Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO itu Tunanganku

CEO itu Tunanganku

Dua dekade berlalu, Melisa masih menanti cinta masa kecilnya hingga hatinya mati rasa. Saat mencoba membuka hati, ia justru terjebak pria oportunis. Di sisi lain, Rommy kembali dari perantauan sebagai sosok perkasa namun membawa luka lama. Meski Rommy datang melamar, Melisa justru menolak tanpa tahu mereka telah dijodohkan sejak kecil. Di tengah cobaan yang bertubi-tubi, mampukah rahasia perjodohan itu menyatukan kembali takdir cinta mereka yang sempat terputus?
Bab
Bagikan

Bab 2

Rommy menginjakkan kakinya di Bandara kota Jakarta tepat pada jam delapan pagi, laki-laki itu menghirup dalam oksigen kota yang telah lama tidak mengisi rongga paru-parunya.

Gegas ia melangkahkan kaki menuju parkiran menghampiri mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Rommy lantas masuk, dan mobil itu membawa dirinya menuju mansion Antarez.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil mewah tersebut telah sampai di halaman mansion. Rommy gegas turun dan memutuskan beristirahat sejenak sebelum nanti sore mengunjungi mansion Adhitama.

"Huh, air di sini memang nggak terlalu dingin. Bahkan aku sudah kepanasan sekarang," gumamnya.

"Lebih baik aku tidur saja, biar nanti fresh waktu ketemu Papa sama Mama. Dan ... Melisa," sudut bibirnya tertarik menyinggungkan senyum saat menggumamkan nama itu.

Ada kerinduan yang membuncah di sudut hatinya, kerinduan yang bahkan ia sendiri sulit menjelaskannya. Ini bukan lagi perasaan rindu pada seorang teman, ini adalah kerinduan pada wanita yang di cintai.

**

Di sisi lain, Melisa sudah siap dengan dress polos selutut berwarna putih. Dia berdiri dengan gelisah menanti kedatangan sahabat baiknya. Pagi ini ia berniat menemani sahabatnya mengisi seminar di salah satu hotel berbintang.

Sudah lima belas menit dia disana, menatap gelisah pada gerbang megah itu yang belum menampakan tanda-tanda sahabatnya akan datang.

"Kok belum berangkat?" tanya Natasya.

"Karin belum jemput, Mah. Mungkin kena macet."

Natasya mengangguk.

"Eh, kamu udah tahu kalo Rommy hari ini ke Indonesia?"

"A-Aku," jawabnya gelagapan, "nggak tahu."

"Bunda semalam yang bilang, Mel. Katanya Rommy udah siap pegang Antarez Company, jadi Ayah Marcell ngizinin dia pulang."

"Oh, gitu."

"Kamu nggak mau ketemu?"

Melisa menggeleng.

"Buat apa, Mah? Dia aja beberapa tahun terakhir nggak pernah balas pesanku, berarti dia udah lupain aku, dong."

"Nggak gitu, Mel. Rommy itu sibuk, dia buru-buru selesaiin S2-nya biar bisa cepet pulang."

"Sama aja, intinya Rommy udah lupa sama aku."

Natasya menghela nafas kasar, percuma berbicara dengan putrinya. Karena dia pun tahu bagaimana kecewanya Melisa pada Rommy. Selama ini Melisa selalu menunggu Rommy, namun jangankan datang. Bahkan pesan saja seakan di abaikan.

Maka wajar jika Melisa bersikap seperti ini. Padahal Melisa masih mengingat Rommy, lalu kenapa Rommy melupakannya? Itu yang ada dalam pikiran Melisa selama ini.

Tidak seberapa lama, sebuah mobil sport memasuki gerbang mansion. Melisa segera meraih tangan Natasya dan menyalaminya, gadis itu segera berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan halaman mansion.

"Kenapa murung gitu?"

"Sebel," jawab Melisa singkat, netranya masih memandang lurus pada jalanan di depannya.

"Kenapa lagi?"

"Dia pulang, Rin," lirihnya.

"Bagus, dong. Kenapa malah murung?"

"Bagus apanya?! Aku nggak mau ketemu sama dia, aku masih benci."

"Benci apa? Benar-benar cinta?"

Melisa melirik sebal. Sebenarnya ia bingung, dirinya grogi akan berhadapan dengan seseorang di masa lalunya. Apalagi sekarang pasti penampilan Rommy berubah.

"Jangan ngomong kayak gitu, nanti kamu malah terpesona gimana?"

"Ih, enggak! Kamu nggak tahu aja aku beneran benci sama dia. Selama ini dia lupa sama aku, dan bisa-bisanya semalam dia kirim pesan, katanya hari ini pulang. Nyebelin 'kan?"

Karin terkekeh lirih, "kalo lupa mana mungkin dia kirim pesan, Mel?"

"Tapi itu kenyataannya. Kamu tahu sendiri curhatan aku, Rin."

"Iya, aku tahu. Tapi kamu nggak tahu 'kan penjelasan dari sisi dia? Bukannya aku pernah bilang, dia akan pergi dan akan kembali dengan versi yang lebih baik. Atau akan datang 'dia' yang lain, dengan nama lain, dengan cinta yang lebih dalam buat kamu."

Melisa terdiam mendengar penjelasan panjang Karin, diam-diam dia berpikir. Apakah Rommy kali ini datang dengan versi terbaiknya?

"Apa benar?" lirihnya.

"Nggak ada yang tahu sebelum kamu ketemu sama dia, Mel. Udahlah santai aja."

Melisa melirik sekali lagi pada sahabatnya itu. Karin sudah pernah mengalami kepahitan dalam cinta, ia pasti lebih berpengalaman.

"Kamu bener, Rin. Aku terlalu cepat menyimpulkan."

Karin hanya menimpalinya dengan kekehan. Tanpa di jelaskan pun ia sudah tahu kalau Melisa memendam gengsi tinggi, ia tidak mau ada yang tahu perasaan aslinya.

****

Sore hari | Mansion Adhitama

Dengan gagahnya Rommy berjalan memasuki mansion yang sudah lama tidak ia kunjungi tersebut. Dengan senyum lebar netranya menelisik ke seluruh isi mansion, tidak banyak yang berubah. Hanya beberapa foto saja yang bertambah.

Rommy sangat merindukan mansion ini, mansion tempatnya berpisah dengan Melisa. Sejenak perasaannya menghangat, mengenang kembali masa-masa lucu dua puluh tahun silam.

"Nak, kamu udah sampai?!"

Natasya berlari kecil dan langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Rommy, tidak terasa air matanya menetes. Ternyata benar kata orang, pertemuan penuh kerinduan itu mengharukan.

"Udah dari tadi, Rom? Kenapa nggak ke dalem?"

"Papa," gumamnya, "aku baru aja sampai, masih lihat-lihat foto ini."

"Kamu kangen sama Melisa?"

"Selama dua puluh tahun aku menahan untuk hari ini, Pah. Mana mungkin aku nggak kangen?"

Yudis tergelak, dia menggandeng tangan Rommy untuk duduk di sofa. Pertemuan sore itu benar-benar sukses membuat Natasya banjir air mata, apalagi saat ia melihat Rommy tumbuh menjadi sosok tampan nan rupawan.

'Kamu pasti akan terkejut, Sayang. Rommy sekarang jauh berbeda di bandingkan dua puluh tahun yang lalu,' batinnya.

Mereka berbincang banyak hal, hingga tidak terasa waktu sudah memasuki jam makan malam. Pasangan paruh baya itu mengajak serta Rommy menikmati hidangan yang ada, tentu Rommy langsung mengiyakan.

"Oh, iya, Pah. Aku nanti mau bicara hal penting."

"Mau di ruang kerja Papa atau di ruang keluarga saja, Rom?"

"Di ruang keluarga nggak papa, Pah. Cukup Papa dan Mama."

"Tentang apa, Rom?" tanya Natasya penasaran.

"Tentang keinginan yang sudah lama aku pendam, Mah."

Natasya mengulas senyum, "selesaikan dulu makannya, ya. Jangan buru-buru."

Rommy mengangguk dengan senyum manis menghias bibirnya. Sekitar lima belas menit, mereka telah menyelesaikan makan malam. Barulah ketiganya beranjak menuju ruang keluarga.

Ruangan yang biasanya digunakan untuk bersantai ini, entah kenapa saat ini suasana terasa mendebarkan. Apalagi Rommy yang masih bungkam selama hampir sepuluh menit.

"Pah, Mah," ujarnya, "sebelumnya aku mau minta maaf karena jarang telepon."

"Nggak papa, Rom. Kami ngerti sama kesibukan kamu," timpal Natasya.

Rommy menarik nafas dalam. Ia bisa merasakan tiba-tiba tubuhnya mendingin dengan detak jantung tidak beraturan.

"Papa, Mama ... Aku izin meminang Melisa menjadi istriku, aku izin untuk menjadikan Melisa belahan jiwaku. Aku sudah memendam ini sejak lama, Pah. Dan aku sudah memikirkan semuanya dengan matang."

Yudis dan Natasya saling pandang, kedua paruh baya itu merasakan perasaannya menghangat akan permintaan Rommy. Mereka berdua juga mengharapkan hal yang sama.

"Jika dulu Melisa yang menjagaku, izinkan sekarang aku yang menjaganya, Pah. Izinkan aku mencintainya setiap hari, dan izinkan aku meluapkan rasa sayangku padanya dengan cara yang halal."

"Rom, kamu yakin?" tanya Yudis.

"Keyakinanku mungkin yang membawaku kesini, Pah," lirihnya sambil menundukkan kepala.

"Kenapa harus putri Papa? Kalian tidak pernah bertemu selama dua puluh tahun lebih, apa kamu yakin? Sekali lagi Papa tanya, apa kamu yakin?"

"Sekali lagi maafkan aku. Jika dengan adanya aku tiba di sini dengan membawa niat tulusku membuat Papa bertanya tentang keyakinanku. Tapi, satu hal yang harus Papa tahu. Aku tidak pernah bermain-main."

Yudis tersenyum lebar mendengarnya. Ia semakin yakin bahwa karakter Rommy sudah terbentuk sempurna. Rommy telah menjelma menjadi pria dengan pendirian teguh dan pantang menyerah.

Yudis menepuk bahu Rommy, kepalanya mangut-mangut seolah memberikan restu. Begitu pula dengan Natasya yang menatap bangga pada perubahan sifat Rommy.

"Kapan Ayah Bundamu mau ke sini? Bukannya lamaran secara resmi perlu di gelar?"

"Secepatnya. Yeah, aku akan minta mereka pulang secepatnya, Pah."

Yudis tergelak, "rayu dulu Melisa. Dia menahan kesedihan selama dua puluh tahun, mungkin kamu perlu banyak kesabaran nantinya."

"Aku akan berusaha, Pah," jawabnya penuh keyakinan.

Yudis tergelak lagi begitu pula dengan Natasya. Dan tidak terasa malam semakin merangkak larut, Rommy memutuskan pulang setelahnya. Laki-laki itu pulang dengan perasaan lega, restu sudah ada di tangannya. Tinggal melunakkan hati gadisnya saja.

****

Sampai di mansionnya, Rommy langsung menghubungi asisten pribadinya. Asisten yang ia percayakan untuk mengelola perusahaan saat dirinya tidak ada di Indonesia.

"Halo, Bos," ucap seseorang di seberang telepon.

"Halo. Lagi sibuk?"

"Nggak, Bos. Kenapa?"

"Gue ada satu tugas buat, lo. Ini penting banget, awas sampe salah."

Hening! Hanya terdengar deru nafas dari seberang sana.

"Heh, lo tidur?"

"Eh, enggak. Nggak, Bos, cuma mikir mau ada tugas apa."

Rommy menghela nafas sejenak, "nanti gue kirim alamatnya terus besok lo harus datengin, ya. Terus sampe sana lo mintain kerjasama."

"Ha? Gimana, sih?"

"Lo kenapa telmi banget, sih, Boy!"

"Bukan saya, tapi Bos yang nggak jelas ngomongnya."

Rommy meraup wajah kasar, bisa-bisanya si asisten malah menguji kesabarannya.

"Gue minta lo buat kontrak kerjasama sama salah satu konsultan bisnis, besok gue kasih alamatnya. Dan lo harus dateng ke sana, jangan lewat surel."

"Orang apa perusahaan, Bos?"

"Orang. Inget, ya! Harus dapet."

"Oh, gitu. Ngomong gitu lah dari tadi, Bos. Biar saya langsung paham, ngomong kok nggak jelas."

Lagi, Rommy menggeram kesal. Untung asistennya ini sangat berguna, kalau tidak pasti sudah dia pecat.

"Udah, lah, capek gue ngomong sama, lo!"

TUT!

Rommy melempar asal ponselnya, jika tidak karena Melisa malas sekali dia meladeni Boy malam-malam. Akhirnya ia memutuskan mandi sebelum tidur, setidaknya tubuhnya bisa fresh kembali.

Di bawah kucuran shower Rommy memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh membayangkan gadis pujaan hatinya. Ada rasa tidak sabar untuk bisa segera bertemu.

"Aku akan membuatmu tidak bisa juah dariku, Mel. Apapun, apapun akan aku usahakan demi kamu," gumamnya lirih.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Dituduh Mandul
9.5
Kebahagiaan Amel hancur saat memergoki Yuda, suaminya, berselingkuh dengan Rania. Ironisnya, Amel justru difitnah tidak setia dan dituduh mandul hingga akhirnya diusir serta diceraikan secara sepihak. Demi menyambung hidup, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan pribadi bagi Zack Lee, seorang pengusaha muda sukses yang eksentrik. Amel kini harus menuruti kebiasaan aneh Zack yang gemar menyusu dan menuntut kehadirannya untuk menemani tidur setiap malam.
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Aldy Fathee, CEO arogan dari Fathee Grup, menjadi makin kejam sejak ditinggal Ara Valeria. Ara pergi tanpa kabar demi mengobati HIV akibat trauma masa lalu. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy ingin mendekat, Ara kini bersikap dingin dan tak tersentuh. Setelah sebuah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad mengungkap rahasia di balik sikapnya. Akankah cinta mereka bersatu atau Ara kembali menghilang?
Sampul Novel Mengasuh CEO amnesia
9.7
Hidup Aurora berubah sejak menyelamatkan pria misterius di malam Valentine. Tak disangka, pria amnesia itu adalah Roberto, CEO kaya raya. Meski sempat terpisah paksa selama lima tahun, takdir mempertemukan mereka kembali di Gemini Group. Namun, Roberto yang sekarang sangat dingin dan tak mengenalinya. Aurora pun hancur saat menyadari cinta pertamanya telah melupakan janji mereka, bahkan kini ia telah memiliki tunangan yang siap bersanding di sisinya.
Sampul Novel Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat
9.0
Lena dikhianati tunangannya yang licik karena berselingkuh dengan ibu tirinya demi harta. Saat dijebak tidur dengan orang asing, Lena membalas dengan membawa pria tampan bernama Delon untuk mengacaukan pertunangannya. Ia mengira Delon hanyalah pria miskin, padahal ia adalah CEO Grup Vit yang berkuasa. Hubungan palsu mereka berubah serius saat Delon menolak pergi. Akhirnya, Lena menyadari bahwa Delon adalah pria dari masa lalunya. Akankah rahasia ini menyatukan mereka?
Sampul Novel PENGANTIN KONTRAK
9.6
Pasca mengundurkan diri, Elmy justru terjerat hutang besar akibat menabrak mobil mewah milik Raffayel, CEO Baskara Group. Demi menghindari perjodohan keluarga, Raffayel menawarkan kesepakatan pernikahan kontrak selama lima bulan sebagai pelunasan. Namun, sandiwara ini terancam oleh obsesi Hannah, teman masa kecil sang CEO. Di tengah perbedaan status sosial dan tekanan luar, akankah komitmen profesional mereka berubah menjadi cinta sejati sebelum masa kontrak berakhir?