Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA DAN PENGORBANAN

CINTA DAN PENGORBANAN

Vanezha Dynazka, atau Nezha, harus berjuang sendirian setelah ditinggal wafat neneknya saat sedang mencari sang ibu. Hidupnya yang kelam berubah ketika kecelakaan mempertemukannya dengan sosok Aretha. Namun, Nezha terjebak dilema memilukan antara mempertahankan perasaan atau melepaskan cintanya demi membalas budi. Saat rahasia besar mulai terkuak, mampukah ia bertahan menghadapi badai takdir yang mengancam kebahagiaannya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Siti Saudah, seorang wanita tua berusia 70 tahun, duduk di kursi plastik di sudut ruang praktik dokter. Tubuhnya yang ringkih sesekali menggigil, meski ruangan itu tidak ber-AC. Tangannya yang keriput menggenggam erat tas kecil di pangkuannya, seolah mencari pegangan di tengah rasa cemas yang menghantui.

Di hadapannya, seorang dokter muda dengan raut wajah penuh simpati tengah membaca hasil laporan medis yang baru saja dicetak.

"Bu Siti." suara dokter itu terdengar lembut, namun tegas, "hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kesehatan Ibu sudah cukup serius."

Siti menatap dokter dengan mata cemas, meski ia sudah menduga kabar buruk itu, tapi hatinya tetap tak siap. "Apa penyakit saya masih bisa disembuhkan, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter itu menarik napasnya dalam-dalam, berusaha mencari kata-kata yang paling tepat.

"Penyakit Ibu sudah memasuki tahap lanjut. Berdasarkan hasil medis, usia Ibu mungkin hanya tersisa sekitar enam bulan. Tapi, ini hanyalah prediksi medis. Hidup dan mati seseorang hanya Allah yang menentukan. Saya menyarankan agar Ibu mempersiapkan diri dan fokus menjalani sisa waktu dengan tenang."

Kata-kata itu menghantam Siti seperti badai. Ia terdiam. Wajahnya yang biasanya tegar kini tampak rapuh. Pandangannya mengarah ke jendela, menembus tirai tipis yang bergoyang lembut diterpa angin. Ia mencoba mencari ketenangan dalam pikirannya yang kalut.

"Terima kasih, Dok," ucap Siti akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan ruang praktik.

Siti berjalan dengan langkah gontai menyusuri jalanan menuju rumah kecilnya. Langit sore di desa itu berwarna jingga keemasan, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hati Siti. Tas kain usang yang digenggamnya terayun perlahan mengikuti langkahnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya tak lepas dari wajah cucunya, Vanezha, gadis yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

"Bagaimana nasibmu nanti, Nezha? Tanpa Nenek, siapa yang akan menjaga dan melindungimu?" batinnya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, membasahi pipinya yang telah dipenuhi kerut usia.

Setelah berjalan cukup jauh, Siti tiba di halaman rumahnya yang sederhana. Rumah berdinding kayu dengan pekarangan kecil yang dipenuhi bunga liar itu adalah saksi dari perjuangan hidup mereka selama ini.

Begitu masuk ke dalam, aroma nasi yang baru matang menyambutnya. Nezha, gadis mungil berusia tiga belas tahun, tampak sibuk mengaduk lauk sederhana di atas kompor kecil.

"Nenek! Sudah pulang? Aku udah masak nasi sama goreng tahu. Tapi sayurnya cuma kangkung, nggak apa-apa, kan?" ucap Nezha ceria sambil membawa piring ke meja kayu tua mereka.

Vanezha, atau yang akrab disapa Nezha, adalah gadis belia dengan tubuh mungil dan wajah cerah yang selalu memancarkan keceriaan. Rambutnya hitam legam dan diikat rapi ke belakang. Matanya berbinar, penuh semangat hidup meskipun kondisi mereka serba pas-pasan. Dalam keterbatasan, Nezha tumbuh menjadi gadis mandiri dan tak pernah mengeluh, membuat Siti semakin menyayanginya.

Siti duduk di kursi reyot di dekat meja, memperhatikan Nezha yang sibuk menyiapkan makanan. Senyumnya muncul, meski hatinya terasa berat. Pikirannya berkecamuk, bingung mencari cara untuk memastikan masa depan cucunya sebelum ajal menjemput.

"Ya Allah, aku harus bagaimana? Aku tak sanggup membayangkan Nezha hidup tanpa aku," gumamnya pelan.

Nezha yang memperhatikan wajah neneknya tampak murung, segera menghampiri. "Nenek, kenapa? Kok sedih? Nenek lagi mikirin apa sih?" tanyanya polos sambil menatap wajah Siti.

Siti terkejut, lalu cepat-cepat menghapus air matanya. Ia tak ingin membuat Nezha khawatir. "Ah, nggak apa-apa, Sayang. Nenek cuma capek saja. Sudah, yuk kita makan. Nenek sudah lapar," ujarnya sambil tersenyum, berusaha mengalihkan perhatian Nezha.

Nezha mengangguk, meski dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan neneknya. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.

Keduanya duduk bersama menikmati makanan sederhana di meja kecil itu. Suara sendok dan piring beradu menjadi latar suasana sunyi mereka. Siti sesekali memandang Nezha dengan mata yang basah.

"Aku tidak boleh menyerah. Sebelum waktuku habis, aku harus memastikan Nezha punya masa depan. Aku harus menemukan Winda," tekad Siti dalam hati.

Malam itu, setelah makan malam sederhana mereka, Siti duduk di ranjangnya, menatap kosong ke dinding kayu yang retak. Angin malam masuk melalui celah-celah jendela, mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Pikirannya dipenuhi kenangan lama dan rencana besar yang kini menggantung di benaknya.

Ia masih ingat kabar yang pernah didapatnya dari Pak Darjo, tetangganya yang sering bepergian ke jakarta. Lelaki itu pernah memberitahunya kalau ia sempat melihat Winda, putrinya, di kawasan Pasar Senen, Jakarta. Winda bekerja menjaga toko sembako di sana, tapi Pak Darjo tak tahu pasti di mana anaknya tinggal.

"Jakarta itu luas. Kalau ia ingin mencari Winda, tentu butuh waktu, tenaga, dan keberanian'" ucap Pak Darjo kala itu.

Namun, hatinya sudah bulat. Cepat atau lambat, ia harus berangkat untuk mencari keberadaan putrinya.

Siti menoleh ke arah Nezha yang terlelap di atas kasur tipisnya. Gadis itu tidur nyenyak, memeluk bantal lusuh yang selalu setia menemani malam-malamnya. Wajah mungilnya tampak damai, meski hidupnya jauh dari kemewahan.

Air mata Siti kembali mengalir. "Nezha, kamu gadis yang kuat. Nenek nggak akan biarkan kamu hidup sendirian. Nenek akan berjuang untukmu, sampai napas terakhir," bisiknya dengan suara serak.

Kenangan pahit tentang Winda kembali menghantui pikirannya. Ia teringat malam itu, bertahun-tahun lalu, ketika Winda berdiri di depan pintu dengan bayi mungil di pelukannya, air matanya yang tak berhenti mengalir.

Flasback on.

"Mak, aku nggak bisa. Aku nggak sanggup. Nezha... Nezha lebih baik tinggal sama Emak," ujar Winda dengan suara bergetar.

Siti menatapnya dengan tatapan tajam. "Winda! Kamu ini bicara apa? Nezha Itu anakmu! Bagaimana bisa kau meninggalkannya?"

"Enggak, Mak! Aku nggak mau mengasuh bayi haram ini. Kalau Emak nggak mau, aku akan serahkan dia ke panti asuhan!" bentak Winda dengan nada putus asa.

Siti tercekat. Kata-kata itu bagai cambuk yang menghujam hatinya. "Winda, apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan barusan! Anak ini darah dagingmu!"

Winda menangis tersedu-sedu. "Mak, aku malu. Tetangga-tetangga sudah mencibirku. Hidupku sudah hancur, Mak. Aku nggak sanggup hidup seperti ini. Aku mau ke Jakarta. Aku mau memulai hidup baru di sana."

"Dan kau tega meninggalkan Emak sendirian?" Suara Siti melemah.

"Maafkan aku, Mak. Aku janji, setelah sukses nanti, aku akan kembali. Tolong restui aku, Mak. Aku mohon..." Winda berlutut, memohon restu dengan air mata yang terus mengalir.

Siti hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu hatinya tidak bisa menahan Winda lebih lama. "Baiklah. Kalau kamu memang mau ke Jakarta, pergilah. Tapi ingat pesan Emak, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupakan kami di sini."

Winda mengangguk. "Iya, Mak. Insya Allah, aku nggak akan lupa."

Sejak malam itu, Winda pergi dan tak pernah kembali, Bayi kecil yang ia tinggalkan kini tumbuh menjadi gadis ceria yang mengisi hari-hari Siti. Tapi rasa rindu dan harapan untuk bertemu Winda lagi tak pernah padam.

Falsback off.

Siti menghapus air matanya. Dengan sisa tenaga dan waktu yang ia miliki, ia bertekad untuk pergi ke Jakarta, mencari Winda, dan memastikan Nezha tidak akan terlunta-lunta tanpa arahan.

"Ya Allah, beri aku kekuatan untuk melindungi cucuku. Aku hanya ingin melihat dia punya masa depan yang cerah," doanya lirih sebelum akhirnya ia merebahkan tubuh lelahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Api Cemburu Ladyboy
7.9
Apa jadinya saat Diandra, gadis tomboy pecinta motor, dipaksa bertunangan dengan Handoko? Di balik kekayaannya, Handoko menyimpan obsesi unik untuk tampil anggun menyerupai ibunya. Meski ia berniat berubah, kehadiran Diandra justru memicu konflik besar yang mengancam hubungan mereka hingga di ambang kehancuran. Di tengah gejolak emosi dan rintangan yang ada, mampukah benih cinta yang mulai tumbuh menyatukan dua kepribadian yang sangat bertolak belakang ini?
Sampul Novel Hot Love - Gairah cinta sesama wanita
7.8
Kara, mantan karyuki yang kini kaya raya, menjadi incaran FBI setelah suaminya tewas dalam kecelakaan pesawat di New York. Pimpinan FBI, Carlos, mencurigai Kara sebagai dalang teror tersebut. Di tengah penyelidikan, Kara menjalin cinta terlarang dengan notarisnya, Rose, dan mengaku telah menyabotase pesawat itu karena dendam. Rose meminta bantuan pengacara hebat, Rebeca, yang justru turut jatuh hati pada Kara. Kini, mampukah Rebeca melindungi kekasihnya dari ancaman hukuman mati?
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku percaya saat Dewi Bulan menakdirkanku bagi Alpha Baskara. Namun, janin yang kukandung ternyata dianggap aib. Baskara telah mandul demi wanita lain dan menjadikanku bahan taruhan keji. Setelah disiksa oleh Kirana dan dikhianati prajuritnya, hatiku membeku. Di ambang kehancuran, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan benih di rahimku. Ini bukan sekadar rasa putus asa, melainkan awal perang dingin untuk membalas dendam.
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan mendapatkan peluang kedua dari Andara Jeo untuk memulihkan pernikahan mereka yang hancur. Namun, tantangan baru muncul saat kepribadian Andara berubah drastis, termasuk permintaan anehnya saat mengidam. Situasi kian rumit ketika Jaren Adiyaksa menuduh Vante menjemput wanita hamil lain. Meski Vante bersikeras dirinya tidak berselingkuh, ia harus berjuang keras menghadapi segala ujian kesetiaan dan perubahan sikap istrinya demi menjaga rumah tangga mereka.
Sampul Novel Mendadak Disuruh Nikah
8.8
Raihan terpaksa menggantikan posisi adik angkatnya untuk menikahi Nico dari keluarga Kuiper. Pernikahan mendadak ini hanya dipersiapkan dalam dua hari. Nico awalnya tak menduga bahwa istrinya sangat menawan, hingga pesona Raihan benar-benar memikatnya setelah sah menjadi suami istri. Meski Raihan memberikan izin penuh bagi Nico untuk menyentuhnya, ia sempat gemetar saat Nico memeluknya dengan agresif. Raihan pun meminta Nico memulai malam mereka dengan perlahan.
Sampul Novel Obat Omega Tak Dikehendaki Sang Alpha
9.7
Tiga tahun menjadi penyembuh kutukan Alpha Kaelan berakhir tragis. Meski menjanjikan komitmen, Kaelan justru memilih Lila dan mencampakkan aku tepat di hari ulang tahunku. Di bawah pengaruh licik Lila, Kaelan berubah menjadi penyiksa kejam yang tega menyakiti keluargaku demi fitnah. Saat ia mencoba memaksaku kembali, aku memilih memutus ikatan. Kini, aku berpaling ke kawanan lawan demi pasangan takdir sejatiku yang baru saja bangkit dari koma panjang.