
Cinta Berubah Menjadi Dendam
Bab 3
Sienna berdiri di depan jendela besar kamar tidur orang tuanya, memandangi kota yang sibuk di bawah sana. Pikirannya dipenuhi dengan perasaan yang saling bertentangan-antara kebingungan, kemarahan, dan ketakutan. Setelah percakapan dengan ibunya, semuanya semakin gelap. Ternyata, apa yang terjadi padanya bukanlah kebetulan, bukan pula sekadar akibat dari sebuah pertemuan tak sengaja dengan Darius. Ada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih gelap, yang membayangi kehidupan mereka semua.
Ia memutar kembali kata-kata ibunya yang terus menghantui pikiran.
"Keluarga kita terikat dalam cara yang lebih dalam daripada yang kau tahu. Dan itu melibatkan lebih banyak hal daripada sekadar bisnis."
Apa yang dimaksud ibunya? Apa yang sebenarnya terjadi antara ayahnya dan keluarga Darius hingga itu bisa berakhir dengan tragedi seperti ini? Sienna merasa seperti terjebak dalam labirin, tanpa jalan keluar yang jelas. Dan setiap langkahnya hanya mengarah pada lebih banyak pertanyaan yang tak terjawab.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, dan Claudia muncul, membawa secangkir teh. Wajah ibunya terlihat kelelahan, lebih tua dari biasanya, dan Sienna bisa merasakan bahwa ibu ini menyimpan banyak rahasia yang sulit untuk diceritakan.
"Ibu, aku butuh jawaban. Kenapa keluarga kita terlibat dalam semua ini?" Sienna akhirnya memecah keheningan, suaranya hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri, namun penuh dengan rasa putus asa.
Claudia duduk di sampingnya, meletakkan teh di atas meja. "Sienna, ini bukan sesuatu yang bisa dengan mudah aku jelaskan. Aku tidak ingin kau terlibat lebih dalam dengan Darius atau keluarganya. Mereka bukan orang yang bisa kau percayai, meskipun aku tahu kau sudah terjebak dalam permainan ini."
Sienna menatap ibunya, matanya penuh ketegasan. "Aku harus tahu, Ibu. Aku tidak bisa hidup dalam kebingungan seperti ini. Aku... aku hamil, dan aku merasa terjebak. Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan semua ini."
Claudia menggigit bibirnya, ragu. Sebuah ekspresi penyesalan muncul di wajahnya. "Ayahmu... dia berutang budi kepada keluarga Darius. Mereka bukan sekadar mitra bisnis, Sienna. Ada utang lama antara keluarga kita dan mereka-utangnya jauh lebih besar daripada yang pernah kau bayangkan."
"Apa maksud ibu?" Sienna bertanya, suaranya gemetar.
Claudia memejamkan mata sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Ayahmu terpaksa berurusan dengan keluarga Darius untuk menyelamatkan perusahaannya beberapa tahun lalu. Namun, kesepakatan itu memiliki harga yang sangat tinggi. Darius, sejak saat itu, merasa punya hak untuk mengendalikan banyak aspek dalam hidup kita-termasuk dirimu."
Sienna terkejut. "Apa? Itu alasan kenapa aku terjebak dalam permainan mereka? Itu sebabnya Darius bisa mengatur hidupku begitu saja?"
"Benar, Sienna. Darius... dia selalu punya rencana untukmu. Aku tahu ini terdengar buruk, tetapi dia menganggapmu sebagai bagian dari transaksi yang harus dipenuhi. Kamu hanya bagian dari permainan keluarga besar mereka, dan dia yakin bahwa dengan menguasaimu, dia bisa menghancurkan kami." Claudia menarik napas berat, lalu melanjutkan, "Aku takut, Sienna. Darius terlalu kuat dan terlalu berbahaya. Kau sudah terlalu terlibat, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
Sienna merasa seolah-olah dunia di sekitarnya runtuh begitu saja. Ia bukan hanya menjadi korban dalam permainan ini, tapi ia ternyata juga menjadi alat untuk menuntaskan balas dendam yang lebih besar. Semua yang terjadi padanya, dari awal pertemuan dengan Darius, hingga malam yang mengubah hidupnya, adalah bagian dari sebuah rencana yang tak pernah ia ketahui.
"Siena, ini bukan salahmu," suara ibunya terdengar lemah. "Kami seharusnya bisa melindungimu dari semua ini, tapi kami tidak bisa lagi. Keluarga Darius terlalu kuat. Aku harap kamu mengerti bahwa kami melakukan apa yang kami pikir terbaik untukmu."
Sienna mendengus dengan penuh kebingungan. "Yang terbaik? Ibu, bagaimana bisa ini dianggap sebagai yang terbaik? Aku telah dipermalukan, dihancurkan, dan sekarang aku hamil tanpa tahu siapa yang bertanggung jawab. Tidak ada yang terbaik dalam ini!"
Claudia menatapnya dengan mata penuh keprihatinan. "Aku tahu, Sienna. Aku tahu ini terasa sangat berat, tapi percayalah padaku, aku juga menderita dengan cara yang berbeda. Aku ingin melindungimu, tetapi ada batas yang tidak bisa kami lewati. Keluarga Darius akan terus menuntut, dan kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainan mereka."
Sienna merasa hatinya hancur. Tidak hanya karena dirinya merasa terjebak dalam perjanjian yang tak pernah ia pilih, tetapi juga karena ia merasa terkhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Kehadirannya di dunia ini, dan semua yang telah terjadi, bukanlah keputusan yang ia buat sendiri. Ia adalah hasil dari keputusan orang lain yang tak pernah meminta izin kepadanya.
Pada malam itu, Sienna duduk di ruang tamu, matanya yang lelah menatap lampu-lampu jalan di luar jendela. Pikirannya semakin kacau, dan meskipun ibunya mencoba menenangkannya, Sienna tahu bahwa ia harus menghadapi kenyataan dengan cara yang berbeda. Ia tidak bisa terus bersembunyi di balik bayang-bayang keluarganya. Ia harus menghadapi Darius.
Namun, pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah satu: apakah ia bisa menghadapinya? Apakah ia benar-benar siap untuk mengungkapkan segala rahasia yang disembunyikan selama ini? Semua orang di sekitarnya menganggapnya lemah, tapi apakah itu benar? Ataukah ia bisa menjadi lebih kuat dari yang mereka kira?
Sienna menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk keluar. Ia harus mencari Darius. Harus ada penutupan, harus ada jawaban. Ia tidak bisa terus hidup dalam kebingungannya.
Ia meraih tasnya dan keluar dari apartemennya, langkahnya semakin mantap. Tidak peduli apapun yang terjadi, ia akan bertemu dengan Darius. Ia tidak akan lagi menjadi korban dalam permainan ini.
Dan malam itu, Sienna memulai perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





