
CEO with Pole Dancer
Bab 3
Keesokan pagi, Sagara yang masih tertelungkup —posisi yang sama seperti saat Zia meninggalkan kamarnya, perlahan membuka kedua mata sebelum memutuskan untuk beranjak.
Saat sudah duduk, ia merasakan kepalanya pusing dan berat, bahkan bau alkohol tercium ketika menguap. Lantas, ia pun mencoba mengingat atas apa yang terjadi dengannya.
Tampak kamar yang berantakan ketika ia mengedarkan pandangan ke seluruh area. Ada pecahan beling dan bingkai kaca berserakan di atas lantai.
“Sial!” umpatnya sembari bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang masih ada di tubuh.
Sagara bisa langsung mengingat peristiwa yang membuatnya berada dalam pengaruh alkohol sehingga terkapar di atas kasurnya sampai pagi. Ia pun kemudian memanggil Ardan —sang pengawal setia, untuk ia ajukan pertanyaan.
Ketika lelaki bertubuh tegap itu muncul, Sagara yang hendak ke kamar mandi, urung melangkah dan memilih duduk di sofa sembari menenggak air mineral dalam botol.
“Kemana gadis itu?” tanya Sagara to the point.
Ardan yang berdiri tepat di depan sang tuan, tampak menunduk sebelum bicara.
“Maaf, Tuan, menurut informasi yang saya dapatkan dari pengawal depan, pelayan kafe itu sudah pergi sejak semalam.”
“Apa? Bagaimana bisa!” seru Sagara terkejut.
“Menurut mereka Anda sudah menyuruh pergi.”
“Para pengawal bodoh! Bagaimana mereka bisa percaya dengan ucapan perempuan itu?” teriaknya kesal.
Seketika Ardan merasa bersalah kepada Sagara karena tidak ada saat gadis itu pergi. Setelah berhasil membawa paksa gadis itu ke kamar sang tuan, pengawal itu memang langsung pergi karena harus mengurus satu pekerjaan. Tapi, ia sama sekali tidak menduga jika Zia bisa dengan mudah bebas melewati pengawal yang banyak berjaga di setiap sudut rumah.
Kembali umpatan demi umpatan Sagara lontarkan tanpa rem. Beberapa pengawal dan penjaga yang berjaga semalam, akhirnya harus menerima hukuman dari Sagara melalui tangan Ardan. Hal itu ia lakukan saat sarapan pagi di ruang makan rumahnya.
Namun, sejenak kemudian Sagara seperti tersadar, untuk apa ia memikirkan perempuan itu?
“Aku yang bodoh. Kenapa aku malah kepikiran pelayan itu!” gumamnya kesal.
Seolah ingin melupakan apa yang terjadi semalam, Sagara pun meminta agar kamarnya segera dibersihkan, rapi seperti semula.
Tanpa bertanya lebih jauh, Ardan langsung memerintahkan dua orang pelayan merapihkan dan membereskan kamar sang tuan yang berantakan sisa semalam.
Sagara yang sudah bersiap pergi ke kantor, terlihat tidak baik. Mood-nya yang hancur sejak kemarin, sepertinya belum terobati hingga sekarang. Bahkan, semakin kesal karena tiba-tiba ia terus teringat sosok Zia, si pelayan yang berhasil lolos dari kediamannya.
***
Di tempat lain, Lena yang sudah siap dengan sarapan paginya bersama Zia, tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi sang kawan yang mendadak demam.
“Ya Tuhan, Zia. Badan kamu panas banget!” seru Lena khawatir.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Zia ketika Lena membangunkannya. Gadis itu hanya melenguh dengan suara lemah dan lirih.
“Zia, kenapa tiba-tiba kamu sakit kaya gini,” gumam Lena mulai mencari handuk kecil dan baskom yang kemudian ia isi dengan air hangat.
Lena akan gunakan handuk itu untuk mengompres kening Zia supaya suhu panasnya turun.
“Ya Tuhan, Zi. Ada apa sebenarnya dengan kamu?” gumam Lena pelan. Ia kembali teringat dengan Zia yang semalam pulang dalam kondisi yang menurutnya sudah tidak baik.
Di setiap uluran dan aksi kedua tangan Lena lakukan, perempuan itu terus membayangkan kondisi Zia yang saat ini terbaring lemah.
“Selama ini meski hidupmu penuh dengan penderitaan, jarang sekali kamu sakit seperti ini.” Lena yang sudah mengenal lama Zia pastinya tahu bagaimana keadaan gadis itu sebenarnya.
“Ah, sakit sekali!” Tiba-tiba Zia terbangun.
“Zia, apa yang kamu rasain?“
Perlahan Zia membuka mata. Ia melihat sosok Lena yang duduk di samping kasurnya.
“Kepala aku pusing, Len.” Kedua mata Zia kembali terpejam. Ia seperti tengah merasakan kesakitan yang luar biasa.
“Kita ke dokter aja yah, Zi? Aku khawatir lihat kamu panas kaya gini.”
Zia tampak menggeleng, “Enggak, Len. Aku enggak mau ke dokter.”
“Kenapa?”
Tidak menjawab, Zia hanya kembali menggeleng.
“Tapi, badan kamu panas banget ini.”
“Aku minum obat penurun panas dan pereda nyeri aja, kamu punya ‘kan?”
“Ada.”
Lena segera beranjak. Ia lalu mengambil wadah obat yang ada di atas lemari pakaiannya.
“Tapi, kamu harus makan dulu, Zi,” ujar Lena setelah kembali dari kamarnya.
Zia hanya sanggup mengangguk. Tak kuat bangun, ia dibantu Lena menaikkan bantalan kepalanya sedikit lebih tinggi.
“Sarapan bubur, yah? Kebetulan tadi pas banget ada yang lewat depan kontrakan,” ucap Lena dengan sebuah mangkok di tangannya.
“Iya!” jawab Zia mengangguk. “Aku bisa sendiri, Len. Makasih!” lanjut Zia ketika Lena hendak menyuapinya.
Akhirnya Lena pun memberikan mangkok berisi bubur itu kepada Zia.
“Ya udah, kamu habiskan buburnya dulu, setelah itu diminum obatnya. Aku mau siap-siap!”
“Masih mau nyamperin lelaki gila itu?” tanya Zia tiba-tiba. Dalam keadaan sakit, Zia sepertinya masih tak rela dengan ‘aktifitas terlarang’ yang kawannya itu akan lakukan.
“Orang gila itu yang udah kasih aku duit bulanan, Zi,” sahut Lena tersenyum pilu.
Sama-sama membayangkan aktifitas Lena selain bekerja di kafe dan kelab malam, membuat suasana di antara dua perempuan itu mendadak hening. Tak ada yang bersuara sebab Zia dan Lena tenggelam dalam pikiran masing-masing.
***
“Kenapa aku harus memikirkan perempuan itu?” gumam Sagara kesal saat dirinya sudah berada di dalam sebuah kelab malam, selepas ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya yang sama sekali tidak bisa fokus ia kerjakan.
Sosok pelayan yang tak lain adalah Zia, sudah membuat harinya terganggu. Aroma tubuh gadis itu seperti memenuhi pikirannya. Bayangan akan tubuh yang semalam ia cumbu masih jelas tergambar di benaknya, membuat Sagara frustrasi dibuatnya.
Akhirnya sebuah kelab malam di mana transaksi seperti narkoba, seks dan segala kesenangan dunia lainnya yang sebagian orang menilai negatif, adalah tujuan pengusaha itu. Sebuah kelab malam langganan Sagara yang juga banyak didatangi kalangan kelas atas atau jet set demi mencari kesenangan, ketenangan, atau kepenatan dunia.
Namun, meski fungsi kelab malam tersebut terkesan hina, menjijikkan, dan kotor, tetapi kelab malam itu menjadi tempat paling dicari bagi banyak pria yang mengincar lembah basah wanita dan begitu pun sebaliknya.
Uniknya, bagi seluruh karyawan —baik dari pelayan, bartender, juga para penari yang tampil di kelab, mereka diwajibkan untuk menandatangani sebuah surat perjanjian rahasia, di mana tak boleh ada satu orang pun yang membocorkan hal-hal yang terjadi di dalam kelab malam tersebut ke luar.
Hal lain yang membuat kelab malam itu ‘terhormat’, dan Sagara pun ketahui, yakni bolehnya para penari tiang menolak untuk tidak ‘dibooking’ oleh pengunjung yang ingin melakukan one night stand —terkecuali penari striptis yang selalu membuat nafsu serta syahwat para lelaki naik karena aksi dan penampilannya, yang tak pernah mau menolak untuk dibawa mencari kamar.
Sagara yang masih menunggu minuman yang bartender siapkan, tiba-tiba didatangi seorang wanita berpakaian sangat seksi —yang menampilkan lekukan tubuh serta belahan dadanya— datang dan membuat mood lelaki itu bertambah buruk.
“Apakah Anda butuh teman, Tuan?”
Sagara diam saja tidak menjawab. Ia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran wanita itu yang perlahan mulai bersikap agresif padanya. Tampak ia bergerak semakin genit dengan sengaja menggesek-gesekkan buah dadanya yang hampir tumpah dari bra-nya ke lengan Sagara.
Namun, saat wanita itu baru menjulurkan tangan hendak menyentuh wajah Sagara, lelaki itu langsung sigap bergerak.
“Kalau Anda mau, ah ...!” Wanita itu memekik kaget.
“Jangan macam-macam!” ancam Sagara. “Pergi dari hadapanku sekarang!” perintah Sagara dengan wajah emosi.
Wanita itu jelas ketakutan. Sorot mata Sagara terlihat menakutkan dengan kedua mata yang memerah karena marah. Lalu, ia pun memutuskan untuk pergi dari lelaki itu secepatnya.
“Ini minuman Anda, Tuan!” ucap seorang bartender sembari meletakkan gelas berisi minuman di depan Sagara.
“Makasih, Fredy!” jawab Sagara masih terlihat kesal.
“Harap maklum, Tuan, PSK baru,” ucap sang bartender merujuk pada wanita yang tadi sempat mengganggu Sagara.
Tak ada respon dari Sagara, membuat sang bartender mencoba mengalihkan suasana sang pengusaha yang sepertinya sedang tidak baik.
“Malam ini Anda datang sendirian, Tuan? Tidak bersama Tuan Marko?” tanya sang bartender.
“Hem, kemana lagi perginya Marko kalau bukan kamar hotel atau apartemen. Cuma dua tempat itu ‘kan yang akan menjadi ujung terakhir para lelaki brengsek seperti dirinya bila sudah bersama dengan wanita?” kekeh Sagara sembari menenggak minuman ke dalam kerongkongannya.
Ya, Marko memang sahabatnya yang sangat suka perempuan. Meski begitu, lelaki itu sangat pemilih saat bermain dengan wanita-wanita penjaja lembah basah tersebut.
“Ngomong-ngomong, aku dengar ada penari baru di sini, apakah betul?” tanya Sagara mencoba melupakan pembahasan tentang Marko dengan memilih menyaksikan empat orang penari tiang yang menjadi sajian utama di kelab malam tersebut setiap weekend.
“Ya, itu memang benar. Tapi, dari mana Anda tahu, Tuan Sagara? Seingat saya sudah lama Anda tidak berkunjung ke sini.”
“Hem, ada saja selentingan kabar yang aku dengar,” sahut Sagara cuek.
Fredy terlihat mengangguk.
“Yang mana orangnya? Sepertinya aku tidak melihat sosok penari baru itu di sana?” tanya Sagara sembari menunjuk sosok para penari tiang yang sedang beratraksi di panggung.
Meski para penari memakai topeng di setiap aksinya, tetapi Sagara bisa mengenali para wanita seksi tersebut. Menurutnya dari keempat penari yang tampil, semua adalah para penari yang sudah biasa beraksi.
“Orangnya tidak tampil malam ini, Tuan.”
“Kenapa?”
“Menurut kabar yang saya dengar, katanya sedang sakit.”
“Ehm, kapan biasanya jadwal penari itu tampil? Apakah besok?”
“Sama seperti yang lainnya, Tuan, hanya setiap weekend. Tapi, saya tidak tahu apakah besok ia akan datang atau tidak,” jelas Fredy memberi tahu.
“Mungkin kamu bisa hubungi Ardan kalau penari itu datang,” ucap Sagara sembari melirik sang pengawal yang duduk di sampingnya.
“Tapi ...?”
Anda Mungkin Juga Suka





