
Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku
Bab 3
Termenung sejenak, pikiran Ella berpacu.
Kenapa Regan belum menandatangani surat perjanjian perceraian?
Mungkinkah pria itu berubah pikiran? Apakah mungkin Regan menyesal dan tidak ingin bercerai?
Merasa pikiran ini tidak masuk akal, Ella segera menepisnya.
Regan selalu ingin melepaskan diri darinya. Sekarang Niken sudah pulih dan cukup umur untuk menikah, jadi tidak ada alasan bagi pria itu untuk bertahan. Penundaan ini tidak mungkin berarti sesuatu yang lain.
"Temui aku di Kantor Catatan Sipil besok jam sembilan," ucap Ella dengan tajam tanpa memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut sebelum menutup panggilan telepon.
Malam harinya, Ella tidak dapat tidur. Dia duduk diam di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong di tengah kegelapan. Menjelang pagi, tubuhnya lelah, tetapi dia memaksakan diri untuk bergerak. Dia segera mandi, berganti pakaian, dan berdandan tipis. Tidak peduli apa pun yang terjadi hari ini, dia harus terlihat tenang meskipun hatinya hancur. Tiba di Kantor Catatan Sipil, dia menarik napas dalam-dalam dan menunggu kedatangan Regan.
Menit demi menit berganti jam, tetapi Regan tidak kunjung terlihat batang hidungnya.
Rasa gelisah membanjiri hatinya, Ella mencoba menghubungi Regan, tetapi pria itu tidak kunjung mengangkat panggilan telepon.
Merasa jengkel, Ella keluar dari Kantor Catatan Sipil dan langsung menuju Grup Juanda. Tanpa menghiraukan protes sang resepsionis, dia langsung menerobos masuk ke dalam lift dan naik ke lantai tempat kantor Regan berada.
Ketika kembali ke kantor setelah rapat, Regan mendapati Ella sedang duduk di sofa. Wajahnya pucat tetapi dilapisi dengan kejengkelan.
"Kapan kamu sampai di sini?" tanya Regan dengan santai seolah-olah dia sudah memprediksi Ella akan muncul. Dengan tenang, dia berjalan ke belakang meja kerjanya, lalu membuka sebuah berkas dan mulai memeriksanya tanpa melirik ke arah Ella sedikit pun.
"Sekitar setengah jam yang lalu," jawab Ella sambil berusaha meredam rasa jengkel.
"Kalau begitu, silakan tunggu sebentar lagi," ucap Regan dengan cuek.
Suara Regan terdengar cuek saat dia menundukkan kepala di atas tumpukan dokumennya, sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya, menegaskan bahwa wanita itu bukanlah prioritas baginya.
Merasa diabaikan, Ella dapat merasakan kemarahan membubung dalam dadanya dan bisa meluap sewaktu-waktu.
"Regan, apa maksudmu?"
Dia telah menunggu Regan di Kantor Catatan Sipil selama satu jam dan berharap mendapat penyelesaian. Sekarang, saat dia duduk berhadapan dengan Regan di kantor, pria itu masih membuatnya menunggu.
Apakah dia sebegitu tidak berarti bagi pria itu? Apakah dia kurang berharga dibandingkan dengan kertas-kertas yang sedang dipelajarinya?
Rasa jengkelnya menggelegak ke permukaan, akhirnya Ella bertanya dengan suara meninggi, "Apa yang kamu inginkan, Regan?"
Regan mendongak dengan ekspresinya tidak terbaca seperti biasanya dan berkata, "Sudah kubilang padamu untuk menunggu sebentar lagi."
Sudah tidak tahan lagi dengan sikap Regan, Ella membentak, "Aku sudah selesai menunggu! Aku ingin perceraian diselesaikan hari ini!"
"Tidak bisa."
Ella membeku dan pikirannya kosong saat kata-kata itu menghantamnya bagai sebuah tamparan.
Regan tampaknya tidak peduli dengan reaksi Ella. Dia terus menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang sebelum mengeluarkan dokumen perceraian dari laci meja dan berjalan menghampiri Ella.
Tanpa sepatah kata pun, dia mencabik-cabik surat itu tepat di hadapannya.
"Kamu tetap menjadi istriku. Bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu mencintaiku, kan? Kamu telah berjuang untuk berada di posisi ini, kan? Kalau begitu, posisi ini milikmu dan tidak ada yang bisa mengambilnya," ucap Regan dengan mata menyala-nyala penuh amarah.
Ella tidak habis pikir. Dia sudah menandatangani surat perjanjian perceraian dan kondisi Niken sudah membaik. Jadi, kenapa sekarang Regan berbuat demikian?
Selama dua tahun, Regan telah bertingkah seolah-olah sangat ingin menendang Ella keluar dari hidupnya. Sekarang, ketika kesempatan ini muncul dengan sendirinya, kenapa pria itu menolak untuk melakukannya?
"Tapi kenapa? Bukankah kamu yang ingin bercerai?" Aku mengembalikanmu pada Niken. Aku tidak akan menghalangi lagi. Kumohon, lepaskan aku," ucap Ella dengan putus asa. Dia meletakkan semua kesombongannya dan memohon pada Regan dengan rendah hati.
Dia telah berdamai dengan keputusan tersulit dalam hidupnya, yaitu mundur demi kepentingan semua orang, bahkan jika itu menghancurkan dirinya.
Ini tidaklah mudah, tetapi dia telah mempersiapkan diri untuk momen ini.
Bibir Regan melengkung membentuk senyum mengejek saat bertanya, "Melepaskanmu? Tidak sesederhana itu."
Merasa semakin jengkel, Ella bertanya, "Kenapa kamu tiba-tiba tidak mau bercerai?"
"Inilah yang Niken inginkan."
"Apa?" Ella membelalak tidak percaya dan bertanya, "Apa maksudmu, Niken menginginkan ini?"
"Dia ingin kita tetap bersama dan hidup bahagia."
Naik pitam, Ella bertanya dengan sengit, "Tetap bersama dan hidup bahagia? Apa maksudmu?"
"Dia ingin kita mempertahankan pernikahan kita," jawab Regan.
Senyum dingin di wajah Regan segera memudar dan dia kembali menunjukkan ekspresi cuek seperti biasanya.
Namun di balik permukaan, pikirannya sama sekali tidak tenang. Dia bukan barang dagangan yang bisa diserahkan bolak-balik oleh kedua wanita ini. Keputusan yang dia ambil adalah keputusannya sendiri dan tidak ada orang lain yang berhak mengambil keputusan untuknya.
Ella berusaha keras untuk memahami jalan pikiran Regan. Dia mengira Regan melakukan ini hanya demi memenuhi janjinya pada Niken, tetapi semua ini tidak masuk akal.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak ingin bersama Niken?"
Pertanyaan itu tampaknya menyentuh saraf Regan. Ketenangannya hancur, ekspresinya langsung menjadi suram. "Cepat kemasi barang-barangmu," perintahnya dengan dingin.
Ella berkedip karena bingung. Apakah Regan memintanya untuk pindah kembali ke rumahnya? Pria yang sama yang telah mengusirnya sebulan yang lalu dengan penuh tekad?
"Regan ...."
Namun, sebelum Ella dapat berkata lebih banyak lagi, mata Regan menyala-nyala dengan amarah saat menegur, "Kenapa kamu malah diam saja? Cepat pergi."
Melihat Regan seperti ini, Ella membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Dia tidak dapat mengerti apa yang tengah terjadi, tetapi dia menyadari bahwa protes apa pun hanya akan memperburuk keadaan.
Regan berbalik, lalu berjalan menuju jendela yang menyerupai dinding kaca dan menyalakan sebatang rokok. Dengan satu tangan di saku dan punggung menghadap Ella, dia menikmati pemandangan kota sambil mengisap rokok dalam-dalam. Asap mengepul di sekelilingnya dalam keheningan.
Ketika rokoknya habis, dia berbalik dan mendapati Ella sudah pergi.
Wanita itu telah menyelinap keluar diam-diam tanpa meninggalkan apa pun, kecuali secangkir kopi dingin yang setengah kosong di atas meja dan sobekan-sobekan dokumen perceraian yang berceceran di lantai.
Selama dua tahun, Regan telah menunggu momen ini, yaitu akhir dari pernikahan mereka.
Dokumen perceraian telah disusun beberapa bulan lalu oleh asistennya dan siap untuk ditandatangani yang akan memutus hubungan mereka untuk selamanya. Dia mengira saat menandatangani dokumen tersebut, dia akan merasa bebas seperti burung yang baru saja lepas dari sangkar. Namun, setelah Ella benar-benar menandatangani surat perjanjian perceraian, ada sesuatu yang menggerogoti dirinya. Entah kenapa, dia merasa kesal dan gelisah.
Apakah ini benar-benar karena Niken ingin mereka tetap bersama? Atau ada sesuatu yang lain? Regan sendiri bahkan tidak merasa yakin.
———
Angin akhir musim gugur menyelubungi Ella dengan hawa dingin yang hampir tidak dia sadari saat dia berjalan tanpa tujuan di jalanan.
Dia berjalan dengan pikiran mengembara entah ke mana sampai dia mendapati diri berdiri lagi di depan Rumah Sakit Umum Etin.
Dia tidak dapat mengingat berapa kali dia berakhir di sini karena didorong oleh keinginan untuk menemui Niken, tetapi selalu berhenti sampai di sini. Setelah berdiri di luar pintu masuk yang rasanya seperti berjam-jam sambil menyaksikan orang-orang berlalu lalang dan lalu lintas yang padat, akhirnya dia mengumpulkan cukup tekad untuk melangkah masuk dan langsung menuju Departemen Rawat Inap.
Naik lift ke lantai di mana Niken dirawat, Ella berhenti tepat di luar pintu bangsal Niken dan mengintip melalui jendela kaca seperti biasa.
Hari ini, Niken tampak sangat bersemangat dan dia menyantap makanan yang disuguhkan oleh pengasuhnya dengan lahap.
Setelah makan, sambil berbaring di atas tempat tidur dan asyik dengan ponselnya, tangan dan wajahnya diseka dengan handuk hangat oleh sang pengasuh.
Berdiri di dekat Niken, Vena terus mendesaknya untuk menyimpan ponselnya dan lebih banyak beristirahat.
Niken tersenyum lembut dan berkata, "Aku sedang menonton sinetron yang dibintangi Kak Ella, sebentar lagi selesai."
Mendengar nama Ella disebut, ekspresi wajah Vena berubah menjadi masam dan dia berkata dengan nada mencibir, "Ella lagi? Dia bahkan tidak mau mengunjungimu, tapi kamu masih saja membicarakannya."
"Dia adalah seorang aktris, jadi wajar jika dia sibuk. Begitu aku keluar dari rumah sakit, aku akan mengunjunginya. Kalau bisa, aku ingin pergi ke lokasi syuting untuk melihatnya sedang syuting," ucap Niken dengan penuh harap.
Vena mendengus jengkel dan berkata dengan tegas, "Sama sekali tidak. Kamu tidak boleh menemuinya. Kenapa kamu repot-repot menemui orang egois seperti Ella? Dia tidak peduli padamu dan bahkan mencuri pujaan hatimu. Mulai sekarang, lupakan dia. Kamu akan menikah dengan Regan setelah kamu keluar dari rumah sakit."
Seketika, kehangatan memudar dari senyum di wajah Niken. Dia menggelengkan kepala dengan pelan tetapi penuh tekad saat membalas, "Aku tidak akan menikah dengan Regan. Dia sudah menjadi milik Ella."
"Mereka akan segera bercerai. Sudah dua tahun," ucap Vena dengan tajam karena rasa jengkel yang hampir tidak terbendung.
"Aku tahu, tapi Regan belum menyebutkannya. Sepertinya ... dia tidak ingin bercerai," jawab Niken dengan suara lirih.
Kesabarannya habis, Vena menegur, "Dasar anak bodoh. Kenapa kamu selalu memikirkan orang lain kecuali dirimu sendiri? Jika dia tidak ingin menceraikan Ella, bujuk dia untuk melakukannya! Orang yang dia cintai adalah kamu, bukan Ella!"
Niken menundukkan kepala dan berkata dengan pasrah, "Bu, kesehatanku tidak stabil. Dokter bilang masih ada kemungkinan penyakitku kambuh. Dengan kondisi fisik seperti sekarang ini, aku mungkin tidak dapat menerima transplantasi sumsum tulang lagi. Kemoterapi mungkin satu-satunya pilihanku, tapi ... aku takut aku tidak akan bisa bertahan."
Merasa takut sekaligus jengkel, kemarahan Vena mereda saat dia berkata, "Dokter bilang itu hanya kemungkinan, jadi jangan sampai kamu kehilangan harapan."
Niken berbisik dengan suara sedikit bergetar, "Aku mengerti maksud Ibu. Tapi jika Regan tidak ingin bercerai, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa memaksanya untuk meninggalkan Ella. Aku tidak ingin memaksa siapa pun."
Anda Mungkin Juga Suka





