
CEO My Husband
Bab 2
"Sini saya bantu." Revan menundukkan tubuhnya untuk membantu Tasya membersihkannya.
"Gak usah Pak saya bisa sendiri kok" Tasya mencoba mencegah agar bossnya tetao tidak membantunya.
"Jangan membantah." Revan tetap membantu Tasya walupun dirinya ditolak olehnya selesai membersihkannya, Tasya membuang semua bekal yang belum sempat ia makan tadi ke tong sampah belum saja dia memakannya tapi bekalnya malah dijatuhkan oleh Dinda teman musuhnya.
"Terima kasih pak saya permisi dulu." belum sempat Tasya pamit bossnya memegang tangannya membuat jantung jadi deg-degan.
Deg-deg
"Kenapa saya jadi deg-degan yah." batin Revan.
"Maaf pak tangannya.” Tasya menyadarkan Revan untuk melepaskan tangannya yang sudah dipegang olehnya lalu Revan pun melepaskannya.
"Temeni saya makan." ucap Revan yang sudah duduk di bangku kantin.
"Tapi pak saya masih ada pekerjaan lainnya." tolak Tasya.
"Kamu gak ingat perjanjian kita." Revan mencoba mengingatkan tasya untuk menuruti perintahnya kemudian dia pun pasrah duduk di depannya.
"Pak Rudy." panggil Revan kepada penjaga kantin.
"Iya pak." pak Rudy pun menghampirinya.
"Kamu mau pesan apa." tanya Revan kepada Tasya yang sudah duduk didepannya.
"Tidak usah pak bapak saja yang pesan " jawan Tasya karena dia tau kalo isi dompetnya tidak mencukupi untuk membeli makanan dikantin ini.
"Tenang saja saya yang bayar." kata Revan.
"Tiddd...kk____???” Belum sempat tasya bicara kepadanya Revan sudah memesannya.
"Saya pesan nasi goreng 2 dan jus jeruk 2."
"Siap pak ditunggu yah pak." lalu Revan mengangguk oak Rudy pun segera pergi dari sini untuk membuat pesanan yang tadi Revan pesan, Malam pun tiba tapi Tasya masih tetap bekerja lembur banyak sekali pekerjaan yang belum diselesaikan olehnya dan akhirnya sekarang selesai juga tugasnya.
"huftt Akhirnya selesai juga." Tasya menghela panjang nafasnya dengan senang karena tugasnya pun sudah selesai.
"Eh anak baru." panggil Dinda yang menghampiri Tasya baru saja tugasnya selesai kenapa ada masalah baru lagi sih.
"Ada apa?"
"Gw udah bilangin sama lu jangan dekat-dekat dengan pacar gw ngerti gak sih lu." Dinda menatap tajam ke arah Tasya.
"Maaf yah gw gak ada niatan mau ngerebut Pak Revan dari dulu, kalo memang lu suka sama dia yaudah ambil aja." dia juga tidak perduli kau bossnya pacaran sama siapapun yang penting hidupnya tenang.
"Kalo gak ada niatan kenapa lu ngedeketin dia hah?" Dinda menarik rambut Tasya dengan kencang membuat dia kesakitan
"Awhh sakit Din." Rintihan Tasya yang dijambak olehnya.
"Gw peringatin sekali lagi kalo lu masih dekatin dia gw gak segan-segan bunuh lu." Dinda Terus-menerys menjambak rambut Tasya dengan lebih kuat lagi, tiba saja pintu ruangan Revan terbuka Dinda pun mengacak rambutnya berpura-pura kalo dia dijambak oleh Tasya padahal sebenarnya dialah yang menjambak ya lebih dulu.
"Ada apa ini." Revan melihat rambut Dinda acak-acakan yang sudah berantakan yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Hiks hiks dia Pak sudah menjambak rambut saya." Dinda berpura-pura ekting didepan bossnya bahwa dirinya dibuly oleh Tasya.
"Enggak itu gak benar Pak, padahal dia yang sudah menjambak rambut saya." bela Tasya tapi tetap saja Revan tidak mempercayainya dia lebih memilih Dinda yang sudah lama bekerja disini.
"Dia Bohong pak hiks tadi dia ancam saya agar saya tidak dekat-dekat dengan bapak lagi padahal kami hanya sebatas bos dan karyawan." lirih Dinda yang mencoba pura-pura bahwa dirinya di buku olehnya.
"Tasya saya tidak suka kamu membuly karyawan disini." bentak Revan.
"Saya bisa jelaskan semuanya pak." Tasya mencoba untuk menjelaskan semuanya yang benar tapi Revan tetap gak mau mendengarkannya.
"Saya sudah liat semuanya saya tunggu di ruangan saya." Revan pun memasuki ruangan kerjanya lagi dengan tatapan sangat marah, hadeeh gimana ini baru kerja saja sudah dimarahi gimana kalo bossnya memecatnya oh my good mau cari pekerjaan dimana lagi mencari pekerjaan aja susah.
"Emang enak!! Ini baru permulaan rencana gw liat saja nanti kedepannya." Dinda menatap Tasya dengan sinis dan berlalu pergi meninggalkan Tasya sendirian.
"Astaga gimana ini apa masuk aja yah ke dalam tapi takutnya dia marahin gw lagi." gumam Tasya lebih baik Tasya masuk saja dari pada masalahnya jadi perpanjang lagi lebih baik dia menyelesaikannya dari sekarang.
"Permisi ada apa bapak manggil saya." tanya Tasya yang sudah membuka pintu ruangannya dan berdiri disitu.
"Bagus yah baru kerja disini Sudah bully karyawan disini." Revan berbicara dengan nada tinggi sedari tadi Revan sudah marah tapi kenapa Tasya membuat ulahnya membuat Revan semakin nambah marah lagi.
"Saya sudah bilang kalo saya gak salah." bela Tasya dengan tegas dia tidak mau disalahkan karena dia itu benar tidak salah apapun.
"Kamu berani bicara begitu sama saya." Tasya membuat Revan tambah emosi lagi padahal Revan lagi ada masalah pribadinya tapi kenapa dia malah mencari masalah dengan bossnya.
"Saya tidak mau jika ada orang yang menyalahkan saya padahal saya ini tidak salah."
"Oh berani yah kamu sama saya." Revan mendekati Tasya untuk lebih dekat lagi tambah lagi langkah kakinya pun sudah merapatkan tubuhnya dengan Tasya membuat Tasya mundur dan sudah mentok di pintu ruangannya.
"Bapak mau ngapain." dengan ketakutan Tasya tidak bisa berkutik apa-apa lagi hidungnya pun sudah bertabrakan dengan hidung mancung bossnya itu.
"Pak saya mohon jangan." Tasya masih ketakutan dengan apa yang bossnya lakukan bibir Revan pun bertemu dengan bibir Tasya dan memainkannya tiba saja tasya mendorongnya dengan sekuat tenaganya membuat Revan pun jatuh dilantai.
"Saya bukan jalang yang bisa bapak permainkan kapanpun." Revan hanya terdiam dia tidak menyangka apa yang mereka berdua lakukan tadi Revan hanya memegangi bibirnya dengan berpikir kalo dia benar-benar gak kendalikan emosinya.
"Maaf tadi saya gak berniat." lirih Revan yang menatap tasya sudah marah
"Jangan samakan saya dengan perempuan yang sudah bapak permainkan." Tasya pun pergi meninggalkan Revan di ruangannya dengan menutup pintu sangat keras membuat terdengar suaranya.
"Apa yang gw lakukan tadi." gumam Revan yang tidak percaya dengan semuanya ini Revan pun keluar dari ruangannya untuk mengejar Tasya, jangan sampai dia salah pahak berjalan cepat menyusulnya untuk meminta maaf atas tindakan yang tadi ia perbuat. Tiba didepan pintu kantor revan menahan lengan Tasya untuk mencegahnya tapi Tasya tetap memberontaknya untuk meminta dilepaskan tangannya yang dicengkeram kuat sampai tangan memerah.
"Lepasin." Tasya sekuat tenaga memberontak untuk melepaskan tangan yang dicengkeram kuat oleh Revan.
"Tas maafin saya."
"Jangan panggil tas Saya bukan barang."
"Itu panggilan kesayangan saya untuk kamu." goda Revan.
"Saya gak mempan godaan anda." tegas Tasya.
"Masa sih." Revan menggoda Tasya dengan mencolek dagunya.
"Gak usah sentuh-sentuh saya gak mempan gombalan bapak." Tasya menatap tajam ke arah Revan yang sedari tadi menggodanya.
"Harusnya kamu senang karena cuma kamu yang saya godain banyak loh wanita lain yang ingin digoda oleh saya." dengan bangganya Revan berbicara seperti itu emang sih dia banyak yang naksir tapi seenggaknya jangan songong gitu lah.
"Saya gak perduli." belum berjalan melangkah tangan Tasya di tarik oleh bossnya alhasil Tasya tidak bisa menyamai keseimbangan antara tubuhnya yang membuat dia hampir jatuh ke lantai untung saja Revan menahan tubuhnya agar tidak jatuh mata Revan bertemu dengan mata indah Tasya membuat jantung Tasya berdebar kencang.
Deg-Deg
apa ini yang dinamakan jatuh cinta sama sekali pun Tasya tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, bukannya dia gak laku tapi dia gak mau buang-buang waktu hanya cuma menghabiskan waktunya untuk lelaki lain.
"Jangan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan yah." gerutu Tasya yang sudah melepaskan dirinya dari Revan.
"Seharusnya kamu berterima kasih sama saya karena saya sudah membantu kamu, kalo gak saya bantu kamu pasti jatuh kalo kamu masuk ke rumah sakit siapa yang bakal gantikan posisi kamu jadi sekretaris pribadi saya." jelas Revan.
"Kan ada pacar bapak tuh." sindir Tasya membuat Revan bingung padahal dia sama sekali belum punya pacar semenjak dia cerai dengan istrinya, jangan sangka umurnya yang kepala tiga tapi wajahnya tetap masih awet muda membuat kaum hawa terpesona dengannya.
"Pacar!! Kata siapa saya sudah punya pacar." datar Revan.
"Lah kata Dinda bapak pacarnya dia." ujar Tasya.
"Saya sama dia hanya sebagai bos dan karyawan saja." balas Revan.
Anda Mungkin Juga Suka





