
CEO YANG MENKUJGKIRBALIKKAN DUNIAKU
Bab 3
Aku melihat Delia berjalan cepat menuju Gedung C. Ia mengenakan blus merah berlengan panjang, dengan garis putih di kerah dan manset, dipadukan dengan celana putih dan sepatu merah model Aladin andalannya.
Rambutnya dikuncir tinggi dengan ikat rambut merah-membuat wajah manisnya terlihat semakin jelas. Ah, Delia. Gadis keras kepala yang bahkan dengan tampilan sesederhana itu tetap berhasil mencuri perhatianku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkah untuk menghadangnya di depan pintu masuk. Teman-temanku bersiul pelan di belakang, menonton dengan semangat seperti sedang menonton adegan drama.
"Delia," panggilku, nada suaraku setengah menantang. "Urusanmu belum selesai sama aku."
Dia berhenti. Wajahnya langsung masam. Ia mencoba menghindar, menunduk dan mempercepat langkah. Tapi aku lebih sigap. Tanganku terulur, menghalangi jalannya.
"Mau kabur? Gak semudah itu," ucapku sambil tertawa kecil. "Kalau mau masuk, ada syarat."
Delia menatapku kesal. Tapi aku tahu, dia bukan tipe yang suka bikin keributan di tempat umum.
"Ya udah, maunya apa lagi sih?" balasnya, nada sebal tak bisa ditutupinya.
"Kalau kamu jadi Sri Mulyani, menghadapi situasi sekarang, apa yang bakal kamu lakukan?" tanyaku tiba-tiba, kali ini dengan nada serius.
Dia menarik napas, siap menjawab. Tapi aku langsung mengangkat tangan, memotong.
"Kelamaan! Kamu harus dihukum!" ucapku sambil nyengir.
Delia melotot. "Hukuman apaan sih?!"
Teman-temanku mulai bersorak kecil, menanti hukuman aneh yang pasti sudah kusiapkan.
Aku menyeringai. "Kamu pilih. Mau nyanyi lagu Sakitnya Tuh di Sini sekarang juga... atau kasih nomor WhatsApp kamu."
Delia mendelik. Wajahnya jelas bingung. Dua-duanya memalukan, cuma beda tingkat.
Akhirnya, dengan suara pelan tapi tegas, dia menjawab, "Kasih nomor WA aja."
Aku menahan tawa. Sudah kuduga dia bakal pilih itu. Tapi aku juga tahu kelakuannya-pasti nanti diblokir.
Aku mengangguk, pura-pura puas. "Gak jadi. Ganti. Kasih alamat rumah kamu aja."
Wajah Delia langsung berubah. "Buat apa alamat rumah?" tanyanya curiga.
Aku mendekat sedikit, suaraku diturunkan, tapi cukup membuatnya waspada. "Kalau alamatnya palsu, kamu harus siap dihukum dua kali lipat."
Dia menggigit bibir bawah, ragu. Tangannya mencengkeram erat tali tas selempangnya. Setelah hening beberapa detik, akhirnya ia menyebutkan alamat kontrakannya-lengkap, dengan blok dan nomor rumah.
Aku mengeluarkan ponsel. "Ulangin. Aku catat."
Dengan wajah merah padam, Delia mengulanginya. Teman-temanku bersorak di belakang, seolah aku baru saja menang taruhan.
Selesai mencatat, aku menatapnya. "Bagus. Kalau ternyata palsu, hukumannya dobel."
Delia mendengus, lalu berjalan melewatiku-menabrak bahuku dengan tas selempangnya. Aku membiarkannya lewat, tak bisa menahan senyum.
Bocah keras kepala.
Kamu boleh lari sekarang, Delia, tapi kamu nggak akan bisa lari terus dariku.
♡♡♡
Sudah tiga bulan sejak dia memberikan alamat itu. Aku belum pernah ke sana. Bukan karena takut dia bohong-Delia terlalu jujur untuk itu. Tapi entahlah. Setiap kali aku mengingat alamat itu, ada rasa gugup yang aneh.
Jadi selama tiga bulan terakhir, aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Diam-diam. Seperti penguntit amatir dengan niat mulia.
Sore ini, akhirnya aku memutuskan untuk datang. Sempat terpikir untuk berdandan rapi. Tapi kupikir, ah sudahlah. Ini kunjungan resmi ke rumah cewek paling menyebalkan sekaligus paling menarik di kampus-mungkin penampilan biasa saja lebih jujur.
Yang penting, mobil sport merah kesayanganku dicuci sampai mengilap. Mobil itu kuparkir tepat di depan rumah kontrakan Delia, sedikit miring supaya kelihatan elegan dari segala sudut. Lampu hazard kunyalakan sebentar. Lalu ku tekan klakson-sekali saja. Dramatis.
Tapi harapanku langsung runtuh saat Delia keluar. Bukannya kaget atau kagum, dia malah langsung panik. Membawa gayung biru, wajahnya penuh curiga.
"ARKAN?!" serunya. "Ngapain kamu ke sini?!"
Ya ampun, Delia. Boro-boro terkesan, melirik mobil pun tidak. Aku tersenyum miris dalam hati.
Mobil sport merah, kalah saing sama gayung plastik.
"Aku cuma mau buktiin kamu nggak kasih alamat palsu," sahutku santai.
Dia membuka pagar dengan malas. Berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tangan di dada.
"Terus sekarang kamu mau apa? Laporin ke rektor? Atau ngajak nyanyi dangdut keliling RT?"
Aku tertawa pelan. "Tenang. Aku nggak sejahat itu. Tapi boleh juga tuh... karaoke duet pas lebaran."
Dia melotot, tapi pipinya memerah. Duh, lucunya.
"Kalau kamu cuma mau malu-maluin aku, mending pulang aja," ujarnya sambil mulai menutup pagar.
Tapi aku tahan. "Gak. Aku ke sini bukan buat itu. Aku cuma... pengen lihat kamu aja. Tanpa baju merah. Tanpa wajah galak."
Dia terdiam. Tatapannya lebih lama kali ini.
"Dan kamu puas sekarang?"
Aku mengangkat bahu. "Lumayan. Tapi kalau kamu bikinin teh manis, mungkin aku bakal lebih puas lagi."
Dia mendecak. "Dasar cowok aneh."
Tapi pagar itu tetap dibuka lebar. Dan tanpa sadar, dia masuk ke dalam, sambil ngomel-ngomel kecil.
Aku tersenyum lebar, lalu menyusulnya masuk.
Lucu ya, hidup ini... dari ancaman dangdut jadi undangan teh manis.
Anda Mungkin Juga Suka





