
Cinta Dalam Balutan Tasbih
Bab 2
Setelah tanpa sadar berteriak, Ikrimah langsung menutup mulutnya. Dia menunduk malu seraya bingung mengapa ia memanggil lelaki itu.
"Na'am Teh. Ada apa ya?" Sungguh suara lembut lelaki itu membuat Ikrimah bergetar tidak karuan. Hatinya berdegup kencang dengan kegugupan yang luar biasa.
Lelaki itu ternyata menghampiri Ikrimah bahkan dari jarak yang tidak terlalu dekat itu.
"Teh?" Panggil lelaki itu lagi sambil tersenyum begitu tulus.
"A-a-anu sa-saya mau tanya!" ujar Ikrimah dengan kikuk.
Lelaki itu menundukan pandangannya dengan baik. Bahkan ia tidak berani menatap mata Ikrimah apalagi gadis itu mempunyai penampilan yang begitu tertutup.
"Ada apa Teh? Ada yang bisa saya bantu?" ujar lelaki itu dengan sopan.
"A-a-anu!" Dengan terbata bata Ikrimah memikirkan pertanyaan apa yang harus ia lontarkan. Dia sungguh membisu dengan segala kegugupannya.
"Ta-tadi yang dibahas ustadz Zaid apa ya? Duh saya tadi malah keasikan ngasih makan kucing jadi tidak mendengarkan tausiyahnya dengan baik bahkan saya harus berada di luar mesjid karena mesjid ini penuh. Sungguh saya tidak sadar juga kapan pengajiannya selesai. Sa-saya. Hmm sa-saya merasa kosong tidak mendapatkan ilmu apapun." Entah keberanian dari mana. Ikrimah bisa se-terbuka itu kepada orang lain yang bahkan kepada seorang lelaki yang tidak ia kenali.
Lelaki itu tersenyum dan tiba-tiba ada seorang lelaki lain yang datang menghampirinya. Dengan cepat ia memberi kode kepada orang yang baru datang itu agar tidak menyela ucapan Ikrimah.
Orang yang baru datang itu adalah santrinya namun lelaki berpeci hitam itu justru menghalangi santrinya untuk berbicara kepada gadis yang ada di depannya ini.
"Oh masyAllah tidak apa-apa. Sebenarnya yang dibahas ustadz tadi itu ada hubungannya juga dengan apa yang kamu lakukan," ujar lelaki itu.
Ikrimah seketika mengangkat wajahnya dengan semangat. Dia melihat ke arah lelaki yang sejak tadi ada di depannya itu.
"Benarkah? Apa yang dibahas ustadz Zaid?" tanya Ikrimah cukup antusias. Kemudian dia menundukan pandangannya lagi dengan begitu baik.
"Ustadz Zaid membahas bagaimana caranya kita berbuat baik untuk menjadi yang terbaik diantara gundukan emas. Ya caranya dengan menjadi berlian."
"Maksudnya?" tanya Ikrimah.
"Berbuat baik kepada manusia itu sudah cukup baik. Tetapi berbuat baik kepada binatang pun diperlukan. Dalam agama islam ada perintah untuk menyayangi binatang dan kamu telah melakukannya. Dalam sebuah hadits dikatakan "Takutlah kepada Allah dalam (memelihara) binatang-binatang yang tak dapat bicara ini, Tunggangilah mereka dengan baik dan berilah makanan dengan baik pula. Hadits riwayat Abu Dawud."
Lelaki itu kemudian tersenyum dan melanjutkan perkataannya.
Ada sebuah hadits juga yang mengatakan "
Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit. Hadits Riwayat At-Tirmidzi nomor 1924," ucap lelaki berpeci hitam itu.
Ikrimah tanpa sadar tersenyum manis dibalik Cadar hitamnya. Dia memainkan jari jemarinya dengan lucu.
"Namun lain kali lagi jikalau sedang di pengajian datanglah lebih awal agar kamu bisa mendengarkan tausiyah dengan baik."
Ikrimah mengangguk dengan malu. Tidak lama setelah itu lelaki itu pun ikut tersenyum dan berpamitan untuk pergi.
"Saya permisi Teh. Senang bisa bertemu denganmu. Assalamu'alaikum," ungkap lelaki itu dengan sopan. Dia pergi bersama lelaki yang merupakan santrinya itu.
Ikrimah mengangguk sopan dan menjawab salam lelaki itu dengan sendu "wa'alaikumsalam."
Baru saja lima langkah seketika Ikrimah pun teringat dia belum mengetahui nama lelaki itu.
"Eh siapa namamu?" Sambil sedikit berteriak Ikrimah menanyakan nama lelaki berpeci hitam itu.
Mendengar gadis itu berteriak. Lelaki berpeci hitam itu seketika membalikan tubuhnya dan ia pun membenarkan peci dengan begitu gagahnya.
"Nanti kamu pasti akan tau," ujarnya dengan suara khasnya.
Anda Mungkin Juga Suka





