
Cinta dan Ilmu Hitam
Bab 3
Sementara aku, aku malah menjadi seperti dirinya dulu ....
Karena merasa minder, aku jadi sama sekali tidak berani mendekat dan menyapanya.
Tapi dia malah bersikap sangat ramah.
"Vivi, sudah lama kita nggak ketemu."
Senyum cerah di wajah Ratih seperti menyayat hatiku.
"Nggak kusangka, roda takdir memang berputar."
"Apa maksudmu?"
Aku kaget mendengar ucapan Ratih, ucapannya barusan terasa menyakitkan.
Kami sudah berteman selama bertahun-tahun.
Ratih mengulas senyum puas, lalu memandangku dari atas ke bawah dengan tatapan sinis.
"Kenapa kamu pergi keluar rumah? Kamu sekarang gendut sekali, gerak saja pasti susah, 'kan?"
Aku menundukkan kepala dan menatap diriku sendiri dengan perasaan malu.
"Setidaknya ... kakakmu tulus mencintaiku."
Usai mendengarku mengatakan hal barusan, Ratih malah tertawa terbahak-bahak.
"Haha, iya, benar. Kakakku memang tulus mencintaimu. Kamu pantas mendapatkannya, lanjutkan saja."
Setelah itu dia menepuk bahuku sambil berkata dengan nada yang meremehkan.
"Oh, maksudku, teruskan saja usaha kerasmu."
Kemudian dia menunjukkan sebuah cincin berlian besar di jari manisnya.
Saat itu, semua anggota keluarga langsung tertarik menatap ke arahnya.
"Aku akan bertunangan bulan depan. Tunanganku adalah CEO dari Grup Martilar."
Seluruh anggota keluarga pun kagum padanya.
"Nggak heran, karena Ratih dari kecil memang sudah berbakat. Dia dari kecil sudah tahu apa yang dia mau."
"Dulu waktu kecil Ratih sangat dekat dengan kakaknya, sekarang kakaknya dan istri kakaknya pasti bisa ikut mendapat untung!"
Aku mendengarkan ucapan para paman dan bibi barusan. Kemudian aku meremehkan dalam hati, 'Siapa juga yang mau terciprat untung darinya?'
"Hm, kalau mau dibandingkan, menantumu si Vivi itu kalah jauh, loh!"
Ibu mertuaku terlihat pasrah dan balas berkata.
"Ya, mau bagaimana lagi. Siapa suruh anakku suka yang seperti itu ...."
Aku marah, tubuhku sampai panas. Kemudian rasa malu muncul dari dalam hatiku.
Sejak tubuhku jadi gemuk, aku paling takut untuk keluar rumah.
Suara gesekan celana yang terdengar setiap kali aku berjalan dengan tubuh gemuk ini selalu menarik perhatian orang.
Aku benci menjadi pusat perhatian orang lain.
Karena itulah, aku saat ini juga tidak berani membela diri ....
Suamiku yang baru saja memesan makanan akhirnya kembali ke ruang makan. Dia pasti mendengar kerabatnya mengejekku.
Tapi dia tidak membelaku, dan malah menatap cemas pada adiknya, Ratih.
Waktu itu, kurasa aku saja yang berpikiran terlalu jauh.
Erik terlihat sedih saat melihat cincin berlian di jari Ratih. Pria itu kemudian bertanya dengan heran.
"Kamu mau bertunangan, Ratih?"
Ratih tersenyum lebar sambil berjalan mendekati Erik, lalu merangkul lengan suamiku dengan senang.
"Iya, Kak. Aku mau menikah. Apa Kakak nggak ikut senang?"
"Senang ... tentu aku ikut senang ...."
Tapi, setelah itu Erik pulang dengan wajah muram. Dia seperti baru saja mengalami pukulan besar.
Sepertinya, orang yang mengguna-gunaku adalah Erik dan Ratih.
Memikirkan hal itu membuatku akhirnya membuka ponsel.
"Shakira, kalau memang aku diguna-guna, apakah ada cara untuk menghilangkannya?"
"Coba hitung sudah berapa hari berlalu sejak hari pernikahanmu sampai sekarang?"
Aku lantas membuka ponsel dan mulai menghitung.
"Tepat 1096 hari!"
Shakira lalu mengirimkan banyak tanda seru, sepertinya dia sangat kaget.
"!!! Sudah sangat terlambat!"
"Menurut catatan buku kuno itu, hari ini adalah hari terakhir. Kalau nggak ada halangan, tengah malam nanti suamimu akan mulai bertindak!"
"Memangnya apa yang mau dia lakukan?"
Bulu kudukku sontak berdiri, ketakutan yang mencekam mulai merayap ke atas kepalaku.
"Kurasa, suamimu akan menghabisimu tepat pukul 12 malam ini untuk menghilangkan guna-guna itu. Supaya dia dan adiknya juga nggak kena balasan!"
Aku pun kaget, lalu melihat jam yang sekarang menunjukkan pukul 11 lewat 35 menit.
Waktuku sudah tidak banyak lagi ....
"Hei, dengarkan aku baik-baik. Sekarang hanya ada satu cara untuk menyelamatkanmu."
"Guna-guna itu bisa hilang dengan cara mencampurkan 500 gram anggur kuning dengan lima butir telur ayam mentah. Kemudian campurkan cairan itu dengan rambut dari orang yang sudah memberi guna-guna itu. Lalu, tusuk jari tengah tangan kirimu, kemudian guna-guna itu akan kembali menyerang orang yang sudah mengirimkannya."
Tidak sulit untuk mendapatkan anggur kuning dan telur, semuanya ada di kulkas.
Aku membuka pintu dan berjalan mengendap ke kulkas, kemudian mencari-cari anggur kuning dan telur.
Tapi malah dua bahan itu yang tidak ada di kulkas.
Aku terlalu bodoh. Erik pasti sudah tahu cara menghilangkan guna-guna itu. Makanya dia sengaja menyingkirkan dua bahan itu untuk cari aman.
Erik sepertinya menyadari ada yang tidak beres denganku, dia diam-diam berjalan menghampiriku dari belakang.
"Sayang, kamu cari apa?"
Anda Mungkin Juga Suka





