
CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
Bab 3
"Nyonya, Tuan ... makan malam sudah siap." Seorang pelayan keluar dari dapur dan berbicara dengan hormat.
Juwita bangkit dari sofa. "Ayo makan, Renji pasti sudah lapar."
"Renji mau bawa beruang makan." Renji memeluk boneka beruang yang dibuat secara khusus itu, tertawa riang.
"Baiklah, Bu Guru ajak Renji dan beruang makan bareng ya?" Nissa tersenyum, menggendong Renji, lalu menatap Renee dengan sopan. "Bu Renee, aku bawa Renji makan dulu."
Semua orang menuju ruang makan. Renee menggenggam boneka buatan tangannya, merasa kebingungan. Padahal dia adalah Nyonya Muda Keluarga Suryana, tetapi dia selalu dikucilkan dan diabaikan.
Kue dan boneka di tangannya jatuh ke lantai. Renee melangkah mundur, berniat meninggalkan rumah besar yang tanpa kehangatan itu.
Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Arvin. Dia lantas menatap Arvin. Mata pria itu memancarkan ketegasan. "Makan."
Renee melirik ke arah meja makan. Tempat duduk yang seharusnya miliknya, kini diduduki oleh Nissa. Tanpa suara, dia menarik tangannya dari genggaman Arvin.
"Aku nggak mau ganggu kalian sekeluarga lagi." Usai berbicara, dia berjalan pergi tanpa menoleh.
"Renee!" Arvin mengernyit melihat punggung istrinya. Perempuan ini sekarang sudah berani membantahnya?
"Nggak usah pedulikan dia," ujar Juwita sambil melirik ke arah pintu. "Wanita bodoh dan cacat begitu memang seharusnya nggak dibiarkan masuk ke rumah."
"Benar, Kak," tambah Felicia, adik perempuan Arvin. "Perempuan yang pakai tipu muslihat buat menikah ke keluarga kita cuma nurunin derajat Keluarga Suryana kalau makan bareng kita."
Arvin memang tidak menyukai Renee. Namun, seekor anjing pun tidak pantas dipukul di depan majikannya. Dengan nada dingin, dia membalas, "Terus, aku ini apa? Setiap hari aku makan bareng dia, berarti aku juga menurunkan derajat keluarga?"
"Uh ...." Felicia terdiam, buru-buru mengoreksi. "Kak, hubungan kalian 'kan cuma sementara saja. Setelah kalian cerai nanti ...."
"Diam." Nada suara Arvin menjadi dingin. "Jangan pernah bicara seperti itu di depan Renji lagi."
"Diam ... hihihi ...." Renji menirukan ayahnya sambil tertawa.
....
Di luar, langit sudah gelap. Malam lembap dan dingin. Renee memeluk dirinya sendiri, berjalan sendirian di halaman rumah Keluarga Suryana. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis.
Dia tahu semua ini juga salahnya. Dia tidak pantas menangis. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencari jalan keluar. Namun, di mana jalan keluarnya?
Saat melewati hutan kecil, seberkas cahaya kuning dari lampu mobil menyorot dari belakang. Tak lama kemudian, mobil Rolls-Royce yang dikenalnya berhenti di sisinya.
Jendela terbuka sedikit, memperlihatkan wajah tampan dan dingin Arvin. "Naik."
Renee sudah terbiasa dengan nada perintahnya. Dia bisa saja menolak, tetapi entah kenapa dia akhirnya tetap masuk ke mobil.
Yang mengejutkan, Nissa tidak ada di dalam. Arvin duduk di kursi belakang, tampak tenang dan berwibawa, bersandar dengan santai. Arvin tidak berbicara, hanya menatapnya. Renee lantas menunduk, menghindari tatapannya.
"Kamu marah sampai nggak mau anakmu sendiri?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir Arvin.
Renee menggigit bibir, menahan emosi, lalu mendongak dan menatapnya. "Pak Arvin, kamu suka Nissa, 'kan?"
Tatapan Arvin menjadi serius. "Kamu mau bilang apa?"
"Kalau kamu suka dia, ceraikan aku dan nikahi dia. Aku setuju."
"Dengan syarat?" Nada suaranya datar, tetapi mengandung kemarahan halus.
"Syaratnya, biarkan aku menemani Renji tumbuh besar. Biar aku yang pilih guru lesnya. Tenang saja, aku nggak akan rebut hak asuhnya darimu."
Renee mengatakannya dengan tenang, tetapi Arvin malah tertawa sinis. "Strategi mundur untuk maju ya? Cerdik juga perhitunganmu."
"Aku nggak bermaksud begitu." Renee buru-buru membantah, suaranya bergetar. "Aku cuma nggak mau Renji tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya membenci ibu kandungnya. Dia masih kecil, belum tahu mana yang benar dan salah. Aku cuma ingin dia tahu ibunya nggak bersalah hanya karena tuli."
"Arvin, Renji itu kulahirkan dengan nyawaku." Matanya memerah, suaranya serak.
Dia teringat hari kelahiran Renji. Juwita tahu posisi bayinya sungsang, tetapi tetap memaksa dokter untuk melahirkan normal. Saat dia kehilangan banyak darah, Juwita bahkan berkata, "Selamatkan anaknya saja."
Kalau bukan karena nasibnya bagus, mungkin dia sudah mati di meja operasi. Namun, Arvin tidak tahu itu. Karena ibunya sengaja mengusirnya keluar kota tepat sebelum hari kelahiran. Saat Arvin kembali, semuanya sudah baik-baik saja.
Arvin memang tidak menginginkan anak itu, tetapi begitu melihat Renji, rasa bangga sebagai ayah membuat hatinya melembut. Bahkan dia mentransfer 10 miliar ke rekening Renee sebagai bonus.
Faktanya, setelah pernikahan, senyuman hanya pernah muncul di wajah Arvin saat pertama kali melihat Renji. Selain itu, mereka seperti orang asing.
"Renee, apa aku yang menyuruhmu melahirkan Renji?" Arvin menatapnya dengan dingin.
Renee terdiam. Benar, Renji lahir karena dia sendiri yang bersikeras. Saat tahu dirinya hamil, Arvin langsung menyuruhnya menggugurkan kandungan. Namun, dia memohon dan menangis, hingga akhirnya anak itu lahir.
Suasana di dalam mobil membeku. Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering. Dia mengangkatnya. Panggilan video dari Nissa.
"Arvin, Renee nggak apa-apa, 'kan? Sudah kamu jemput?"
"Hmm," gumam Arvin dengan nada datar.
"Syukurlah. Kalau begitu, istirahatlah lebih awal."
"Renji sudah tidur?"
Begitu nama Renji disebut, Nissa langsung tersenyum hangat. "Baru saja tidur. Tadi dia bilang kangen papanya, mau tidur bareng papanya."
Begitu suara Nissa berhenti, terdengar suara lembut Renji. "Mama Nissa ... gendong ...."
"Oke, Mama gendong ya." Nada Nissa lembut, manis, seperti madu yang menetes.
Renee menatap layar ponsel, melihat Nissa memeluk Renji dengan penuh kasih. Pemandangan itu membuat hatinya seperti diremas.
Mobil berhenti di depan vila. Renee turun, berlari ke lantai dua. Sambil bersandar di pintu kamar, dia perlahan terduduk sambil menangis.
Dia hanya ingin memeluk anaknya, hanya ingin bersamanya sebentar saja. Namun, kenapa itu terasa mustahil? Kapan pernikahan ini akan berakhir?
Renee menatap foto pernikahan di dinding. Pria tampan yang dingin, gadis muda yang tampak hati-hati. Itu bukan potret bahagia, melainkan belenggu.
Dia berdiri, meraih bingkai itu, dan menghantamkannya ke lantai. Brak! Bingkai kaca pecah. Di wajah dua orang yang memang tidak cocok itu, muncul retakan.
Arvin yang mendengar suara itu masuk ke kamar. Melihat Renee yang biasanya lembut, kini menghancurkan foto pernikahan, dia sempat tertegun, lalu dengan marah mencengkeram pergelangan tangannya.
"Renee, apa maksudmu ini? Kamu nggak mau tinggal di sini lagi?"
"Arvin, aku mau cerai!" Renee menatapnya dengan air mata mengalir, tetapi kali ini matanya penuh tekad. "Aku sudah muak! Aku nggak mau hidup tanpa harga diri lagi! Aku mau cerai dan aku nggak bercanda soal ini!"
Anda Mungkin Juga Suka





