Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA DARI MASA LALU

CINTA DARI MASA LALU

Kehidupan Luwina hancur setelah ayahnya terseret korupsi. Terjebak di negeri asing tanpa harta, ia diselamatkan oleh Reyhan, pria yang mengaku sebagai kakak tirinya. Namun, kepulangannya ke tanah air justru memicu konflik baru. Luwina bertemu kembali dengan Hardin Putra Surawijaya, pria yang dulu menghancurkannya hingga hamil. Ironisnya, Hardin adalah sahabat Reyhan sekaligus suami dari Katrina, mantan kekasih kakaknya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam ini hujan baru saja reda. Aspal trotoar di sepanjang jalan Alderman Walk terlihat basah.

Seorang wanita berjalan terhuyung sambil sesekali merapatkan jaket kulitnya. Cuaca kota london di musim dingin seringkali membuatnya terserang flu. Belum lagi di saat dia harus menahan lapar setelah seharian bekerja full time di sebuah resto Nusa Dua London. Restoran khas Indonesia yang menyajikan makanan khas tanah airnya.

Biasanya dia seringkali memunguti makanan sisa dari pengunjung yang datang ke restoran tempatnya bekerja itu. Jika banyak, sebagian dia makan dan sebagian akan dia simpan untuk anaknya di rumah. Tapi hari ini restoran sedang sepi dan para pengunjung kebanyakan para pria yang jelas porsi makannya tidak sedikit. Jadi, hampir semua piring yang dia bereskan di meja hari ini seluruhnya bersih tanpa sisa.

Luwi melenguh tertahan.

Wanita itu berhenti sejenak dan duduk di tepi trotoar. Kepalanya tiba-tiba saja pusing. Perutnya keroncongan. Sejak pagi tadi dia hanya minum enam gelas air putih. Itulah sebabnya mengapa kini dia merasa tidak sanggup untuk berjalan lagi. Akhirnya Luwi memutuskan untuk beristirahat sebentar.

Dia duduk di tepi trotoar itu. Membenamkan wajahnya dalam-dalam di balik ke dua lututnya yang ditekuk. Tubuhnya semakin menggigil. Nafasnya pun terlihat berasap. Hingga setelahnya, ke dua bola mata indah milik sang wanita terpejam. Dia benar-benar lelah.

Tak lama kemudian, sebuah suara terdengar memanggil-manggil nama wanita yang terduduk di tepi trotoar itu.

"Luwi! Luwi! Bangun Luwi!"

Sayangnya, wanita bernama Luwi itu tak bergerak. Dia masih terus tertunduk dalam diam. Seperti orang yang sedang tertidur.

"Anak ini, selalu saja seperti ini. Tidur di tepi jalan," lagi-lagi suara wanita lain terdengar. Dia terus mengumpat karena kesal. Meski dalam hati, dia sebenarnya khawatir.

"Luwi, bangun! Ayo kita pulang! Luwi? Luwi?" ucap wanita bersweater coklat itu lagi.

Luwi tetap tidak merespon. Dia tetap dalam posisinya semula. Bahkan setelah Jodie menyentuh bahu sahabatnya itu. Lalu dia mengguncang pelan bahu itu, Luwi tetap tidak bangun juga. Hingga akhirnya Jodie menyadari sesuatu.

Sepertinya, Luwi pingsan.

Astaga!

Jodie mendadak panik. Dia melihat sekeliling, sepi sekali. Tak ada orang satu pun selain dirinya dan Luwi.

Hingga akhirnya mau tak mau Jodie sendiri yang harus memapah Luwi pulang. Meski dengan susah payah.

Mereka sampai di Flat milik Jodie sekitar setengah jam kemudian.

Seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahunan terlihat berlari menuju pintu begitu bel berbunyi. Dia membuka pintu itu dengan binar matanya yang hangat. Berharap malam ini dia bisa makan enak seperti kemarin malam.

"Loh Mama kenapa Tante Jodie?" tanya Gibran khawatir. Dia segera membantu Jodie memapah Luwi menuju sofa.

"Mungkin Mamamu kelelahan, Gibran. Dia hanya butuh istirahat sebentar. Kamu sudah makan?"

Gibran menggeleng dan menundukkan kepalanya. Jodie tersenyum getir. Di elusnya rambut tebal Gibran.

"Kebetulan Tante tadi beli roti didekat kampus. Mudah-mudahan sih masih enak, nih untuk kamu. Malam ini tak apakan makan roti dulu?"

Gibran mengangguk senang seraya menerima roti coklat pemberian Jodie.

"Terima kasih, Tante." ucapnya. Gibran duduk di sebelah Luwi. Sepertinya dia tampak sedih.

"Kenapa Gibran? Ayo dimakan rotinya,"

Gibran menggeleng. Dia membereskan rambut yang menutupi mata Luwi. "Wajah Mama pucat. Pasti dia juga belum makan. Gibran mau makan rotinya bersama Mama saja, Tante."

Jodie terenyuh. Gibran sungguh anak yang baik. Meski hal itu sangat bertolak belakang dengan kelakuan laki-laki biadap yang tak lain ayah kandung Gibran. Dari apa yang telah Luwi ceritakan tentang laki-laki itu padanya, Jodie bisa langsung menebak laki-laki macam apa dia. Dan jika suatu hari nanti takdir mempertemukan Jodie dengan laki-laki itu, Jodie tidak akan sungkan-sungkan untuk menampar pipi laki-laki itu berkali-kali. Bahkan kalau bisa Jodie akan membuatnya impoten sekalian. Biar dia tahu rasa.

"Roti ini kamu makan saja sendiri. Mamamu nanti biar tante buatkan bubur,"

Gibran mengangguk patuh. Diapun langsung melahap roti itu dengan cepat. Sepertinya dia sangat kelaparan.

Kehidupan Luwi memang berubah drastis semenjak satu tahun yang lalu seluruh harta bendanya hilang saat dia hendak pulang bersama Gibran ke tanah airnya. Dan semenjak itu aliran dana yang dikucurkan sang Ayah setiap bulannya otomatis terhenti. Membuat Luwi mau tak mau mencari pekerjaan sendiri. Terlebih dengan kondisi Gibran yang sudah jelas divonis mengidap kelainan jantung. Hingga mengharuskannya meminum obat secara rutin dan harga obat-obatan itu tidaklah sedikit melainkan selangit.

Itulah sebabnya Luwi seringkali memilih untuk menahan lapar daripada dia harus menggunakan uang gajinya untuk sekedar mengisi perut. Sebab baginya tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan Gibran. Luwi rela melakukan apapun demi memenuhi pengobatan Gibran. Dia tidak ingin anaknya harus berteriak menahan sakit jika harus telat minum obat. Sebab bagi Luwi hanya Gibranlah satu-satunya penyemangat hidupnya saat ini. Tak ada yang lain.

Dan yang menjadi pertanyaan di benak Luwi sampai saat ini, mengapa sang Ayah yang jelas-jelas memiliki kekuasaan selangit itu seolah melupakan dirinya dan tak sama sekali berniat mencarinya ke London setelah hampir satu tahun mereka tidak saling kontak.

Apa mungkin Ayahnya sudah benar-benar membuangnya sekarang?

Dan Luwi masih belum mendapatkan jawabannya.

*****

Kelas baru saja selesai.

Seorang wanita terlihat asyik bergumul dengan setumpukan buku-buku pengetahuan tentang Agama Islam di perpustakaan kampus.

Wanita itu terus membaca dan sesekali menulis sesuatu di atas sebuah buku bercover coklat

Akhir-akhir ini dia seringkali bermimpi aneh. Dalam mimpinya itu dia seperti di ajak terbang oleh seorang laki-laki bersayap yang wajahnya tidak dia kenal. Laki-laki itu terus menggenggam tangannya dan membawanya menembus langit dan melewati awan. Hingga pada langit ke tujuh, laki-laki itu melepaskan genggamannya dan berkata, "Semua hal baik ada di dalam hati dan pikiran manusia. Maka mendekatlah maka kamu akan mengetahui jawabannya, Allah SWT bersamamu."

Kata 'Allah SWT bersamamu' kian membuat hatinya damai. Padahal selama ini dia termasuk seorang yang taat terhadap agamanya. Jodie hampir tak pernah melewati ibadah di Gereja setiap hari minggu. Dia juga memasang beberapa patung Yesus dan Bunda Maria di Flatnya. Tapi entah mengapa Jodie tidak menemukan kedamaian di dalam hatinya setiap kali dia curhat pada Tuhannya mengenai nasib hidupnya yang kian hari kian runyam.

Hidup sendirian sejak kecil membuat Jodie terlatih dan kuat menghadapi apapun masalah dalam hidupnya. Meski dia masih memiliki seorang ayah tiri, tapi hal itu tak membuatnya merasa memiliki keluarga. Dan ada satu hal lain yang seringkali membuat hidupnya gelisah selain masalah keluarga, yaitu cinta.

Sampai detik ini Jodie masih belum menemukan sosok laki-laki yang mencintainya sepenuh hati. Bukan laki-laki yang hanya pura-pura mencintainya hanya demi mengambil keuntungan dari dirinya saja. Karena kebanyakan dari laki-laki yang selama ini menjalin hubungan dengannya adalah tipikal laki-laki haus akan sex, yang akhirnya lagi dan lagi akan pergi meninggalkannya di saat apa yang mereka inginkan telah mereka dapatkan.

Atau mungkin memang Jodie saja yang kelewat bodoh, mau-maunya dijadikan alat pemuas nafsu oleh para mantan-mantannya yang sialan itu!

Jodie menghela nafas berat. Tubuhnya dia jatuhkan ke sandaran kursi. Perutnya keroncongan.

Akhirnya dia bangkit dari duduknya, membereskan buku-bukunya lalu menaruh kembali buku-buku itu di rak perpustakaan. Wanita itu berjalan keluar dari perpustakaan kampusnya. Dia sadar sejak kemarin malam sampai siang ini Jodie belum mengisi kembali perutnya. Hanya satu gelas susu saja tadi pagi sebelum dia berangkat ke kampus. Dan hal itu jelas membuat cacing-cacing di dalam perutnya kian protes.

Jodie hendak memakan makanannya ketika seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan alis tebalnya serta senyum andalannya, tiba-tiba duduk di sampingnya. Bahkan tanpa mengatakan hai, atau permisi. Dan Jodie sudah sangat paham watak laki-laki ini.

"Aku baru saja mampir ke Flatmu. Aku ingin bertemu dengan Luwi, tapi orangnya tidak ada. Lalu kata Gibran, semalam Luwi pingsan? Benar begitu Jodie?" Laki-laki itu mulai bicara.

Mata Jodie mendelik. Untuk apa dia terus-menerus menanyakan Luwi padahal jelas-jelas Luwi itu sangat membencinya. Dasar laki-laki tidak tahu diri! Maki Jodie geram.

"Iya, sepertinya Luwi kelelahan karena bekerja," Jawab Jodie singkat. Dia malas meladeni laki-laki ini. Laki-laki psycho yang sudah mengganggu ketentraman hidup sahabatnya.

"Nanti sepulang dari kampus, kamu ikut denganku ya? Kita sekalian jemput Luwi di Resto. Sebab, jika aku yang datang sendiri, pasti Luwi tidak akan mau menemuiku. Tapi jika denganmu, setidaknya aku bisa memastikan keadaan Luwi baik-baik saja,"

Astaga! Sekarang dia mau memanfaatkan aku untuk menjadi pancingan supaya Luwi tidak menghindarinya. Enak saja! Jodie tidak akan sudi.

Jelas Jodie gerah melihat tingkah Maxton yang selama ini sangat terobsesi pada Luwi. Sementara di kampus Max itu terkenal sebagai laki-laki yang memiliki reputasi buruk. Dan hanya wanita bodoh yang mau menjalin hubungan dengannya.

"Aku masih ada urusan. Mungkin malam baru pulang. Jadi, sorry ya, tidak bisa." Jodie tersenyum tipis di akhir kalimatnya. Tipis sekali, itu pun tidak sampai satu detik. Akhirnya dia terpaksa berbohong.

"Kalau begitu, nanti malam aku akan datang lagi ke Flatmu. Aku harus bertemu dengan Luwi,"

"Terserah," Jodie mengangkat ke dua bahunya dan bangkit dari hadapan Maxton tanpa mengatakan apapun lagi.

Sementara itu, seorang laki-laki lain betubuh jangkung, tak jauh beda dengan Maxton, terlihat sedang memperhatikan Jodie dari kejauhan.

Dan saat Jodie mulai melangkah keluar dari restorant itu, Laki-laki bertubuh jangkung dan berkulit putih itupun bangkit dari duduknya. Dia mulai mengikuti langkah kaki Jodie beberapa meter di belakang.

Sampai akhirnya, Jodie berhenti di sebuah Flat kecil yang letaknya tak cukup jauh dari restorant tadi.

Seorang anak laki-laki menyambut kedatangan Jodie.

Jodie memeluk anak itu dengan sayang. Lalu mereka berdua masuk ke dalam flat itu dan menutup pintunya.

Laki-laki di seberang jalan itu masih memperhatikan keadaan sekitar. Dia mulai mengecek layar Handphonenya sambil sesekali menengok ke arah sisi kanan dan kiri jalan.

Dia hanya mencoba memastikan kembali apa alamat yang tertera di layar ponselnya saat ini adalah alamat yang sama dengan flat yang dihuni oleh wanita tadi.

Hingga setelahnya, sebuah senyuman mengembang di wajah laki-laki itu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JEZ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JEZ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA SANG MAFIA : Kembali Mencinta
9.5
Dikhianati tiga tahun lalu mengubah William Ferdinand menjadi bos mafia yang dingin dan tidak percaya cinta. Namun, kembalinya Shirley Smith, istri sah yang hanya ia nikahi di atas kertas, mulai mencairkan hatinya. William kini menjadi sangat protektif dan posesif terhadap Shirley, melarangnya berdekatan dengan pria lain. Di tengah sikap dominan William, Shirley yang tidak menyadari status pernikahan mereka justru merasa bingung dengan perubahan sikap suaminya tersebut.
Sampul Novel Fantasi Tersembunyi Bunga Kampus
8.5
Gadis ini tahu bahwa putra tetangganya sering mengintipnya secara rahasia. Alih-alih menghindar, ia justru sengaja memanggil nama pemuda itu saat sedang bermain dengan dirinya sendiri. Ketika ia datang untuk memberikan les privat dan ditahan di dalam kamar, ia sebenarnya sudah bisa menebak arah situasinya. Namun, perhitungan itu meleset saat pintu tiba-tiba terbuka. Di luar dugaan, justru kakak laki-laki pemuda itulah yang menerobos masuk dan memergoki mereka berdua pada saat yang paling krusial.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire
8.7
Hana terbangun dalam kondisi sangat terkejut saat menyadari ada sosok asing yang tidur di sisinya. Meskipun kesadarannya telah pulih sepenuhnya, ia merasa sangat bingung karena yakin dirinya belum pernah terikat dalam sebuah pernikahan. Kejadian tak terduga ini membuatnya mempertanyakan bagaimana orang asing tersebut bisa berada di ranjang yang sama dengannya. Sebuah misteri besar kini menghantui hidup Hana yang semula tenang dan sederhana.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang Miliarder
9.4
Mimpi Arabella Balqis untuk dicintai hancur saat Leonard Abraham datang membawa dendam. Leonard menyelinap ke rumahnya, namun justru memutarbalikkan fakta hingga warga memaksa mereka menikah siri akibat fitnah tersebut. Sebagai yatim piatu, Arabella terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh penderitaan. Di tengah nasib buruk yang kian mengepung, mampukah ia bertahan menghadapi kekejaman suaminya dan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia idamkan?
Sampul Novel Madu Pemberian Ipar
8.8
Kehidupan pernikahan Yanto dan Viana berubah drastis sejak kedatangan Runi. Sebagai adik ipar yang membenci Viana, Runi berniat menghancurkan rumah tangga mereka dengan menjebak Yanto bersama Feyla. Rencana licik itu berhasil hingga Yanto nekat berpoligami. Viana yang enggan dimadu memilih bercerai demi harga diri meski hatinya hancur. Saat Viana bangkit menuju kebahagiaan baru, Yanto dan mereka yang mengkhianatinya justru mulai menuai karma pahit atas perbuatan jahat mereka.
Sampul Novel Sebatas Istri Bayaran
9.5
Terdesak keinginan keluarga untuk memiliki keturunan, Anita Artemio memaksa suaminya, Julian Narendra, menikahi wanita lain. Reyna Anindira yang tergiur gaya hidup mewah menerima tawaran menjadi istri bayaran demi melahirkan anak bagi mereka. Namun, situasi berubah saat Reyna mulai jatuh hati dan menuntut posisi lebih dari sekadar kontrak. Meski Reyna ingin memiliki Julian sepenuhnya, Julian tetap teguh pada cintanya untuk Anita, memicu konflik batin yang emosional.