
CINTA DAN PENGORBANAN
Bab 3
Nezha terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhnya penuh dengan luka ringan akibat kecelakaan. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, terbayang wajah neneknya, Siti, yang terakhir kali ia lihat. Dunia seolah runtuh baginya, sepi tanpa kehadiran neneknya yang selalu menjadi tempat berlindung.
"Nenek... nenek di mana? Kenapa Nenek tinggalin aku?" rintih Nezha penuh kepedihan, air matanya mengalir tanpa henti. Suaranya serak, namun ia terus memanggil nama neneknya.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter muda masuk ke kamar, ditemani oleh dua perawat. Ia tersenyum lembut, mencoba memberikan kenyamanan.
"Pagi, cantik. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini lebih baik ya," sapa dokter itu ramah, ia mendekat ke sisi r4nj4ng. "Oiya, boleh Kakak tahu namamu siapa?"
Nezha hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku Nezha," jawabnya lirih.
"Nezha ya? Nama yang cantik. Saya Dokter Andi. Gimana perasaanmu sekarang? Ada yang sakit?" tanyanya dengan nada ramah, sambil memeriksa kondisi fisiknya.
Namun, tiba-tiba Nezha menangis lagi, tak menggubris pertanyaan sang dokter. "Nenek aku... Nenek nggak boleh pergi! Aku mau sama Nenek!" ucapnya dengan isak tangis yang membuat suasana kamar terasa semakin pilu.
Dokter itu menatap Nezha dengan penuh simpati, lalu berjongkok agar matanya sejajar dengan Nezha. "Adik Nezha, Saya tahu ini berat, tapi dokter dan kakak-kakak di sini akan membantu. Kalau kamu sedih, nggak apa-apa. Nangis itu wajar. Tapi kamu juga harus kuat ya, supaya nenek kamu bangga lihat kamu."
Salah satu perawat yang berdiri di dekat ranjang Nezha mencoba menenangkan. "Adik Nezha, nggak usah takut. Kami semua di sini sayang sama kamu. Kalau kamu lapar atau haus, bilang ya. Kami akan jagain kamu."
Tangis Nezha perlahan mereda, meski matanya tetap basah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu memalingkan wajah, seolah enggan menerima kenyataan yang begitu pahit.
----
Beberapa jam berlalu, kondisi Nezha sudah mulai tenang. Saat seorang wanita muda dari dinas sosial memasuki kamar. Rambutnya diikat rapi, dan ia mengenakan pakaian formal yang membuatnya terlihat profesional namun tetap hangat. Ia mendekati Nezha dengan senyuman lembut.
"Pagi, cantik. Apa kabar? Aku Kak Rina. Boleh Kakak ngobrol sebentar sama kamu?" tanya wanita itu dengan nada lembut.
Nezha menoleh perlahan, matanya masih merah dan sembab. "Nama aku Nezha, Kak. Aku mau ketemu Nenek. Aku nggak mau di sini," ucapnya lirih, suara kecilnya penuh kesedihan.
Rina duduk di tepi ranjang, mencoba membuat Nezha merasa nyaman. "Adik Nezha, Kakak tahu kamu kangen sama Nenek. Tapi sekarang, kamu harus istirahat dulu ya, supaya lebih sehat. Kamu hebat sekali, lho, bisa bertahan sampai sekarang," ucapnya, menenangkan.
Nezha hanya diam, menundukkan kepala. Rina mencoba mengalihkan pembicaraan. "Nezha tinggal sama Nenek ya? Ada keluarga lain yang bisa Kakak hubungi? Bapak, Ibu, Om, Tante, atau saudara yang lain?"
Nezha terdiam beberapa saat, lalu menjawab dengan suara pelan. "Nggak ada, Kak. Nenek satu-satunya keluarga aku.
Nezha terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab lirih, suaranya bergetar menahan emosi. "Nggak ada, Kak.Nenek satu-satunya keluarga aku." Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri, tetapi suara isakannya tetap terdengar. "Kata Pak Polisi, Nenek. Nenek aku sudah nggak ada."
Rina mengangguk, merasakan dadanya sesak. Hatinya ikut teriris melihat gadis sekecil ini harus menanggung kehilangan yang begitu besar.
Dengan lembut, ia mengusap bahu Nezha, berusaha menenangkan. "Kakak ngerti, sayang. Kamu pasti sedih dan bingung sekarang." Rina menatapnya penuh kehangatan. "Untuk sementara waktu, Kakak akan bawa Nezha ke tempat yang aman, ya. Di sana ada banyak anak-anak lain sepertimu. Kakak dan teman-teman di sana akan jagain kamu."
"Tempat apa, Kak?" tanya Nezha dengan suara pelan, tatapannya dipenuhi kebingungan.
Rina tersenyum lembut, berusaha menenangkan. "Namanya panti asuhan. Di sana, Nezha bisa bermain, belajar, dan beristirahat dengan nyaman. Tapi ini cuma sementara, ya. Kakak akan cari tahu apakah masih ada keluarga lain yang bisa dihubungi. Jadi, jangan khawatir."
Nezha menunduk, mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus berkata apa. Segala yang terjadi terasa begitu cepat, membuat pikirannya kacau.
Rina mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut, memberikan sedikit kehangatan di tengah kesedihannya. "Adik yang kuat ya. Kakak percaya Nezha anak yang hebat. Semua akan baik-baik saja."
Setelah berkata demikian, Rina berdiri dan meninggalkan kamar untuk mengurus administrasi lebih lanjut.
Nezha tetap diam di tempatnya. Kebingungan masih menyelimuti hatinya. Dunia yang dulu terasa hangat bersama neneknya kini berubah menjadi asing dan hampa.
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Nezha akhirnya dibawa oleh petugas sosial ke sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Meski masih dirundung kesedihan karena kehilangan neneknya, ia mulai menerima kenyataan bahwa hidupnya kini telah berbeda.
"Nezha, ini kamar kamu. Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini bersama teman-teman baru. Kalau ada apa-apa, bilang ke Bu Asih ya," ujar petugas sosial itu dengan senyum lembut, sambil meletakkan tas kecil berisi barang-barang Nezha di sudut kamar.
Nezha mengangguk lemah. Ia melihat sekeliling kamar sederhana itu yang dipenuhi tempat tidur bertingkat. Beberapa anak sedang bermain, sementara yang lain sibuk dengan buku pelajaran. Semua terlihat ceria, dan untuk sesaat, Nezha merasa lega.
Di hari-hari pertama, kehidupan di panti asuhan terasa baik-baik saja. Nezha mulai berkenalan dengan teman-teman sebayanya, seperti Lili yang ramah dan sering mengajaknya bermain, atau Budi yang selalu membuat lelucon lucu. Ia juga merasa nyaman dengan Bu Asih, pengasuh panti yang sabar dan perhatian.
Namun, suasana itu perlahan berubah ketika hari-hari berlalu. Nezha mulai melihat sisi lain dari kehidupan di panti asuhan.
"Ayo, cepat selesai makanmu, Nezha! Anak lain juga butuh giliran!" hardik seorang kakak pengasuh sambil mengetuk meja makan.
"Tapi Kak, aku belum kenyang," ucap Nezha pelan.
"Semua di sini makan sama rata. Kalau nggak cukup, tahan aja. Jangan manja!" bentak pengasuh itu.
Nezha menunduk, menahan lapar. Ia mulai menyadari bahwa makanan di panti sering kali tidak cukup, dan anak-anak harus berebutan jika ingin makan lebih banyak.
Selain itu, ia juga harus menghadapi perlakuan keras dari beberapa anak yang lebih besar.
"Hei, Nezha! Itu boneka milik aku! Jangan sentuh!" teriak salah satu anak perempuan sambil merebut boneka dari tangan Nezha.
"Tapi tadi aku cuma mau main sebentar..." Nezha mencoba menjelaskan, tapi anak itu mendorongnya hingga ia terjatuh.
"Di sini, kalau mau barang, harus berani rebut sendiri. Kalau nggak, ya nggak usah mainan!" ucapnya dengan nada sinis sebelum pergi.
Nezha hanya bisa duduk terdiam, menahan air mata. Ia mulai merasakan betapa kerasnya hidup di panti, terutama bagi anak-anak yang tidak punya siapa-siapa.
Di malam hari, Nezha sering menangis diam-diam di tempat tidurnya. Ia memeluk bantal, berharap bisa bertemu neneknya lagi dalam mimpi. Namun, ia tahu, hidup tidak akan lagi sama seperti dulu.
Hari-hari berikutnya di panti asuhan terasa seperti mimpi buruk yang perlahan-lahan menjadi kenyataan. Meskipun awalnya ia merasa sedikit lega karena ada tempat berlindung, Nezha mulai merasakan kenyataan yang jauh lebih keras.
Setiap pagi, ia bangun di tempat tidur yang sempit, dengan selimut tipis yang hanya cukup menutupi tubuhnya separuh. Di pagi hari, suasana panti terasa riuh, suara anak-anak lainnya berlarian, bercanda, dan terkadang berteriak. Namun, bagi Nezha, kebisingan itu lebih terasa seperti teriakan ketidakadilan.
"Kenapa semuanya jadi kayak gini?" pikir Nezha dalam hati, saat melihat panti yang lebih mirip dengan tempat penampungan sementara daripada rumah yang nyaman.
Anda Mungkin Juga Suka





