMA, mereka tidak terpisahkan. Mereka bisa dibilang kekasih masa kecil. Regan biasa berkelahi dengan anak laki-laki lain hanya untuk membelanya dan dia akan begadang sampai larut malam untuk membantu Ella mempersiapkan ujian.

Dengan naif, Ella percaya bahwa setelah bertahun-tahun berada di sisi Regan, akhirnya dia akan mendapatkan cintanya. Namun, dia salah.

Dia baru mengerti bahwa perasaan tidak pernah bisa dimenangkan oleh logika atau waktu.

Ella tidak pandai bertingkah manja seperti Niken atau mengetahui cara menyenangkan hati Regan. Meskipun peduli pada mereka berdua, cara Regan memperlakukan Niken selalu lebih hangat dan perhatian.

Pria itu pasti sangat mencintai Niken.

Pikiran itu menusuk hati Ella sehingga matanya terasa perih karena air mata yang tak terbendung.

Yang paling menyakitkan bukanlah sekadar cinta Regan pada Niken, tetapi kenyataan bahwa Regan telah menarik kesimpulan sendiri bahwa dia cukup kejam untuk membiarkan adiknya meregang nyawa. Dia merasa tidak terima dengan kesimpulan yang dangkal dan sesat itu. Karena dibutakan oleh kemarahan, dia menuntut agar Regan menikahinya.

Dia ingin menjadi istri Regan.

Meskipun pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun, dia dengan bodohnya percaya bahwa ini cukup untuk menaklukkan hati Regan. Namun, kenyataan yang tajam dan tidak kenal ampun telah menghancurkan harapan ini.

Dia telah kalah. Telak.

"Kamu masih berani menunjukkan wajahmu di sini?"

Sebuah suara yang menggigit menyadarkan Ella dari lamunannya.

Ella segera menyeka air matanya dan berbalik. Melihat Vena Sandira berdiri di belakangnya, ekspresinya langsung berubah menjadi dingin.

Vena, ibu tirinya, berusia empat puluh tahun, tetapi penampilannya tampak sepuluh tahun lebih muda. Dalam balutan pakaian desainer yang apik serta rambut yang ditata sempurna, dia tampak sangat modis dan elegan.

Ketika Ella masih berduka atas kehilangan ibunya, Vena, yang bekerja sebagai pelayan keluarga, hamil.

Ayah bayi itu adalah Kurnia.

"Jangan meneteskan air mata buaya!" bentak Vena sambil mencibir dan melewati Ella sebelum memasuki bangsal.

Menelan kekesalannya, Ella mengikuti di belakang sambil memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Ketika Niken melihat Ella, cahaya redup berkedip di matanya yang lelah. "Kak Ella," ucapnya dengan lembut dan ada sedikit kehangatan dalam suaranya.

Ella tersenyum, lalu berjalan mendekat dan menggenggam tangan Niken dengan lembut sambil berkata, "Kudengar kamu merindukanku."

Niken mengangguk dan menjawab dengan ekspresi lembut, "Aku tidak melihatmu selama tiga bulan. Aku sungguh merindukanmu."

Hati Ella terasa nyeri. Niken, dengan kepolosan dan kebaikannya, membuat segalanya jauh lebih sulit.

Bagaimana mungkin adiknya sendiri, sosok yang selama ini dia sayangi, justru menjadi penghalang antara dirinya dan pria yang dia cintai? Ketika Niken jatuh sakit, Ella telah memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamankan posisi sebagai istri Regan.

Dia mengira Niken akan membencinya karena perbuatannya itu, bahkan mungkin akan menyimpan dendam terhadap dirinya. Dalam benaknya, dia membayangkan pertemuan mereka akan terasa jauh, dingin, dan penuh kebencian. Namun, Niken masih peduli padanya seolah-olah tidak ada yang berubah.

Inilah bagian tersulit dari semuanya. Setiap kali Ella menatap adiknya, rasa bersalahnya menjadi tidak tertahankan.

"Kebetulan aku sedang rehat, jadi aku memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersamamu," ucap Ella dengan mata yang masih merah karena emosi sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

Niken membalas dengan wajah berseri-seri, "Asyik! Aku ingin kamu menjengukku setiap hari sampai aku dipulangkan, oke?"

"Tentu saja, aku akan ada di sini setiap hari," jawab Ella dengan hangat.

Di samping, Vena memutar mata ke atas dan menatap Ella dengan penuh kebencian.

Dia menahan lidah demi Niken, tetapi setiap kali dia menatap Ella, amarahnya berkobar. Dia tidak bisa melupakan bagaimana Niken tampak seperti mayat berjalan ketika Regan menikahi Ella.

Berusaha menahan kebenciannya terhadap Ella, Vena membujuk Niken untuk tidur. Saat Niken tertidur, dia menoleh ke arah Ella dan berkata dengan dingin, "Sebentar lagi, Regan akan datang ke sini untuk menemui Niken. Kalau kamu tidak mau merasa canggung, cepat angkat kaki dari ini."

Mencerna kata-kata Vena, Ella berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah melirik Niken sekali lagi, yang kini sudah tertidur lelap, dia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Tepat saat dia mencapai ambang pintu, suara Vena kembali terdengar memecah udara. "Jangan datang ke sini lagi. Setelah semua yang kamu lakukan padanya, kamu tidak pantas berada di dekat Niken."

Ella tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas.

Dia berjalan keluar dengan langkah yang terasa berat karena beban dari sebuah kebenaran yang telah lama dia pikul.

Ella menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati sebelum menjatuhkan diri ke bangku yang berada di koridor. Ketika air matanya mulai mengalir tidak terkendali, dia membenamkan wajah di antara kedua tangannya dengan tubuh gemetar.

Telah menunggu di dalam mobil terlalu lama, tumbuh rasa khawatir di dalam hati Jenny sehingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit dan memeriksa Ella. Memasuki koridor, Jenny melihat Ella, yang tampak begitu putus asa, sedang membungkuk di bangku dengan wajah terkubur di kedua telapak tangan. Namun, ketika hendak menghampiri sahabatnya, tiba-tiba dia melihat Regan keluar dari lift. Pria itu tertegun sejenak ketika melihat Ella sebelum berjalan ke arahnya.

Ella telah mengikuti Regan ke mana-mana sejak kecil, jadi dia bisa mengenali keberadaannya hanya dari suara langkah kakinya. Mendengar irama yang tidak asing itu, dia segera menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan diri, meski usahanya terasa sia-sia.

"Apa kamu datang ke sini untuk menjenguk Niken?" tanya Ella sambil menatap Regan dan memaksakan diri untuk tersenyum.

Matanya bengkak karena habis menangis dan riasan di wajahnya sudah luntur oleh air mata, sehingga dia tampak rapuh dan berantakan.

Regan menggumam dengan cuek sebelum balik bertanya, "Apa kamu sudah menjenguknya?"

"Ya," jawab Ella dengan suara lirih.

Sepertinya, ada sesuatu dalam penampilan Ella yang telah menggugah hati Regan, karena pria itu membalas dengan lembut tidak seperti biasanya, "Jangan khawatir. Niken akan segera menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Dia akan segera membaik."

"Aku tahu."

Hanya dengan kata-kata itu, Regan langsung berbalik untuk mendorong pintu bangsal Niken. Namun sebelum Regan melangkah masuk ke dalam bangsal, Ella tidak kuasa menahan diri untuk memanggilnya dan berkata, "Tolong jaga dia baik-baik."

Jika dia tidak bisa memiliki Regan, mungkin sudah waktunya melepaskan dan mengembalikan pria itu pada Niken, wanita yang benar-benar dicintainya.

Regan berhenti sejenak dengan tangan di pintu. Tanpa menoleh ke arah Ella, dia menjawab dengan suara yang dibumbui amarah yang tertahan, "Tanpa perlu kamu ingatkan, aku akan menjaganya."

Kata-katanya tajam dan setiap suku kata penuh dengan rasa jengkel. Ella tersentak.

Dia telah menandatangani surat perjanjian perceraian untuk membebaskan Regan dari pernikahan mereka yang hampa dan memberinya kesempatan untuk kembali ke Niken. Bukankah ini yang selalu diinginkan Regan?

Jadi kenapa Regan masih tampak begitu marah padanya?

Apakah pria itu begitu ingin menyingkirkannya dan membencinya?

Regan sudah masuk ke dalam bangsal, tetapi Ella tetap terpaku di bangku dengan mata terpaku pada pintu yang tertutup. Dia merasa hampa dan tersesat dalam kekosongan ini.

Jenny, yang sedari tadi menyaksikan kejadian ini dari kejauhan, tidak kuasa untuk menahannya lagi. Dia bergegas menghampiri dan menarik Ella dengan lembut agar berdiri dan menyeretnya menjauh dari bangsal rumah sakit.

Pada hari-hari berikutnya, Ella terus mengunjungi rumah sakit, tetapi dia tidak lagi masuk ke dalam bangsal Niken. Dia hanya berdiri di dekat pintu dan melihat adiknya sekilas lewat kaca.

Terkadang, dia melihat Regan mengajak Niken jalan-jalan keluar dan kedekatan mereka sangat jelas terlihat. Sementara itu, dia hanya menonton kehidupan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya dari kejauhan.

Sikap dingin Regan terhadap Ella sangat kontras dengan perhatiannya yang lembut pada Niken, di mana perbedaan ini menorehkan luka yang dalam di hati Ella dan tampaknya sulit untuk disembuhkan.

Sebulan kemudian, Niken berhasil menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Tidak ada tanda-tanda penolakan atau komplikasi, pemulihannya berjalan lancar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ella merasa sangat lega.

Dalam sebulan terakhir, Regan menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit untuk mendampingi Niken sampai sepertinya dia lupa pergi ke Kantor Catatan Sipil bersama Ella untuk menyelesaikan perceraian.

Sudah cukup menyaksikan kasih sayang Regan terhadap Niken, Ella siap untuk melupakan dan membuka lembaran baru dalam kehidupannya.

Hari ini, Ella memutuskan untuk menelepon Regan. Telepon berdering lama sekali sebelum akhirnya Regan mengangkat panggilan itu.

"Ada apa?" tanya Regan dengan suara dingin dan cuek seperti biasanya.

Ella bertanya tanpa ragu, "Kapan kita akan menyelesaikan perceraian?"

Ada jeda panjang di ujung telepon. Ketika akhirnya Regan berbicara lagi, suaranya terdengar jauh, tetapi kata-katanya membuat Ella terkejut. "Aku belum menandatangani surat perjanjian perceraian."

Jantung Ella berdebar kencang. Setelah sekian lama, Regan masih belum menandatangani surat perjanjian perceraian?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum harus menghadapi kenyataan pahit sebagai janda di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Sejak suaminya, Harjo, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis saat pulang merantau tiga tahun lalu, Widya berjuang menjalani perannya sebagai orang tua tunggal. Kini, ia mendedikasikan hidupnya demi membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Widya dalam melewati lika-liku sebagai ibu rumah tangga tanpa pendamping.
Sampul Novel Cinta Yang Terenggut
7.9
Sepuluh tahun menikah, rumah tangga Jonathan dan Theresia hancur karena depresi akibat kemandulan. Jonathan yang lelah disiksa secara fisik dan mental akhirnya menggugat cerai. Di tengah proses itu, ia jatuh hati pada Karin, sekretarisnya yang lembut dan kontras dengan sang istri. Namun, Theresia berusaha keras mempertahankan hubungan mereka. Akankah Jonathan berhasil pergi, ataukah ada niat tersembunyi di balik ketulusan Karin yang tampak naif?
Sampul Novel Gadis Tanpa Ayah
8.8
Suci didera guncangan batin hebat setelah mengungkap rahasia kelam di balik kelahirannya. Kenyataan pahit bahwa dirinya adalah buah dari tindakan pemerkosaan membuatnya hancur dan kehilangan arah. Di tengah krisis identitas tersebut, sang kekasih yang berprofesi sebagai polisi datang membawa lamaran pernikahan. Namun, luka masa lalu itu memicu keraguan besar dalam hati Suci untuk melangkah ke pelaminan dan membangun masa depan bersama pria pilihannya.
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir
9.7
Devan Atmadja dikenal sebagai suami sempurna, namun Viona harus menerima kenyataan bahwa pria itu telah mengkhianatinya tiga kali. Devan menikahi Keira Maheswari, kekasih mendiang sahabatnya, dengan alasan tanggung jawab dan aliansi kekuasaan keluarga mafia. Meski Viona berulang kali memaafkannya, pengkhianatan terakhir berupa kehamilan Keira menyadarkannya bahwa janji suaminya palsu. Viona kini memutuskan untuk pergi dan meninggalkan hubungan tanpa masa depan tersebut.
Sampul Novel Menantu Menjadi Madu
9.6
Chika mendambakan pernikahan yang abadi, namun Irsan justru menceraikannya demi menuruti keinginan sang ibu. Di tengah rasa sakit hati dan luka yang mendalam, Chika bertekad untuk membalas dendam. Namun, rencana tersebut berubah haluan saat ia justru jatuh hati pada ayah tiri dari mantan suaminya sendiri. Akankah hubungan yang rumit ini membawa kebahagiaan? Simak perjalanan cinta tak terduga yang penuh dengan gejolak emosi dan konflik ini.
Sampul Novel My Savior Is My Ex
9.5
Anitta Gladisa sedang berada dalam posisi terjepit saat berusaha melarikan diri dari ayahnya sendiri. Satu-satunya sosok yang mampu menyelamatkannya hanyalah Keanno Arkantara. Namun, Keanno adalah mantan kekasih yang pernah ia lukai hatinya di masa lalu. Kini, Anitta terpaksa memohon bantuan kepada pria tersebut. Akankah Keanno bersedia mengulurkan tangan demi keselamatan Anitta, atau dia justru memilih diam dan membiarkan Anitta berjuang sendirian?