
CEO LEBAY
Bab 3
Saat aku membuka pintu, aku melihat seorang tua yang sedang menatap ku dengan tatapan keras. Pria itu memakai jas hitam dan tampak seperti orang-orang yang berusaha memperlihatkan kekuasaannya.
“Siapa?" tanyaku tidak mengenalnya.
“Pemilik tempat ini,” kata pria itu.
Seluruh tubuhku menjadi lemas dan dengan cepat berkata, “Maaf, uang sewa bulanannya belum dikirim oleh orang tuaku dari desa. Mohon bersabar.”
Aku tidak mengenal pria itu. Biasanya aku membayar pada istrinya.
Pria tua itu menatap ku dengan tajam, “Berhentilah berbohong. Aku tahu orang tuamu sudah mengirimkan uang sewa bulanan padamu. Dan kamu menghabiskannya untuk bermain di warnet.”
“Ughh...” perkataannya dengan tepat menghujam ke jantungku. Kebenaran yang selama ini ku penjarakan melarikan diri.
“Sudah giliranmu di sidang,” kata pria tua itu. “Ikuti aku,” dia sudah mulai bergerak.
“Aku? Di sidang?” Seingat ku, aku belum mencapai semester akhir. Aku buru-buru keluar dari pintu untuk mengejar pria yang sudah berjalan semakin jauh. Selangkah aku melangkah keluar dari kamar ku, mendadak aku sudah berada di sebuah tempat baru. Sebuah ruangan yang mirip ruang pengadilan.
Di tempat aku berdiri, terlihat dikelilingi pagar dari kayu yang cantik dengan ketinggian sepinggang. Di samping kananku, sekitar enam langkah dariku tepatnya, terlihat seorang wanita cantik yang bersinar bagaikan malaikat.
Oh~~ aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.
“Jaga pikiranmu anak muda!”
Aku segera melihat ke sebelah kiri ku dengan jarak yang sama sekitar enam langkah dariku, pria tua itu berdiri di sana memandang ku dengan tatapan menegur.
Oh~~ aku membencinya sejak pandangan pertama.
“Kamu tidak boleh membenci,” kata sebuah suara halus dan merdu.
Aku melirik ke arah gadis cantik yang kuberi julukan ‘malaikat’. Dia sedang tersenyum begitu indah padaku. Apakah mereka semua dapat membaca pikiran ku?
“Tok...tok...tok...” terdengar suara keras. Suara palu dari kayu yang memukul meja. Aku melihat di depanku terlihat seorang pria dengan wajah bijaksana yang sedang menatap ku.
“Segera mulai sidangnya,” kata pria di depanku tampak seperti hakim.
“Hakim yang terhormat, namaku Albertliner Louice Von Banden. Jaksa Penuntut pada sidang kasus kali ini.” Pria tua di samping kiriku mendadak hilang dan terlihat berada di depan, di antara aku dan hakim.
“Pria ini bernama Richard Aditya. Seorang dari desa dan baru saja meninggal karena ditabrak oleh mobil.”
Di samping kiri dinding ruangan, mendadak bersinar dan terlihat seperti layar televisi yang menampilkan gambar sebuah mobil mewah menabrak tembok. Aku melihat sesosok tubuh berlumuran darah terjepit di antara mobil yang ringsek dan tembok yang retak.
“Pasti mati seketika,” bisik ku melihat keadaan menyeramkan itu.
“Dia mati seketika,” kata Albert. “Dan itu adalah dirimu.” Dia menatap ku dengan tatapan menegur.
“Hakim yang terhormat.” Albert melanjutkan. “Pria ini sejak kecil sering mencuri.”
“Aku tidak pernah mencuri!” protes ku.
Albert tersenyum dan layar di depanku berganti menjadi sebuah pemandangan di desa dan terfokus pada sebuah kandang ayam. Seorang anak kecil terlihat melirik ke kiri kanan dan tersenyum jahat. Dia membuka pintu kandang dan masuk ke dalamnya untuk mengambil dua buah telur ayam kampung di antara ayam-ayam.
Itu jelas diriku! Tapi aku ingat saat mengambilnya untuk melihat ke semua arah dan memastikan tidak ada yang melihatnya. Apalagi merekamnya.
“Richard melakukan pencurian terencana ini pada ayam peliharaan kakeknya selama bertahun-tahun.”
“Keberatan.” Aku protes dan mencoba meniru adegan film-film persidangan.
“Itu adalah telur ayam kakek ku sendiri. Lagi pula aku memakan telur-telur itu agar membuat otak ku menjadi pintar dan bisa membuat kakek ku bangga, memiliki seorang cucu yang pintar dan bijaksana.”
Albert mendengus. “Itu tetap tergolong pencurian karena kakekmu tidak mengetahuinya. Meski dia mengetahuinya dan memaafkan perbuatan cucunya, itu adalah urusannya.”
“Dan kamu.” Albert menatap ku tajam. “Kamu tidak hanya memakan, tapi terkadang menjual telur itu untuk mendapatkan uang jajan.”
Aku menatapnya dengan kagum. Dia mengetahuinya.
“Mengenai kepintaran, kamu selalu berada di peringkat pertama dalam kelas ... tapi urutan dari belakang. Hingga kakekmu malu bertemu dengan tetangga yang menjulukimu orang paling bodoh satu desa.”
Aku.... Aku... tak mampu berkata-kata. Aku kalah telak.
Albert kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Sejak kecil, Richard sudah melakukan hal-hal jahat. Dia suka mengganggu anak-anak tetangga yang lebih lemah darinya dan takut pada mereka yang lebih besar dan kuat darinya.”
“Bukankah itu cerdas?” bisik ku lirih. Aku tidak akan mencari gara-gara pada orang yang lebih kuat dan menyakiti diriku sendiri.
“Dia juga suka mengganggu binatang-binatang. Memukul anak anjing, menangkap ikan-ikan kecil dan menangkap serangga.”
“Cuma sesekali!”
“Dia juga jarang beribadah.”
“Cuma sesekali!” protes ku lagi. Albert menatap ku dengan tajam. Nyaliku segera menciut dan melanjutkan.
“Cuma sesekali beribadah maksudku.”
“Dia juga pernah mencuri permen dari warung-warung di desa.”
“Cuma sesekali!” protes ku lagi. Kembali Albert menatap ku.
“Cuma sesekali saat pemiliknya tidak melihat ku.”
“Dia memiliki keinginan berbuat jahat yang tinggi dan selain itu, dia juga tidak dapat menahan hasratnya.” Pada layar terlihat seorang anak perempuan dengan pakaian sekolah dasar yang cantik. “Dia menyukai anak di bawah umur. Sesuatu yang dilarang secara hukum.”
“Begitu juga diriku,” protes ku yang hampir muntah darah. “Saat itu aku juga masih anak-anak dan murid sekolah dasar. Apakah salah menyukai seorang yang menjadi teman sekelasmu?”
Aku melihat pada ‘malaikat’ cantik. Dia menatap ku dengan pandangan jijik yang sangat menyakiti hatiku. “Percayalah, sekarang aku lebih menyukai gadis-gadis cantik dewasa bertubuh montok, berdada besar dan seksi.”
Wajah malaikat itu tidak berubah dan tetap menatap ku seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.
“Aku percaya,” kata sebuah suara.
Aku melihat ke arah suara dan tidak percaya jika Albert yang mengatakannya.
“Di mulai dari usia puber, Richard mulai mengumpulkan gambar-gambar seksi dan membeli buku-buku porno. Saat dirinya pindah dari desa ke kota, dia mulai mengakses situs-situs porno dan terlarang.”
Layar di depanku memperlihatkan wajah mesum ku yang sedang melihat gambar-gambar porno dengan tingkah yang sangat memalukan.
“Ihhh...” jerit malaikat sambil menutup matanya.
Aku muntah darah. Derita ku sungguh hebat. Aku dipermalukan habis-habisan di depan gadis cantik. Aku menatap Albert tanpa ada sepercik pun keinginan melawannya lagi. Biarlah dia membuka semua aibku. Aku sudah pasrah, hatiku sudah bisa menerima semuanya.
“Saat dia lulus sekolah tingkat atas dan ingin melanjutkan kuliahnya, dia mendapatkan beasiswa murid berprestasi dari universitas negeri di Jakarta yang terkenal elit.”
Perkataan itu membangkitkan semangat juangku di depan ‘malaikat’. Aku segera berkacak pinggang, membusungkan dadaku dan berkata, “Itu semua karena aku pintar dan berprestasi sehingga bisa mendapatkan beasiswa dari sekolah yang terkenal elit. Padahal universitas itu hanya mengabulkan beasiswa untuk lima orang dari 5.000 pemohonnya setiap tahun.”
Albert mendengus, “Itu karena yang menjadi rektor universitas adalah pamanmu, abang kandung dari ibumu. Kalian melakukan praktek Nepotisme dan merusak masa depan pemohon lain yang jauh lebih berprestasi dan pintar darimu. Mereka yang jauh lebih mungkin memajukan kehidupan orang banyak, bangsa dan negara daripada dirimu.”
Anda Mungkin Juga Suka





