
CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
Bab 2
Renee tidak menanyakan ke mana Arvin pergi semalam. Arvin pun tidak memberi tahu apa-apa. Seolah-olah berita utama tentang skandalnya dengan Nissa sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan menantu sah Keluarga Suryana.
Arvin makan dengan elegan. Sementara Renee merasa makanan di mulutnya hambar. Setelah menelan beberapa suapan dengan susah payah, dia akhirnya berkata, "Pak Arvin, siang ini ada waktu? Kita pergi memilih kue ulang tahun untuk Renji, boleh?"
Renee selalu memanggilnya "Pak Arvin". Itu kebiasaannya sejak awal menikah dan Arvin tidak pernah berusaha mengubahnya.
Arvin tidak mengangkat kepala sedikit pun. "Siang ini aku makan dengan klien. Nggak sempat."
"Kalau sore?" tanya Renee lagi.
Sendok di tangan pria itu terhenti sejenak sebelum akhirnya dia menatap Renee. Mata indahnya tetap sedingin es.
"Kue ulang tahun Renji akan aku suruh orang siapkan. Kamu nggak perlu repot-repot."
"Tapi aku ingin pilih sendiri."
Biasanya Renee sangat penurut, jarang sekali membantah. Namun, kali ini demi ulang tahun anaknya, dia mencoba untuk memperjuangkannya sedikit saja.
Sayangnya, Arvin tidak memberinya kesempatan. Keningnya berkerut.
"Renee, jangan cari masalah."
"Pak Arvin, aku ini ibu Renji."
Tiga tahun menikah, baru kali ini Renee bersikeras pada pendiriannya sendiri. Seperti yang bisa diduga, Arvin menjadi kesal, bahkan selera makannya pun langsung hilang.
Arvin meletakkan sendoknya, mengambil tisu, menyeka sudut bibir, dan berkata dengan datar, "Kalau kamu nggak ada kerjaan, pergilah jalan-jalan atau nonton film. Lakukan apa saja."
Melihat punggung pria itu melangkah pergi, hati Renee terasa seperti diremas. Karena Arvin tidak mau menemaninya, Renee akhirnya pergi sendiri untuk memilih kue ulang tahun Renji.
Dia bukan hanya memilih kue dengan hati-hati, tetapi juga sudah lama menyiapkan hadiah ulang tahun untuk anaknya.
Karena jarang bertemu Renji, Renee tidak tahu apa yang disukai anak itu. Untungnya, Rosa memberitahunya bahwa belakangan ini Renji sedang suka boneka kecil.
Renee lalu menghabiskan waktu sebulan penuh untuk memilih kain yang paling lembut, menjahit sendiri boneka berbulu keriting untuk anaknya. Dia berharap boneka itu bisa menemani Renji tidur setiap malam, menggantikan dirinya.
Sore harinya, Renee membawa kue dan hadiah ke rumah lama Keluarga Suryana. Dari ruang utama, terdengar suara piano yang indah dan lagu ulang tahun yang ceria.
Ketika mendekat, Renee melihat ruang tamu sangat ramai. Nissa duduk di depan piano memainkan lagu ulang tahun, sementara Juwita duduk sambil memeluk Renji di depan kue. Renji pun menepuk tangan mungilnya mengikuti irama.
Arvin duduk di sofa. Wajah dinginnya untuk pertama kali memancarkan senyuman lembut.
Setelah lagu berakhir, Nissa berjongkok di samping Renji dan melambaikan tangan kepada Arvin. "Arvin, cepat sini, kita tiup lilin bersama!"
Renji meniru gerakannya, tertawa ceria sambil melambaikan tangan. "Papa, tiup ... tiup ...."
Arvin tersenyum tipis, lalu bergeser mendekat. Ketiganya meniup lilin di atas kue.
Di bawah cahaya lampu yang hangat, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Renee menggenggam erat kue dan boneka di tangannya. Dadanya terasa sesak. Jelas-jelas dia adalah ibu kandung Renji. Seharusnya dia yang berdiri di sana menemani anaknya meniup lilin, bukan Nissa.
Tiba-tiba, seseorang berkata, "Renee datang."
Semua orang di sofa menoleh. Juwita langsung memasang ekspresi dingin dan bertanya dengan galak, "Kamu ke sini buat apa?"
Renee menahan perasaan terhinanya, melangkah masuk sambil menyahut dengan lembut, "Ibu, hari ini ulang tahun Renji. Aku ingin menemaninya."
"Renji sudah ditemani gurunya, kamu nggak perlu datang."
Guru? Renee menatap Arvin dengan bingung. Arvin menatap balik dengan wajah tenang dan sempurna. Di bawah cahaya, wajah itu tampak seperti dewa yang tak tersentuh. Namun, matanya tetap dingin tanpa emosi.
Seandainya dia tidak melihat sendiri bagaimana pria itu tadi tersenyum lembut pada Nissa dan Renji, dia mungkin akan mengira Arvin memang tidak bisa tersenyum.
Pria itu bangkit dan berjalan mendekat. Kalimatnya datar, entah itu adalah pengumuman atau penjelasan. "Nissa menguasai banyak bahasa asing dan juga belajar ilmu pendidikan anak. Kebetulan Renji sedang belajar bicara, jadi Ibu mempekerjakannya sebagai guru bahasa Renji."
Renee tertegun. Kepalanya berdengung. Nissa yang kuliah di bidang musik, belajar ilmu pendidikan anak? Bahkan orang bodoh pun bisa menebak, itu demi bisa masuk ke Keluarga Suryana.
Renee memang pernah takut Nissa akan merebut Arvin, tetapi tidak pernah terpikir kalau jalan masuknya akan melalui anaknya sendiri.
Nissa berjalan ke sisi Arvin, lalu mengulurkan tangan dan tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan menjaga dan mengajar Renji dengan baik."
Renee memandangi tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah cantik yang tersenyum lembut di depannya. Wanita ini memang sangat cantik, lebih memesona daripada saat di televisi.
Berdiri di sisi Arvin, keduanya tampak serasi, bagaikan pasangan yang diciptakan untuk bersama.
Renee menggigit bibir dan memandang Arvin dengan tegas. "Boleh aku menolak? Aku juga bisa enam bahasa, aku juga belajar ilmu pendidikan anak. Aku bisa mengajari Renji."
"Apa hakmu untuk menolak?" Juwita tiba-tiba berdiri dari sofa, menatapnya dengan dingin. "Renee, jangan lupa, meskipun kamu hebat, kamu tetap tuli. Aku nggak akan menyerahkan calon pewaris Keluarga Suryana padamu."
Renee tahu sejak awal ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak ingin berdebat.
Matanya menatap wajah tampan Arvin penuh harap. Namun, pria itu hanya berkata dengan nada datar, "Tanya saja Renji, apa dia mau sama kamu?"
Renee menoleh ke arah anak kecil itu. Renji bersembunyi di belakang Nissa, hanya kepala mungilnya yang tampak. Dia menatap Renee dengan penasaran.
Renee mengeluarkan boneka keriting dari tasnya, berjongkok sambil tersenyum lembut. "Renji, ini Mama. Lihat, ini hadiah ulang tahun yang Mama buat sendiri untukmu."
Renji memegangi rok Nissa, menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau Mama ... maunya Mama Nissa ...."
Mama Nissa .... Ternyata Nissa bukan hanya guru bahasa, tetapi juga ibu angkat anaknya. Hati Renee yang sudah dingin seketika membeku.
Nissa berjongkok sambil memeluk Renji. Suaranya lembut. "Renji, mamamu juga sangat sayang kamu. Nggak boleh bilang nggak mau mama ya? Lihat, ini boneka dari mamamu. Cantik sekali, 'kan?"
Nissa mengambil boneka dari tangan Renee dan menyerahkannya kepada Renji.
Anak kecil itu menatap boneka sebentar, lalu melemparkannya ke lantai. "Nggak mau ... jelek ...."
Kemudian, dia berlari kembali ke sofa, memeluk boneka baru, dan berseru manja, "Mama Nissa ... suka!"
Kata-katanya masih belum terlalu jelas, tetapi Renee mengerti. Renji lebih menyukai boneka dari Nissa.
Melihat itu, Juwita tersenyum sinis. "Renji memang punya selera bagus. Boneka dari mama angkatnya itu barang edisi khusus, lebih layak disimpan."
Wajah Renee pucat pasi.
Nissa menggenggam lembut tangan Renee yang gemetar dan berucap, "Jangan sedih. Anak kecil belum tahu mana yang benar dan salah. Kalau nanti sudah besar, dia pasti akan mengerti arti kata 'Mama'."
Ya ... anak dua tahun mana mungkin tahu mana yang benar atau salah, tetapi mereka belajar dari orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya pun jelas sengaja mengajarinya begitu.
Anda Mungkin Juga Suka





