
Cinta Belum Berakhir
Bab 3
(Lima Tahun yang Lalu)
"Mau sampai kapan kamu menunggu mayat hidup itu bangun? Tinggalkan Haitsam dan menikah dengan Ramdan. Kalian berdua sudah dijodohkan sejak lama, Naya." Adam menatap putrinya lekat-lekat. Sudah puluhan kali ia meminta Kanaya meninggalkan sang kekasih dan menerima lamaran Ramdan.
Mana mungkin bisa Kanaya meninggalkan Haitsam. Sedang pria itu tengah berjuang di antara hidup dan mati.
Haitsam tengah mengalami koma. Sudah berbulan-bulan, lelaki itu terbaring lemah di ruang ICU. Haitsam mengalami kecelakaan motor parah ketika akan menjemput Kanaya di tempat kerja. Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda kalau pria itu akan siuman.
Hubungan Haitsam dan Kanaya sudah berjalan cukup lama. Namun, hubungan yang sudah terbina selama bertahun-tahun pun belum tentu bisa mendapatkan restu dengan mudah. Adam tidak begitu menyukai dengan status keluarga Haitsam yang berasal dari kalangan biasa. Pun mendiang sang istri sudah menjodohkan Kanaya dengan pria bernama Ramdan sedari dulu.
Boleh dibilang, orangtua Kanaya dan Ramdan adalah sahabat dekat. Mereka sudah menjodohkan putra dan putrinya itu sejak lama. Dan mereka memiliki impian kelak suatu saat Ramdan dan Kanaya bisa menikah.
Desakan menikah dari sang ayah sudah Kanaya terima sejak lama. Apalagi setelah Haitsam koma sampai berbulan-bulan, dan belum ada tanda-tanda akan sadar, Adam semakin gencar mendesak Kanaya untuk meninggalkan Haitsam dan segera menerima lamaran Ramdan.
Bagi Adam, untuk apa Kanaya mengharapkan orang yang tengah koma? Pun belum tentu Haitsam akan sadar dan segera menikahi putrinya. Ia lebih setuju Kanaya menikah dengan Ramdan. Apalagi Ramdan jauh lebih mapan dan sukses dari Haitsam.
"Apa kamu lupa dengan pesan ibumu sebelum meninggal? Ibumu ingin sekali kamu menikah dengan pria pilihannya. Jangan jadi anak yang egois, Nak."
"Ayah, kenapa Ibu harus menjodohkan Naya sama Ramdan? Dari dulu Naya udah sama Haitsam, Yah. Apa Ibu nggak sadar kalau keinginan Ibu secara nggak langsung udah nyakitin hati Naya sama Haitsam? Ibu secara nggak langsung udah memisahkan dua orang yang saling mencintai, Yah."
"Naya, kamu berani berbicara seperti itu tentang mendiang ibumu, hah?! Kamu sudah pintar membangkang sekarang, ya?!" Adam naik pitam dengan perkataan lancang putrinya. Ia tak habis pikir kenapa Kanaya begitu mencintai lelaki bernama Haitsam yang notabene hanya seorang karyawan biasa. Sangat jauh berbeda dengan Ramdan yang merupakan anak pemilik perusahaan besar.
Kanaya yang mendapati kemarahan sang ayah lantas terdiam. Nyalinya seketika menciut. Sehari-harinya, gadis itu berperan sebagai anak yang penurut pada orangtuanya. Namun, untuk kali ini, bolehkah Kanaya berperan sebagai anak pembangkang demi memenuhi kebahagiaan masa depannya?
"Dari awal harusnya kamu sadar, Naya. Tiga tahun kamu berhubungan dengan pria miskin itu, apakah kamu pernah melihat Ayah dan Ibu menyambut kedatangannya? Ayah hanya bersikap menghormati dia sebagai temanmu saja. Bahkan, saat dia berani melamarmu langsung, apakah Ayah dan Ibu bersedia? Kami jelas tidak bersedia, Naya. Puluhan kali Ayah melarang kamu berhubungan dengan dia, tapi kamu seolah-olah tuli. Kamu berubah menjadi anak pembangkang karena hasutan dia."
Di mata Adam, Haitsam hanyalah semut kecil yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarganya. Yang ia pandang hanyalah materi. Terlebih, Kanaya adalah anak satu-satunya. Pastinya Adam ingin sang putri mendapatkan suami yang berasal dari keluarga berada dan tentunya terpandang. Tidak seperti Haitsam. Yang orangtua pun sudah tidak ada. Hidup sebatang kara. Dan hanya Kanaya-lah penyemangat hidup Haitsam sampai sejauh ini.
Perdebatan sengit antara bapak dan anak itu berakhir dengan Kanaya memilih mengalah. Ia lantas lari ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, kemudian duduk di pinggiran tempat tidur dengan perasaan hancur, gusar, dan kacau bercampur menjadi satu.
Air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Tetesan pedih itu mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Kanaya menangis sesenggukan seorang diri. Tanpa ada seorang pun yang peduli bahwa ia tengah rapuh saat ini.
Andai musibah itu tidak terjadi. Andai Haitsam tidak terbaring koma. Mungkin ia tidak akan merasa tertekan seperti sekarang ini. Setidaknya, jika Haitsam masih sehat, pria itu senantiasa Kanaya jadikan tempat untuk mengadu, bersandar, dan mencurahkan segala keresahan dalam hatinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan dengan tanpa adanya Haitsam saat ini? Gadis itu merasa benar-benar sendiri. Terbelenggu dengan rasa sepi, dan hanya tangisanlah yang senantiasa setia menemani.
Kanaya refleks melirik ponsel miliknya yang sejak tadi terletak di meja nakas. Benda pipih berwarna putih itu terdengar berbunyi nyaring. Ia lalu meraih ponselnya. Mendapati ada panggilan masuk dari Fikri.
Fikri Dirandra adalah sahabat dekat Haitsam. Orang yang ikut serta merawat Haitsam selagi Kanaya berada di rumah.
"H-halo, Kak."
"Nay, kamu tumben hari ini belum ke rumah sakit? Kamu masih kerja?"
Kanaya memilih untuk bungkam di sela-sela rasa sakit hatinya.
"Nay, kok, diem aja, sih? Kamu baik-baik aja, kan, Nay?"
"Kak." Suara Kanaya terdengar parau. Detik ini ia kembali menangis.
"Nay, kamu kenapa, sih? Kamu kok kedengeran kayak nangis gitu? Kamu nangisin apa? Haitsam pasti akan sadar, nggak perlu ditangisin gitu lah."
"Kakak ...." Kanaya tidak sanggup lagi. Ia malah memecahkan tangisannya. Dadanya benar-benar sesak. Ia harus menyampaikan kabar pahit ini pada Fikri.
"Kamu kenapa, sih, Nay? Kamu kenapa tiba-tiba nangis?"
"Maafin aku, Kak ...."
"Maaf? Maaf untuk apa?"
Gadis dengan t-shirt putih itu memilih menatap langit-langit kamar dengan nanar. Di perdebatan dengan ayahnya tadi, Kanaya memilih kalah. Ia memutuskan untuk memenuhi keinginan sang ayah untuk segera menikah dengan Ramdan.
"Nay, kamu kenapa? Jangan bikin aku panik, dong."
"Aku titip Haitsam, Kak."
"K-kamu ngomong apa, sih? Kamu memangnya mau ke mana?"
"Aku harus nikah sama pria pilihan orang tuaku. Aku nggak punya pilihan lain."
"Hah? Kamu mau nikah sama pria lain?! T-terus, Haitsam gimana?"
Kanaya menarik napas dalam-dalam. Ia pun tidak tahu bagaimana cara mengutarakan beban ini pada Fikri.
"Tolong sampaikan permintaan maafku sama Haitsam, Kak ...." Kanaya menjatuhkan ponsel tanpa sadar. Saat berkata seperti itu, ia seolah-olah tak memiliki tenaga. Ia memilih menangis sejadi-jadinya. Tak memedulikan suara panggilan Fikri berkali-kali di sana.
Anda Mungkin Juga Suka





