
Cinta Dalam Balutan Tasbih
Bab 3
"Bagaimana mengungkapkan perasaan cinta pada pandangan pertama apabila sebuah kata-kata tidak mampu mewakili keindahan yang gadis itu miliki?"
~Zaid Al Zaydani~
****
Pertemuan pertama memang cukup mengesankan. Banyak hal yang tidak terduga yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Dua minggu sudah berlalu, sejak mengisi pengajian di masjid Baiturahman itu, Zaid mempunyai semangat yang tinggi. Hatinya begitu bergejolak seolah ada yang sedang di perjuangkan sampai seseorang yang selalu bersama ustadz Zaid pun merasakan perbedaan itu.
Matahari sudah menghilang dibalik indahnya mega. Warna jingga langit sudah berubah menjadi lebih gelap dengan symbol bintang dan bulan sebagai sebuah ketenangan.
Zaid, anak tunggal keluarga kyai Zubair itu memang sangat terkenal dengan sipatnya yang sangat ramah. Walau ayahnya adalah seorang yang terkemuka di masyarakat, ia tidak pernah sombong akan hal itu. Justru menjadi anak dari seorang yang paham agama dan di hormati banyak orang membuatnya menjadi pemuda yang sangat bijaksana. Ayahnya tidak mempunyai pesantren yang luas, hanya ada beberapa santri dan itupun hanya satu bangunan yang dapat di sebut sebagai asrama.
“Ustadz, akhir-akhir ini saya lihat ustadz berbeda, yaa tidak seperti biasanya.” Dengan memicingkan matanya Amir mengutarakan apa yang ia rasa selama dua minggu ini.
“Apa yang berbeda dari saya, Amir?” tanya Zaid sambil menyimpan gelas berisi kopi yang baru saja ia seduh itu.
Amir yang merupakan santri sekaligus pemuda yang dianggap anak oleh kyai Zubair itu memang sangat dekat dengan Zaid. Selama Zaid mengisi pengajian, dialah yang selalu menemaninya.
Amir seketika membuang napasnya dengan berat, pemuda yang hanya berbeda dua tahun lebih muda dari Zaid itu melirik Zaid dengan tatapan penuh makna.
“Kenapa, katakanlah. Apa yang berbeda dari saya?" tanya Zaid lagi sambil mengangkat gelas yang berisi kopi itu. Dia bermaksud untuk meminumnya.
“Ustadz sepertinya jatuh cinta kepada gadis bercadar si pecinta kucing itu, ya?” tanya Amir sambil menatap tajam ke arah ustadz Zaid.
Zaid yang sedang meminum kopinya itu seketika menghentikan kegiatannya, ia menyimpan gelas itu lagi.
“Atas dasar apa kamu mengatakan itu? Memang kamu tau apa itu cinta, Amir? Kamu itu masih muda, sudah sepantasnya fokus saja kepada pendidikanmu,” ujar Zaid dengan sorot mata yang terlihat tidak baik-baik saja. Matanya seolah enggan untuk menatap mata Amir.
Menyadari Zaid yang enggan menatapnya, Amir pun tersenyum lalu membuang napasnya secara kasar.
“Huhh,” Amir membuang napasnya sangat dalam seperti ada sebuah beban yang ia lepaskan.
“Tidak butuh alasan bagaimana caranya menyadari bahwa orang lain sedang jatuh cinta karena pada dasarnya cinta itu mampu terlihat dengan kedua mata. Cinta adalah sebuah pengakuan yang terjadi tanpa ketersengajaan,” oceh Amir lagi dengan begitu santai.
“Uhuk! Uhuk!” mendengar penuturan Amir, Zaid pun sampai tersed
“Dari mana kamu belajar mengatakan hal seperti itu, Amir?” dengan sedikit menahan tawa Zaid bertanya kepada Amir.
Amir pun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu. Dia menatap Zaid dan keduanya pun sama-sama tertawa.
Keduanya begitu akrab, perbedaan mereka berada di garis takdir yang sangat jauh. Amir, dia adalah pemuda yang ditinggalkan orang tuanya karena sebuah perpisahan di atas kertas, sedangkan Zaid sudah ditinggal ibu tercintanya saat dirinya lahir.
Saat suasana sedang hening, suara pintu yang terbuka sontak membuat keduanya saling terdiam. Keduanya saling bertatapan tatapan kemudian secara bersamaan melihat ke arah sumber suara.
Anda Mungkin Juga Suka





