Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO with Pole Dancer

CEO with Pole Dancer

Insiden sepele mengubah hidup Zia Zovanka selamanya saat ia menjadi target buruan Sagara Pratama. Amarah mendorong pria berkuasa itu untuk mengejar Zia, sang yatim piatu, hingga berhasil merenggut sesuatu yang paling berharga darinya. Meski Sagara dikenal dingin terhadap wanita, bayangan Zia justru terus menghantui pikirannya. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Sagara tanpa sengaja menemukan Zia sedang menari di sebuah klub malam langganannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di sebuah gang kecil dengan beberapa bangunan tinggi menjulang di sekitarnya, tampak Zia berjalan dengan langkah terseok-seok. Wajahnya sembab setelah menangis bersamaan dengan peluh membanjiri seluruh wajah. Bayangan akan kelakuan Sagara terhadapnya yang baru terjadi, menyisakan luka batin dan fisik pada raganya.

Pada akhirnya ia bersyukur karena bisa keluar dari rumah Sagara. Rumah megah milik pengusaha yang terkenal dengan sikap sadis dalam menghadapi musuh-musuh bisnisnya, adalah tempat yang sama sekali tidak pernah Zia pikirkan jika ia akan berada di dalamnya.

Ia masih ingat, beberapa waktu lalu usahanya yang ingin keluar dari bangunan mewah tersebut sempat terhenti ketika dua orang penjaga mencegahnya pergi.

“Anda mau kemana, Nona?” tanya salah seorang penjaga kepadanya.

Meski jiwanya masih terguncang dengan tubuh gemetar ketakutan sebab baru bisa melewati hal terburuk dalam hidupnya, Zia mencoba bersikap tenang ketika akan menjawab pertanyaan sang penjaga.

“Tuan Sagara sudah tertidur dan saya sudah diminta untuk pergi dari sini, Tuan!”

Penjaga itu terlihat sedikit ragu, tetapi tak ada sosok Ardan yang biasanya akan berwenang terhadap siapa pun orang yang masuk dan keluar dari rumah besar tersebut, yang akhirnya membuat kedua penjaga itu membiarkan Zia pergi.

“Terima kasih, Tuan!” ucap Zia.

Gadis itu lalu melanjutkan langkahnya untuk segera keluar area perumahan di mana Sagara tinggal, dan mencari tumpangan menuju ke rumah.

Beberapa saat kemudian, Zia sudah berada di depan kontrakannya yang mungil dan sederhana, setelah sebelumnya ojek motor yang ia dapatkan di jalan besar menurunkannya di gang kecil menuju rumah.

Zia yang tengah mencoba mencari kunci rumah dalam tas selempang yang berfungsi sebagai tas kerja, tiba-tiba terperanjat kaget saat kunci yang berhasil ia ambil terjatuh ke lantai.

Tubuh Zia yang masih gemetaran meski ia sudah berhasil keluar dari kediaman Sagara, sepertinya belum membuat fokusnya kembali. Pasti ia masih trauma demi mengingat itu semua.

“Ya Tuhan, kuatkanlah hamba!” gumam Zia yang masih belum bisa membuka pintu rumahnya.

Di tengah usahanya yang belum berhasil memutar kunci, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Sosok Lena, sang kawan, muncul dengan wajah heran menatap Zia.

“Zia! Ada apa dengan kamu?” tanya Lena khawatir.

“Ah, ehm, a-aku baik-baik aja.” Dengan suara terbata, Zia berbohong.

Perlahan Zia masuk ke dalam rumah. Sedikit kesulitan melangkah, membuat Lena segera menangkapnya saat Zia hampir terjatuh.

“Zi, kamu enggak baik-baik aja. Ada apa ini?”

Siapa pun yang melihat kondisi Zia —sedikit berantakan dengan wajah sembab dan keringat yang membuat penampilannya kacau, pasti khawatir. Tak terkecuali Lena yang sudah tinggal bersamanya di rumah kontrakan sederhana itu, tentu merasa cemas akan kondisi sang kawan.

“Sungguh, aku baik-baik aja. Aku sedikit kecapean setelah melayani sebuah acara pesta dadakan di kafe tadi.” Lagi, Zia berbohong.

Lena tak serta merta percaya, tetapi melihat kesungguhan jawaban yang Zia ucapkan, membuat perempuan itu tak lagi bertanya.

“Ya udah kalo gitu. Tapi, apa ada yang bisa aku bantu untuk membuatmu sedikit lebih baik?” tanya Lena menawarkan diri.

“Ehm, tidak. Terima kasih. Aku permisi ke kamar mandi dulu,” ucap Zia yang sudah ingin buru-buru membersihkan diri.

Namun, saat ia hendak melanjutkan langkah, Lena kembali memanggil.

“Ngomong-ngomong, Zi, bagaimana uang kuliah yang harus kamu bayar segera, apakah kamu sudah mendapatkan sisa kekurangannya?”

Zia urung masuk ke kamar mandi, ia memilih berbalik demi menjawab pertanyaan Lena.

“Sudah. Uang yang aku dapatkan dari menari di kelab sudah bisa menutupi kekurangan biaya kuliahku.”

“ Ah, syukurlah.” Lena tampak lega. “Maafkan aku karena tidak bisa membantumu. Sebab kamu tahu, aku sendiri ...!”

“Sudahlah, Len, kamu enggak perlu merasa tidak enak. Kamu pikirkan saja keluargamu, aku tahu mereka lebih membutuhkan kamu dibanding aku. Justru aku ingin berterima kasih karena kamu sudah memberiku pekerjaan tambahan sebagai penari,” ujar Zia tersenyum.

Tampak wajah Lena semakin lega, terlihat dari ekspresinya yang sedikit ceria.

“Ya sudah, aku mau bersih-bersih dulu, yah?” sahut Zia.

“Ah, eh, iya. Ya udah sana!”

Zia kemudian melanjutkan langkah, berusaha bergerak cepat menuju kamar mandi.

Ya, selain bekerja sebagai seorang pelayan di kafe, sudah sejak sepekan kemarin Zia menjadi penari tiang di salah satu kelab malam ibukota. Ia mendapat tawaran dari Lena yang sudah lebih dulu menari di sana.

“Lumayan, Zi, bisa buat tambah-tambah bayar kuliah dan hidup sehari-hari. Lagipula Cuma dua hari dalam sepekan, weekend aja. Aku yakin kamu akan dengan mudah dapat uang banyak, secara kamu emang pintar nari,” ujar Lena waktu itu.

“Tapi, aku enggak berani.”

“Enggak berani kenapa? Takut ada yang kenal sama kamu?” kekeh Lena seperti mengejek.

“Kamu tahu aku enggak punya banyak teman, mana mungkin aku memikirkan hal itu. Aku Cuma takut kalau ada lelaki iseng yang megang-megang tubuh aku pas lagi nari!”

“Peraturan kelab-nya enggak izinin begitu. Aku udah ngalamin sendiri, Zi. Kalau pun ada yang mau ‘make’ para penari yang disuka, mereka akan nemuin kita di belakang stage bukan pas lagi manggung.”

Pada akhirnya Zia pun menerima tawaran Lena. Dua kali dalam sepekan di waktu weekend, Zia akan menunjukkan kepandaiannya menari.

“Ish!”

Kembali pada Zia yang tiba-tiba mendesis menahan perih. Di depan kaca kamar mandi saat akan melepas seluruh pakaian yang sudah lembab oleh keringat, ia melihat pantulan tubuhnya.

Perlahan Zia menyentuh dadanya yang polos. Banyak tanda kemerahan bekas kecupan juga gigitan kecil di sana. Hal itu langsung membuat air mata kembali jatuh ke pipinya.

“Lelaki brengsek!” gumam Zia sembari memukul cermin di depannya, yang langsung pecah berkeping-keping. Ia tentu tidak berani teriak sebab tak ingin kawannya —Lena, mendengar.

Namun, bunyi pecahan kaca yang terjatuh, ternyata membuat Lena menggedor pintu kamar mandi.

“Zi! Zia! Ada apa? Kenapa aku mendengar suara pecahan kaca di dalam?” Terdengar gadis itu begitu khawatir. “Sungguh kamu baik-baik saja?”

“Iya, Lena. Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak sengaja menyenggol cerminnya sampai jatuh!” teriak Zia membalas.

Lena tahu Zia berbohong, tetapi ada apa sebenarnya dengan kawannya itu. Jujur saja ia tidak bisa tenang. Ia merasakan bahwa sesuatu yang tidak baik tengah Zia alami.

Lena memang tidak tahu bila saat ini Zia, teman satu kontrakannya yang sudah tinggal bersamanya lebih dari tiga tahun itu, tengah trauma akan kejadian yang baru saja menimpanya. Dirinya kembali teringat akan setiap sentuhan kasar yang Sagara lalukan terhadapnya tadi di rumahnya.

Masih tergambar jelas di pelupuk mata Zia seringai menakutkan di wajah Sagara yang tampan, yang sangat melukai hati dan perasaannya.

Zia masih ingat dirinya ketakutan saat berada di dalam kamar lelaki itu.

“Tolong!”

“Tolong!”

Hanya kata itu yang bisa ia teriakan. Namun, tak ada siapa pun yang membantu, membuatnya benar-benar sendirian.

Mengingat itu semua membuat tubuh Zia seketika jatuh ke lantai kamar mandi. Di bawah kucuran air keran yang mengalir deras, Zia berusaha menghilangkan setiap sentuhan lelaki itu di tubuhnya. Saat hidung dan bibir Sagara menempel serta mencumbu leher hingga payudaranya, membuat gadis itu berharap air itu bisa membersihkan tubuhnya kembali.

“Tidak! Ini sangat menjijikan!” lirih Zia berkata sembari terus menggosokkan sebuah sponge di seluruh permukaan kulit.

Sudah tidak terhitung berapa banyak air mata yang keluar seiring kucuran air yang membasahi seluruh tubuhnya.

Zia yang tadi sudah pasrah karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, bersyukur karena Tuhan masih menyelamatkannya dari laki-laki ‘jahat’ seperti Sagara.

Aksi di mana mahkota miliknya yang hampir direnggut paksa, Tuhan selamatkan dengan rubuhnya Sagara karena efek alkohol yang memenuhi tubuh dan menghilangkan kesadaran lelaki itu. Ia bersyukur karena Tuhan masih melindunginya dari ‘hukuman’ yang Sagara berikan hanya karena masalah sepele —menurutnya.

“Lelaki brengsek! Apakah ia harus melakukan itu hanya karena tumpahan jus?” gumam Zia yang masih belum mengerti.

Ia terus menangis di bawah kucuran air keran hingga kulitnya terasa keriput sebab terlalu lama terkena air.

Setelah Zia merasa kondisinya sudah lebih baik, ia pun segera menghentikan aktifitasnya. Ia melangkah keluar dengan handuk membelit tubuh. Namun, ia cukup terkejut ketika mendapati Lena yang ternyata masih menunggunya di depan pintu.

“Sungguh aku baik-baik saja, Len!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Miskin, tapi Bohong
8.2
Maya adalah pewaris kaya yang memilih menyembunyikan identitas aslinya, namun ia justru mendapat perlakuan kejam dari mertua dan suaminya sendiri. Dirga, sang suami yang dahulu memohon untuk menikahinya, ternyata hanya mengincar harta tabungan Maya dan meremehkannya. Meski menderita, Maya terpaksa bertahan demi melindungi sosok yang ia cintai. Akankah ia mampu melepaskan diri dari belenggu keluarga Dirga, atau selamanya terjebak menjadi budak mereka?
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama mempermalukanku di hari pernikahan kami dengan menyebutku milik kakaknya demi kembali pada mantan kekasihnya, Saskia. Dia sengaja menunda kesembuhan Saskia demi menikmati hubungan mereka, yakin aku akan setia menunggu. Namun, Baskara salah besar. Aku tidak akan diam saja saat dia berencana memiliki kami berdua. Aku mendatangi penguasa sejati keluarga mereka, Dananjaya Aditama, dan memintanya menikahiku untuk menghancurkan Baskara.
Sampul Novel Istri Manis Tuan Jicko
9.8
Demi menuruti ambisi ibunda yang mendambakan cucu tanpa harus terikat pernikahan, Jicko menolak perjodohan dan memilih jalan pintas. Ia menawarkan sebuah kesepakatan khusus kepada Ameera untuk mengandung buah hatinya. Jicko yakin kontrak ini akan menguntungkan kedua belah pihak tanpa ada komitmen emosional. Namun, rencana yang semula tampak sederhana ini berubah menjadi pelik saat realitas hubungan mereka ternyata jauh lebih rumit dari dugaan.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Scandal Married With CEO
8.9
Pernikahan Sean Gibert dan Qiena William tampak sempurna sebagai penyatuan dua dinasti bisnis besar. Sean adalah pemimpin ambisius, sementara Qiena dikenal sebagai direktur cerdas sekaligus ibu yang berbakti. Namun, di balik citra ideal itu, tuntutan Sean memicu keretakan. Qiena justru menemukan cinta sejati untuk pertama kalinya pada sosok Jack. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: tetap setia demi keutuhan keluarga atau mengejar kebahagiaan bersama pria lain.