Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO itu Tunanganku

CEO itu Tunanganku

Dua dekade berlalu, Melisa masih menanti cinta masa kecilnya hingga hatinya mati rasa. Saat mencoba membuka hati, ia justru terjebak pria oportunis. Di sisi lain, Rommy kembali dari perantauan sebagai sosok perkasa namun membawa luka lama. Meski Rommy datang melamar, Melisa justru menolak tanpa tahu mereka telah dijodohkan sejak kecil. Di tengah cobaan yang bertubi-tubi, mampukah rahasia perjodohan itu menyatukan kembali takdir cinta mereka yang sempat terputus?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Selamat pagi, Mama..," suara Melisa menggema memasuki ruang makan yang tadinya senyap.

Gadis cantik itu langsung mencium kedua pipi, dan menyalami tangan sang Mama, Natasya. Netranya melirik ke arah meja makan, tersaji banyak hidangan di sana. Tidak biasanya seperti ini jika untuk sarapan saja.

"Banyak banget," gumamnya.

"Mau ada tamu, Sayang."

"Siapa?"

"Ada, deh. Nanti aja kamu lihat, salah sendiri semalam nggak pulang."

"Enggak. Aku 'kan nginep di tempat Karin, nonton drakor sampe pagi."

Natasya mendengus lirih, "ya udah sana mandi. Nanti mungkin Rommy ke sini."

Deg!

Melisa menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi asyik mencomot makanan. Mendengar nama itu benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Ada getaran yang tidak biasa di sana, bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Ngapain?"

"Mau sarapan bareng katanya."

"Oh, ini untuk Rommy?" netranya melirik pada meja makan.

Natasya mengangguk.

"Rommy semalam ke sini, katanya dia kangen sama kamu. Dia mau lamar kamu, loh, Mel. Seneng nggak?"

"Biasa aja," bohongnya.

'Lamar? Dia mau jadiin gue istri? Gila! Yang bener aja?!' batinnya berkecamuk.

"Kenapa, sih? Bunda Lio dari dulu juga mau kamu jadi mantunya, Mel."

"Nggak mau. Kalo Mama mau, ya Mama aja yang nikah sama Rommy."

Plakkk!

"Aww," Melisa mengaduh saat tangannya di geplak. Panas dan sedikit ngilu.

"Kebiasaan, deh, kalo ngomong nggak ada saringannya. Lagian Papa sama Mama udah seneng."

"Aku 'kan enggak. Aku nggak mau nikah sama dia."

"Kenapa lagi, Melisa?! Dia itu udah berubah, loh. Selain ganteng dia juga pinter."

"Halah, nggak percaya. Namanya culun tetep aja culun, Mah. Mau di apa-apain juga dia itu tetep Rommy yang cengeng, dia nggak akan bisa imbangi aku."

"Jangan ngomong gitu, Mel. Nanti kamu kesengsem baru tahu rasa."

Melisa mengedikkan bahu.

"Terserah, Mah. Aku tetep nggak mau di jodoh-jodohin gini, aku mau nikah sama pilihan aku sendiri."

"Kayak kamu punya pacar aja," sahut Natasya yang langsung menampar Melisa dengan kenyataan.

Hening! Melisa terdiam mengatupkan bibir. Ia baru sadar jika dirinya tidak punya pacar. Gimana mau punya pacar? Sedangkan selama ini hatinya masih tertutup. Hanya ada Rommy di sana, namun sayang sekali gengsinya terlalu tinggi.

"Nah, diem 'kan? Udah nggak usah mikir macem-macem, tinggal bilang iya gitu aja susah amat."

"Ih, Mama ... Aku nggak mau," rengeknya.

"Karena dia culun?"

Melisa menangguk, "aku nggak mau punya suami cul..," ucapan Melisa terjeda saat mendengar suara seseorang mengucapkan salam.

Tidak seberapa lama seorang laki-laki dengan penampilan casual memasuki ruangan tersebut, dengan tangan kirinya menggenggam goodie bag. Senyum di bibirnya melengkung sempurna, apalagi saat tatap matanya beradu pandang dengan gadis pujaan hatinya.

'D-Dia Rommy? Kok jadi ganteng? Dulu 'kan nggak gini, dulu dia culun. Kenapa sekarang jadi ganteng banget, bisa oleng gue,' batinnya.

Pandangan Melisa terus mengikuti pergerakan Rommy. Dia menatapnya dalam, menelisik seluruh penampilan Rommy yang sudah sangat berubah.

'Kamu kelihatan jauh lebih baik, Rom. Kamu benar-benar kembali dengan versi terbaikmu. Duh, kalo gini caranya, bisa hanyut gue!' rutuknya dalam hati.

Melisa mengakui Rommy sangat tampan. Apalagi rahang tegas itu membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Gagal sudah rencananya jual mahal, kalau begini caranya malah dia yang meminta langsung di nikahkan saja.

'Nggak, gue nggak boleh lemah! Enak banget dia ninggalin gue selama ini, terus dateng-dateng ngelamar. Setidaknya Rommy harus berjuang buat gue. Yeah, dia nggak boleh dapetin gue dengan mudah!' tekadnya.

Otaknya sudah menyusun banyak rencana balas dendam. Dia harus menjadi wanita yang sulit di gapai, pantang baginya mudah terbujuk rayuan buaya. Walaupun buaya itu sangat tampan.

"Hai, Mel."

Melisa mengangguk singkat.

"Aku mau naik dulu, belom mandi."

"Kenapa naik? Aku 'kan masih kangen."

"Kangen?" tanyanya bingung, "tapi aku nggak kangen. Gimana, dong?"

Rommy tertawa kecil.

"Ya udah sana kalo mau naik. Tapi jangan lama-lama, aku mau ngobrol banyak sama kamu."

"Ngobrol sama Mama aja, sono!" ketusnya.

Rommy melepas gelak tawanya melihat tingkah menggemaskan Melisa. Dia harus banyak bersabar, apalagi pasti gadis tangguh seperti Melisa malas meladeni gombalan tidak berguna.

****

Beberapa menit kemudian

Melisa menuruni tangga dan mendapati Rommy tampak berbincang akrab dengan Mamanya. Beberapa kali Mamanya melepas gelak tawa, entah apa yang mereka bicarakan.

"Lama benget, Mel? Kamu tidur apa mandi?"

"Mandi, Mah. Biasalah anak cewek."

"Ya udah ini kamu temenin Rommy makan, ya. Mama mau masuk dulu."

"Lah, kenapa nggak makan dari tadi? Harus banget nungguin aku turun?"

"Mel..," sahut Natasya, "makan yang banyak, ya, Rom. Nanti kalo ada yang kurang bilang aja sama Melisa," ucap Natasya kepada Rommy.

"Ada pelayan kok nyuruh aku," gumam Melisa.

Sementara Rommy hanya mengulum senyum. Ia mulai mengalihkan pandangan pada gadis di depannya. Tidak banyak yang berubah, kecantikan masih memancar anggun dari wajah Melisa.

"Kamu nggak makan, Mel?"

"Aku udah makan tadi."

"Kapan?" tanya Rommy sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya.

"Kepo! Makan tinggal makan aja kenapa pake wawancara segala, sih."

Rommy malah tergelak yang semakin membuat Melisa sebal. Namun, ada perasaan senang di sudut hatinya. Entahlah, perasannya kini beradu.

"Nanti malam ayo keluar, aku mau ajak kamu ke rumah pohon. Aku kangen banget sama rumah pohon, dulu kita sering main ke sana 'kan?"

"Nggak ada rumah pohon, pohonnya udah di tebang."

Rommy sekuat mungkin menahan tawanya, "oh, iya? Ya udah kita makan malam aja di luar. Gimana?"

"Nggak bisa, aku ada pekerjaan."

Rommy menghela nafas sejenak, netranya tidak sengaja melirik pada pergelangan tangan Melisa. Sudut bibirnya berkedut saat melihat gelang pemberiannya masih melingkar di sana.

"Mel, kamu masih pake gelang dari aku?"

"Iya, kenapa?"

'Sial! Harusnya gue lepas tadi gelangnya. Huh, sekarang gue harus cool. Nggak boleh kelihatan kalo grogi,' batinnya.

"Nggak papa, aku seneng kamu masih pake."

"Nggak usah kepedean, ini karena Mama nyuruh aku menghargai pemberian orang lain."

Rommy mengangguk, tangannya mengambil selembar tisu dan mengelapkannya ke mulut. Kemudian ia mengambil segelas air dan menenggaknya sampai habis.

Setelahnya laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Melisa, netranya menghunus tajam pada manik indah gadisnya.

"Aku sayang sama kamu, Mel," ucapnya langsung.

Melisa tidak menjawab, ia hanya menatap sayu pada Rommy yang masih belum mengalihkan pandangannya.

"Kamu mau nggak nikah sama aku? Mungkin ini terkesan mendadak, tapi selama kita berjauhan aku selalu memikirkan hal ini."

Demi apapun saat ini jantung Melisa hampir melompat. Di lamar sedemikian rupa walaupun tidak romantis namun mampu membuat perasaanya berdebar.

"Aku nggak tahu harus bilang gimana. Tapi, yang harus kamu tahu adalah, aku mencintai kamu, Mel."

"Kalo aku nggak cinta gimana?"

"Nggak papa, aku bisa membuat kamu cinta sama aku."

'Dia nggak waras apa, ya, pulang dari luar negeri. Udah ngelamarnya nggak romantis, pake maksa-maksa lagi.'

"tiga bulan lagi Ayah sama Bunda pulang, kamu bisa pikirin selama itu. Aku bakal tunggu, kok."

"Nggak usah nunggu. Mending kamu cari calon istri lain, karena aku nggak mau."

"Tapi kamu harus mau, Mel."

Melisa membelalakkan matanya, "maksa banget, sih?!"

"Aku emang sukanya maksa, Melisa. Kalo nggak di paksa, kamu nggak akan mau."

"Kasih satu alasan kenapa aku harus nerima kamu," tantangnya.

"Karena aku mau nikahnya sama kamu. Dan kamu harus nikah sama aku," jawab Rommy dengan rasa bangga.

Melisa semakin membelalakkan matanya, menatap tidak percaya pada sosok laki-laki di depannya. Selain berubah penampilan, ternyata Rommy juga berubah semakin menyebalkan.

"Dah, lah. Aku pokoknya nggak mau!"

Rommy mengulum senyumnya, "masih ada banyak waktu. Nggak usah memutuskan sekarang, Mel."

"Aku udah punya pacar, Rom."

Rommy terdiam. Sekejap kemudian Melisa menyesali ucapannya, dia takut kalau Rommy langsung menyerah. Kenapa juga ia membuat alasan konyol. Lalu, siapa yang akan dia jadikan pacar bohongan?

"Tinggal putusin aja pacarmu, apa susahnya?"

Melisa semakin menganga, "gila!" ketusnya.

"Jangan di buat susah, Mel. Pokoknya kamu itu jodohku."

"Nggak mau! Kamu bukan tipeku!" Melisa langsung beranjak bangkit meninggalkan meja makan.

Ia melangkah dengan menghentakkan kakinya menaiki tangga. Menyisakan Rommy yang masih menatapnya dengan senyuman tipis.

"Menggemaskan," gumamnya.

Akhirnya Rommy memutuskan pulang. Namun, sebelumnya Rommy menghampiri sang Mama, Natasya, di halaman belakang. Ternyata juga ada Yudis di sana.

"Pah, nggak ke kantor?"

"Loh, Rommy," jawabnya, "kamu udah selesai? Melisa mana?"

Bukannya menjawab, Yudis malah balik bertanya. Persis seperti Melisa yang membutuhkan banyak kesabaran saat menghadapinya.

"Aku udah selesai, Pah. Melisa juga udah naik ke kamarnya."

"Gimana, Rom?" tanya Natasya.

"Melisa masih belum luluh, Mah. Mungkin ini terlalu cepat buat dia, tapi nggak papa. Masih banyak waktu sampai nanti Ayah dan Bunda pulang."

"Lebih baik Ayah Bundamu suruh cepet-cepet pulang, biar Melisa cepet mau," sahut Yudis yang membuat Rommy tergelak.

"Aku udah janji nggak akan paksa dia, Pah. Biar dia sadar sendiri dengan perasaannya."

Yudis mengangguk. Selanjutnya ia dan Natasya mengantarkan Rommy sampai teras. Kedua paruh baya itu menaruh harapan besar Rommy bisa meluluhkan hati putrinya, karena hanya Rommy laki-laki yang bisa mendampingi Melisa di masa mendatang.

****

Malam hari

Rommy tengah bersantai sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok yang tersemat di jarinya. Bibirnya mengulas senyum lebar dan netranya menatap puas pada layar laptop di depannya.

Di sana terdapat salinan kontrak kerjasama yang Boy buat semalam, dan sudah di setujui oleh asisten Melisa tadi pagi. Benar-benar lebih cepat dari perkiraan Rommy, bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum mengangumi Boy, sang asisten andalannya. Ia mulai membayangkan akan membuat Melisa terikat dengannya. Mau di luar, ataupun di kantor.

Drrrt!

Tiba-tiba deringan ponsel membuyarkan lamunan Rommy. Gegas tangannya meraih ponsel di dalam saku, membawanya ke depan muka, dan lantas menggeser tombol hijau saat mendapati nomor bodyguard kepercayaannya pada layar ponsel.

"Halo, Tuan, maaf menelepon malam-malam," ucap seseorang di seberang telepon.

"Ada apa?"

"Saya baru saja melihat sebuah mobil sport memasuki gerbang mansion Adhitama, dan tidak seberapa lama mobil itu keluar lagi, Tuan. Ada Nona Melisa dan seorang laki-laki di dalamnya."

Rommy mengangguk. Yeah, ia memang menempatkan bodyguardnya di sekeliling Melisa. Maka wajar jika selama ini dirinya bisa tau perkembangan Melisa. Seperti saat ini, bodyguardnya selalu melapor hal apa saja mengenai gadisnya itu.

"Ikuti saja, nanti kirimkan lokasinya."

"Baik, Tuan."

TUT!

Sambungan telepon tersebut terputus, Rommy masih menggenggam erat ponselnya dengan raut muka serius.

'Siapa laki-laki itu, Mel? Apa dia yang kau maksud kekasihmu?' batinnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Dituduh Mandul
9.5
Kebahagiaan Amel hancur saat memergoki Yuda, suaminya, berselingkuh dengan Rania. Ironisnya, Amel justru difitnah tidak setia dan dituduh mandul hingga akhirnya diusir serta diceraikan secara sepihak. Demi menyambung hidup, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan pribadi bagi Zack Lee, seorang pengusaha muda sukses yang eksentrik. Amel kini harus menuruti kebiasaan aneh Zack yang gemar menyusu dan menuntut kehadirannya untuk menemani tidur setiap malam.
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Aldy Fathee, CEO arogan dari Fathee Grup, menjadi makin kejam sejak ditinggal Ara Valeria. Ara pergi tanpa kabar demi mengobati HIV akibat trauma masa lalu. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy ingin mendekat, Ara kini bersikap dingin dan tak tersentuh. Setelah sebuah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad mengungkap rahasia di balik sikapnya. Akankah cinta mereka bersatu atau Ara kembali menghilang?
Sampul Novel Mengasuh CEO amnesia
9.7
Hidup Aurora berubah sejak menyelamatkan pria misterius di malam Valentine. Tak disangka, pria amnesia itu adalah Roberto, CEO kaya raya. Meski sempat terpisah paksa selama lima tahun, takdir mempertemukan mereka kembali di Gemini Group. Namun, Roberto yang sekarang sangat dingin dan tak mengenalinya. Aurora pun hancur saat menyadari cinta pertamanya telah melupakan janji mereka, bahkan kini ia telah memiliki tunangan yang siap bersanding di sisinya.
Sampul Novel Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat
9.0
Lena dikhianati tunangannya yang licik karena berselingkuh dengan ibu tirinya demi harta. Saat dijebak tidur dengan orang asing, Lena membalas dengan membawa pria tampan bernama Delon untuk mengacaukan pertunangannya. Ia mengira Delon hanyalah pria miskin, padahal ia adalah CEO Grup Vit yang berkuasa. Hubungan palsu mereka berubah serius saat Delon menolak pergi. Akhirnya, Lena menyadari bahwa Delon adalah pria dari masa lalunya. Akankah rahasia ini menyatukan mereka?
Sampul Novel PENGANTIN KONTRAK
9.6
Pasca mengundurkan diri, Elmy justru terjerat hutang besar akibat menabrak mobil mewah milik Raffayel, CEO Baskara Group. Demi menghindari perjodohan keluarga, Raffayel menawarkan kesepakatan pernikahan kontrak selama lima bulan sebagai pelunasan. Namun, sandiwara ini terancam oleh obsesi Hannah, teman masa kecil sang CEO. Di tengah perbedaan status sosial dan tekanan luar, akankah komitmen profesional mereka berubah menjadi cinta sejati sebelum masa kontrak berakhir?