
CEO Dingin Pemikat Hati
Bab 3
"CEO itu mantanku," lirihnya.
"Apa! Jadi dia yang bikin elu mau bunuh diri? Dia yang bikin idup lu ancur? Benar-benar ya! Dia itu pria kejam tahu nggak! Pak Burhan dipecat, dia begitu saja percaya pada ucapan si Felix elu juga gue kira mau melawan dengan heroik eh malah mewek."
"Gue gak bisa menahan diri, Nol. Gue kangen dia, gue pengen meluk dia, gue pengen—"
"Pengin apa lu? Bercinta gitu? Ingat, dia mencampakkan elu saat ha—"
Shintia segera membekap mulut sahabatnya dia tak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Please, Nol."
Nola menghembuskan napas kasar saat Shintia melepaskan bekapannya.
"Tapi bukannya mantan elu namanya Rayon ya? Sedang CEO kita namanya Pak Arya, elu salah orang kali. Lagi halu kali lu," cicit Noli.
Shintia menghembuskan napas lelah, dia sedikit ragu untuk bercerita dalam keadaan seperti ini. Namun, jika tidak. Dia yakin sahabatnya ini akan terus mendesaknya.
"Elu salah kan ya?"
"Nama aslinya Arya Surya Artha. Gue tahu nama itu saat kita akan menikah dulu. Lima tahun lalu, dia menghindari perjodohan dan pergi ke Jakarta, hingga akhirnya bertemu dengan gue. Dia mengenalkan diri sebagai Rayon orang biasa."
"Jadi dia benar si Rayon? Ya ampun. Dunia sempit ya m, Shin. Sekarang rencana elu apa?"
"Entahlah. Gue bingung."
"Mending lu Pepet dia lagi, Shin. Jelaskan ke dia apa yang terjadi dulu. Kali aja dia ngerti dan kalian balikan."
"Tapi gimana dengan ibunya? Gue udah janji, Nol."
"Shin. Elu masih cinta dia kan? Elu gak mau nikah sama orang lain kan?" cecar Nola. Shintia mengangguk mengiakan.
"Dengan begitu, harusnya elu bisa lebih agresif sekarang. Pertahankan cinta Lo yang besar itu. Jangan malah nyerah dan menjauh. Tidak, ini bukan Shintia yang gue kenal!"
"Tapi gue takut dia benci. Tadi aja dia menghindar dari gue."
"Ya wajarlah. Lu lupa dia siapa? Emang mau lu apa, saat elu mau nyentuh rahang dia kalian ciuman di depan semua karyawan gitu?"
"Ya nggak sih, cuma—"
"Cuma apa? Elu mau ditarik dia ke toilet dan kalian bercinta seperti yang sering elu ceritakan ke gue kalau hubungan elu dan dia erotis? Lihat dia elu pengen ya?"
"Gak usah bahas deh, yang penting elu tahu kan, kenapa gue bersikukuh pengen pergi dari perusahaan ini? Gue gak mau lihat dia lagi, Nol. Nggak!"
"Oke, oke gue ngerti. Emang sebegitu berhasratnya ya lo lihat muka dia?" Nola tak berhenti menggoda.
"Diam!" bentak Shintia.
"Oke, oke, sorry. Gini deh, gue sekarang tahu kenapa elu gak mau sama dia. Pasti karena ingat keperkasaan dia di ranjang."
"Noli!" bentak Shintia. Bukan takut, Nola justru terkekeh geli.
"Padahal, gue udah mau gaet. Tapi gak jadi deh. Gue sama sekretarisnya aja."
"Terserah, yang penting gue mau berkemas dan meninggalkan perusahaan ini."
"Eit, tunggu dulu. Gak semudah itu, Rosalinda. Sebelum elu pergi, kita harus lurusin masalah ini. Kita nggak bisa dipecat secara tidak hormat!"
"Dengan cara apa? Kita nggak punya bukti. Felix itu sangat licik."
Nola diam lalu dia tersenyum menyeringai. "Gue ada ide." Noli menjentikan tangannya.
"Apa? Jangan aneh deh, gue lagi gak mood."
"Sini gue bisikin." Noli menarik kuping Shintia dan mulai berbicara dengan sangat pelan.
"Nggak, gue gak mau!" Shintia mendorong tubuh Noli. "Gak sudi gue!"
"Ya cuma itu cara satu-satunya, Shin. Tolong gue dah, gue umur udah berapa? Mau jadi apa gue kalau dipecat dari sini."
"Ngamen bareng gue lah."
"Ogah! Elu sih enak punya suara bagus. Lah gue, bisa dilempari batu kalau nyanyi. Please ya, Shin. Gue pastikan nggak sampai elu ehem gue udah selesai ambil semuanya. Please demi persahabatan kita." Noli mengatupkan kedua tangan di dada. Shintia tetap menggelengkan kepala. Hingga di luluh saat Noli mengatakan bahwa ibunya di desa sedang sakit dan adik-adiknya butuh biaya.
Shintia menghembuskan napas kasar, dia teringat sahabatnya yang dulu menjadi wanita malam hanya karena membiayai keluarga. Dia tak ingin itu terjadi pada Nola.
"Oke, gue mau!"
"Yeah. Kita beraksi secepatnya. Anggap aja saat elu ehem-ehem bayangin wajah Rayon."
"Nola! Gue gibeng Lo!"
***
Felix kini sedang duduk di ruangannya. Dia sangat senang karena semua rencananya untuk menyingkirkan Shinta dan Noli berhasil. Dia akan mengganti dengan Dinda dan Caca, perempuan muda yang bisa dia kendalikan.
"Nggak sia-sia gue kasih mereka cuti dan tiket liburan gratis. Dasar bodoh dengan polos mereka mau aja. Percaya begitu saja," gumamnya dengan tersenyum menyeringai.
"Tapi kenapa HRD belum email sih?"
Sejak tadi dia menunggu email dari HRD untuk memberikan sebuah putusan pemecatan kedua bawahannya. Dia memijat pelipisnya, merasa sangat khawatir karena kedua perempuan itu memiliki citra yang baik. Mereka sudah menjadi admin gudang dua tahun lebih, tidak ada catatan buruk kecuali hari ini.
"Aku nggak boleh khawatir, sikap Shintia jelas-jelas seperti orang yang bersalah nanti. Padahal, aku takut kalau dia tadi membongkar semua. Tapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Baguslah."
"Salah sendiri kamu sok jual mahal, Shintia. Rasakan akibatnya. Coba saja kalau kamu nurut. Semua ini nggak akan terjadi. Aku bisa pastikan kamu akan bertekuk lutut di hadapanku. Lihat saja nanti."
***
Di tempat yang berbeda, seorang pimpinan yang tak banyak bicara kini duduk di kursi kebesaran dengan mengetuk-ngetuk jari di atas meja. Pandangannya kosong ke depan. Hans sang sekretaris duduk di sofa dengan memangku laptopnya. Dia fokus pada pekerjaan.
"Tentang kasus di gudang, aku merasa ada yang janggal. Pertama, sikap Felix dia seperti tahu hal ini akan terjadi dan menjadikan kedua bawahannya kambing hitam. Itu asumsiku. Bagaimana menurutmu?" tanyanya. Jika saat berdua mereka sangat santai karena memang bersahabat.
"Aku nggak nyangka, bisa bertemu lagi dengannya," ucap pria yang sejak tadi hanya melamun.
"Kamu bicara apa? Bertemu dengan siapa? Ini kita lagi bahas apa sih?" Hans tampak kesal, dia seperti melihat orang lain dari diri sahabatnya. Pria yang begitu serius jika bekerja kini tampak seperti ayam sakit. Nguyung sejak tadi.
"Dia kenapa kejam banget, ninggalin aku yang sedang sakit."
"Astaga!" Hans mengusap wajahnya dengan kasar. "Gak waras banget sih."
"Fokus, Ya. Fokus!"
"Gimana mau fokus, sampai detik ini aku gak bisa melupakan dia. Padahal, dia begitu jahat. Dia rela pergi demi pria kaya. Apa dia nggak tahu kalau aku lebih kaya?"
Amarah menguasai Arya. Dia menyapu bekas-bekas yang ada di atas meja hingga jatuh ke lantai dan berserakan.
"Arya, kuasai dirimu!" bentak Hans.
"Pecat admin gudang itu, sekarang!"
"Tidak bisa, aku harus menyelidiki in karena semua terasa janggal!"
"Aku bilang pecat ya, pecat!"
"Tenangkan dirimu, Arya. Kamu harus bisa menguasai diri. Bersikap profesional!"
"Aku tidak ingin melihat mereka. Terutama Shintia!"
"Shintia?" ulang Hans. "jangan bilang dia mantanmu itu?"
Anda Mungkin Juga Suka





