Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Chasing Your Love

Chasing Your Love

Carissa kabur dari rumah demi menghindari perjodohan paksa dengan duda oleh ayahnya, tanpa tahu itu muslihat ibu dan adik tirinya untuk merebut warisan. Di tengah kemalangan saat pelarian, ia diselamatkan oleh Fabian. Pria itu meminta Carissa berpura-pura menjadi tunangannya guna menghindari perjodohan dari sang ibu. Namun, Fabian terkejut saat tahu calon aslinya adalah mantan kekasihnya. Kini Carissa jatuh hati, sementara ia harus berjuang merebut kembali haknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Apa idenya?" tanya Carissa ingin tahu.

"Pergilah dari rumah dan kejar mimpimu," bisik Hanna dengan senyum jahat.

"Pergi dari rumah," lirih gadis bermata cokelat itu.

"Ya, dengan begitu kau akan bebas dari perjodohan."

"Bila aku jadi kau, aku pasti sudah kabur ke luar kota dari pada menikah dengan pria tua." Sera menimpali.

Carissa masih memikirkan ide konyol yang disarankan Hanna dan Sera. Haruskah dia pergi dari rumah? Benarkah apa yang disampaikan oleh kedua orang itu?

Kedua anak beranak itu saling melempar senyum licik.

*

Tanpa pikir panjang Carissa pun sudah bersiap untuk kabur dari rumah, dia menyiapkan berbagai keperluan yang mungkin dia butuhkan di luar kota sana. Tidak disangka, Carissa begitu mudahnya percaya dengan rencana busuk Ibu dan anak itu, bukannya mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.

Menjelang sore Carissa sudah berada di sebuah halte, menunggu bus yang akan membawanya ke kota. Dua puluh menit kemudian, bus yang ditunggunya tiba, Carissa masuk ke dalam bus diikuti beberapa orang yang juga hendak menuju ke kota yang sama.

Setelah empat jam perjalanan bus itu berhenti di sebuah terminal induk. Semua penumpang bergegas turun, begitu pula dengan Carissa. Gadis itu celingukan terasa asing dengan tempat yang baru saja diinjaknya. Gadis yang kini beranjak sembilan belas tahun itu mulai melangkahkan kaki mengikuti rombongan orang yang tadi turun bersamanya dari bus.

Namun, Carissa kebingungan setelah beberapa orang yang dia ikuti mulai memisahkan diri masing-masing. Akhirnya Carissa memutuskan berjalan keluar dari terminal dan mulai berjalan di trotoar. Dia akan mencari penginapan terlebih dahulu untuk bermalam dan mengistirahatkan tubuhnya. Untungnya dia memiliki tabungan lebih, jadi dia tak perlu takut untuk membayar sewa hotel.

Tanpa disadarinya ada dua orang asing yang sejak dari terminal tadi tengah mengincarnya. Kedua orang itu hingga tadi masih mengikuti di belakangnya, yang satunya mengikuti dengan sepeda motor yang lainnya berjalan kaki di belakang Carissa.

Saat dirasa sudah berada cukup jauh dari terminal dan tempat agak sepi, kedua orang yang berniat jahat itu mulai melakukan aksinya. Tanpa aba-aba pria bertopi kupluk hitam yang berjalan di belakang Carissa langsung menjambret ransel yang dikenakan gadis itu.

"Jambreet ...!" teriak Carissa spontan.

"Jambreet! Tolong!" Carissa berlari mengejar mengikuti pria asing itu. Beberapa orang yang mendengar ikut membantu Carissa mengejar pencuri itu, tapi sayang mereka kalah cepat.

Carissa seperti kehabisan napas, dia berjongkok dengan napas naik turun. Air matanya meleleh di pipinya yang mulus. Ranselnya. Semua miliknya ada di ransel itu. Kini semua raib dicuri orang tak berkemanusiaan.

Beberapa orang yang membantu mengejar kedua pencuri itu datang dengan tangan kosong. Mereka menyesal tidak berhasil mengejar pencuri tersebut.

"Lapor polisi aja bagaimana?" saran salah seorang yang membantunya tadi yang diangguki dengan yang lainnya.

Akhirnya salah seorang dari mereka mengantar Carissa ke kantor polisi terdekat. Setelah melapor kejadian yang dialaminya, polisi akan segera menyelidiki kasusnya secepatnya.

Keluar dari kantor polisi, gadis itu bingung hendak kemana. Pria yang mengantarnya tadi, sudah keluar lebih dulu tanpa menunggunya selesai memberi laporan.

Carissa berjalan keluar dari area kantor kepolisian. Dia lapar, perutnya sudah keroncongan minta diisi. Bahkan saat ini dia tidak punya apa-apa lagi. Kemudian dia teringat tadi menyimpan uang kembalian dari kondektur di saku celananya. Wajahnya sedikit berbinar setelah menemukan uang di saku celananya, tidak banyak memang, hanya dua puluh ribu. Gegas Carissa mencari sebuah warung untuk membeli roti.

Senja telah berganti gelap, pertanda malam mulai merangkak naik. Lampu-lampu jalan mulai menyala, beberapa toko yang dilewatinya pun mulai tutup. Ada sebuah warung di ujung sana, Carissa mulai berjalan cepat, takut bila warung tersebut akan tutup juga.

Sesampainya di warung yang di tuju, ada beberapa orang laki-laki yang sedang mengobrol, dan memperhatikan gerak-gerik Carissa saat dia baru datang.

Carissa mengambil dua bungkus roti dan sebotol air mineral. Gadis itu mulai memakan rotinya perlahan, roti itu terasa mengganjal di tenggorokan dan sulit untuk ditelan. Tidak terasa air mata kembali meluncur turun di pipinya, mengingat betapa bodohnya dia menuruti keinginan Hanna dan Sera.

Lebih buruknya lagi, dia lupa tidak berpamitan dengan Mbok Wati. Andai wanita yang telah lama mengurusnya itu tahu, pastilah dia akan kitamelarang Carissa pergi. Dia benar-benar menyesali perbuatannya yang tanpa berpikir dua kali.

*

Di lain tempat

Lucas sudah berada di rumah dan siap untuk membahas keinginan Carissa untuk bekerja di restoran mereka, seperti yang diungkapkan Hanna tadi pagi.

"Kemana anak-anak?" tanya Lucas begitu duduk di ruang kerjanya.

"Um, Sera sedang di kamarnya ... kalau Carissa aku tidak melihatnya sejak siang tadi," ucap Hanna berbohong.

"Panggil Carissa," titah Lucas. Hanna segera keluar dari ruang kerja.

Hanna berjalan ke arah kamar puterinya, nampak Sera sedang melakukan Video Call dengan seorang laki-laki di ujung sana. Hanna hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku puterinya yang berani melakukan VC dengan pakaian terbuka.

"Mama ngapain di sini sih, ganggu aja!" omel Sera ketus.

"Mama cuma lagi ngulur waktu aja sekalian nyari alasan kenapa Carissa 'gak ada di kamarnya," ucap Hanna.

Sera mendengkus lalu mematikan sambungan video call-nya.

"Bilang aja kalo dia kabur, gitu aja kok, ribet," balas Sera seraya mengenakan pakaiannya. "Terus, kita pura-pura enggak tau apa-apa," sambung gadis yang mewarnai rambutnya dengan warna cokelat itu.

Hanna melangkah keluar dari kamar Sera lalu kembali menuju ke ruang kerja Lucas, suaminya.

"Pa ... Papa." Hanna masuk ke ruang kerja Lucas dengan wajah yang sengaja dibuat bingung.

"Ada apa, Ma?" tanya Lucas. "Kenapa Mama seperti orang bingung begitu?" tanyanya lagi.

"Mama enggak lihat Rissa di kamarnya, Pa," lapor Hanna.

"Mungkin dia di dapur bantuin si Mbok, biasanya begitu 'kan," ucap Lucas tenang.

"Tapi di dapur juga enggak ada, Pa. Mama udah cari ke sana tadi."

Lucas bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya diikuti dengan Hanna di belakangnya. Mereka melangkah menuju kamar Carissa, setibanya di sana, kamar itu kosong dan tampak rapi. Kembali mereka menuju arah dapur, terlihat Mbok Wati sedang menyiapkan makan malam sendirian.

"Mbok, tidak lihat Rissa?" tanya Lucas.

"Non Rissa? Tidak Tuan, sejak tadi siang simbok belum melihatnya. Apa Non Rissa sakit?" tanya Mbok Wati penasaran.

Lucas menggeleng.

"Kemana Non Rissa, Tuan?" tanya simbok kemudian. Wajahnya yang sudah mulai dihiasi keriput berubah sendu.

"Tidak tahu, Mbok. Biar saya cari dulu di sekitar sini," balas Lucas seraya melangkah menjauh dari dapur.

Wanita tua itu memiliki firasat buruk pada gadis yang sejak lahir sudah tinggal bersamanya itu. Pasalnya selama ini, bila gadis itu hendak keluar rumah pasti tidak pernah lupa untuk selalu berpamitan. Walaupun hanya sekadar keluar sebentar untuk ke warung di ujung jalan.

"Semoga Non Rissa baik-baik saja," lirihnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Lagi April Mayo: Kembalinya Sang Pewaris
8.7
Tujuh tahun aku membuang status pewaris demi cinta, namun pengkhianatan menghancurkan segalanya. Suamiku berselingkuh dan ibunya mencoba menjadikanku pembantu serta membuang putra kami. Puncaknya, di sebuah pesta, mereka menyakiti anakku hingga ia ketakutan. Saat itulah aku sadar pengorbananku sia-sia. Kini, aku membawa putraku pergi dan menghubungi keluargaku yang kuat. Dunia akan segera gemetar saat mengetahui identitas asliku yang sebenarnya.
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Duka mendalam Amara atas kematian tragis kakaknya, Danisa, berubah menjadi ambisi balas dendam yang membara. Ia bertekad menghancurkan keluarga Pramudya yang telah mengkhianati Danisa hingga sang kakak mengakhiri hidupnya. Dengan pesonanya, Amara menyusup dan mulai menjerat mantan suami, mertua, serta ipar Danisa dalam rencana penghancuran reputasi dan harta mereka. Namun, mampukah ia tetap dingin saat perasaan tak terduga mulai mengancam misi utamanya?
Sampul Novel His First Love
9.2
Davira, seorang mantan putri, tak gentar dicap buruk demi membalas pengkhianatan suaminya, Zhepyr. Skandal Zhepyr dengan cinta pertamanya memicu amarah Davira yang sadar akan harga dirinya. Di hadapan ksatria setianya, ia bersumpah tak akan menangis dan justru akan membuat mereka berlutut. Kini, Davira harus memilih antara memberi maaf atau melangkah pergi memulai hidup baru tanpa belas kasih. Akankah dendam ini berakhir dengan sebuah perpisahan?
Sampul Novel Kehidupanku yang Cemerlang Setelah Perceraian
8.7
Tiga tahun menikah tanpa cinta, Becky diceraikan Rory Arsenio setelah difitnah menyebabkan keguguran Berline. Alih-alih tunduk memohon maaf, Becky memilih berpisah. Keluarga Arsenio terkejut saat tahu Becky adalah pewaris kaya raya, bukan wanita materialis. Rory yang kini terpesona mulai mengejarnya kembali, namun Becky telah berubah menjadi sosok mandiri yang sulit digapai. Di tengah upaya Rory menebus kesalahan, akankah Becky luluh atau memilih pria lain?
Sampul Novel Maaf, Aku Tidak Pantas Buatmu
8.6
Irfan, pria saleh yang cerdas dan tampan, masih terpukul setelah Iffah menolak niat baiknya dengan alasan merasa tak pantas. Padahal, Irfan adalah sosok idaman yang taat beragama. Di tengah ketidakpastian alasan tersebut, muncul Rayhan, lulusan Malaya University yang mulai mendekati Iffah. Kini Iffah terjebak dalam dilema antara kehadiran Rayhan atau perasaan terpendamnya pada Irfan. Akankah ia memilih sosok baru atau kembali pada cinta lamanya?
Sampul Novel NAJIS JADI MADUMU, MAS!
9.3
Kehidupan pengantin baru yang seharusnya indah justru terasa hambar bagi sang istri. Suaminya jarang pulang, mengabaikan kewajiban batin, dan hanya memberi uang belanja sangat minim. Rasa curiga yang menumpuk mendorongnya untuk melakukan penyelidikan mandiri demi mengungkap kebenaran di balik sikap dingin pasangannya. Tak disangka, sebuah rahasia besar yang sangat menyakitkan akhirnya terungkap. Ternyata, selama ini suaminya menyembunyikan sisi lain yang tak terduga.